NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Dua Tubuh yang Membeku

Keheningan yang mencekam menggantung di udara. Suara-suara di dalam makam itu teredam, hanya menyisakan gemericik samar dari danau darah yang seolah berdenyut di sudut ruangan.

Dengan keahlian yang dingin dan presisi, Falix berhasil membebaskan kunci kuno pada peti mati Raja Asaarmata. Sebuah bunyi klik yang halus terdengar, memecah keheningan. Semua mata tertuju pada Falix saat ia menarik napas dalam, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, mulai mengangkat tutup peti yang berat.

Tutup kayu jati berukir itu terdorong ke samping, memperlihatkan isi di dalamnya. Bau wewangian kering dan zat pengawet kuno segera menyeruak, bercampur dengan aroma bunga-bunga hidup yang tumbuh di dinding.

Di dalam peti, sebuah pemandangan yang mengejutkan terhampar. Bukan kerangka, bukan debu, melainkan dua tubuh yang tampak nyaris utuh, terbaring berdampingan dalam posisi saling berpelukan erat.

Tubuh-tubuh itu, seolah membeku dalam waktu, menampilkan wajah-wajah yang terlihat begitu damai, kulit mereka masih memiliki tekstur, dan garis-garis wajah mereka masih asli. Mereka tampak seperti tertidur, bukan meninggal.

Jack, yang berdiri paling dekat di sisi Kieran, tersentak mundur satu langkah, wajahnya menunjukkan keterkejutan murni.

“Bagaimana bisa…” kata Jack, suaranya tercekat. Ia mendekat, tangannya gemetar. “Tubuh mereka tidak memudar? Mereka asli seperti tidak mati! Ini… ini tidak masuk akal!”

Falix, meski terkejut, segera mendapatkan kembali ketenangan profesionalnya. Ia meneliti tubuh-tubuh itu dengan mata seorang ahli.

“Ini dilakukan untuk mengawetkan tubuh,” ujar Falix, suaranya tenang namun ada nada takjub yang mendalam. “Mereka menggunakan zat pengawet khusus, mungkin kombinasi rempah, resin, atau bahkan cairan kimia yang dibuat dengan pengetahuan luar biasa. Tujuannya adalah agar tubuh tidak keropos oleh zaman. Ini lebih maju dari mumi Mesir, Kieran.”

Aura, yang sejak tadi duduk bersandar, hanya diam saja melihat pemandangan itu dari kejauhan. Keindahan yang mengerikan. Cinta yang terawetkan.

Jack, melihat kondisi tubuh yang sempurna itu, melihat peluang lain. Matanya berbinar penuh gairah ilmuwan.

“Bukan, bukan hanya pengawetan biasa!” seru Jack, semangatnya membara. Ia menunjuk ke arah tubuh-tubuh itu. “Ini lebih baik diteliti lebih lanjut untuk perkembangan zaman kita! Bayangkan jika kita bisa menemukan formulasinya. Ini bisa mengubah ilmu kedokteran, transplantasi, bahkan biologi!”

Kieran tetap diam, matanya yang tajam menatap kosong ke dalam peti. Ia tidak tertarik pada ilmu pengetahuan, melainkan pada tujuan awal mereka. Ia menyapu pandangannya. Selain dua tubuh itu, hanya ada beberapa perhiasan emas yang tampak biasa-biasa saja di sekitar mereka kalung, gelang, dan beberapa benda ritual kecil. Tidak ada mahkota kerajaan yang megah, tidak ada gulungan penting, tidak ada peninggalan yang secara politis signifikan.

“Itu ide yang bagus,” balas Falix, setuju dengan Jack, namun ia kembali ke realitas situasi. “Tapi bagaimana kita akan membawa mereka keluar? Bagaimana kita masuk ke dalam sini? Tubuh utuh ini memerlukan penanganan yang sangat hati-hati.”

Mendengar pertanyaan itu, Jack terdiam. Memori seketika menyerbu pikirannya. Ia mengingat kembali perjalanan mereka yang brutal, memasuki makam ini dengan berbagai jebakan, dan yang paling menyakitkan mengorbankan nyawa rekan-rekan mereka. Wajah-wajah yang hilang, darah yang tumpah di koridor-koridor sempit. Sebuah kesadaran pahit menghantamnya, harga dari penemuan ini terlampau mahal. Ekspresi semangatnya memudar, digantikan oleh kerutan rasa bersalah dan kesedihan.

Saat ketegangan dan refleksi pribadi mendominasi kelompok di sekitar peti mati, Aura, yang selalu waspada, merasakan adanya perubahan di sekitarnya. Indranya, yang diasah oleh pengalaman dan insting bertahan hidup, menangkap getaran di lantai batu, sebuah resonansi yang tidak berasal dari gerakan mereka.

Langkah kaki. Banyak.

Aura merasakan kelompok lain sedang mendekat, dan jumlah mereka tidak sedikit. Sebuah senyum tipis, penuh kelegaan dan harapan, terbentuk di bibirnya.

Jadi kelompok bantuan lain datang. Mereka berhasil melacak kita.

Lega, hatinya berbisik. Kalau begitu, rekan-rekan mereka yang tertinggal di lantai empat dekat pintu masuk lantai lima mereka selamat! Perasaan hangat menyebar di dadanya, mengalahkan rasa takut dan jijik yang ia rasakan sebelumnya. Ini adalah berita terbaik yang ia dengar sepanjang malam.

Aura berdiri, mengabaikan mata yang melihatnya dan rasa lelah yang masih ada. Ia melangkah mendekat ke arah peti mati, kini memiliki tujuan baru: melihat sepasang suami istri yang telah menjadi pengantin abadi itu.

Ia berdiri di samping Kieran, melihat ke dalam peti. Wajah mereka, meski pucat, menampilkan kedamaian yang sama. Tangan mereka saling menggenggam erat, seolah sumpah cinta mereka lebih kuat daripada kematian.

“Apa mereka mati di hari yang sama sampai disatukan di peti mati ini?” tanya Aura, suaranya lembut, penuh rasa ingin tahu dan empati.

Kieran mendengar, tetapi tidak menjawab. Ia terlalu sibuk memproses kegagalan dalam menemukan artefak yang signifikan dan persiapan untuk ancaman yang akan datang.

Namun, Falix mendengar pertanyaan itu. Ia sedikit melonggarkan ketegangan di wajahnya.

“Mungkin saja mereka mati di hari yang sama,” jawab Falix, nadanya lebih manusiawi dari biasanya. Ia mencoba tersenyum kepada Aura. “Ini adalah tradisi kuno di mana pasangan raja-ratu terkadang dimakamkan bersama. Tapi bukankah kamu menemukan kisah kematian mereka berdua di ruangan harta? Di sana ada berbagai buku dan prasasti.”

Aura mendengus kesal. Rasa lelah dan ketidakpuasan segera muncul kembali.

“Kamu kira aku bisa membaca semua buku di sana?!” kata Aura, nadanya sedikit meninggi. Ia menyapu poni dari wajahnya dengan gerakan frustrasi. “Jumlah mereka banyak sekali tahu tidak, Falix! Aku hanya sempat mengambil beberapa gambar sampul dan mencatat detail penting!”

Falix melihat kekesalan di mata Aura. Ia tahu persis betapa beratnya tugas Aura, yang harus menjadi mata dan telinga tim di tengah kekacauan. Penyesalan muncul di wajahnya. Ia bergerak mendekat, merangkul bahu Aura dengan lembut, berusaha menenangkan.

“Maaf, Aura. Jangan marah,” kata Falix, suaranya tulus. Rangkulannya terasa menenangkan, mencoba menyalurkan dukungan di tengah lingkungan yang berbahaya. “Kau sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa.”

Aura melepaskan rangkulan bahu Falix, ekspresinya masih kesal namun sedikit melunak. Ia tidak punya waktu untuk drama emosional. Ancaman dari luar sedang mendekat.

Ia kembali melihat ke dalam peti, matanya kini lebih fokus pada detail pakaian dan perhiasan yang melingkari tubuh dua sosok itu. Ia mengangkat kameranya, mengambil beberapa bidikan cepat dengan flash yang diredam, mengabadikan detail wajah dan posisi pelukan abadi mereka. Bukti.

Saat ia selesai mengambil gambar dan menurunkan kamera, sebuah sensasi dingin tiba-tiba menjalar di tengkuknya. Aura merasakan ada sepasang mata yang mengawasinya, menusuk dari kegelapan di luar jangkauan cahaya redup makam.

Ia membeku sesaat. Itu bukan mata rekan-rekannya, juga bukan sensasi yang ia dapat dari kelompok yang mendekat. Ini lebih dekat, lebih pribadi, dan jauh lebih jahat.

Aura berusaha mengabaikan perasaan itu. Ini hanya kelelahan, hanya paranoia makam kuno. Ia memaksa dirinya untuk kembali fokus pada tugas: bersiap menghadapi kedatangan kelompok lain, baik itu penyelamat atau ancaman baru. Ia harus tetap tenang.

Ia berdiri tegak, memandang Kieran dan Jack, siap untuk memberi peringatan tentang kedatangan kelompok lain. Misi mereka belum berakhir. Mereka baru saja membuka babak baru yang jauh lebih berbahaya.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!