Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Terluka (2)
Aku melangkah dengan gontai menaiki satu persatu anak tangga sambil menahan isak tangis. Saat ini hatiku jangan di tanya lagi, pasti sangat hancur.
Mungkin ini adalah hukuman dari Allah, karena telah berani mempermainkan sebuah ikatan suci pernikahan.
"Sayang! Masak gak bisa anterin, sih. Kan ini udah malem, gak baik jika seorang gadis pulang malem sendirian." ucap Galuh dengan manja. Mulutnya terlihat mengerucut.
Aku berhenti sejenak, menoleh kearah wanita itu dengan dada yang bergemuruh, menyaksikan ia bergelayut manja di lengan suamiku. Tempat yang secara agama seharusnya adalah milikku. Hanya milikku, tapi kini ....
Lelaki itu mamatung sesaat, menatapku dengan tatapan yang tidak aku pahami maksudnya. Lalu tangannya mengambil ponsel, Ia terlihat sedang menelpon seseorang.
"Hallo! Ini temanku akan segera pulang. Bisakah kamu mengantarnya? dan pastikan ia sampai dengan selamat."
"Tapi Mas, Aku eng ...."
"Aku harus istirahat sekarang, pulanglah! Kamu juga harus istirahat, kan?" ucap Riski menyela, membuat galuh kesal.
****
Malam ini lebih sunyi dari biasanya. Di bawah guyuran air dari shower, ku biarkan air mata tumpah ruah sesukanya. Entah sudah berapa lama aku telah mematung di sini, hingga sebuah ketukan pintu menarikku dari lamunan.
"Apa yang terjadi?" Riski bertanya begitu aku membuka pintu. Ia terlihat sedikit khawatir.
"Apa maksud mu?" tanyaku balik, meski aku paham maksud dari pertanyaannya tadi.
Aku berlalu dari hadapannya menuju lemari di ruangan ganti. Mencari piyama untuk ku gunakan malam ini. Piyama berwarna merah menjadi pilihanku.
Setelah menyalin baju, aku melangkah menuju ranjang. Terlihat Riski sudah tertidur pulas.
Kembali bayangan kedekatan Galuh dengannya membuat ku jengah memandang lekaki itu. Aku menghela nafas kasar lalu melangkah keluar kamar. Menuju balkon. Berdiri mematung menatap hamparan langit hitam.
Malam ini cahaya rembulan terlihat redup, begitu juga dengan bintang-bintang. Mereka seakan enggan untuk menampakkan diri.
Ah! Bahkan angkasa saja sedang berkabung malam ini. Lalu siapa yang akan menyemangati hatiku?
"Pakailah ini! Udara malam yang dingin tidak baik untuk tubuhmu yang mungil." Riski datang tiba-tiba. Kini ia bahkan telah berdiri di sampingku.
Aku bergeming, tak berniat sedikitpun berinteraksi dengan lelaki itu malam ini. Namun, Riski tak kehabisan akal, meski tanpa persetujuan, ia telah menyelimuti badanku dengan selimut lembut berwarna abu-abu.
Beberapa saat kami saling terdiam dengan pandangan sama-sama tertuju pada langit kelam.
"Mama pasti sudah bercerita banyak tentang Galuh." ujarnya memecahkan kesunyian.
"Kamu! Tidurlah, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun saat ini." sahutku tanpa menatap kearah Riski.
Lelaki itu menoleh kearahku, namun buru-buru aku membuang muka. Rasa marah dan cemburu yang menguasai saat ini membuatku kesulitan dalam mengontrol emosi.
"Kau ini sedang marah atau cemburu, sih?"
"Tidak dua-duanya!"
"Lalu apa ini? Kenapa untuk menatapku saja, kamu enggan, atau jangan-jangan memang benar jika seorang Arini yang terkenal cuek justru saat ini sedang cemburu kepada sua ..."
"Aku marah, bukan cemburu. Puas!" ucapku dengan nada tinggi. Memotong ucapan Riski.
Aku melepaskan selimut dari badan dan meletakkan di atas kursi dengan sembarang, lalu pergi meninggalkan balkon menuju kamar. Selang beberapa detik, Riski juga menyusul.
*****
Hari ini, aku sengaja bangun lebih awal. Sebenarnya semalam aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya. Rasa kecewa dan amarah terus saja mengusikku, bahkan hingga pagi.
Pagi ini Bi Nur tidak berkutat di dapur, aku sengaja menyuruh dia mengerjakan pekerjaan lain. Urusan dapur pagi ini, aku telah mengambil alih.
Dengan menggunakan gamis berbahan lembut berwarna hitam dan tosca serta celemek andalan bermotif awan biru, aku menyiapkan sarapan pagi seorang diri.
Kini, semua makanan telah tertata rapi di dalam plasmanan. Nasi biryani, ayam goreng, kacang panjang tauco, daging rendang menjadi menu pilihanku pagi ini.
Riski muncul tiba-tiba, aku yang sedang merapikan dapur, sedikit kaget dengan kedatanganya.
Hari ini Riski menggunakan jas dan dasi berwarna abu-abu (charcoal grey suit) sedangkan kemeja dalamnya ia memilih warna hitam.
Sesaat aku terpana dengan tampilannya yang memukau dan berkelas, meski tidak ingin aku mengakuinya.
Riski telah mengambil tempat di kursi favoritnya. Selang beberapa detik, Mama Arumi juga muncul dengan pakaian yang sudah rapi.
"Rini!"
Aku menoleh kearah Mama Arumi tanpa menjawab atau bertanya balik, menunggu kalimat berikutnya darinya.
"Apa ini? Kenapa hanya ada nasi kuning disini? Kamu ingin membuat kolestrol saya naik?"
"Ma! Makan saja kenapa sih. Sesekali makan nasi berlemak, apa salahnya," ucap Riski menimpali sambil menatap kearahku. Mungkin ia sedang membela diriku di hadapan Mamanya. Tapi entahlah.
Aku menghela nafas panjang, lalu duduk di antara mereka tanpa banyak bicara hingga acara sarapanpun usai.
Setelah selesai sarapan dan membereskan dapur, aku berniat menuju kamar. Namun aku terkejut karena tiba-tiba saja Riski mencekal pergelangan tanganku.
"Kita harus segera bicara."
"Bukannya kamu harus ke kantor, lalu apa yang sedang kamu lakukan di sini." balasku sambil berusaha melepaskan cekalan tangannya.
Riski terlihat menghela nafas panjang, lalu kedua tangannya mengunciku ke dinding. Seketika pandangan kami saling beradu sebelum akhirnya aku membuang muka.
"Kamu marah karena masalah Galuh kemarin, iya kan?"
"Kau mau tau, kenapa aku marah atau kesal?" tanyaku sambil mendorongnya menjauh. Namun, lelaki itu terlalu kekar untuk tubuhku yang mungil, bahkan doronganku tidak berpengaruh apa-apa baginya.
"Tentu saja, jadi katakan! Apa yang membuat seorang istri dari Riski Jacqueno Anjana menjadi marah?"
Aku tersenyum kecut mendengat sebutan kata 'istri' darinya. Hah! Sejak kapan ia mengakui jika aku adalah istrinya?
"Kenapa kau menceritakan rahasia kita kepada Mamamu? Aku pikir engkau bukan hanya dingin dan arogan, tapi juga lelaki brengsek!" ucapku dengan penuh penekanan.
"Brengsek?" haha! Ku pikir kamu belum paham seperti apa yang di katakan lelaki brengsek." ucap lelaki itu tepat di depan mataku.
"Biar ku perlihatkan, seperti apa yang di katakan brengsek itu." ucapnya lagi sambil menarik paksa tanganku.
Sekuat yang ku bisa mencoba melepaskan, namun lagi-lagi tangannya yang besar tidak akan sebanding dengan tubuhku yang lemah.
Aku mencoba mengatur diri agar terlihat lebih tenang, meski di dalam sana jantung telah berdegub lebih cepat. Laksana tabuhan gendrang.
"Kau! Apa yang sedang kau lakukan?
"Menurutmu apa? Apa kamu lupa jika aku ini suamimu?"
"Kau bilang tadi ingin bicara. Ok! Bicaralah apa yang ingin kau bicarakan." ucapku tiba-tiba, mencoba menghindarinya.
"Aku minta maaf karena telah membocorkan rahasia kita pada Mama. Aku tidak punya alasan lain saat mama menemukan map berisi surat perjanjian pernikahan itu."
Aku menghela nafas panjang. Benar seperti yang mendiang Oma Dwi katakan. Jika salah satu kelemahan Riski adalah ibu kandungnya, Mama Arumi.
Bersambung ....
Hai Reader!
Jika kamu suka dengan cerita CINTA ARINI (Love story is complicated), jangan lupa tinggalkan jejak ya! Berupa like, komen dan vote supaya Author makin semangat dalam menulis.
Salam sayang untuk kalian semuanya!
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏