Anabela Velove gadis cantik yang kini beranjak dewasa. Selama ini dia hanya hidup berdua dengan daddy angkatnya. Dia tak pernah tahu, kalau laki-laki yang selama ini menyayanginya, adalah orang yang menyebabkan dia kehilangan orang tuanya.
Sampai suatu malam, akhirnya dia tahu kalau Benigno Amstrong adalah orang yang menyebabkan dia kehilangan kedua orang tuanya untuk selamanya. Anabela pun akhirnya tahu, kalau Daddy angkatnya seorang Mafia kejam.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Mampukah takdir menyatukan mereka? Akankah Anabela memaafkan Benigno, menghapus rasa dendamnya atas kematian kedua orang tuanya? Ikuti kisahnya di karya "Terjerat Cinta Daddy Mafia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Keberadaan Daddy
"Apa sebaiknya, aku angkat saja telepon dari Nona Ana? Agar dia tak penasaran," gumam Roberto.
"Akhirnya—"
Akhirnya Roberto menerima panggilan telepon dari Ana.
"Kemana saja sih Uncle? Berkali-kali aku menghubungi Uncle, tapi tak diangkat," tegur Ana.
"Sebelumnya, Uncle minta maaf padamu. Karena baru bisa menerima panggilan telepon darimu. Uncle hanya ingin memberitahu padamu, kalau Daddy kamu sedang sibuk. Sehingga tak sempat menghubungi kamu. Dia juga belum bisa kembali," jelas Roberto.
"Mengapa Daddy tak mengatakan sendiri padaku? Mengapa harus lewat Uncle. Di mana Daddy? Aku ingin bicara padanya. Tolong berikan ponsel itu padanya. Katakan padanya, aku mencarinya."
Roberto menghela napas panjang. Ternyata, cukup sulit berhubungan dengan anak kecil. Bagi Roberto, Ana masih bersikap kekanak-kanakan. Dia begitu kritis, dan keras kepala.
"Maaf, Uncle hanya ingin mengatakan itu saja. Untuk alasan itu, Uncle tak bisa menjawabnya. Semua keputusan, ada di tangan Daddy kamu. Ya sudah, Uncle harus melanjutkan pekerjaan Uncle. Kita akhiri dulu panggilan telepon ini," sahut Roberto.
Dia tak ingin berlama-lama berbincang dengan Ana. Bisa-bisa otaknya semakin dibuat pusing olehnya. Dia langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Ana.
"Menyebalkan! Kalian berdua sama-sama menyebalkan!" Ana merasa kesal.
Roberto menatap wajah tuannya dari luar ruangan. Dia berharap, Benigno segera melewati masa kritisnya. Baginya, Benigno sosok orang yang baik. Meskipun dia seorang yang kaya raya. Banyak hal yang Roberto pelajari darinya.
"Bangunlah Tuan, Nona Ana menanti Anda kembali!"
Hari demi hari terus terlewati. Benigno masih saja memejamkan matanya. Sampai akhirnya, perlahan Benigno membuka matanya. Setelah empat hari tak sadarkan diri. Hari ini dia sudah tersadar. Namun, dia masih terlihat lemah tak berdaya.
Dia tatap sekeliling ruangan, mencoba menerka di mana dia saat ini berada. Akhirnya dia tahu, kalau dia masih di rumah sakit. Perawat memanggil Roberto, yang menunggu di luar. Mendengar bosnya sudah sadar, Roberto bergegas menghampirinya.
"Syukurlah, akhirnya Tuan bisa melewati masa kritis. Semoga Tuan bisa segera pulih, dan hidup normal kembali," ucap Roberto.
"Apapun yang terjadi, jangan kasih tahu Ana!" Pinta Benigno. Dalam kondisi seperti ini, dia masih saja memikirkan perasaan Ana.
Terlebih Roberto menceritakan, kalau Ana mencari keberadaan Benigno. Benigno meringis, bekas operasinya masih terasa sakit. Dia masih belum bisa banyak bergerak.
Sejak tadi Ana terlihat uring-uringan tak jelas. Perasaannya tak tenang. Beberapa hari tak bertemu daddynya. Hatinya merasa gundah gulana.
"Kenapa?" Tanya Ana.
"Saya hanya ingin mengingatkan. Sejak kemarin Nona belum makan. Nanti Nona sakit," ujar Terecia.
"Aku tak lapar. Sudah sana! Aku tak ingin makan," usir Ana.
Dia mendorong tubuh Terecia keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Aku tak akan makan! Biar saja aku mati. Daddy pun tak peduli padaku," teriak Ana dari dalam kamarnya.
"Tuan Benigno akan marah, jika Nona tak makan. Makan sedikit saja, paling tidak ada masukan ke dalam perut. Atau mungkin Nona Ana sedang ingin menginginkan sesuatu?" Rayu Terecia.
Dia tak ingin nantinya Benigno akan marah padanya. Jika Ana sakit. Benigno begitu perhatian pada Ana. Saat dia tak ada di Mansion, dia selalu menitipkan Ana kepada para pelayan. Ana selalu dianggap seperti anak kecil yang manja. Yang harus selalu diperhatikan.
Ana masih saja bersikeras. Dia tetap pada pendiriannya tak ingin makan, meskipun Terecia sudah merayunya.
Benigno menghubungi Terecia, menanyakan kabar Ana. Namun, dia tak memberitahu kondisi dia saat ini, dan dia tak mengizinkan Terecia memberitahu Ana.
"Baik, Tuan. Tapi, bagaimana ini Tuan? Nona Ana tak mau makan sejak kemarin. Dia mengurung dirinya di kamar, tak keluar kamar. Dia sangat kehilangan Tuan," jelas Terecia.
"Rayu. Masa satu orang saja, kalian tak bisa merayu. Katakan padanya, Daddy akan marah jika dia tak makan," sahut Benigno.
"Sudah, Tuan. Saya sudah katakan. Tapi Nona Ana masih saja bersikeras. Bahkan dia mengatakan, kalau dia mau mati saja," ujar Terecia.
"Ya sudah biarkan saja dulu! Kalau memang begitu. Nanti, kalau dia lapar. Pasti dia akan makan."
Benigno mengakhiri panggilan telepon dengan Terecia. Da*danya terasa sakit. Dia masih membutuhkan pemulihan. Dia akan pulang, jika kondisinya sudah memungkinkan. Mereka akan terpisah dalam waktu lama.
"Maafkan Daddy, An! Sebenarnya, Daddy tak ingin membuat kamu sedih. Tapi nyatanya, kamu begitu kehilangan Daddy. Sabar ya! Secepatnya Daddy akan kembali ke sana," Benigno berkata dalam hati.
"Daddy menghubungi Bibi?" Tegur Ana membuat Terecia terkejut. Dia tak menyangka, kalau sejak tadi Ana mendengar percakapan dia dengan Benigno.
Wajah Terecia langsung berubah pucat. Dia tampak bingung memikirkan, alasan apa yang harus dia katakan kepada Ana.
"Jangan, Nona!" Ana merebut ponsel Terecia. Dia ingin menghubungi Benigno.
"Ya Tuhan, gimana ini?"
sekedar dukung dng setangkai bunga Ndak papa ya kak mo tak kasih hati ngak cukup koinku.
slalu semangat dlm berkarya...