Bagi sebagian orang hal pertama yang terpikirkan saat mendengar kata ‘ibu tiri dan saudara tiri’ pastinya tergambar ibu tiri dan saudara tiri yang galak dan jahat sama seperti cerita- cerita dongeng yang sering di tonton dalam film kartun waktu anak- anak. Dan mungkin itulah yang ditakutkan Elisabeth.
***
“ Elisa, kenalkan ini Berta dan anaknya Ezra.”ucap George suatu hari.
“ siapa mereka, Dad?” heran Elisa.
“ ini adalah kekasih ayah dan anaknya, aku harap kalian berteman akrab, dia lebih tua darimu 3 tahun, jadi nantinya ia akan jadi kakak darimu dan Adrian.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 namaku Ezra
“ sial, bagaimana dulu aku bisa menyukai pria membosankan macam Nath sie?” geram helena. Sebelum bangun ia menginginkan s** morning. Namun jangankan itu, ia bahkan tidak mendapatkan k**s morning. Pria itu telah berangkat kerja ke rumahnya untuk kembali membuka usaha kayu- nya, bahkan sebelum helena bangun. Mereka memang telah tinggal di rumah pemberian mommy Helena sehingga tidak ada yang mengganggu pengantin baru, namun kelakuan Nathan lagi- lagi membuat Helena frustasi. Awal pertemuan mereka Helena memang menyukai Nathan karena terlihat energic dan humoris, namun lagi- lagi umur telah merubah segalanya. Atau mungkin masalah- lah yang merubah Nathan, belum lagi masalah alcohol yang dulu selalu menjadi temannya saat muda dulu.
Harus diakui Nathan sangat pandai memasak namun sekarang apa lagi yang bisa dibanggakan? Padahal dulu saat Nathan bersama Elisa, pria itu terlihat begitu menarik untuk direbut, sekarang begitu telah menjadi miliknya Nathan terlihat tak menarik lagi. apa lagi karena caranya yang seolah hanya terburu- buru tanpa berusaha memuaskan pasangannya.
Membuat wanita itu frustasi. Ia bahkan mendapatkan pesan dari Nathan yang mengatakan jika telah bangun, Nathan menyuruhnya menyusulnya kerumahnya untuk membantunya. Sebagai anak manja tentu permintaan Nathan akan diacuhkannya. Dari pada mengotori tangannya, ia lebih memilih ke sanggar tempatnya biasa menari. Ia berdandan sedemikian rupa sebelum akhirnya mengunci rumahnya. Makanan yang telah disiapkan Nathan ditaruhnya dikulkas, ia memilih makan diluar. Ia meraih kunci mobilnya dan memasuki mobilnya yang bercatkan serba pink. Ia meraih bantal di kursi belakang dan menaruhnya di punggungnya untuk mengatasi perutnya yang akan kram kalau terlalu lelah menyetir.
Ia berniat membeli di restoran yang biasa menyediakan makanan cepat saji kesukaannya, namun perhatiannya tertuju pada sebuah seluet punggung pria. Ezra sedang duduk di pinggir jalan menunggu Elisa membeli bunga. Ia dan Elisa berniat mengunjungi makam ibu dan adik kandung Elisa.
Yang niatnya hendak membeli makanan menjadi teralihkan, Helena menghentikan mobilnya tidak jauh dari situ dan berniat menyapa Ezra karena ia berpikir pria itu sedang sendiri.
“ Bae.” panggil Helena dengan tidak tahu malu. Melihat siapa yang memanggilnya terlihat Ezra mendelikkan matanya dengan jengah dan menarik nafas kasar. Ia lebih memilih mengacuhkan wanita yang sedang menuju padanya.
“ kak Ezra koq cuek banget, sie?” ucap Helena dengan suara centil.
“ namaku Ezra, bukan ‘bae.”ucap Ezra dingin, memilih menyalakan nicotine untuk mengusir rasa kesal.
“ ih, kan biar akrab. Kakak sendiri?” Helena berusaha namun tidak dijawab Ezra. Ia terlalu malas menanggapi wanita yang tidak tahu malu ini, biasanya wanita yang dekat dengannya di tatap dingin oleh Ezra sudah menciut namun Helena malah seperti lintah yang terus menghisap meski telah diusir.
“ kak, aku lagi bete.” ucap Helena tak merasa diacuhkan.
“ masa Nathan tidak kuat di kas**, kan aku kesal banget, kak.” Ezra masih diam meski dalam hati ia menertawakan kemampuan Nathan di ranj*ng.
“ kalau kak Ezra, pasti asik, ya? Apa lagi kakak masih muda? Aku jadi penasaran.” ucap Helena mendekatkan wajahnya ketelinga Ezra agar Ezra mendengar suaranya yang dibuat m*nd*sah. Wanita itu bahkan berusaha memancing dengan membasahkan bibirnya dan menggigit bibir bawahnya agar terlihat s*xy.
“ aku tidak tertarik dengan wanita hamil.” satu kalimat membuat kepercayaan diri Helena jadi ciut.
‘Bagaimana bisa, dia tahu aku hamil? Kecuali mommy- ku tidak ada yang tahu aku hamil, bahkan Nathan. Perutku juga belum terlihat besar.’ batin Helena mulai gelisah.
“ Helena? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Elisa baru datang setelah selesai menawar bunga yang akan dibawa ke makam ibu dan adiknya. Kedatangan Elisa sontak membuat Helena kembali merasa kesal, apa lagi melihat Ezra yang langsung merangkul Elisa dan bersikap lembut kepada Elisa padahal sedari tadi Ezra bersikap dingin padanya.
“ dan apa yang kalian lakukan disini?” pertanyaan Elisa dibalas pertanyaan oleh Helena.
“ kami? Kami membeli bunga.” ucap Elisa memperlihatkan bunga yang tadi dibelinya.
“ apa yang dilakukan wanita yang telah menikah disini?” kali ini Ezra bertanya dengan nada sinis.
“aku berniat membeli makanan di resto X lalu melihat kak Ezra aku pikir dia sedang sendiri.” ucap Helena centil saat mendengar Ezra bertanya padanya. Niat hati ingin menyombongkan bisa membeli makanan di resto yang sekarang sedang menjadi tranding di intagram namun Ezra hanya menyungingkan tawa mengejek, memilih mengambil bunga yang dibawa Elisa dan kembali ke mobil. Elisa hanya mengikuti Ezra meninggalkan Helena dengan berbagai perasaan kesal.
Niatnya membeli makanan hilang. Ia bergegas pulang kerumahnya dan histeris dirumah ibunya. Melihat anaknya yang hanya bisa menangis membuat Hani bingung. Helena terus- terusan menanyakan apakah Hani telah menasehati Elisa atau belum? Kenapa wanita itu masih terlihat santai- santai saja dan malah seperti helena yang merasa menyesal telah menikahi Nathan. Belum lagi perlakuan dingin Ezra kepadanya. Tidak ada yang pernah menolaknya seperti yang Ezra lakukan.
“bagaimana bisa Ezra tahu aku hamil? Apakah mom yang memberi tahu saat kerumah Elisa.” teriak Helena histeris tanpa memikirkan kandungannya.
“ mom tidak mengatakan apapun, kecuali menyerahkan undangan pernikahanmu Helena, tenanglah bagaimana jika kandunganmu kenapa- napa?” ucap Hani panik.
“ jadi mom tidak menasehati Elisa?” ucap Helena menebak. Membuat Hani semakin pucat.
“ sa.., saat kesana Elisa tidak ada dirumahnya.” ucap Hani mencoba berdalih.
“ lalu kenapa mom tidak sekalian menasehati ibu tiri Elisa? Panas- panasi dia agar memarahi Elisa.” ucapan Helena membuat Hani semakin pias. Tidak mungkin ia mengatakan jika ibu tiri Elisa adalah seniornya disekolah keperawatan dulu. Membayangkan jika Helena bertemu Berta saja membuat Hani semakin ketakutan. Bagaimana jika Helena tahu sikap memalukan ibunya? Yang mengemis minta tolong untuk kelahiran putrinya namun menampar muka orang yang menolongnya dengan uang lalu menertawai orang yang menolong.
Melihat kediaman ibunya membuat Helena semakin kesal. Ia membanting pintu rumahnya dan kembali kemobil lalu bergegas pulang. Mengambil ponselnya, mengetikkan pesan dan mengirimkannya ke seorang pria.
harusnya yang jadi Elisa itu song hye Kyo
Helena lebih cocok yg jadi Elisa karena pelakor heheheh
song hye kyo lagii...
karyamu hebat kak
like meluncur 👍
karyamu hebat kak
like meluncur 👍
aku mampir nih thorr
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support thorr ❤️
thanks
Aku datang membawa 10 like untukmu,
mampir juga yuk ke karyaku yg berjudul "Before you go"
Mari kita saling mendukung kak^^