PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Wanita di Mall
Alden masih bertahan di belakang meja kerjanya. Dia baru saja mendapatkan laporan dari Dion tentang Felicia. Menurut informasi yang didapatnya, Felicia yang memiliki nama lengkap Felicia Artamevia memang sudah meninggal dua tahun lalu akibat kecelakaan tunggal yang dialaminya.
Mobilnya menabrak jembatan dan terjun ke bawah lalu meledak. Banyak yang menyaksikan saat ledakan terjadi, termasuk Zayn yang waktu itu mengejarnya. Mayat wanita itu tidak bisa dikenali karena hangus terbakar. Namun Zayn mengenali dari tato bunga mawar yang ada di dekat pergelangan tangannya serta cincin pertunangan yang diberikan Zayn. Hasil tes DNA juga membuktikan kalau mayat tersebut benar Felicia.
Selain meminta menyelidiki soal Felicia, Alden juga meminta Dion menyelidiki wanita yang dilihat oleh Zayn. Selain penasaran, Alden juga ingin membantu pria itu untuk memastikan wanita yang dipilihnya. Dan tujuan lainnya tentu saja demi mendapatkan Cyra. Zayn memang sudah memberikan lampu hijau untuknya, tapi berbeda dengan Fabian. Alden berharap apa yang dilakukannya bisa sedikit melunakkan hati Fabian.
Alden melihat lembaran foto yang diberikan Dion. Dari hasil tangkapan cctv yang ada di mall terlihat wanita yang dicari Zayn memang memiliki kemiripan dengan Felicia. Hanya model dan warna rambutnya saja yang berbeda. Felicia yang sudah meninggal berambut hitam dan panjang. Sementara wanita di mall berambut pirang dan pendek.
“Kalau dari mukanya memang mirip. Apa mereka saudara kembar?” gumam Alden. Dia semakin penasaran saja dengan sosok wanita ini.
Pria itu terjaga dari lamunannya ketika mendengar ketukan di pintu. Dari arah luar terdengar suara Menul memanggilnya untuk makan malam. Alden memasukkan kembali lembaran foto ke dalam amplop, lalu pria itu keluar dari kamarnya. Saat tiba di ruang makan, nampak kedua orang tua, grandpa dan grandma-nya sudah menunggunya di meja makan.
“Kamu tuh, harus dipanggil dulu kalau makan malam,” tegur Alisha.
“Maaf, ma.”
“Belum menyelidiki kasus aja sudah begini. Apalagi kalau sudah menyelidiki kasus.”
“Maaf, ma. Udah dong jangan ngambek.”
Alden meraih tangan mamanya, lalu mencium punggung tangannya. Itu adalah kebiasaannya untuk meredakan kemarahan sang mama. Senyum Alisha langsung terbit ketika anak bungsunya melakukan itu. Berbeda dengan Viren yang berdehem keras. Alden terkekeh mendengar deheman papanya. Pasti pria itu cemburu padanya.
“Biasa aja dehemnya, pa. Ngga usah cemburu gitu.”
TOK
Sebuah getokan sendok mendarat di kepala Alden, sang pelaku tidak lain dan tidak bukan adalah Viren. Alisha hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah anak dan suaminya.
“Grandpa, di dunia ini persentase anak kembar tuh besar ngga sih”
“Kalau menurut penelitian, 1 dari 42 anak yang lahir ke dunia itu kembar.”
“Lebih banyak kembar identik apa tidak identik?”
“Menurut penelitian juga, hanya 1 dari 3 anak kembar yang lahir itu identik. Jadi lebih banyak yang kembar tidak identik. Contohnya uwamu, mereka tidak kembar identik. Begitu juga dengan Zar dan Arsy. KiJo juga sama, adik kembarnya perempuan. Nara dan Naya juga tidak identik.”
“Oh gitu.”
“Kenapa nanya-nanya? Kamu pengen punya anak kembar?”
“Nanya aja, ma. Masa ngga boleh. Apalagi nanyanya sama grandpa, gratis. Kalau konsul ke dokter kandungan kan bayar, hahaha…”
“Dia mau punya anak kembar sama siapa? Masih jomblo, kerjaannya juga dekatin kamu terus,” seru Viren.
Alisha hanya mendelik pada suaminya. Jika sudah dalam mode cemburu, pria itu senang sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Alden kembali dibuat tertawa. Melihat sang papa cemburu, dia malah semakin senang menggodanya. Ditariknya tangan Alisha, lalu digenggamnya. Dengan cepat Viren memukul tangan anaknya. Juna dan Nadia hanya tersenyum saja melihat tingkah anak dan cucunya.
“Menurut grandpa, kalau tes DNA itu bisa dipalsukan ngga?”
“Ngga ada yang ngga mungkin dia di dunia ini. Kalau orang itu punya maksud terselubung, kemungkinan itu bisa saja terjadi.”
“Memangnya kamu lagi selidiki kasus apa?” tanya Nadia.
“Bukan kasus, grandma. Cuma kemarin pas nonton sama Cyra, bang Zayn tuh katanya lihat pacarnya yang sudah meninggal dua tahun lalu. Makanya aku tanya soal kemungkinan anak kembar atau pemalsuan DNA.”
“Orang yang memalsukan DNA itu bukan orang sembarangan. Ada banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Dan kalau tidak ada dukungan dari orang yang berkuasa, rasanya sulit untuk memalsukan hasil tes DNA.”
Kepala Alden mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Juna. Otaknya kembali berputar memikirkan kemungkinan wanita di mall adalah Felicia atau justru kembarannya. Alden berencana bertemu dengan Zayn esok hari.
🍄🍄🍄
“Bang!” panggil Alden ketika melihat Zayn keluar dari kantor polrestabes. Sepulang kerja Alden menyempatkan diri bertemu dengan bakal calon kakak iparnya.
“Tumben ke sini. Ada apa?”
“Mau ngobrol aja ama abang. Gimana kalau sambil makan?”
“Boleh. Tapi udah maghrib nih. Kita shalat dulu aja.”
“Oke.”
Keduanya kemudian berjalan menuju mushola yang ada di kantor polrestabes tersebut. Saat memasuki mushola, Alden berpapasan dengan Tamar yang juga hendak menunaikan ibadah shalat maghrib.
“Al.. ngapain ke sini?” sapa Tamar.
“Mau ketemu bang Zayn.”
“Oh lagi pedekate demi mendapat restu ya.”
Mata Alden membulat mendengar ucapan Tamar. Setelah menikah dengan Stella, pria ini jadi sering mengucapkan kalimat seenak perutnya saja. Tamar terkekeh melihat reaksi Alden, begitu pula dengan Zayn. Setelah ketiganya melepaskan sepatu, mereka memasuki mushola.
Setelah menunaikan ibadah shalat maghrib, Alden dan Zayn segera menuju tempat makan yang ada di belakang kantor polrestabes. Alden juga mengajak Tamar untuk ikut makan bersama. Ketiganya menuju tempat makan sambil berjalan kaki.
Suasana tempat makan tidak terlalu ramai ketika mereka sampai. Zayn memilih meja yang letaknya paling sudut. Tangannya terus melihat pada amplop yang ada di tangan Alden. Sepertinya ada hal yang ingin dibicarakan Alden dengannya.
“Itu apa?” tanya Zayn ketika mereka duduk.
“Euung…”
Alden melirik sebentar pada Tamar. Dia lupa kenapa harus mengajak Tamar. Padahal ada hal pribadi yang hendak dibicarakan dengan Zayn. Menyadari arah pandang Alden, Tamar berinisiatif untuk pindah ke meja lain.
“Kayanya ada yang mau dibicarakan berdua aja. Aku pindah ke meja lain aja,” ujar Tamar sambil berdiri.
“Ngga usah, kamu di sini aja,” cegah Zayn.
Pria itu menganggukkan kepalanya untuk menguatkan ucapannya tadi. Melihat itu, Tamar mendudukkan bokongnya kembali.
“Ada apa?” tanya Zayn lagi.
“Sebelumnya aku minta maaf sama abang kalau aku sudah lancang.”
“Ada apa sih? Ngga usah basa-basi, langsung aja.”
“Waktu kita nonton, aku ngga sengaja dengar kalian ngobrol soal Feli, mantan pacar abang yang sudah meninggal.”
“Lalu?”
“Aku menyelidikinya. Aku mencari tahu siapa perempuan yang abang lihat waktu itu. Dan ini hasilnya.”
Alden menyerahkan amplop di tangannya. Zayn membuka amplop tersebut, lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Alden terus memperhatikan Zayn. Pria itu tidak terlihat terkejut sama sekali.
“Sebenarnya aku juga sudah menyelidikinya. Wajahnya memang mirip dengan Feli.”
“Apa dia punya saudara kembar?”
“Aku ngga tahu. Tapi setahuku dia itu anak yatim piatu.”
Tamar mengambil foto yang tergeletak di atas meja. Sejenak dia memandangi wajah wanita di foto tersebut. Pria itu mencoba mengingat di mana dia pernah melihatnya. Kemudian jarinya menjentik.
“Aku pernah bertemu dengannya,” seru Tamar.
“Oh ya? Di mana? Kapan?” cecar Zayn.
“Setahun yang lalu. Waktu itu aku sedang menangani kasus perdagangan organ manusia. Ketika sedang mengejar tersangka, aku sempat melihatnya. Dia ada di TKP. Awalnya aku pikir dia hanyalah orang yang kebetulan lewat. Tapi setelah dipikir lagi, sepertinya dia yang sudah membantu salah satu tersangka untuk kabur.”
“Oh ya? Lalu bagaimana dengan kasusnya?”
“Kasusnya sudah ditutup. Tersangka yang kita tangkap mengaku kalau dua adalah dalang utamanya. Aku sempat menyangsikannya dan meminta penyelidikan ulang, tapi karena kurangnya bukti, atasan tidak memberikan ijin. Tersangka sudah di penjara sekarang.”
“Dia di penjara di mana?”
“Sukamiskin.”
“Bisa kamu berikan berkas kasusnya?”
“Nanti akan kuberikan.”
“Abang mau menyelidikinya?” tanya Alden.
“Iya. Aku harus menyelidiki lagi soal masa lalu Feli.”
“Soal itu serahkan aja padaku, bang,” ujar Alden.
“Makasih, Al.”
“Menurut abang, apa itu Feli?”
“Entahlah. Tapi tidak ada salahnya untuk menyelidiki. Apalagi ini berkaitan dengan kasus yang sudah ditutup. Masalah perdagangan organ, sepertinya tidak sesederhana yang terlihat.”
“Aku setuju,” ceplos Tamar.
“Aku akan menghubungi temanku yang bekerja di pengadilan tinggi kota Bandung. Pasti berkas kasusnya juga ada di sana, kan?”
“Iya. Dulu jaksa yang menanganinya adalah Piet Rambitan, kalau tidak salah.”
“Baik, aku akan coba mencari lagi kasusnya.”
Perbincangan mereka terhenti ketika pemilik tempat makan membawakan pesanan mereka. Sambil makan Zayn terus berpikir. Dia yakin kalau yang dilihatnya adalah Felicia. Jika benar itu adalah mantan kekasihnya, maka kecelakaan dibalik kematiannya adalah kesengajaan.
🍄🍄🍄
Jadi detective Upin Ipin dulu, eh detective Conan🤭
Coverku diganti sama entuun... Buat yang bingung, lihat aja judul sama othornya ya. Entuun kerajinan ganti cover seenaknya🤧