NovelToon NovelToon
KULDESAK

KULDESAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Konflik etika / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:104.9k
Nilai: 5
Nama Author: NL choi

Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Tentatif atau Definit

...24. Tentatif atau Definit...

Selama sepuluh hari ia mendapatkan kabar bahwa Saba mengisi seminar, sarasehan, berbagai forum diskusi dan konferensi di kota-kota sepanjang Pantura. Selama itu juga ia menantikan kabar Saba dalam diam.

Ia mengira perasaan yang singgah itu hanya bersifat sementara. Namun kian ditepis nyatanya makin sentimental.

Pernah ia mengirimkan pesan singkat menanyakan keberadaan dan kabar Saba. Namun baru dua jam kemudian pesannya terbalas. Saba menjawab bahwa dirinya tengah berada di Surabaya. Lima menit lagi ia akan mengisi konferensi.

Selang dua hari kemudian ia kembali mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Saba. Lalu jawaban itu terbalas sehari setelahnya. Saba memberitahukan bahwa dirinya tengah berada di Serang. Dan keesokan harinya akan pulang bertepatan dengan peringatan may day.

Ia pun berusaha untuk mencari informasi titik-titik lokasi demonstrasi. Ada beberapa titik yang disebutkan, namun semua akan terkonsentrasi di istana negara.

Pagi itu bertepatan dengan peringatan may day, ia pergi berkunjung ke tempat peristirahatan abah. Seperti biasa, ia menaburkan racikan bunga dan menyiramkan air mawar yang dibelinya di depan masuk gapura. Kali ini ia meletakkan satu pot bunga tepat di depan nisan. Ia menunduk khusuk berdoa. Setelah selesai berdoa ia mulai berpindah tempat.

Hal yang sama ia lakukan di tempat peristirahatan Panca. Jika di tempat abah ia meletakkan pot berisi bunga peace lily, maka di dekat nisan Panca ia letakkan pot berisi bunga mini gajah yang tengah berbunga merah merona.

Usai mendoakan Panca, ia mulai membuka cerita.

“Mas Panca … Na, rindu. Hari ini Na, datang membawa bunga spesial buat Mas Panca.” Ia memandangi tanaman hias yang tengah berbunga cantik itu.

“Maaf, Na mungkin gak sesering ibu datang kesini. Na … juga mengecewakan Mas Panca. Lulus lambat, gak cumlaude lagi, karena Na kuliah lebih dari lima tahun. Gimana, Na bisa seperti abah coba, kayaknya Na gak bisa seperti harapan Mas Panca, untuk mengikuti abah,” adunya.

“Mas, Na boleh tanya sesuatu?” Ia seperti menunggu jawaban. Namun tak lama ia tertawa kecil. Menertawai diri sendiri yang mungkin jadi obat gundahnya akhir-akhir ini. Mau cerita dengan Asthari, perbedaan waktu di sini dan di Kanada 12 jam. Pada saat ia menelepon malam jelang tidur, Asthari pergi ke kampus. Ketika ia coba menghubungi pagi hari, Asthari tengah bersiap tidur, kadang tengah mengerjakan tugas. Selalu bentrok. Toh, kalaupun bisa menelepon hanya sebentar. Ia tahu kakaknya itu tengah disibukkan dengan tugas dan sebagai mahasiswa baru yang butuh beradaptasi.

“Na, malu sama ibu. Jadi Na cerita saja sama Mas Panca, ya.” Selain itu ia tidak ingin membebani ibunya dengan kengundahannya. Meski ia tahu, Tiyuh seorang ibu yang punya solusi setiap permasalahan yang dihadapi anak-anaknya.

“Mas Panca pernah jatuh cinta, gak?” Ia kembali tertawa kecil. Mungkin ini pertanyaan lucu dan lugu baginya. Juga mungkin bagi orang yang mendengarnya. Sewaktu di SMA ia pernah suka dengan seseorang tapi itu tak bertahan lama. Tentatif saja. Rasa itu perlahan hilang seiring orang itu pindah sekolah. Lalu di masa kuliah ia pernah juga suka dan kagum dengan teman kelasnya. Namun, lagi-lagi perasaan itu punah sendiri seiring orang itu memilih wanita lain sebagai pacarnya.

Sekarang. Ia kembali merasakan perasaan yang sulit digambarkan, dijelaskan, bahkan mungkin sulit diungkapkan.

“Seingat, Na … Mmm Mas Panca gak pernah bawa pacar ke rumah. Kalau teman cewek banyak, tapi yang mengaku pacar Mas Panca gak ada. Jadi kalau Na tanya Mas Panca pernah jatuh cinta kayaknya kurang tepat, deh. Tapi, mungkin bisa jadi dulu sewaktu Mas Panca SMA pernah merasakan jatuh cinta sama seseorang. Rasanya, bagaimana? mmm … gak enak, kan.” Gelak kecil keluar dari mulutnya.

“Kayaknya gak usah pacaran deh. Apalagi hanya teman dekat. Status gak pasti. Semua tuh terasa menyebalkan. Mmm … sentimental yang menyebalkan. Menjengkelkan. Pokoknya menyebalkan deh. Menurut Na, langsung nikah aja. Kalau sudah nikah, semua definitif. Gak perlu malu hanya mau tanya kabar. Gak perlu malu bilang rindu. Gak perlu malu buat bilang cinta. Gak perlu malu mengungkapkan perasaan,” keluhnya.

“Ternyata seseorang yang pandai berkomunikasi belum tentu juga pandai mengungkapkan perasaannya. Nyatanya nol banget. Apa Mas Panca juga seperti itu? Mas Panca pandai berorasi, suka berargumen dengan abah, suka berdebat, tapi sulit bilang cinta,” cibirnya. Ia memandangi bunga dalam pot. “Kayaknya … Na, yang salah … terlalu berharap berlebihan pada sesuatu. Itu gak baik. Gak bagus.” Ia menghela sebanyak-banyaknya. Lantas menghembuskan perlahan.

“Sekarang perasaan Na sudah lumayan membaik. Makasih Mas Panca mau mendengar cerita Na yang gak jelas ini. Minggu depan kalau bunganya hilang atau mati, Na ganti yang baru. Masih banyak stok di rumah. Mas Panca tenang aja, bukan bunga ibu.” Ia menarik bibirnya membentuk senyuman.

“Hari ini Na mau ikut unjuk rasa. Kalau dulu Mas Panca yang selalu didepan ikut memperjuangkan, sekarang Na gak boleh tinggal diam.” Ia termenung beberapa saat. Mengingat kematian Panca sebagai korban saat aksi unjuk rasa di usia 22 tahun. Saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun hingga saat ini peristiwa lama itu tak lekang oleh ingatannya. Mungkin hal itulah yang membuatnya selama ini menghindari kegiatan demonstrasi. Trauma kehilangan Panca. Kakak laki-laki yang dekat dengannya. Masa kecilnya hanya di kelilingi Catur, Panca, Sapta dan Asthari. Sementara kala itu Mas Cipta telah pergi ke Kanada. Saudara-saudaranya yang lain meninggal ketika ia belum lahir dan masih kanak-kanak.

Apa ia harus berterima kasih pada Saba. Sebab bertemu dan berteman dengan Saba, mengubah sudut pandangnya. Perlahan ia mampu berteman dengan rasa trauma itu. Trauma itu tak seberapa dengan mereka-mereka sebagai pihak yang lemah yang perlu disuarakan haknya.

Pantas Panca berjuang dan bertekad hingga akhir hidupnya. Mendedikasikan tenaga dan pikiran untuk keadilan dan keberpihakan pihak yang lemah. Meski nyawa taruhannya. Dulu mungkin ia belum terlalu mengerti atas kejadian apa yang sebenarnya menimpa Panca. Tapi lambat laun, saudara-saudaranya menceritakan kejadian yang lebih jelas dan detail ketika ia menginjak dewasa. Abah yang pernah diteror, karena Panca terlalu bersuara. Panca pernah dikirimi surat kaleng. Hingga diancam dikeluarkan dari kampus. Namun ancaman-ancaman itu tak sedikitpun membuat Panca gentar. Pun juga dengan abah.

Ia kembali menghela dalam-dalam. Kemudian mengembuskan dengan sentakan.

“Na, pamit, ya, Mas.” Ia memunguti daun-daun kering yang jatuh di sekitar ‘rumah’ kakaknya tersebut. Lalu mengusap nisannya. Ia juga menebar bunga ke gundukan tanah yang berdekatan. Nisan atas nama Sad Persada, Tri Mahendra, dan yang terakhir Nilawati binti Ahmad Koswara. Neneknya yang berasal dari abah. Nenek yang meninggal ketika ia baru berusia satu bulan.

1
Dinda Gusti
bang saba temannya mas panca kah?
Dinda Gusti
😍
Dinda Gusti
aq ank ke 8 dr 10 bersaudara/Chuckle/
Dinda Gusti
sedihnya...jd ingat ibuq😔
anamsyahla qory
Sentul ini
anamsyahla qory
Karya othor neil selalu berkesan nggak pernah bisa di tebak ada rasa greget2 manis
anamsyahla qory
Othor Enel aku hadir Mpok Poernama
Vie ardila
Luar biasa
Syumie Susanty
kaka kemana yaaaaa ,aku kangeeen banget sama cerita yg kaka buat, sebelum aku punya bayi ,dan sekarang bayi aku udah 1t ,belum ada kelanjutannya 😭😭😭 ,semua nungguin kaka dan kelanjutan cerita ka nawa dan bang saba
yayah: iya, SDH lama sekali
total 1 replies
Norainah Hani
semoga segera lanjut ceritanya
Fauzi Nizam
ya Allah Thor.. sekian purnama nggak lagi up Thor.. udah 2025 nih... nggak di lanjutkan lagi nih.. padahal kangen sama bang saba nawa
Yay.
Hampir setahun ga dilanjutkan 😩
Elita Lestari
aku sampai agak lupa sama jalan crt nya, saking lama othornya nggak nulis lanjutan nya
Fauzi Nizam
ya Allah kak.. beneran AQ kangen Ama nawa dan bang saba..
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
Syumie Susanty
masih belum ada tanda2 kelanjutannya ya, di pantau terus dari bulan manaaa mh, kmna kah kau author, 🤔
Atala Putri
bagus semua buku mu tak baca ini aplikasi dah kehapus cari" lagi ketemu semangat author tamattin ya bukunya
Fauzi Nizam
nawa cemburu bang,,
ah bang saba kurang peka
Fauzi Nizam
kapan novel ini dilanjutkan lagi Thor?? ah padahal seru loh ini .
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
Khusnul Khotimah
dimanakah kak author nya?
Fauzi Nizam
novel ini kereen banget,, tapi sayang belum dilanjutkan lagi sampai end..
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!