“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”
“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."
genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY
tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE
[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?
"We get dirty so the world stays clean."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Struggle
"Tunggu sebentar... kau pasti bergurau... sedang apa dia di sini?"
Percuma Norofi melontarkan pertanyaan itu, karena baik Zeze maupun Rhea, tidak ada satu pun yang tahu jawabannya.
Sekitar setengah jam lagi adalah waktunya kami bergerak ke kediaman salah seorang jendral yang lolos dari tuntutan penyalahgunaan wewenang dan dirumorkan sedang menjalankan bisnis prostitusi di Kota Saufrity. Sekalipun para ksatria memang telah mengendus rencana kami, pria itu memiliki kesempatan kecil untuk ikut campur. Informasi yang Kaló temukan menyatakan bahwa tidak ada jadwal apa pun di dalam agendanya yang mengharuskan dia berada di sekitar target. Obi pun mengonfirmasi bahwa dia akan pulang malam ini. Sial. Apa yang harus kami lakukan tanpa Kai dan yang lainnya? Norofi lanjut menyumpah-nyumpah dalam hati sambil menatap garang pada Antoni.
Seolah memiliki kemampuan telepati, pikiran Rhea terkoneksi dengan Norofi. Gemetar yang mengguncang tubuh mereka berasal dari rasa takut dan gelisah, sementara emosi lain sedang menggerogoti pikiran si Bungsu, mendominasi rongga dada dan menanam simpul di tenggorokannya. Amarah. Rhea menyadari itu, ia dapat merasakan hasrat membunuh Zeze berkobar dan menggelapkan auranya. Tapi beruntung Zeze dapat dengan cepat menjinakkan emosinya kembali.
Rhea meneguk liurnya dan bergumam ngeri, "Antoni... Barier..."
Bulir keringat timbul di pelipis mereka bertiga, mengaliri rahang, jatuh berupa tetesan di atas selimut musim dingin. Zeze dan Norofi menahan hasrat mereka dari menginjak kaki Rhea dan membekap mulutnya karena telah menyuarakan nama terlarang itu, jika tidak mengingat fakta bahwa kini mereka sedang berdiri di ambang kematian.
Kebimbangan dan kengerian serta-merta merayapi tubuh mereka kala terlintas gagasan bahwa salah satu harus tinggal untuk melawan monster itu sendirian, membuka jalan bagi yang lain untuk lari.
Apa pun kondisinya, Rhea sudah dipastikan keluar dari opsi. Itu adalah perintah mutlak Raja. Bakatnya adalah komponen paling penting di antara mereka dan tidak mudah untuk digantikan. Rhea juga tahu itu dan rasa bersalah langsung datang mencekiknya. Tiada satu pun dari mereka yang tega melihat teman—keluarga—mereka mati berkorban. Namun, jika tidak dilakukan, takkan ada yang tersisa. Hanya ada dua pilihan; Zeze atau Norofi.
Tak perlu diperjelas lagi, Norofi sudah sangat siap mati untuk keluarganya. Baginya, kematian hanyalah kawan yang belum sempat ia jumpai, dan ia siap menjumpai "kawan" itu kapan pun bila dibutuhkan.
Namun Zeze tidak menyetujui hal itu. Oleh karenanya, sebelum Norofi dapat bertindak, ia telah menekan kaki kanannya ke tanah, menggunakannya sebagai tuas untuk melesatkan tubuhnya ke arah Antoni Barier. Lari tanpa perlawanan adalah hal yang pantang dilakukan oleh Artemis.
Tak peduli berapa kali pun Zeze menemukan celah, celah tersebut langsung tersumbat kembali oleh pedang besar Antoni. Rapier-nya hanya berakhir membentur longsword pria itu dan menyemburkan percikan di udara.
Saat Antoni mengangkat pedangnya, perasaan itu menghampiri Zeze lagi; perasaan milik seseorang yang tengah didorong paksa ke pinggir jurang kematian.
Zeze bersalto ke belakang saat pedang itu turun. Jika ia telat sepersekian detik saja, ia yakin tubuhnya pasti sudah terbelah dua.
Di detik yang sama, Zeze mendengar suara tembakan. Ia menoleh ke belakang dan melihat Rhea tengah menembaki Antoni dengan pistol rakitan Mia yang selalu disimpannya di pinggang. Suatu tindakan yang sia-sia, karena pria itu hampir tak bercelah.
Zeze berdecak dan mendesis, "Kakak, menjauh dari sini!"
"Jika kita memang ditakdirkan untuk mati malam ini, kita akan mati bertiga," balas Rhea, teguh.
"Dan aku akan menginjak kakimu di neraka!" desis Zeze.
Sadar bahwa serangan terpisah tidak akan berdampak apa pun, Zeze dan Norofi memutuskan membentuk kombo. Zeze menyerang dari arah depan, sementara Norofi melompat ke puncak pohon-pohon pinus lebat dan melepaskan banyak belati yang dimodifikasi hingga dapat menyeterum. Ia bahkan tidak kaget lagi sewaktu menyaksikan pedang Antoni menangkis belasan belati itu. Satu hal yang membuatnya kaget adalah ketika salah satu belati yang membentur pedang Antoni memantul dan justru mendarat di lengan kanan Zeze.
Alis Zeze berkedut-kedut menahan sakit. Tubuhnya bergetar menekan tegangan listrik. Namun ia berhasil melayangkan serangan terakhir—yang menurutnya sia-sia—sebelum kembali menjaga jarak dari tebasan maut.
Dalam tarikan napas yang sama, Norofi meluncur tanpa suara dari atas pohon bersama dua belati berselimut listrik di tangannya, bermaksud menikam Antoni dari titik butanya. Pada detik-detik ketika ujung belati tinggal sejengkal saja dari tengkuk Antoni, betapa kagetnya Norofi setelah menemukan bahwa yang ditusuknya adalah debu berwujud manusia!
Norofi begitu terkejut sampai telat menyadari kehadiran suatu bayangan yang melesat ke arahnya dari arah kiri. Tak terelakkan, bayangan itu menghantam tubuhnya hingga terhempas jauh ke belakang. Tak terhitung sudah berapa pohon yang tumbang akibat ditabrak tubuhnya, hingga ia benar-benar jauh dari kedua gadis itu; mereka yang seharusnya ia lindungi.
"Sial! Norofi!" Zeze menggeram dengan napas tipis-tipis. Ini gawat, benar-benar gawat. Tameng Rhea kini hanya tinggal dirinya, dan ia sangat ingin menendang gadis itu jauh-jauh dari area pertempuran.
Getaran itu berhenti. Zeze mencabut kasar belati yang bersarang di lengan kanannya, meringis dan mendesis. Darah merembes dari jaket denimnya. Warna biru di seratnya telah menjelma menjadi merah tua. Rapier meluncur dari sela-sela jari yang lumpuh, tertimbun di salju. Satu kedipan mengusir air mata yang mengintip.
Dýnami-nya aktif, menghinpun energi panas dari sel-sel tubuhnya dan memusatkannya ke punggung. Satu tarikan napas dan rasa sakit lain menikam jaringan otot serta tulang-belulang penyusun punggungnya tanpa ampun.
Meskipun memusatkan dýnami di satu titik tubuh bakal memperkuat titik tersebut, beban yang ditanggung juga tidak main-main. Setelahnya, rasa sakit akan menyerang titik tubuh tempat berkumpulnya dýnami. Hal tersebut terjadi karena begitu banyak energi yang harus ditanggung titik tersebut, serta di saat yang sama bakal memperlemah bagian yang tak terlindungi. Itulah mengapa penting membagi sama rata. Tapi kemampuan terbang Zeze membutuhkan sebuah pusat.
Zeze tahu tidak bijak menggunakan kekuatan spesialnya semenjak pertarungan melawan wanita gila yang hampir merenggut nyawanya dua kali. Bila ia kehilangan banyak energi, risiko yang akan ia hadapi adalah terhambatnya kinerja sebagian, bahkan seluruh, organ di tubuhnya, mengingat Simathyst dari dýnami-nya adalah energi panas atau kalor. Ia baru berumur 9 tahun saat Afrodi melatihnya cara mengontrol dýnami. Setahun setelahnya, usai menemukan bahwa ide gilanya berhasil, bahwa auranya cocok jika digabungkan dengan energi panas tubuhnya sendiri, ia pun menghubungkannya tanpa pikir panjang, tanpa berpikir dua kali tentang efek sampingnya. Simathyst dari tubuh sendiri memang praktis, siap digunakan kapan dan dimana pun dibutuhkan, tapi konsekuensinya juga sebesar kelebihannya.
Setelah cukup lama berjuang di tengah kesulitan, akhirnya sayap api itu berkobar dengan gagah, menjilat-jilat liar dan menodai udara dengan sifat neraka. Zeze masih belum menemukan petunjuk mengenai keberadaan Antoni, sementara debu berwujud siluet manusia itu semakin memudar diusik angin.
Ini kesempatan yang bagus. “Kak Rhea. Aku akan memantau dari atas. Hitung sampai tiga lalu lari.”
Namun, hitungan ketiga itu tidak pernah tercapai ketika naluri petarung Zeze yang tajam telah lebih dulu merasakan kemunculan angin yang tak terbantahkan kencangnya dari arah belakang.
Buru-buru ia berbalik sekaligus menarik Rhea ke belakang tubuhnya. Tepat waktu. Longsword itu diterima oleh rapier di tangan kirinya. Dentingan pedang mengoyak kesunyian malam, dan ia bersumpah ia mendengar retakan. Semoga saja bukan berasal dari besi pipih-tajam di tangannya.
Kakinya terus terseret mundur, menggali dua garis lintasan di permukaan salju. Tangannya bergetar. Zeze sadar bila ia tidak melakukan sesuatu, tubuhnya akan terpental jauh. Maka, ia putuskan untuk melompat ke atas. Bentangan sayap merahnya memeluk tubuhnya yang meringkuk dan berguling di udara. Di detik itu, ia adalah pusaran bola api. Dan, ketika tiba saatnya sayap itu kembali terbentang, ratusan—bahkan mungkin ribuan—nyala api merdeka, siap menyapa tubuh pria di bawahnya dalam bentuk hujan.
Melihat itu, Rhea segera menjauh, bersembunyi di balik pohon terdekat, dengan tanpa mengurangi kewaspadaannya. Telunjuknya masih siaga di pelatuk pistol, menunggu momen yang tepat.
Rhea tak dapat memastikan apa yang terjadi di antara mereka karena hujan api bergerak seperti tabir. Ia sadar serangan Zeze takkan berdampak banyak, namun setidaknya—ia berharap—itu akan menorehkan beberapa luka bakar, sehingga Rhea hanya perlu mencuri kesempatan di tengah kesempitan dengan satu tembakan telak menuju jantung.
Itulah bayangan skenario sempurna yang Rhea harapkan bakal terjadi, sebelum mata kepalanya sendiri menonton serangkaian adegan membingungkan yang kembali terulang:
Zeze memadamkan sayapnya dan mendarat di atas pohon terdekat, melesat dalam satu kedipan dari pohon ke pohon hingga ke pohon di belakang Antoni, lalu meluncur tanpa suara dengan sasaran terkunci pada tengkuk pria itu.
Mata Rhea terbelalak saat menemukan Zeze menembusnya! Tidak, itu terjadi bukan karena tubuhnya tembus pandang, melainkan karena dia meledak menjadi serpihan debu! Debu berbentuk manusia—setidaknya itulah yang bisa diterjemahkan mata cokelat Rhea.
Agak berbeda dengan apa yang ditangkap Zeze. Akhirnya ia memahami apa yang sebelumnya terjadi pada Norofi.
Dia tidak berubah menjadi debu, batin Zeze di tengah tarikan napas yang semakin berat. Aku bersumpah aku melihatnya melesat menghindari seranganku.
Antoni mewariskan bukti bahwa sebelumnya dia pernah berdiri di sana melalui kotoran yang mengelilinginya: partikel debu terpisah dari serat pakaiannya dan mengambil siluet manusia. Zeze yakin fenomena itu ada sangkut pautnya dengan kekuatan pria itu. Jelas berfungsi sebagai pengecoh, meyakinkan siapa pun yang melihat dan mengalaminya bahwa dia tembus pandang, atau dapat menghilang, teleportasi. Akan tetapi—
Dadaku sesak, Zeze menggigit bibirnya. Apakah ada maksud lain di balik debu itu?
Zeze waswas memikirkan dampak apa yang bakal terjadi pada tubuhnya. Ia sudah menghirup terlalu banyak. Satu tangannya bergegas mencengkeram bahan kausnya di bagian dada. Syukurlah rasa sesak itu hanya berlangsung sementara. Sekarang ia hanya perlu fokus mencari keberadaan musuhnya.
Ketemu. Dia jauh di seberang, menjulang sekitar lima belas meter darinya. Hanya berupa siluet, tidak mendetail karena faktor pencahayaan dan warna bajunya adalah bagian dari malam. Di tengah adrenalin, Zeze sempat merasakan emosi lain, emosi yang mirip seperti belaian di sepanjang tulang belakang. Kelegaan. Kepuasan. Ia berhasil membongkar sebagian dari triknya, dan ia mungkin akan merasakan kebanggaan juga, mengangkat dagu dalam keangkuhan, bila ia tahu bahwa dirinya adalah orang kedua setelah Afrodi yang berhasil membongkarnya.
Penemuannya terkait mekanisme kemampuan spesial seorang Antonio Barier adalah informasi yang sangat berguna, tapi sekaligus menjadi malapetaka untuknya; Zeze yakin Antoni tidak akan membiarkannya hidup untuk bisa menyebarkan informasi tersebut kepada teman-temannya.
"Aku ingat kau."
Tiba-tiba Antoni bicara; sikap Zeze menjadi lebih defensif.
"Kau ada di sana saat aku menghabisi Hades."
Nama "Hades" adalah guntur yang menyentak, serta es yang membekukan sekujur tubuh Zeze. Beku, tapi membara. Amarah dan benci itu bangkit lagi, dan ia kewalahan membendungnya. Hanya dengan mengatur pernapasan tidaklah cukup.
Tidak, ia tidak boleh termakan emosi pribadinya dan membuat yang lain berada dalam bahaya.
"Benar... Artemis," Antoni bergumam, suaranya seolah datang dari ujung samudra, begitu pun tatapannya.
Tangan Rhea yang masih menggenggam pistol langsung bergetar. Tangan satunya segera membantu menekan getaran. Ia menghela napas dengan mata tertutup, membatin, hirup... embuskan... hirup... embuskan. Tenang, aku harus tenang. Tidak boleh bersuara. Agar rencana ini berhasil, dia tidak boleh mengetahui keberadaanku.
Di sisi lain, hening dari jeda yang dihadiahkan Antoni, Zeze manfaatkan dengan baik untuk berlayar keluar dari ombak emosi yang menggempur mentalnya. Dia tidak membuang waktu. Segera setelah menemukan ketenangan, kakinya melangkah lambat-lambat, membunuh jarak dengan musuhnya.
Langkah kecil yang diambil Artemis sedikit berhasil mengambil napas Antoni dari masa lalu. Antoni menguatkan genggamannya pada gagang pedang, memperhatikan baik-baik. Sampai di satu waktu, matanya tak dapat lagi mengikuti pergerakan musuhnya. Pandangannya hanya bisa meringkus bayangan kabur yang melesat cepat ke atas. Artemis mungkin bukan yang terkuat yang pernah Antoni hadapi, bahkan mungkin salah satu yang terlemah. Tetapi, Antoni berani menyatakan bahwa dia adalah yang tercepat, satu tingkat di bawah Hades.
Antoni mendongak dan langsung disambut oleh gumpalan api raksasa yang sanggup menelannya bulat-bulat. Postur badannya seketika menegas, namun sesaat sebelum ia sempat mengambil tindakan, api itu mendadak padam hanya dalam sekejap mata, digantikan dengan bilah rapier yang berpusar seperti bor, berhasrat mengoyak setiap daging, setiap tulang. Kejutan itu sukses besar membuat Antoni kehilangan ritme pertarungan.
Pedangnya terangkat, menjegal rapier itu. Desingannya beradu dengan gemuruh angin musim dingin. Lain dari percobaan sebelumnya, kali ini Zeze tidak berusaha untuk melawan dorongan yang diberikan pedang Antoni. Ia tahu ia hanya akan berakhir mematahkan tangannya sendiri.
Pedang berjenis rapier itu ia tarik, berbarengan dengan lompatan mundur yang dibuat kedua kakinya. Kemudian ia tancapkan logam pipih itu ke tanah. Tangan kirinya bertumpu di gagang selagi tubuhnya bersalto ke belakang dan kakinya menyambar dagu Antoni. Kemudian ia mendarat tegak seraya mencabut pedangnya dari tanah.
Antoni bergeming dengan posisi mendongak, memejam, meresapi sensasi berdenyut yang menghajar tulang rahangnya. Sudah lama sejak terakhir kali lawannya dapat memberinya rasa sakit, dan sensasi itu menyeretnya ke masa dimana dirinya nyaris mati di tangan Hades. Antoni dapat merasakan dendam dan jeritan di dalam tendangannya.
Zeze kembali menyerang, namun pria itu lagi-lagi bergeming, seperti sengaja agar terkena serangan. Kejadian sebelumnya kembali terulang. Zeze terlambat mengantisipasi triknya dan hanya berakhir menikam debu berwujud manusia.
Sesuatu, pikir Zeze, berkonsentrasi. Seharusnya ada tanda atau pola yang bisa memberitahuku kapan trik itu akan diaktifkan. Tidak berhasil, Zeze gagal mendeteksinya. Belum. Aku butuh tambahan waktu.
Mata biru yang memancarkan kepanikan itu menyapu sekitar, kelabakan mencari keberadaan musuhnya, dan terbelalak begitu menemukannya melesat cepat ke tempat yang ia tahu adalah persembunyian kakaknya.
Tangannya yang kekar terangkat, lebih dari siap untuk menebas pepohonan sekaligus tubuh seorang gadis yang berlindung di baliknya.
Terlambat. Ia tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Ia tidak bisa melindungi siapa pun. Yang bisa ia lakukan hanya melihat, seperti sampah tidak berguna. Menunggu dan menunggu sampai tubuh Rhea terbelah dua, tercerai-berai, hingga tak dapat lagi dikenali. Mimpi buruk akan terulang, persis seperti saat ia menyaksikan Afrodi pelan-pelan meregang nyawa di depan matanya.
Zeze menunduk, menggigit bibir bawahnya. Bibirnya koyak, darah menggenang di dalam mulut, dan persis di momen itu, terdengarlah sebuah suara yang paling tidak ingin ia dengar; suara tebasan kencang yang merobohkan pepohonan.
Sanggupkah ia mendongak? Walaupun ia sudah tahu jawabannya, setidaknya ia harus melihat tubuh hancur Rhea untuk yang terakhir kali sebelum ia menyusulnya ke neraka.
Wajahnya perlahan-lahan terangkat menghadap depan, dan bahunya langsung merosot. Kelegaan mengguyur tulang belakangnya.
Agak jauh darinya, sebuah payung raksasa dengan warna tergelap dari darah, teronggok suram di bawah cahaya keperakan. Sulur-sulur merah menutupi permukannya yang berbentuk kubah, menyala seperti api, berdetak seperti urat nadi—membesar, mengecil.
Tidak. Kurang tepat bila memperkenalkannya sebagai payung biasa. Karena sejatinya benda itu bukanlah payung. Itu adalah magma, batuan panas berapi yang kini mengambil bentuk menyerupai sebuah payung.
Kata-kata takkan cukup menjelaskan betapa leganya Zeze saat mendapati bahwa kedua temannya—keluarganya—baik-baik saja.
Tubuh utuh Rhea, sehat dan bernapas, terlindungi di balik payung besar itu, perisai yang diciptakan oleh defender mereka pada misi kali ini, Norofi Sima.
Hasrat Zeze untuk memeluk kedua kakaknya bakal tumbuh pesat jika ia tidak mengingat situasi genting yang sekarang sedang dihadapinya.
Di sisi lain, tatapan Antoni tertegun pada payung itu. Tingginya bahkan melebihi dirinya. Satu lagi di antara mereka yang memiliki kekuatan di luar pengetahuannya. Bahan eksperimen yang bagus, batin Antoni.
"Kau tidak boleh kehilangan kesadaran! Hermes sedang menuju kemari. Oh, Dewa... darah... perutmu!" Lolongan penuh ketakutan Rhea menyapu bersih rasa lega Zeze.
Sial, makinya karena tidak bisa melihat apa yang terjadi di balik payung. Zeze menjilat bibir bawahnya. Rasa besi dari darah masih membekas di lidah. Tanpa pikir panjang, ia bergerak menyerang Antoni lagi. Setidaknya aku harus mengulur waktu sampai Kaló dan yang lainnya datang.
Tarian kematian itu dimulai lagi. Bekas luka pasca pertarungan di dataran tinggi membuat tubuhnya agak kesulitan mengimbangi gerakan kilat Antoni, meskipun matanya lebih dari sanggup melakukannya.
Beruntung Zeze kidal. Bila yang terluka adalah tangan kirinya, ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Mengandalkan tangan yang bukan merupakan tangan dominannya hanya akan membuatnya bingung, sehingga berisiko besar mengacaukan ritme pertarungan.
Lewat sudut matanya, Zeze melihat longsword itu berayun kencang, gencar ingin memisahkan kepalanya dari badan. Ujungnya seolah mampu merobek langit. Ia tahu yang satu itu takkan mampu ia tangkis atau hindari. Sejak detik awal ia sudah memaksakan tubuhnya, dan sekarang adalah batas maksimal yang bisa ia capai.
Pedang itu akan merenggut nyawanya.
Penyesalan itu tidak pernah datang. Asalkan kedua kakaknya selamat. Ia lega karena tahu pengorbanannya tidak akan berakhir sia-sia.
Walau tahu terlambat, Zeze tetap membalik badan. Setidaknya ia menyapa kematiannya, peristiwa yang hanya akan dialaminya sekali seumur hidup, dengan dagu terangkat. Ia menghadap pria itu dan perasaan syok langsung merampas napasnya. Mata birunya mengerjap tak terkontrol, meragukan apa yang baru saja dilihat. Sang Malaikat Maut, yang seharusnya menjadi pencabut nyawa, justru menancapkan pedangnya ke tanah.
Dengan kepala tertunduk, pria itu berdiri bisu menghadap pedang agungnya. Mata hijaunya merangkum emosi bingung yang ia rasakan, seolah ia bahkan tak memahami tujuannya terlahir di muka bumi.
Zeze mencoba mencerna apa yang terjadi, cukup tiga detik baginya untuk mengerti. Ia memutar badan dan berlari secepat mungkin ke arah Rhea dan Norofi. Tidak bijak melewatkan satu-satunya kesempatan untuk kabur.
"Aku berhutang satu hal padamu," Zeze berbisik dengan senyuman yang entah untuk siapa, sehingga Rhea yang tengah memapah Norofi menoleh padanya dengan ekspresi bingung.
Mereka berhasil lari dari kematian, meninggalkan sang Malaikat Maut sendirian dengan pedangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hmm... siapa ya kira-kira yang nge-bantu Zeze?
Yok lanjut baca, scroll 👇
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
brasa bca novel trjemahan