Berawal dari menyelamatkan pria tampan yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya, Adifa malah terjerat dalam hubungan pernikahan dengan pria nakal karena sebuah kesalahpahaman warga kampung terhadapnya.
Ia dan pria asing itu terikat dalam ikatan suci. Namun, Adifa tidak menyangka jika pria yang menjadi suaminya adalah seorang pria nakal yang suka bermain wanita.
"Dasar pria nakal!" ~Adifa Rahma
"Aku menyukai setiap lekuk tubuh wanita yang indah!" ~Raja Shaga
Bagaimana kisah selanjutnya? Mampukah Adifa menjalani pernikahannya dengan seorang pria nakal yang suka main wanita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Kenapa?
Raja membawa Adifa ke dalam pelukannya, gadis itu menangis di dekapan sang suami. Saat Adifa berada di dada Raja, ia seperti menyium aroma tak sedap yang menusuk ke dalam hidungnya.
Adifa menarik kepalanya menjauh dari tubuh sang suami. "Mas bau," ucap Adifa seraya memencet hidungnya.
Alis pria itu berkerut, dirinya merasa tidak bau. Raja membaui tubuhnya sendiri dan tiba-tiba wajah Raja berubah tegang.
"Dek, k-kamu tau ini bau apa?" Raja memasang wajah gugup.
"Baunya seperti ketika Mas terkapar di depan rumahku ...." Adifa berpikir dan mengingat-ngingat kejadian waktu itu. "Ha! Iya bau tak sedap—"
"Bau alhkohol," potong Raja.
"Mas suka mabuk ya?" tanya Adifa mulai penasaran.
"Sedikit," jawab pria itu fokus menyelami bola mata Adifa.
Sadar akan Raja yang terus menatapnya, membuat Adifa jadi salah tingkah. Gadis berusia 20 tahun itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan tatapannya kini tertuju pada kaus yang dikenakan oleh Raja.
"Difa ambilkan baju ya, pasti tidak nyaman menggunakan yang itu." Jari telunjuk Adifa mengarah ke kaus yang dikenakan oleh suaminya.
Kepala Raja mengangguk saja, dirinya heran akan sikap Adifa yang berubah menjadi lebih perhatian. Pikiran Raja teralihkan saat sang istri telah kembali dengan membawa satu set baju tidur pria.
"Sini Difa bantu," kata Difa yang bersiap mengangkat kaus suaminya.
"Jangan!" Raja menampik tangan sang istri. "Biar Mas aja, Dek. Kamu tidurlah, ini udah mau pagi." Ia mengusak rambut istrinya dengan lembut.
"T-tapi ... kaki mas kan masih sakit," ucap Adifa.
"Yang sakit kaki Mas, kalau pakai baju sendiri masih bisa. Soal memakai celana, mungkin Mas butuh bantuan kamu."
Kepala Adifa mengangguk, ia menunggu suaminya mengenakan baju tidur. Namun, Raja malah tak bergerak dan membuat Adifa bertanya-tanya dalam hati. Kenapa?
"Kamu berbalik dulu, Dek. Mas malu kalau dilihati." Raja memasang seringai nakalnya.
"His apaan sih, Mas." Adifa langsung membalik badan. "Biasanya juga tidak tahu malu," gumam gadis itu dengan mulut komat-kamit.
Raja menarik napas lega, setidaknya sang istri tidak harus melihat bekas keganasan Rachel di dadanya. Jika Adifa melihatnya, mungkin saja ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mendapatkan cinta Adifa.
"Mas sudah belum?" tanya Adifa yang membelakangi suaminya.
"Sudah, Dek." Raja duduk menatap sang istri.
Tangan pria itu mengangkat celana tidur yang diberikan Adifa tadi. Ia memasang cengiran khas kudanya. Adifa yang melihat itu hanya bisa menghembuskan napas lalu meraih celana yang dipegang oleh suaminya.
"Mas rebahan aja biar lebih mudah makainya," ujar Adifa.
Bagaikan kerbau yang dicolok hidungnya, Raja menuruti apa yang diperintahkan oleh Adifa. Pria itu membaringkan tubuhnya. Adifa menarik napas lalu mebuangnya dengan berat, ia menyiapkan diri saat tangannya mendarat di pinggang celana Raja.
"Haduh! Aku sesak napas," ucap Adifa dalam hati.
Perlahan tangan gadis itu meraih sabuk pinggang sang suami, lalu membukanya dengan tangan gemetar. Raja melipat bibirnya ke dalam saat memperhatikan Adifa yang salah tingkah.
Kletak!
Akhirnya Adifa berhasil membuka sabuk pinggang itu, kini ia harus membuka pengait celana suaminya. Mata Adifa terpejam rapat, ia membuka pengait celana dengan buru-buru hingga tanpa sengaja tangan mungilnya menyentuh sesuatu yang empuk itu.
Mata Adifa langsung terbuka lebar. Spontan ia menoleh ke arah Raja, suaminya memasang wajah terkejut. Anehnya Raja terlihat diam saja, tidak seperti biasanya. Jika ada kesempatan Raja akan selalu menggoda Adifa, tapi kali ini tidak.
Pikiran negatif merasuki kepala Adifa, ia berasumsi jika suaminya masih marah soal tadi pagi. Dan ia jadi semakin merasa bersalah akan hal itu.
"Tahan bro, jangan bangun. Jangan ganggu Adifa hari ini." Raja menahan diri agar tidak mengganggu istrinya. Ia terdiam melihat Adifa yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut.
Adifa kembali mengalihkan pandangannya ke celana milik Raja. Ia menutup mata, lalu menurunkan celana yang dikenakan suaminya dengan cepat.
"Tsst!" desis Raja menahan sakit di kakinya.
Gadis itu melupakan soal kaki suaminya yang sakit, ia menghentikan gerakan tergesah itu menjadi gerakan yang lembut. Dengan terpaksa Adifa membuka matanya agar tidak melakukan kesalahan lagi.
Saat celana Raja berhasil dibuka, terpampanglah sesuatu yang mirip dengan gundukkan berada di bawah perut suaminya.
Glek!
Adifa menelan saliva dengan susah payah, ia menahan sesak yang memburu napasnya. Raja begitu anteng saat ini, pria itu diam saja saat Adifa memakaikannya celana.
"Huh, selasai." Adifa dapat bernapas dengan lega.
"Terima kasih, Dek. Sini tidur!" Tangan Raja menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong.
"Tapi tadi Difa lihat kaki mas merah, dikompres dulu ya," ucap Adifa terselip nada khawatir.
"Besok saja," sahut Raja. "Sekarang kita tidur dulu," sambung Raja saat Adifa bersiap untuk menjawabnya.
Bahu Adifa luruh, ia mengangguk dan ikut berbaring di sebelah suaminya.
"Mas boleh minta peluk lagi? Sekarang Mas sudah tidak bau." Raja dengan wajah menawannya membuat Adida menjawab dengan anggukkan kepala.
Raja membawa sang istri ke dalam dekapannya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Adifa terlelap. Entah itu karena sudah sangat mengantuk atau karena rasa hangat dan nyaman yang diberikan oleh suaminya.
Suara napas Adifa yang teratur membuat Raja tersadar jika istrinya sudah menyelam ke dalam dunia mimpi.
Telapak tangan Raja mengusap kepala istrinya, ia berulang kali mengucapkan kata maaf.
"Maafin Mas ya, Dek."
Cup!
Bibir Raja mendarat tepat di puncak kepala sang istri. Dalam hati ia berjanji tidak akan bermain dengan wanita lain lagi.
Jarum jam terus berputar. Namun, Raja tak kunjung mengantuk. Ia didera oleh rasa bersalah karena telah membuat istrinya menunggu seharian. Ditambah dengan kelakuannya hari ini yang berada di luar batas.
Bibir dan tangan Raja terus bekerja. Ia tidak berhenti mengusap kepala istrinya, dan sesekali mengecup kening Adifa.
Mata hari semakin naik ke atas, menunjukkan silaunya pada dunia. Raja tidak tidur semalaman, ia masih setia memeluk tubuh istrinya.
Rasa nyeri di kaki pria itu semakin terasa. Namun, Raja tetap tidak bergerak, ia tidak ingin Adifa terbangun karenanya. Walau jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, ia membiarkan sang istri menikmati tidur lelapnya.
Raja merasakan Adifa bergerak, terdengar suara lenguhan dari gadis itu. "Eungh." Adifa mengucek kedua matanya.
"Mas, badan mas panas." Adifa menarik tubuhnya dari sang suami.
Gadis itu mendudukkan diri, ia yang baru bangun tidur langsung mengecek suhu tubuh suaminya dengan menempelkan punggung tangan ke kening dan pipi Raja
"Mas tidak apa, Dek," ucap Raja tidak ingin membuat istrinya khawatir.
"Mata mas merah—" ucapan Adifa terputus saat ia mengingat sesuatu.
Gadis itu langsung beralih ke kaki suaminya, ia menyibak selimut yang dikenakan oleh Raja untuk memeriksa kondisi kaki pria itu.
"Mas ...."
`
`
`
Bersambung ....
Waduh, Mas kamu kenapa? Jangan sampai Raja mesum berubah jadi Raja puntung.
Raja : Tega bener lo Thor.
Othor : Ada suara tapi gak ada wujudnya, siapa ya?