Faylan Laurentika Plavius, gadis penebus hutang yang kemudian dijadikan tumbal sebuah tradisi di kerajaan Oesteria, di mana setiap keturunan bangsawan wajib menjadi duda agar terhindar dari kutukan. Faylan dipaksa menikah dengan seorang pangeran yang arogant dan kejam. Sesuai tradisi Faylan akan diceraikan setelah sebulan menjadi Unlucky Bride.
Allison Jois Afson, pangeran tampan yang sengaja menikahi Faylan dan tak berniat menceraikannya. Apa alasan Allison enggan menceraikan Faylan? Benarkah karena timbulnya perasaan cinta atau hanya ingin membuktikan kebenaran tentang kutukan? Atau ada motif lain di baliknya?
Sekuel DUREN BANGSAWAN
jangan lupa follow IG Author @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 ~ Daisy Pingsan
"Hallo nona Faylan, perkenalkan nama saya Torres."
Faylan bergidik ngeri melihat senyuman pria paruh baya bernama Torres di hadapan saat ini. Meski begitu, Faylan tetap menerima jabatan tangan tuan Torres.
"Bagaimana kalau kita mulai makan malam sekarang?" Allison menggandeng Faylan guna menyudahi jabatan tangan.
"Baiklah, Paman juga sudah lapar."
Mereka duduk di kursi masing-masing dan mulai melahap hidangan pembuka yang sudah tersaji di atas meja. Sementara hidangan utama masih dipersiapkan. Faylan makan dengan gugup karena Torres terus menatapnya lama.
"Sepertinya istrimu merasa tidak nyaman, bagaimana kalau paman undang Melvin dan Daisy agar istrimu tidak terlalu canggung," ujar tuan Torres mengalihkan pandangan pada Allison.
"Ide yang bagus, Paman," sahut Allison setuju. Torres langsung mengirim pesan kepada sang putra untuk menyusul mereka.
"Bagaimana?" tanya Allison.
"Dia sudah di jalan bersama istrinya," jawab Torres, Allison menganggukkan kepala.
Tak lama berselang, Melvin dan Daisy datang tepat saat hidangan utama disajikan ke atas meja. Faylan tersenyum lebar melihat kehadiran Daisy. Namun, wajah pucat sang adik membuatnya khawatir.
Allison dan Torres menyambut kedatangan Melvin dan Daisy. Melvin duduk di tengah-tengah, diapit sang ayah dan juga istrinya.
"Mari kita bersulang," ajak Allison. Faylan dan Daisy turut melakukan, tapi keduanya tak meneguk alkohol di gelas mereka. Usai bersulang bersama, mereka pun mulai melahap makan malam.
Faylan terus menatap Daisy yang semakin memucat, Daisy membalas tatapan Faylan dengan senyuman manis yang jelas tampak kecut. Faylan semakin khawatir.
Bruk!
Daisy tiba-tiba jatuh pingsan.
Faylan yang semula fokus pada makanannya, seketika panik dan langsung memutari meja, menghampiri sang adik yang sudah terbaring tak berdaya di pangkuan Melvin.
"Bawa ke rumah sakit sekarang juga!" seru Allison. Mereka semua membawa Daisy ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Daisy langsung ditangani dokter. Faylan, Allison, dan Melvin menunggu di depan ruang igd. Sementara Torres telah pamit karena diminta pulang oleh istrinya.
Faylan terus menatap Melvin dengan ekspresi memendam amarah karena sebelumnya Faylan sudah mengingatkan Melvin untuk tidak menyakiti adiknya. Mendapat tatapan itu, Melvin hanya menundukkan wajah merasa bersalah.
Tak lama berselang, pintu ruang igd terbuka. Mereka semua langsung bangkit dari duduk masing-masing.
"Bagaimana, dokter?" tanya Allison mewakili istrinya.
"Apa Tuan Allison suami pasien?" Allison menggelengkan kepala.
"Saya suaminya," Melvin mengangkat salah satu tangan.
"Saya ingin bicara berdua tuan Melvin," ajak sang dokter.
"D—"
"Di sini saja!" titah Allison mendahului istrinya.
"Baiklah," jawab sang dokter tak mungkin membantah prince di negara tempatnya berpijak. Sementara Melvin memperlihatkan ekspresi wajah penuh sesal.
"Begini tuan Melvin. Kondisi istri tuan sudah mulai membaik. Tapi, untuk malam ini istri tuan akan dirawat karena kondisinya masih perlu dipantau," mendengar penjelasan sang dokter, Melvin terlihat lega.
"Namun, alangkah baiknya tuan tidak terlalu bersemangat. Kasihan istri tuan yang sakit karena kelelahan. Kalau benar-benar tidak bisa ditahan, saya akan resepkan obatnya," lanjut Dokter membuat Allison tak mengerti.
"Apa maksudmu, dokter? Apanya yang terlalu bersemangat?" celetuk Allison penasaran.
"Maksud saya berhubungan suami istri, tuan Allison. Pasien demam tinggi akibat kelelahan," jawab sang dokter membuat Allison mematung, kala mengingat perlakuan brutalnya kepada Faylan.
***
Sampai di rumah, Faylan langsung menuju kamarnya dan beristirahat dengan gelisah karena mengkhawatir kondisi Daisy yang masih dirawat di rumah sakit. Faylan tampak sangat kesal karena Allison tak mengizinkannya mendampingi Daisy di rumah sakit.
Faylan pun hanya berpesan agar Melvin menjaga adiknya dengan baik. Faylan sedikit lega karena Melvin mengatakan akan bertanggung jawab.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Faylan langsung berpura-pura tidur agar Allison tak lagi mengganggunya. Ranjang sedikit bergerak, Allison naik ke atas ranjang dengan perlahan agar tak membangunkan sang istri yang ia kira telah tidur pulas.
Allison berbaring di sebelah sang istri yang membelakanginya. Faylan merasa kesulitan bernapas ketika Allison memeluknya erat. Faylan menggigit bibir bawah karena menahan gali ketika kedua tangan laknat Allison mendarat di kedua gundukannya. Belum lagi helaan napas Allison yang menyeruak di tengkuk lehernya.
"Bagaimana aku bisa tidur dengan posisi seperti ini, Tuhan?"
.
.
.