My Boyfriend, My Ceo musim kedua telah hadir! Yang dimana cerita ini akan mengisahkan tentang generasi baru, perjalanan hidup anak-anak mereka.
Merupakan cinta masa kecil bagi Eliane, Vero Edbert selalu menjadi prioritas dalam hidupnya. Namun, apakah Vero merasakan hal serupa seperti yang di rasakan oleh Eliane? Lalu, apakah Vero mengetahui perasaan gadis itu pada dirinya? Apa yang akan terjadi pada keduanya, dan bagaimana sikap Erian pada saudarinya saat mengetahui perasaan adiknya? Akankah dia mendukungnya? Atau mungkin sebaliknya? Temukan kisahnya hanya di 'My Little Girl'
Season 1: My Boyfriend, My Ceo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Little Girl Bagian 26
Eliane mencoba untuk bangun dari baringannya, dan Vero pun tampak membantunya. Dengan sedikit mengucek kedua matanya, Eliane sedikit menghela napasnya, kemudian Vero meninggalkannya sejenak ke dapur, setelah dia kembali, dia memberikan segelas air untuk Eliane, dan memintanya untuk minum lebih dulu.
“Ya, aku menunggumu. Aku pikir kau pulang larut karena marah denganku, maka dari itu aku harus meminta maaf padamu, kak.” Gumam Eliane.
“Kenapa aku harus marah padamu? Memang kesalahan apa yang sudah kau perbuat sehingga membuatku marah, dan kau harus meminta maaf padaku?”
“Ucapanku sebelumnya, mengenai alasanku menikah denganmu.” Eliane tampak ragu mengatakan hal tersebut. “Bisakah kau melupakannya? Bisakah kau menganggap bahwa aku tidak pernah mengatakannya? Dan bisakah kita bersikap seperti biasanya?" Tambahnya lagi seraya menatap lekat kedua mata pria di hadapannya.
“Jadi kau mengkhawatirkan hal itu, ya?” Vero membuka suaranya, lalu dia menyimpan gelas yang di pegang sebelumnya, dan duduk di sisi Eliane. “Kau tidak perlu khawatir, hal seperti itu tidak akan membuat hubungan kita merenggang, dan tentu saja kita bisa bersikap seperti biasanya.”
“Benarkah?” Kini, kedua mata gadis itu tampak berbinar-binar setelah mendengar jawaban dari pria di sisinya. Kemudian, Vero mengangguk pelan seraya mengusap puncak kepala Eliane.
“Sekarang kembalilah ke kamarmu, dan lanjutkan istirahatmu!”
-1 bulan kemudian-
Hari itu merupakan hari pertama Eliane menjadi seorang mahasiswa. Bingung mencari-cari ruang kelas yang akan di tempatinya, dia pun mencoba untuk bertanya pada senior disana, namun dia tidak berani melakukan hal tersebut.
Hingga akhirnya, dia melihat seseorang yang dikenal olehnya, dan dengan cepat dia menghampiri orang itu. Saat orang itu menoleh, Eliane segera menyunggingkan senyumnya, tampaknya orang tersebut tak menanggapinya sedikit pun.
“Kelas mana yang akan kau tempati, Daniel?” Celetuk Eliane yang terus mengikuti pria itu.
“A2.” Jawabnya singkat, dan hal tersebut membuat Eliane menghela napasnya. Sikapnya sangat mengejutkan, Daniel yang di dekatnya ini benar-benar bersikap dingin padanya, dan ini pertama kalinya pria itu melakukan hal tersebut padanya.
“Kita berada di kelas yang sama. Untunglah aku bertemu denganmu, apa kau tahu dimana ruangan itu?”
Tidak menjawabnya, Daniel terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun, dan Eliane terus mengikuti langkahnya. Dia tidak peduli bagaimana Daniel memperlakukannya, karena yang di pikirannya saat ini adalah masuk ke dalam kelas tanpa tersesat.
University of Zurich bukan sebuah unversitas kecil, banyak bermacam-macam gedung di dalamnya, dan itu membuat Eliane kesulitan untuk menghapalnya. Meski dia mudah bergaul dengan siapa pun, tetap saja jika lingkungannya saat ini bukanlah tempat yang mudah.
Tidak memperhatikan jalan dengan baik, dan terus melamun, Eliane tak sadar bahwa pria di hadapannya telah berhenti, akhirnya dahi Eliane pun terhantuk pada punggung Daniel. Merasakan hal tersebut, Daniel pun segera berbalik, dan menatapnya, sedangkan Eliane sedikit terkekeh menanggapinya.
“Apa kau ingin terus mengikutiku?” Sahutnya.
“Hah?” Balasnya bingung, dan lagi-lagi Daniel pun menghela napasnya ketika menanggapi gadis di hadapannya.
“Aku akan ke toilet, apa kau juga akan ikut bersamaku?” Daniel kembali menyeru seraya menunjuk toilet yang berada di belakangnya dengan ibu jarinya.
“A-ah Ha Ha. Apa kau sudah gila? Itu toilet pria, mana mungkin aku masuk kesana. Aku akan menunggumu disini!” Ucap Eliane seraya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Daniel pun segera masuk, dan Eliane menyandar pada dinding untuk menunggunya.
Beberapa mahasiswa keluar-masuk ke dalam toilet tersebut, dan Eliane tampak memperhatikan mereka satu persatu, dia hanya takut jika Daniel akan kembali mengabaikannya, dan meninggalkannya di tempat itu.
Sudah 15 menit pria itu tak kunjung keluar dari sana, Eliane pun menghela napasnya seraya memainkan salah satu kakinya, dia menggoyangkannya karena sudah merasa sedikit pegal, namun Daniel masih tak keluar juga.
Haaahh sebenarnya apa yang dilakukannya di dalam? Dia tidak berusaha untuk kabur melalui toilet bukan?
Eliane terus menggerutu dalam batinnya, ingin rasanya dia melihat ke dalam, namun dia tidak bisa melakukan hal tersebut. Jika dia melakukannya, dia akan di labeli sebagai gadis mesum, dan itu tidak boleh terjadi, membayangkannya saja sudah begitu mengerikan, itulah yang berada di pikiran Eliane saat ini.
“Apa yang sedang kau lakukan disini? Kau mahasiswi baru, ya? Apa kau sedang menunggu seseorang? Aku bisa membantumu mengeceknya di dalam.” Seseorang menyahut dengan nada ramahnya, dan Eliane sangat terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.
“Benar, aku mahasiswi baru, dan aku...”
“.... maaf, dia temanku, dan dia sedang menungguku.” Dengan menyela ucapan Eliane, Daniel langsung menarik pergelangan tangan gadis itu agar bisa meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
“Astaga, kenapa kau lama sekali? Apa yang kau lakukan di dalam sana? Aku bahkan berpikir bahwa kau melarikan diri, dan berniat untuk mengerjaiku.” Protesnya yang terus bicara tanpa henti.
Lagi-lagi Daniel mengabaikan ucapannya, genggamannya pada tangan Eliane pun sudah di lepaskan olehnya. Hingga mereka pun telah tiba di ruang kelas mereka, dan Daniel langsung menempati salah satu tempat yang kosong, lalu Eliane kembali mengikutinya dengan duduk di sisinya.
“Kak Elia, jadi kau di terima juga, ya?” Seseorang menyahut, dan mendengar suara yang tak asing membuat Eliane menolehkan pandangannya.
“Eldrich? Zoya? Ah kalian juga di terima, benar-benar luar biasa.” Pungkas Eliane seraya mengacungkan kedua ibu jarinya. “Duduklah disisiku!” Pintanya, dan akhirnya Eldrich meminta Zoya untuk duduk di sisi kakak sepupunya, setelah itu Eldrich duduk di sisi Zoya.
Eldrich? Namanya tampak tak asing di telingaku. Benar sekali, dia adalah penerus CBC Group bukan? Putra dari Charlie Austin, astaga kenapa aku bisa di kelilingi dengan keluarga Austin?
Bersambung ....
Sama daniel saja
lebih greget ..
mau vero ataupun daniel
aku terima kok. yg penting elia bahagia😘😘
Vero yg rambut putih😌