“Kamu bajingan? Bagaimana kamu bisa melakukan ini semua padaku? Aku menyesal menikah dengan kamu?” teriak Kanaya sambil menghapus air matanya.
Laki-laki itu menyeringai, “Kamu telah menikah dengan iblis.”
Kanaya hanya bisa menyesali jalan hidupnya, ia sejak dulu selalu menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna, tetapi takdir menentukan hal lain. Saat ia melarikan diri dari pernikahannya dengan laki-laki kejam serta pembohong dan menikah dengan orang misterius pada hari yang sama untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Doni. Namun faktanya, itu tak seperti yang ia bayangkan. Akankah laki-laki misterius itu lebih baik dari Doni Aggriawan atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kanaya lega Alex tidak kembali ketika ia kembali, ia segera mandi, perutnya keroncongan dan ia ingat bahwa ia belum makan siang. Ia segera pergi ke dapur untuk makan, ia senang sudah menyuruh Stefan untuk menjaga jarak darinya, ia hanya ingin melakukan apa yang membuat Alex bahagia.
Ia telah jatuh cinta padanya dan akan mengakui perasaannya kepadanya. Dia berangkat kerja pagi ini tanpa berbicara dengan dirinya, ia mengerti bahwa dia hanya mengkhawatirkannya, tetapi ia akan meyakinkannya bahwa dia tidak perlu khawatir, untuk selanjutnya, ia akan melakukannya.
Ia akan coba untuk menjadi istri yang dia banggakan dan ia akan memastikan pernikahannya menjadi lebih baik dan tidak akan pernah berakhir. Itu harapannya, ia akan berusaha membuat Alex jatuh cinta padanya.
Kanaya yang duduk di tepi tempat tidur, ia mendengar decitan pintu ia menolah. Perlahan pintu terbuka, ia melihat Alex pulang, ia menatapnya seraya berdiri.
Kanaya menggerakkan tangannya dengan gugup, semua kalimat yang telah ia siapkan sebelumnya terbang dari kepalanya, "Hmm, kamu kembali."
Dia tidak menjawab, pandangannya mengakses dan ia menjadi lebih gugup, ia mencoba bicara lagi, "Aku telah meminta pelayan menyiapkan hidangan favorit kamu."
Alex terdiam, ia tidak menjawab dan berlalu menuju kamar mandi. Selesai mandi dan masih tanpa sepatah kata pun, ia turun untuk makan malam. Mengabaikan Kanaya yang duduk di sofa seperti menunggu dirinya.
Kanaya mengikutinya, mengapa dia mengabaikannya? Ia mencoba untuk berdamai di sini, ia duduk berhadapan dengannya di ruang makan dan menyaksikan makanannya disajikan untuknya. Ketika pelayan pergi, ia mulai makan tapi Kanaya tiba-tiba mengambil makanan dari Alex.
"Apa?" ucap Alex.
"Syukurlah kamu akhirnya berbicara, kupikir kamu nggak mau bicara?" ucap Kanaya yang kini tatapannya bertemu dengannya.
"Apa yang kamu ingin tahu apa yang akan aku katakan?" Suara Alex terdengar serak seperti menahan amarah.
"Aku ingin kamu mengatakan bahwa kamu telah memaafkanku dan bahwa kamu tidak lagi marah padaku," ucap Kanaya.
Ada keheningan yang tegang saat dia memandangnya, jantungnya berdetak lebih cepat dalam spekulasi, dia menyilangkan tangannya di dada, menyandarkan punggungnya ke kursi tempat dia berada.
"Untuk apa sebenarnya aku harus memaafkanmu?" tanya Alex.
"Aku tahu kamu hanya mengkhawatirkanku, oleh karena itu, kamu memintaku untuk menjauh dari Stefan, maafkan aku karena bertentangan dengan keinginanmu," lirih Kanaya.
Sudut mulutnya terangkat ke atas sebelum Alex berbicara, "Apakah kamu akhirnya berhenti berteman dengan dia?"
Kanaya mengangguk dan dia menyeringai, ia meletakkan kedua sikunya di atas meja untuk melihat wajah Alex lebih dekat.
Alex terkekeh dan mengamatinya untuk sementara waktu membuatnya bergeser di tempat duduknya.
"Jadi, kamu akan berhenti bersikap keras kepala dan mendengarkan suamimu seperti istri yang baik?"
Kanaya memutar matanya, "Kamu tidak perlu mengatakannya aku tahu aku agak keras kepala."
"Hanya sedikit?" Alex menyahut ucapan Kanaya dan dia mendengus. "Aku tahu kamu tidak tulus," ucap Alex memproklamirkan.
Kanaya berdiri dengan marah, pindah ke sisi mejanya, dan mengarahkan jarinya ke arah wajah Alex, "Lihat, Tuan Alex! Bisakah kamu membuat ini semua lebih mudah. Aku mencoba untuk meminta maaf di sini dan ...."
Kanaya menutupnya dengan tiba-tiba menempelkan bibirnya ke bibirnya. Alex terkesiap, beberapa menit kemudian, mereka saling terengah-engah.
"Diterima," bisik Kanaya setelah beberapa saat.
Kanaya diam, menunggu jawaban dari Alex.?