Blurb:
Seminggu menjelang pernikahaannya, Anna mendapatkan berita tidak terduga. Zico, sang tunangan menikah dengan wanita lain, di mana Anna telah siap memberikan kejutan atas kehamilannya.
Tidak menerima kenyataan ia ditinggal menikah saat hamil, Anna memilih untuk mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, Amar hadir menyelamatkannya.
Amar dipaksa untuk menikahi Anna oleh neneknya ... Bagaimana kelanjutannya? Apakah Amar bersedia menikahi Anna, sementara ia sendiri memiliki seorang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Sarapan bersama
Anna meraba-raba keberadaan ponselnya dan segera mematikan suara yang membuat seisi rumah pusing itu.
Ia bangkit, melihat kiri kanan, tetapi tanpa mengatakan apa-apa iya turun keluar dari kamar itu.
Amar tercengang melihat reaksi Anna yang jauh di luar perkiraannya. Ia pun tertarik mengintip apa yang dilakukan oleh Anna. Ternyata Anna sudah dalam mukena melaksanakan kewajiban salat subuhnya.
Amar menghentikan aksinya yang mengintip Anna. Dia kembali dengan kepala terteleng ke kiri dan kanan.
"Jika dia sholat, harusnya dia tidak terjebak dengan perbuatannya itu dan tidak mungkin berencana bunuh diri seperti waktu itu. Jika saja dia tidak hamil, aku mungkin tidak ..." Tangannya seakan refleks bergerak meniru apa yang ia lakukan tadi.
"Astagah! Aku tidak boleh berpikir seperti itu!" Amar kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Anna bermunajat memohon ampun terhadap segala dosa masa lalunya yang terlalu gampang jatuh dalam pelukan lelaki yang membuatnya merasa menjadi wanita h*na. Usai bermunajat, Anna baru teringat bahwa ia tadi malam tidur dipeluk oleh Amar.
"Aaah, dia bangun duluan kan? Dia nggak ngapa-ngapain kan?" Anna meraba seluruh bagian tubuhnya.
"Ya Allah ... jangan jatuhkan aku lagi ke dalam dosa besar ini. Ini hanyalah pernikahan penutup aib saja. Namun, kami tidak boleh bergaul sama sekali." Anna memeriksa sekujur tubuhnya.
Seluruh pakaiannya masih terpasang utuh. Namun, ia sedikit takut ketika mengingat tingkah Amar jika mab*k. Dulu hampir saja Amar melakukan sesuatu yang menakutkan, ditambah lagi menyebut nama Luna, kekasihnya.
Anna mengintip ke arah ruang tengah. Beruntung tidak ada siapa-siapa. Ia pun melangkah ke dapur demi menyiapkan sarapan pagi untuk Amar. Kali ini ia menyiapkan menu sederhana. Roti yang diberi toping selai.
Ceklek
Suara kunci terbuka di kamar Amar pun terdengar. Anna merasa pekerjaannya sudah beres, gegas kabur masuk ke dalam kamarnya. Namun, Amar melihat gerak-geriknya dengan nyata.
"Kamu mau ke mana? Apa tidak capek main petak umpet mulu?" tanya Amar menghentikan langkah Anna yang terus mengendap-endap.
"Aku belum mandi. Tidak enak sama kamu yang sudah rapi dan wangi." ucapnya asal.
"Ayo duduk!" titah Amar kembali.
Anna masih berdiri membeku karena ia merasa aneh jika diajak sarapan bersama. "Bukan kah kita makannya terpisah?"
"Itu kalau kamu telat bangun. Ini kebetulan ada kamu. Ayo sarapan bareng!"
Anna masih mematung. Dia merasa tidak bisa memutar tubuhnya berhadapan kepada Amar. "Makan sendiri kayak biasa aja! Anggap saja aku tidur seperti biasanya." elak Anna.
Amar kembali melirik tangannya tadi. Setelah itu ia menatap ke bagian dada Anna, lalu membuang muka. "Duduk lah! Ayoo, keburu aku menghabiskan semuanya!" canda sang pemilik apartemen.
Anna merasa dirinya sedang diperhatikan dengan dalam. Amar menikmati roti yang sudah diberi selai tersebut. "Ayo makan! Tunggu apa lagi?"
Anna menarik satu keping roti dan menikmatinya. "Kamu ke mana aja? Kenapa membiarkanku sendirian di klinik itu?"
Amar yang semenjak tadi memandangi Anna, mengingat apa yang sudah dilakukannya kepada Anna pun menjadi menghentikan makannya.
"Apa urusanmu nanya-nanya aku? Bukan kah kita sepakat untuk tidak saling mengganggu kehidupan dan privasi masing-masing?" Amar melempar makanan yang tadi baru sedikit dinikmatinya itu.
Ia beranjak menarik tas kerja dan pergi begitu saja tanpa mengatakan satu apa pun.
"Terima kasih sudah merusak mood-ku!"
Amar keluar meninggalkan Anna yang kebingungan. "Kenapa dia yang marah? Harusnya aku yang marah!"