Ini kisah seorang gadis cantik, Sheilla Abraham namanya. Seorang gadis nakal, pembuat onar yang akhirnya memutuskan untuk berubah.
Namun, ternyata keputusan Sheilla untuk berubah malah membuat nya menjadi bahan bullyan di sekolah baru nya.
Lalu, akankah Sheilla melawan? atau membiarkanmu dirinya menjadi bahan bullyan murid-murid di SMA Raharja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizkook lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Six
...*Jagalah selama ada, namun ingat untuk tetap menjaga keselamatan mu sendiri....
......Berbuat baik itu bagus, namun terlalu baik juga dapat membahayakan mu*. ......
...Kita tidak tahu isi hati seseorang, bisa saja dia kawan, bisa juga lawan. Jangan pernah melihat sisi luar seseorang saja, karna belum tentu sisi luar dan sisi dalam seseorang itu sama....
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Karena kejadian kemarin, hari ini Sheilla dan teman-temannya di panggil keruang kepala sekolah untuk di sidang, sedangkan murid yang lain di liburkan karena sekolah akan di renovasi selama beberapa bulan kedepan.
"Apa yang terjadi kemarin sangat membuat saya terkejut." Bu Diana mengangkat wajahnya, terlihat sangat berwibawa dan cantik di usianya yang tidak lagi muda.
"Saya tahu, dan saya paham, paham sekali jika kalian ini anak motor. Memiliki banyak musuh, suka tawuran dan sebagai nya. Namun di lingkungan sekolah? saya tidak bisa mentolerir hal ini, apalagi sampai membuat gedung sekolahan kita hancur seperti ini."
Sheilla menatap Diana tegas, tak ada raut wajah takut, atau sebagai nya. Rasa bersalah? ya, ia sedikit merasa bersalah karena anak-anak Cobra itu datang untuk dirinya. "Maaf Bu, saya benar-benar minta maaf."
Sheilla menarik nafas sebelum memberikan pembelaan, "Namun penyerangan ini terjadi dengan tiba-tiba, kami sama sekali tidak tahu."
"Benar yang Sheilla katakan, ini penyerangan mendadak! lagi pula kami tidak memiliki masalah dengan mereka."
"Vicky! turunkan nada bicara kamu!" Tegur Bu Diana.
"Maaf Bu, saya ke bawa emosi."
"Sebagai permintaan maaf kami, kami akan menyumbang dana untuk renovasi sekolah." Ryan angkat suara.
Bu Diana menggeleng, "Tidak, tidak, saya tidak membutuhkan uang kalian. Saya cuma butuh kalian berjanji supaya hal seperti ini tidak akan terjadi lagi atau reputasi sekolahan akan hancur gara-gara kalian."
Sheilla berdiri, "Saya berjanji bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi." Ia mengangkat satu tangannya, sedangkan tangan lainnya berada di dada.
"Dan kami juga akan tetap membantu memberikan dana untuk renovasi sekolah," Lanjutnya.
"Baiklah, saya berterimakasih kalau begitu."
Kini netra tegas sang kepala sekolah berfokus pada Adnan yang sejak tadi diam duduk di sofa bersama Vicky, Alena, Ander, Yudha dan Dion. Sofa itu cukup besar untuk mereka semua.
"Dan kamu Adnan, kamu juga ikut-ikutan seperti mereka? Kamu adalah ketua OSIS, seharusnya kamu memberikan contoh yang baik kepada siswa lain."
Adnan mengangkat wajahnya untuk menatap Bu Diana yang berjarak cukup jauh dengan nya, "Maaf Bu, tapi saya hanya ingin membantu. Ini juga demi sekolahan, saya takut sekolahan akan jauh lebih rusak lagi nanti nya."
Tidak hanya sampai di sana, Bu Diana menyidang mereka hingga 2 jam lamanya. Vicky dan Yudha sampai mengantuk karena di interogasi selama itu.
Mereka semua berkumpul sebentar di parkiran untuk membicarakan tentang uang untuk membantu renovasi sekolah.
"Gue cuma punya 600 jt nih, gapapa lah ya." Yudha memberikan check pada Ryan.
Ander dan Dion mengeluarkan check dari saku mereka yang sama-sama bertuliskan nominal sebesar 850 jt.
Tak mau kalah, Vicky juga mengeluarkan check, lalu menuliskan nominal serupa dengan Ander dan Dion.
"Pas banget uang bulanan gue kemarin masih utuh, nih." Alena memberikan check sebesar 1,05M.
"Anjirr, duit lo banyak amat."
"Duit terkahir gue tuh, lusa dapet jatah bulanan lagi."
"Lah, terus lo dua hari ini bakal jajan pakek apa?" Tanya Yudha penasaran.
"Punya pacar kalau gak bisa di manfaatin buat apa?" Iya kan? lagian RM uangnya banyak kok, laki-laki itu juga dua hari sekali selalu kerja di kantor daddy nya, jadi udah punya penghasilan sendiri.
Sheilla dan Ryan sama-sama memberikan check sebesar 1,3M, sedangkan Adnan memberikan check sebesar 1,2M tanpa mengatakan apapun, laki-laki itu langsung pergi dari sana.
"Tuh anak kenapa sih? biasanya selalu kelihatan ramah, kok hari ini gelap banget auranya," Komentar Vicky.
Yudha dan Ander mengangkat bahu, namun diam-diam mereka memperhatikan Ryan yang ternyata tengah memperhatikan mobil Adnan yang mulai pergi meninggalkan area SMA Raharja.
•
•
•
Sheilla tidak mengerti, biasanya kedua orang tuanya akan cuek-cuek saja jika dirinya berbuat masalah. Bahkan ketika dirinya di keluarkan dari sekolah lama pun, mereka tidak peduli, lalu kenapa mereka memarahinya seolah-olah mereka peduli?
"Kamu ini seperti anak yang tidak pernah di ajarin tau gak?! mau jadi apa kamu ikut geng motor kayak gitu?!"
Sheilla memutar bola matanya malas, "Peduli apa anda, tuan Victor Abraham?" Suara dingin Sheilla mengudara.
Sheilla berdiri dari duduknya, berhadapan langsung dengan sang daddy yang terlihat sangat marah dengan wajah memerah.
"Dan ya, saya memang tidak pernah di ajarin apapun sejak beberapa tahun belakangan. Anda tahu kenapa?" Tatapan Sheilla begitu tajam, terlihat sekali kekecewaan di bola mata sebiru lautnya.
"ITU KARENA KALIAN! Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian, kalian tidak pernah memperhatikan aku, Alena, juga bang Nathan. KALIAN SADAR GAK SIH?! KALIAN TUH UDAH NELANTARIN KAMI."
Sudah cukup Sheilla selama ini diam, ia ingin menyutradarai isi hatinya, biarkan kedua orang tuanya tahu apa yang ia rasakan sekarang.
Nafas yang memburu, memperlihatkan betapa Sheilla yang sangat menggebu ingin menyuarakan isi hatinya.
"Kalian ingat? Tahun lalu seharusnya menjadi sweet seventeen untuk aku. Anak-anak remaja biasanya, sweet seventeen akan di rayakan dengan meriah oleh teman dan keluarga nya, tapi aku?!"
Sheilla menggigit bibir bawahnya menahan air matanya untuk tidak lolos, namun itu percuma, Sheilla tidak berhasil menahan air matanya hingga cairan bening itu meluncur melewati pipinya.
"Kalian tidak ada yang mengingat hari ulang tahun ku, hanya bi, bibi yang mengingat nya. Bibi adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk ku pada hari itu."
"Tapi kami__" Nyonya Abraham ingin memberikan pembelaan, namun Sheilla lebih dahulu menyela. "Aku belum selesai!"
"Bang Nathan waktu itu di luar negeri, dan Alena sedang pergi studytour ke Bali. Hanya mereka, anak-anak ARMI yang merayakan ulang tahun ku. Hanya mereka yang membuat pesta mewah untuk ku... Hiks..." Sesak, dada Sheilla terasa sesak.
"Kalian memang keluarga yang melahirkan ky, kalian memang memberi ku cinta walaupun hanya sesaat. Namun mereka, mereka adalah keluarga yang memberikan aku kenyamanan, cinta dan kasih sayang."
Tuan dan Nyonya Abraham bungkam, mereka tidak tahu lagi harus menjawab apa ucapan Sheilla, karena semua itu benar apa adanya.
Tak mau di salahkan, tuan Abraham langsung melakukan pembelaan, "Tapi kami mencari uang untuk kalian, supaya kalian bisa hidup enak."
"Lalu apakah anda pikir kami jauh lebih membutuhkan uang anda dari pada keberadaan anda, tuan Abraham?" Terdengar tenang, namun percayalah, ucapan Nathan sangat menusuk.
"Jujur, jika Alena boleh memilih, Alena lebih ingin menjadi anak kandung bi Ina."
Sheilla mengusap air matanya pelan, "Aku juga akan lebih bersyukur jika memiliki orang tua seperti bi Ina."
Ucapan Nathan, Sheilla dan Alena membuat nyonya dan tuan Abraham merasa terpojok kan.
Ya, mereka akui jika sejak dulu Bi Ina memang selalu bersama mereka, menjaga ketiga anak mereka dari ketiga nya masih kecil hingga tumbuh remaja.
Namun, sebagai orang tua, mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak nya. Mereka ingin anak-anak hidup makmur, dengan uang yang berlimpah, mereka pikir itu akan membuat Nathan, Sheilla dan Alena senang. Namun, mereka salah.
Uang memang bisa membeli segalanya, namun uang tidak bisa memberi segalanya. Sesuatu yang di beli, dengan sesuatu yang di beri itu sangat berbeda.
Membeli itu pertanda kamu mampu, namun diberi, pertanda kamu layak.
Dan Sheilla itu layak, layak untuk di beri kasih sayang, layak untuk diberi cinta.
•
•
•
Karena hati yang sudah terlanjur sakit, Keana pun menelfon Ryan untuk membawanya pergi. Kemana pun itu asalkan bisa membuat ia melupakan sejenak kejadian barusan.
Ryan dengan senang hati tentu saja mengiyakan ajakan sang kekasih, ia membawa motor besarnya untuk menjemput Sheilla.
Jujur, Ryan belum tahu ia akan membawa sang kekasih kemana. Namun, biarlah ia membawa gadis nya untuk motor-motoran sejenak mengelilingi kota.
"Kamu pengen ke suatu tempat gak?" Tawar Ryan.
Sheilla mengeratkan pelukan nya di perut Ryan, "Aku ingin bertemu Mommy Syifa," Ucap nya dengan suara sedikit keras.
Ryan mengangguk, ia segera melajukan motornya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Ryan langsung membawa Sheilla masuk, "MOMMY! RYAN PULANG MEMBAWA SEJUTA CINTA DAN KASIH SAYANG!"
Mommy Syifa datang dari dapur dengan cendok sayur di tangannya, "Jangan berisik Ryan, kamu lupa kalau Dina ada di sini? dia sedang tidur, jadi jangan di bangunkan."
Ryan menepuk jidatnya, "Oh iya, Ryan lupa kalau ada bocil di rumah."
"Loh, Sheilla sayang, mau main kok gak bilang-bilang? mommy belum selesai masak lho."
Sheilla tersenyum malu, "Gapapa mom, biar Sheilla bantuin ya."
"Tentu-tentu, ayo sayang." Syifa merangkul Sheilla, membawa calon menantunya pergi ke dapur.
Ryan mendengus, inilah yang akan terjadi jika mommy nya dan Sheilla bertemu, ia selalu terlupakan. Kedua perempuan itu selalu asik sendiri, membahas banyak hal.
•
Selesai memasak, Sheilla memutuskan untuk duduk di samping Ryan. Ia letakkan kepalanya di bahu lebar sang kekasih. "Aku capek."
Bisa Sheilla rasakan, tangan besar Ryan yang mengusap kepalanya, "Istirahat."
"Kenapa mereka seperti itu? aku, aku merasa tidak di inginkan jika seperti ini." Sheilla tidak bisa untuk tidak menitihkan air mata.
Ryan mencium kening Sheilla kala tangisan gadis itu semakin kencang.
"Ryan! kamu apain Sheilla sampai nangis gitu? " Suara Syifa menginstrupsi keduanya.
Ryan gelapan, namun Sheilla langsung memeluk Syifa, membuat wanita itu langsung melotot pada anak semata wayangnya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Ganteng sih, namun sayang, udah ada pawang 😭
Anaknya cakep, bapaknya juga gak kalah cakep.
ikutan sedih,,,soal ny penjahat asli ny lom tahu ad dendam ap sma sma sheilla trus kn kayak sembunyi d balik layar gthu,,,,
ryan keren,dh kayak pangeran berkuda besi ajj,,,🤭🤭🤭