Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diare
Dikejar Om Seksi
Mutia menjauhkan wajah Denis dengan telapak tangan tepat di bibirnya.
Denis membuka mata, sedang Mutia sudah asyik kembali dengan filmnya. Bibir Denis mengerucut, sebal bukan kepalang. Namun detik selanjutnya, dia tersenyum sendiri.
Tak salah dia melabuhkan hati kepada Mutia. Selama ini tak pernah ada yang menolaknya. Siapa yang kuat menolak pesonanya? Secara tampang dan finansial, dia sempurna. Hanya Mutia satu-satunya orang yang berani menolaknya. Dan itu justru membuat Denis makin menyukainya.
Film telah habis, semenjak di tolak Mutia tadi, Denis tak lagi iseng. Hanya saja sesekali berusaha menggenggam tangan Mutia, namun lagi-lagi gadis itu menolaknya.
"Sayang, makan, yuk?" ajak Denis saat telah keluar dari bioskop.
"Boleh, tapi aku yang nentuin tempatnya," usul Mutia yang langsung diangguki Denis.
Dengan tak melepas sedikitpun tangan Mutia, Denis berjalan mengikuti arahan Mutia.
Mutia sampai disebuah kedai ayam berkeju. Dia dari lama pingin makan ini, hanya saja dia tak selalu tak punya waktu.
"Biar aku saja yang pesen, Mas duduk aja dulu. Tapi mana duitnya?" pinta Mutia tak sungkan.
Denis sedikit kaget dengan ucapan Mutia. Dia meminta uang tanpa ragu, tapi sejujutnya dia lebih senang seperti ini. Hanya makan, permintaan Mutia tidak berlebihan. Lagian, bukankah dia yang mengajak, jadi sudah sewajarnya dia pula yang bayar.
Denis menyerahkan dompetnya pada Mutia. Gadis itu tak langsung meraihnya, dia justru melihat dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa sama dompetnya?" protes Mutia.
"Lah emang kenapa? aku kan gak tau kamu mau beli berapa, daripada kurang dan akhirnya bolak-balik, mending kamu bawa sekalian dompetnya," jelas Denis dengan santai.
"Gak mau, itu kan privecy kamu, Mas."
"Gak papa, kita kan mau jadi suami istri, biar lebih terbuka gitu." Zakki menaik turunkan alis, sedangkan Mutia sudah memutar bola matanya malas.
"Jangan ngaco! ayo ambilin uangnya!"
Denis mengalah, akhirnya dia mengambil beberapa lembaran uang dan menyerahkan kepada Mutia.
"Aku beli semauku, ya?" tanya Mutia.
"Teserah kamu, Sayang. Kamu beli restorannya juga boleh." ucap Denis sok lembut. Tak menanggapi, Mutia justru berjalan menuju kasir.
Mutia kembali dengan dua nampan makanan, sedangkan dibelakangnya ada seorang waiters yang menyerahkan satu kantong kresek makanan yang sama.
"Makasih, Mas," ucap mutia kepada Waiters yang mengantar makanannya.
"Banyak banget, buat siapa?" tanya Denis.
"Kenapa? gak boleh uangmu kupakai buat ini?" tanya Mutia seraya mengambil tempat duduk.
"Gak gitu, Sayang. Kan aku cuma tanya buat siapa?"
"Buat Mama sama teman-teman tiktoknya. Nanti malam mereka mau mabar, kasihan kalau gak ada cemilan."
Denis mengangguk, meskipun sebenarnya dia sedikit aneh dengan kegiatan calon mertuanya itu. Tapi baginya, biarlah. Mungkin itu salah satu cara sang mama menghilangkan sepinya.
Mereka mulai makan, Mutia makan dengan lahap, sedangkan Denis merasakan bibirnya sedikit terbakar.
"Yang, ini tadi level berapa?"
"Tiga, kenapa? kepedasan?" tanya Mutia yang melihat muka Denis mulai merah.
"Enggak. Enak kok."
Denis berbohong. Sebenarnya, dia amat tidak tahan dengan makanan pedas. Tapi demi tak menyinggung Mutia, dia terus makan, meskipun perutnya sudah mulai berontak. Benar kata orang, kalau sudah cinta, tai kucing bisa rasa coklat. Dan sambal pedas serasa es krim.
Selama perjalan pulang, konsentrasi Denis sudah sedikit buyar. Dia membutuhkan kamar mandi. Mutia melihat perubahan ekspresi Denis jadi bertanya-tanya.
"Kamu kenapa? merah banget mukanya?" tanya Mutia saat mereka turun dari motor.
Alih-alih menjawab, Denis malah berlari masuk ke rumah Mutia. Membuat mama mutia dan Mutia sendiri bingung.
"Kenapa mantu mama?" Tanya mama mutia.
"Gak tau, tadi gak kenapa-kenapa. ini buat mama sama teman-teman," ucap Mutia seraya menyerahkan bungkusannya.
"Wah, terima kasih. Sampaikan salamku buat mantu mama, ya? mama mau berangkat." Mutia mengangguk.
Sepeninggal sang Mama, Mutia masuk kamar, meletakkan tas juga jaketnya. Saat dia keluar, terlihat Denis sudah duduk di kursi dengan penuh keringat.
"Kenapa? kok keringatan gitu?" tanya Mutia sembari duduk di hadapan Denis.
"Mules. Aku gak bisa makan pedas," jawab Denis lemah.
"Kenapa gak bilang?" tanya Mutia yang kini merasa bersalah.
"Gak papa. Kamu yang pesenin," Denis masih sempat-sempatnya tersenyum disaat tubuhnya seperti itu.
"Tunggulah, aku akan buatkan teh." Mutia menuju dapur, sedangkan Denis kembali ke kamar mandi.
Teh siap, tepat saat Denis keluar dari kamar mandi.
"Minum dulu. Ini teh tawar, kata orang ampuh untuk diare." Mutia duduk di samping Denis, membantu lelaki itu untuk minum.
Setelah minum, Mutia membantu Denis untuk merebahkan tubuh. Denis tak melepas pandangannya sedikitpun dari Mutia.
"Sayang," panggil Denis seraya menahan tangan Mutia yang hendak berlalu.
"Apa?" tanya Mutia sembari menghadap Denis.
"Terima kasih. Sepertinya aku harus sakit dulu biar kamu perhatiin kayak gini, jadi makin cinta," ucap Denis seraya mengedipkan mata.
Wajah Mutia sedikit memerah, meskipun sebenarnya dia sedikit sebal. Sakit begitu masih saja bisa ngegombal.
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa