"Siapa sangka, pertemuan yang tidak disengaja itulah yang membuat kita sampai saat ini masih bersama" ~ Nadila Azzahra Putri Gunawan.
"Lo bisa nggak sih, seharii aja nggak gangguin gue Vin?" Tanya Nadila kesal.
"Enggak bisa!!!"
"Sebenarnya mau lo itu apa sih Vin?"
Vino mendekat. "Kan udah gue bilang, gue mau jadi pacar lo"
Deg
_________________________________________
Bukankan ada pepatah yang mengatakan, bahwa apapun yang tengah kamu hadapi, kamu harus percaya dan yakin, bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya, bahkan dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu seperti apa kita akan dipertemukan dengan jodoh. Seperti halnya dengan Nadila yang bertemu dengan jodoh dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
Nadila fikir, pertemuan singkat pada saat itu hanya akan berakhir sampai disana saja. Namun siapa sangka, semuanya masih berlanjut sejak beberapa tahun mereka kembali dipertemukan. Dan ternyata, memang pria yang bernama Vino itulah yang menjadi jodohnya.
Mau tau gimana kisah Nadila dan Vino? Kuy baca. Jangan lupa di like, komen, dan vote :)
Copyright © Afrialusiana
Dont copy my story. Ingat dosa!!
Follow Ig Author : @Afrialusiana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afria Lusiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janjian
Dua bulan berlalu, semenjak kejadian di Kafe waktu itu, entah mengapa Nadila semakin hari semakin sering bertemu dengan Vino di kampus dan dimana saja. Hal itu juga selalu menghadirkan perdebatan-perdebatan kecil di antara keduanya.
Hingga tanpa Nadila sadari, hubungan yang awalnya hanya dipenuhi dengan cekcok, perdebatan, sekarang sudah berubah menjadi seorang teman. Meskipun hanya lewat pesan singkat dan juga telfonan, Nadila sudah terlihat mulai dekat dengan Vino.
Terkadang Nadila berfikir, ia benar-benar tidak pernah menyangka dan benar-benar tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi. Tapi, inilah faktanya. Pria yang dulu sempat ia kagumi sekarang sudah berada di dekat dirinya dan juga menjadi temannya.
Di dalam kamar, Nadila terlihat tengah sibuk menonton Drama Korea kesukaannya. Gadis itu tertawa kecil sesekali ketika melihat adegan yang ia rasa lucu pada drama tersebut.
Beberapa menit kemudian, ponsel Nadila yang terletak di atas nakas bergetar, hal itu membuat Nadila mengalihkan pandangannya. Gadis itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk segera meraih ponsel tersebut. Nadila menggeser tombol hijau yang ada di layar ponsel untuk mengangkat panggilan yang tidak lain dari Vino.
"Iya Vin, ada apa?" Sahut Nadila.
"Nad, nanti malam lo ada acara nggak?" Tanya Vino tanpa basa-basi.
"Nanti malam? kayaknya sih enggak. Kenapa emang?"
"Oo bagus kalo gitu. Rencananya sih gue mau ngajakin lo jalan. Itupun juga kalo lo mau!"
"Hmmm jalan, kemana?"
"Kemana aja , yang penting sama lo" Sahut Vino dari seberang sana.
"Dasar lo ya laki-laki"
"Lah memang gue laki-laki, siapa bilang gue banci?"
"Kali aja lo memang banci Vin"
"Udah ah debat mulu, intinya lo mau nggak?"
"Gimana ya?" Nadila menjeda ucapannya.
"Gimana? mau nggak?"
"Bentar napa sih? dipikir-pikir dulu?" Ketus Nadila.
"Pake mikir segala, tinggal bilang iya aja apa susahnya sih?" Gerutu Vino
"Ih lucu bat lo, kali aja gue mau jawab enggak. Mau apa lo?"
"Nggak boleh jawab enggak! cuma boleh jawab iya!" Paksa Vino.
"Idih aneh bin ajaib bat ini orang, tadi aja bilang "itu juga kalo lo mau" ejek Nadila mengulang kata-kata Vino.
"Bacot bat sih lo, pokoknya nanti malam gue jemput gamau tau!" Putus Vino sepihak. Pria itu mematikan ponsel mendadak.
Kening Nadila tertaut, gadis itu melirik ponsel yang masih berada di tangannya. Kepalanya menggeleng mengingat kelakuan Vino.
"Aneh banget lo Vin... Vin" Gumam Nadila sembari menaruh kembali ponsel yang semula ada di tangannya di atas nakas. Sedetik kemudian, gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya menonton drama yang sempat terjeda karena panggilan dari Vino.
Sementara Vino. Di dalam kamarnya, pria itu menaruh kembali ponsel di atas meja belajar. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dengan bibir melengkung membentuk sebuah senyuman.
***
Hari sudah beranjak sore, berkali kali Nadila melirik jam yang menempel di dinding. Namun, Gunawan dan Mira belum juga pulang dari kantor. Merasa bosan, Nadila memutuskan untuk pergi ke rumah Nindy, gadis itu menuruni anak tangga dari kamarnya untuk segera menuju teras rumah mencari Pak Aji.
Nadila baru saja sampai di rumah Nindy. Gadis itu segera turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam rumah Nindy setelah selesai mengucapkan terimakasih pada Pak Aji. Nadila tentu saja tidak pernah lupa untuk mengucapkan terimakasih pada Pak Aji. Karena meskipun Pak Aji hanya bekerja di rumahnya, Nadila tetap saja menghargai pria paru baya itu.
Saat ini Nadila duduk di kasur empuk yang ada di kamar Nindy.
"Nin, menurut lo aneh nggak sih, kalau si Vino tau semua tentang gue?" Tanya Nadila dengan raut wajah berkerut kebingungan, mengingat, seorang Vino selalu saja tahu apa saja yang berhubungan dengan dirinya.
"Hmmmm" Sahut Nindy tanpa menoleh ke arah Nadila. Gadis itu tampak fokus menonton Drama Korea yang juga di tonton oleh Nadila saat di rumahnya.
"Nin, lo denger gue ngomong nggak sih?" Kesal Nadila sedikit meninggikan nada suaranya.
"Niiiiiinnnndyyyyy" Nadila menjerit tepat di telinga Nindy. Rasanya ia benar-benar merasa kesal dengan Nindy yang tidak menghiraukan dirinya berbicara.
"Ihhhh Nanad, apaan sih?"
Kening Nindy tertaut, raut wajahnya tampak tidak ramah. Nindy segera bangkit dari tidurnya, duduk menghentakkan badanya di depan Nadila kemudian mematikan laptopnya dengan paksa.
"Kenapa lo jadi marah sama gue Nin? Gini nih Nindy yang sekarang. Beda banget sama Nindy yang dulu. Kalo dulu aja sampe nggak tegaan liat gue terluka dan sedih. Lah sekarang?"
Nadila tak henti menggerutu kesal, gadis itu melipat kedua tangannya di dada, memalingkan pandangannya dari Nindy. Ia juga terlihat membelakangi sahabat sedari Sekolah Menengah Atasnya itu.
"Kalo tau gini juga mending gue di rumah aja ngomong sama tembok" Gerutu Nadila.
Nadila benar-benar merasa kesal pada Nindy. Karena Nindy bahkan tidak mengubrisnya untuk berbicara. Dengan raut wajah tidak ramah, Nadila segera bangkit dari ranjang Nindy, gadis itu hendak berjalan keluar dari sana. Namun, dengan cepat Nindy menarik tangan Nadila.
"Baper amat sih lo, baper" Sahut Nindy.
"Yaudah cepetan, tadi lo mau ngomong apa?" Sambung Nindy kemudian, melototkan matanya ke arah Nadila.
"Nah, gini dong, itu baru sahabat gue" Celetuk Nadila melebarkan senyumannya. Dengan penuh semangat, gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya di atas ranjang tepat di samping Nindy.
"Jadi selama ini gue nggak sahabat lo?" tanya Nindy dengan suara sedikit meninggi.
"Enggak enggak, tenang aja, lo sahabat gue kok. Sahabat terbaik the best deh pokoknya." Nadila memeluk Nindy antusias. Hal itu juga membuat Nindy sedikit merasa geli akan tingkah sahabatnya itu.
"Intinya jangan marah-marah aja. Nanti kalo muka lo cepat tua, gue kan malu juga dikira sahabatan sama tante tante" Nadila terkekeh kecil mengejek Nindy.
Nindy mendengus kesal. "Dasar lo, sahabat gada akhlak" Tutur Nindy menyeringai.
"Sekarang inti permasalahannya apa?" Sambung Nindy setelah beberapa detik.
"Iya iya! sabar kenapa sih. Galak amat jadi orang!." dengus Nadila sebelum dirinya melanjutkan berbicara.
"Jadi gini, menurut lo aneh nggak sih Nin, kenapa si Vino bisa tau semua tentang gue? Tau nama gue, nomer hp gue, rumah gue, padahal lo tau sendiri kan, dulu kita nggak pernah dekat sama dia, ralat! Bahkan nggak pernah kenalan, apalagi ketemu"
Nindy terdiam, memutar bola matanya seolah memikirkan sesuatu.
"Bener juga sih, dari kemaren-kemaren juga gue udah rada-rada curiga juga. Tapi kan udah pernah gue bilang, apa mungkin dia itu penggemar rahasia lo? Tapi lo dibilangin malah nggak percaya!"
"Ah! Nggak mungkin!"
"Yaudah kalo nggak mungkin! Kalo lo pengen tau pasti, ya lo tanya aja sama si Vino langsung. Daripada lo sampe mati penasaran kan nggak lucu"
"Ih ogah! males banget gue nanya sama dia. Yang ada malah jawaban yang keluar dari mulut tuh orang ngelantur mulu!" dengus Nadila.
"Yaudah kalo lo nggak mau ya nggak usah penasaran! Simpe kan?"
"Aihhhh gemes banget deh gue ngomong sama lo Nin" Geram Nadila serasa ingin mencakar wajah Nindy yang ia rasa begitu menyebalkan.
Beberapa menit kemudian, Nadila tidak sengaja melirik ke arah dinding dimana terdapat jam menempel di sana.
"Astaga gue ada janji sama Vino" Nadila menepuk jidatnya sendiri. Tanpa permisi, gadis itu berlalu keluar dari kamar Nindy.
Sedangkan Nindy, gadis itu sedikit kaget dengan tingkah Nadila, ia menatap Nadila dari atas tempat tidur sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar gajelas! Gila !" Umpat Nindy yang masih memperhatikan sahabatnya itu keluar dari kamar hingga tubuh Nadila tidak lagi terlihat dari jangkauan matanya.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Makasih :)