Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Peran Rudi
Fadel ikut berdiri, napasnya memburu kasar dengan raut wajah panik luar biasa. "Yang Mulia, ini rekayasa. Pengacara Rayven sengaja bikin bukti palsu buat menyudutkan kami. Mana mungkin papa diracun. Kami gak tahu apa-apa soal racun itu."
"Yang Mulia, bukti toksikologi itu sangat mendadak, kami keberatan. Tidak ada bukti atau saksi mata yang melihat klien kami memasukkan racun atau memalsukan dokumen warisan tersebut. Ini tuduhan tanpa saksi kunci," Pengacara Hendra ikut panik setengah mati.
"Rhe, mereka mulai panik, Rhe," kata Zora. menahan napasnya.
"Ini baru permulaan, Zor. Rayven belum selesai," Rhea tersenyum tipis.
Di hadapan majelis Hakim, Rayven berdiri sangat tenang di tengah kekacauan itu. Dia menyunggingkan senyum tipis sebuah senyum kemenangan yang sangat dingin dan mematikan.
"Saudara pengacara mengatakan tidak ada saksi kunci yang melihat langsung kejahatan terdakwa?," tanya Rayven dengan nada mengejek yang sangat halus.
Rayven kemudian berbalik menghadap majelis hukum dengan membungkuk hormat.
"Yang Mulia, demi mengungkapkan kebenaran dalam persidangan ini, kami kuasa hukum korban memohon izin untuk menghadirkan seorang saksi,"
Hakim ketua saling berbisik sejenak dengan dua hakim anggota di sampingnya, sebelum akhirnya mengangguk mantap.
"Permohonan dikabulkan. Petugas, hadirkan saksi ke dalam ruang sidang," kata Ketua Hakim.
Pengacara Hendra mengerutkan dahi bingung. Fadel dan Rika saling pandang dengan rasa cas yang merayap cepat memenuhi dada mereka. Fadel masih sangat yakin bahwa Rudi masih bersembunyi atau pasrah menjadi kambing hitam di luar sana.
Pintu raksasa di bagian belakang ruang sidang perlahan terbuka lebar.
Dua orang petugas kepolisian bersenjata lengkap melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh seorang pria yang mengenakan kemeja putih polos dan celana kain hitam. Pria itu melangkah pelan menyusuri lorong tengah ruang sidang, menuju ke hadapan majelis hukum.
Fadel mendadak mundur dua langkah hingga kursi besinya terdorong keras ke belakang. Wajah Fadel seketika berubah menjadi sangat pucat, matanya melotot hampir melompat keluar dari kelopaknya, dan mulutnya terbuka lebar dalam syok yang tak tertahankan.
Pria yang berjalan masuk sebagai saksi itu adalah Rudi.
Rudi melangkah melewati meja terdakwa tanpa melirik sedikitpun ke arah Fadel. Ia menatap lurus ke arah Rayven yang menyambutnya dengan anggukan kepala tenang, lalu membalikkan badan menatap majelis hukum.
"Nggak mungkin. Kenapa lu bisa ada disini?" teriak Fadel histeris.
Rudi menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Fadel dengan tatapan dingin penuh rasa bersalah dan tekad yang bulat.
"Saya ada di sini, untuk membeberkan semua kejahatan, tindak penganiayaan, dan perintah keji yang pernah kamu suruh ke saya, Fadel," ujar Rudi tegas, suaranya bergaung jelas di seluruh ruangan.
Fadel mendadak memegang dadanya yang terasa sesak hebat, matanya memerah penuh rasa tidak percaya dan murka yang membakar jiwa.
Hakim ketua membetulkan posisi kacamatanya, menatap Rudi yang kini sudah berdiri di kursi saksi.
"Saksi Rudi. Anda dihadirkan kuasa hukum korban sebagai saksi kunci. Tolong jelaskan kepada majelis hakim kenapa anda ada di sini?" suara Hakim ketua bergaung tegas.
Rudi menarik napas panjang, lalu berbalik menatap Fadel dengan tatapan dingin tanpa rasa takut lagi.
"Awalnya saya ini sopir pribadi Pak Bambang. Saya cuma nurut apa kata majikan saya. Tapi kejahatan ini sudah terlalu jauh, Yang Mulia. Pertama kali saya curiga itu beberapa bulan lalu, saat Pak Bambang minta buatkan kopi," buka Rudi dengan suara bergetar.
Ruang sidang makin hening. Rika mulai bernapas pendek-pendek di meja terdakwa.
"Waktu saya selesai menyeduh kopi Pak Bambang, Ibu Rika masuk ke dapur. Tanpa rasa bersalah, beliau mengeluarkan botol bening ke dalam cangkir kopi itu," papar Rudi.
"Saya kaget langsung tanya, 'ini cairan apa, Bu Rika?' tapi Bu Rika cuma jawab tenang, 'ini vitamin tambahan buat sakitnya Pak Bambang, Rudi. Biar beliau cepat sembuh."
Rudi menundukkan kepalanya, menyapu air mata penyesalan.
"Walaupun hati kecil saya merasa ada yang aneh dan curiga, saya tidak berani membantah majikan. Saya tetap mengantarkan kopi itu pada Pak Bambang, dan sejak hari itu kesehatan Pak Bambang makin drop secara bertahap," lanjut Rudi.
"Bohong. Dia bohong, Yang Mulia," jerit Rika histeris dari meja terdakwa.
"Lanjutkan, saksi Rudi," perintah Hakim Ketua.
"Bukan cuma itu, Yang Mulia. Saya juga mengantar mereka mengurus dokumen pemalsuan surat warisan Restoran Restu Ibu. Bahkan Mas Fadel menyuruh saya menjaga pintu dan mengawasi situasi saat dia memaksa Pak Bambang menandatangani berkas tersebut," lanjut Rudi.
Rudi menunjuk Fadel dengan jari gemetar. "Mas Fadel juga yang menyiksa Bima. Saya lihat sendiri dia memukuli dan nendang Bima sampai babak belur, sementara Bu Rika cuma menonton tanpa menghentikannya."
Melihat situasi makin terpojok dan panik luar biasa, Fadel yang duduk disebelah ibunya mendadak membelalakan mata. Bukannya membela ibunya, dia justru langsung menggebrak meja dan menunjuk ibunya dengan wajah penuh amarah.
"Mama, jadi benar mama yang racunin papa?" teriak Fadel histeris.
"Fadel, kamu bicara apa, Nak?" Rika melotot tak percaya menatap anaknya sendiri.
"Yang Mulia, saya gak tahu apa-apa soal racun itu, saya cuma nurut apa kata mama. Mama yang suruh saya urus surat warisan itu. Mama yang bilang semuanya bakal baik-baik aja kalau Papa meninggal. Saya cuma menjalankan perintah mama, Yang Mulia. Semua ini ide mama," seru Fadel panik setengah mati.
"Fadel, kamu tega nyalahin mama. Kamu yang minta uang warisan itu, kamu yang terbelit hutang dan maksa mama buat kuasai restoran itu. Jangan pura-pura suci kamu, Fadel," jerit Rika dengan air mata meleleh deras.
"Tapi mama yang eksekusi papa pake racun itu. Mama juga yang bilang buat menyingkirkan Bima, Mama yang dalang utamanya," balas Fadel tak mau kalah.
"Diam sekalian terdakwa I dan terdakwa II. Harap tenang atau majelis hukum akan mengeluarkan saudara dari ruang sidang," bentak hakim ketua sambil memukul palunya berturut-turut dengan keras. Tok! Tok! Tok!
Pengacara Hendra menyapu keringat dingin di dahinya, terduduk lemas karena timnya sudah hancur total akibat perdebatan kedua kliennya sendiri
Di meja kuasa hukum korban, Rayven hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin, menikmati pemandangan kehancuran para pelaku dari kursi kemenangannya.