tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Louis dan Brian saat ini duduk di ruang tamu dengan tatapan rindu. Sudah hampir lima tahun mereka tidak bertemu, sejak Brian memutuskan untuk pergi dari mansion.
"Kamu apa kabar?" tanya Louis sambil menatap Brian.
"Baik, Bang. Abang sendiri gimana kabarnya? Sehat, kan?" tanya Brian balik kepada Louis.
"Abang baik-buruk saja," ucap Louis.
Louis sempat menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya kembali mendongak dan menatap Brian dengan tatapan bersalah. "Abang minta maaf."
Brian mengangkat alisnya. "Buat?"
"Buat semuanya. Abang minta maaf karena Abang menikah dengan..."
Sebelum Louis menyelesaikan kalimatnya, Brian langsung menutup mulut sang kakak.
"Abang enggak perlu minta maaf. Ini bukan salah Abang, tapi salah wanita jahat itu. Dia yang memaksa Abang menikah sama wanita matre itu," kata Brian. Dia sama sekali tidak menyalahkan Louis karena sadar itu memang bukan kesalahan abangnya.
"Tapi Abang keren, loh," ucap Brian dengan senyum jahilnya.
"Keren kenapa?" tanya Louis heran.
"Abang nikah enggak sampai sebulan udah cerai sama cewek matre itu. Kalau ada nominasi pernikahan tersingkat, Abang pasti menang!" kelakar Brian.
Louis menggelengkan kepalanya. "Kamu ini, Dek, ada-ada aja."
"Abang tahu kabar tentang Bang Regan?" tanya Brian. Louis menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
"Kata Raja, Bang Regan pergi dari mansion dan tinggal dengan Papa serta pacarnya," ucap Brian.
"Abang tidak tahu. Sejak Abang pergi dari sana, Abang enggak pernah lagi bertemu dengan Bang Regan," jawab Louis.
"Sudahlah, enggak usah dipikirkan. Gu—aku mau tanya, apa Abang bahagia sekarang?" Brian menatap mata Louis yang kini terlihat jauh lebih hidup.
"Abang bahagia sekarang, Dek. Enggak ada lagi beban di diri Abang. Abang merasa bebas," ucap Louis tulus.
"Huuu, Abang semakin tampan aja sih setelah sekian purnama enggak bertemu. Tambah putih, seputih salju di Antartika!"
Louis tertawa mendengar perkataan Brian yang terlalu berlebihan itu.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang menarik kerah belakang pakaian Brian dari belakang.
"He, he, he, apa nih? Woi, lepas! Gue kecekek, woi!" Brian memberontak.
Sementara itu, kedua temannya hanya diam mematung saat melihat Anton menarik kerah pakaian Brian.
"Berani sekali kamu memeluk istri saya, hah?!" bentak Anton marah saat melihat Brian memeluk Louis.
"Mas, lepasin. Brian enggak bisa napas," lerai Louis.
Anton akhirnya melepaskan tarikannya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Lo mau bunuh gue, hah?!" amuk Brian dengan nada membentak.
"Kamu berani membentak saya?" Anton menatap tajam Brian.
Brian yang ditatap tajam justru balas melotot. Dasar Brian, dia adalah tipe orang yang tidak takut apa pun, kecuali kecoak.
"Ngapa, hah?! Lo kira gue takut sama lo? Nggak, ya! Mentang-mentang tua, lo pikir gue bakal takut?" tantang Brian nyolot.
"Saya habisi kamu!" Anton langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat ke wajah Brian.
Louis, Elvian, dan Michael seketika syok saat Anton menodongkan senjata tersebut. Brian yang tadi sok berani langsung ketakutan setengah mati saat moncong pistol berada tepat di depan kepalanya.
"Mas, letakkan!" perintah Louis tegas.
"Tidak," tolak Anton.
"Kalau enggak mau, enggak ada jatah selama sebulan!" ancam Louis.
Anton berdecak kesal lalu menurunkan senjatanya. "Ck, kamu beruntung, Bocah."
"Huuu... i-ini siapa sih, Bang? Seram amat," bisik Brian dengan tubuh yang masih bergetar.
"Dia Anton, suami Abang," ucap Louis.
"Apa?! Aki-aki tua ini suami Abang? Yang benar aja, Bang!" Brian melotot kaget.
"Kamu kenal dengan bocah kurang ajar ini, Honey?" tanya Anton pada Louis.
"Dia Brian, Mas. Adikku yang nomor satu, kalau Raja nomor dua," jelas Louis.
"Dia adikmu? Anak kurang ajar ini?" Anton memastikan. Louis pun mengangguk.
"Oh, astaga. Bisa pusing saya kalau punya adik ipar pecicilan yang hobi melawan orang tua," keluh Anton sambil memijat pelipisnya.
"Siapa juga yang mau jadi adik ipar orang tua kayak lo? Udah tua, pemarah lagi!" cibir Brian.
Anton memberikan tatapan dingin yang menusuk. Merasa terancam, Brian langsung bersembunyi di balik punggung Louis.
"Bang, kenapa Abang bisa nikah sama dia sih? Abang kan tampan, putih, tinggi. Masa nikah sama aki-aki seumur Papa?" tanya Brian kebingungan.
"Saya memang tua, tapi saya kaya dan berkuasa," sahut Anton sombong.
"Sombong amat!" cibir Brian lagi.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar," lerai Louis di antara keduanya.
"Dia yang mulai!" ucap Anton dan Brian bersamaan.
"Cie, cie... kompak nih ye," goda Elvian yang sejak tadi menonton.
Seketika Brian dan Anton menatap tajam ke arah Elvian, membuat pemuda itu langsung bungkam seketika.
"Dia siapa?" tanya Caesar yang baru memperhatikan Brian. Dia melihat Brian sedang melipat tangan dada sambil memandang Daddy-nya dengan tatapan sinis.
"Dia Brian, adik Mommy," bisik Michael.
"Raja?" tanya Caesar memastikan.
"Raja adik kedua, dan dia—" Michael menunjuk Brian, "—adalah adik pertama." Caesar mengangguk paham.
"Menarik," gumam Caesar dengan seringai tipis.
"Kalau Abang suka, deketin aja, Bang," kompor Michael.
Caesar melangkah mendekati Brian. Brian yang melihat pemuda itu menghampirinya langsung merasa ngeri. Aura yang dipancarkan Caesar terasa jauh lebih mengerikan dan pekat dibanding milik Anton.
"Lo siapa dekat-dekat?!" tanya Brian ketus. Dia terpaksa mendongak karena Caesar berdiri menjulang tinggi di hadapannya.
(Buset, nih orang tinggi amat cok! Pasti waktu bayi susunya susu jerapah!) batin Brian menjerit.
Tanpa aba-aba atau peringatan, Caesar langsung menyergap dan menggendong Brian di atas pundaknya seperti memanggul karung beras. Brian tentu saja terkejut bukan main.
"Woi! Ini apa-apaan?! Turunin gue!" Brian memberontak sambil memukul punggung Caesar.
Namun, Caesar mengabaikannya dan tetap berjalan santai membawa Brian menuju kamarnya.
"Bang Louis, tolongin gue! Gue diculik sama tiang kabupaten!" teriak Brian histeris.
"Sepertinya Caesar suka sama adik kamu, Honey," ucap Anton santai melihat kelakuan anaknya.
"Hah? Jangan diapa-apain Brian-nya, Caesar!" teriak Louis panik.
Dari kejauhan, Caesar hanya mengangguk pelan tanpa menghentikan langkahnya.
"Hahahah! Gue bilang juga apa! Pasti pasangan Brian bakalan jauh lebih dominan daripada dia," tawa Elvian pecah seketika.
"Lo bener banget," sahut Revangga menyetujui.