Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Satu
Sehabis magrib Bu Soraya, Ares, bu Rini dan pak Riki berangkat menuju rumah pak Burhan dengan mengendarai dia motor, untuk mempersingkat waktu.
Tokkk...
Tokkk...
"Assalam mu'alaikum." Ucap bu Rini memberi salam, sementara yang lain menunggu di halaman di dekat motor.
"Wa'alaikum salam, tunggu sebentar." seru suara dari dalam, yang di yakini suara istri pak Burhan, dan terdengar suara langkah menuju ke arah pintu.
Ceklekkk....
Bunyi pintu yang di buka dari dalam.
"Ehhh... Ada bu Soraya, ada perlu apa ya? " tanya Istri pak Burhan memberi senyum lembut, wanita paruh baya itu juga masih memakai mukena, sepertinya habis tadarusan.
"Maaf Ya bu, saya menggangu waktu istirahat ibu." ucap bu Soraya tidak enak hati.
"Siapa bu? " tanya pak Burhan dari dalam rumah.
"Ada bu Soraya pak." jawab istri pak Burhan dengan sedikit kencang.
Pak Burhan keluar dari ruang tengah, dan menghampiri sang istri.
"Oalah... Ada perlu apa nih bu, datang malam malam, ucap pak Burhan ramah.
" Maaf ya pak, kami mengganggu waktu istirahatnya." ucap bu Soraya tidak kalah ramahnya.
"Nggak apa apa bu, silahkan masuk, lebih baik kita ngobrol di dalam saja." ucap pak Burhan mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk bu, pak." ucap pak Burhan mempersilahkan tamu tamunya duduk di sofa ruang tamu.
Sementara sang istri masuk ke dalam, untuk mengganti kerudung dan mengambilkan minum dan cemilan seadanya.
Setelah berasa basi, baru lah bu Soraya masuk ke inti kedatangannya.
"Begini pak, maksud kedatangan saya kemari, untuk menanyakan lahan bapak yang mau di jual itu pak." ucap bu Soraya, pak Burhan yang mendengar itu lansung menegakan tubuhnya, ada secercah harapan di mata tua itu.
"Gimana? ibu berminat dengan tanah itu? " tanya pak Burhan tidak sabaran, karena dia memang sangat membutuhkan uang itu untuk bayaran kuliah sang anak yang sudah dekat waktu pembayarannya.
"Saya sangat berminat, tapi harga yang kemaren bapak minta, apa masih bisa di kurangi? " tanya bu Soraya hati hati.
Sebenarnya harga segitu saya sudah agak rugi sih bu, tapi mau gimana lagi, saya butuh uang secepatnya untuk biaya kuliah anak saya." ujar pak Burhan dengan wajah sendunya.
"Boleh nggak saya minta, per meternya Lima ratus ribu, klau deal saya akan lansung kasih uang DP, pelunasannya setelah surat surat selesai di balik nama." ucap bu Soraya lagi.
Pak Burhan diam, sepertinya sedang menimang nimang.
"Gimana menurut ibu? " tanya pak Burhan kepada sang istri.
"Lumayan lah pak, walau kita agak rugi, tapi bu Soraya masih memberi harga yang wajar, tidak seperti calon pembeli yang datang selama ini." ucap sang istri.
"Jadi, nggak apa apa kita jual dengan harga segitu? " tanya pak Burhan lagi, untuk meyakinkan sang istri.
"Nggak apa apa pak, lagian waktu bayaran kuliah sudah sangat mepet, mau cari pembeli kemana lagi." ucap sang istri.
Haaahhhh.....
"Baiklah bu, saya terima harga dari ibu, tapi bisa nggak saya minta DP awalnya 50jt, karena saya harus membayar uang pendaftaran kuliah anak saya." ucap pak Burhan penuh harap.
"Bisa pak, pelunasannya setelah balik nama, sesuai yang saya ucapkan tadi." angguk bu Soraya mantap.
Pak Burhan mengangguk setuju.
"Luas tanah saya ada 500m x 500.000 harganya jadi RP 250.000.000." ucap pak Burhan.
"Deal.... " ucap mereka bersama, tampak sekali binar bahagia di wajah wajah orang di sana, pak Burhan dan sang istri bernafas lega, akhirnya tanah mereka laku, bu Soraya senang akhirnya bisa membeli tanah yang dia incar.
"Baik lah, Klau gitu saya ambil kwitansi dulu." ucap pak Burhan, dia tidak ingin bu Soraya berubah pikiran.
"Silahkan di minum pak, bu dan nak Ares, maafnya cemilannya seadanya." ucap istri pak Burhan.
"Nggak apa apa bu, ini sudah lebih dari cukup." ucap bu Rini, lalu mereka meminum minuman yang di sediakan oleh istri pak Burhan itu.
"Klau boleh tau, ibu mau bangun apa di tanah itu bu? " tanya istri pak Burhan penasaran.
"Rencananya mau saya bangun tempat usaha saya bu, tapi belum sekarang, saya harus cari modal dulu." kekeh bu Soraya malu malu.
"Maa Syaa Allah.... Semoga di lancarkan niat baik nya ya bu." ucap istri pak Burhan.
"Aamiin.... " sahut mereka bersama mengaminkan do'a baik dari istri pak Burhan itu.
"Ini bu kwitansi dan surat perjanjiannya, agar perjanjian kita kuat hukum dan tidak ada kesalah pahaman suatu hari nanti." ucap pak Burhan sepertinya laki laki sudah mempersiapkan segalanya.
Bu Soraya mengambil kwitansi dan juga surat perjanjian itu, setelah dia baca dengan teliti, lalu menyerahkannya kepada pak Riki dan bu Rini agar di cek oleh ke dua orang itu.
"Sudah bagus, tinggal di tanda tangani oleh ke dua belah pihak." ucap pak Riki meletakan surat perjanjian itu di atas meja.
Bu Soraya mengangguk, dan menandatangani surat perjanjian itu, setelahnya dia lansung menyerahkan surat perjanjian itu ke tangan pak Burhan, pak Burhan lansung menerimanya, lalu menandatangani surat itu.
Setelah semua selesai, bu Soraya mengeluarkan amplop coklat lumayan tebal ke arah pak Burhan.
"Ini uang cash nya ada 30jt, sisanya saya tranfer ya pak. Saya minta nomor rekeningnya." ucap bu Soraya.
Pak Burhan mengangguk lalu merogoh saku bajunya, dan mengeluarkan HP dari saku itu, lalu pak Burhan mengutak atik hpnya.
"Ini nomor rekening saya bu." ucap pak Burhan memberikan hpnya ke tangan bu Soraya.
Bu Soraya mengangguk dan menerima HP tersebut, lalu dia pun mengutak atik hpnya sesekali melihat ke HP pak Burhan.
Ting....
"Sudah masuk pak." ucap bu Soraya memperlihatkan bukti transferan kepada pak Burhan.
"Baik bu, terimaksih banyak, surat surat besok lansung saya urus." ucap pak Burhan penuh semangat, sejujurnya dia tidak rela menjual tanah itu, namun anaknya butuh uang demi masa depannya, mau tidak mau pak Burhan merelakan tanah itu menjadi milik orang lain.
"Oh ya pak, tanah ini belum akan saya bangun, karena saya mau mengumpulkan uang dulu, klau bapak berkenan, tanah itu boleh bapak kelola, tapi kita bagi hasil, gimana? " tanya bu Soraya.
"Serius bu, saya masih di izinkan mengelola lahan itu." pekik pak Burhan senang.
"Tentu saja, kalau bapak tidak keberatan." ucap bu Soraya.
"Tentu saja tidak bu, justru saya sangat senang sekali, masih bisa mengelola tanah saya itu, tanahnya sangat subur, selalu mendapatkan hasil terbaik." jujur pak Burhan.
Bu Soraya mengangguk tanda mengerti.
"Baiklah, saya rasa untuk saat ini sudah cukup urusan kita ya pak, kami undur diri dulu." ucap pak Riki.
Bersambung.....
.
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti