NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 025 - Makan Malam di Grand Megawan

Senyum Tan Hansel tidak lebar.

Justru karena itu, seluruh lobi Grand Megawan seperti ikut menahan napas.

Pria itu dikenal oleh banyak orang di ruangan sebagai wajah yang sulit dibaca. Pewaris Tan Group, pengendali rapat, orang yang membuat direktur bank bicara lebih pelan. Saat ia tersenyum lebih dulu kepada seorang gadis bergaun hitam yang turun dari sedan tua, perbedaan kecil itu berubah menjadi berita sebelum ada yang sempat mengetik.

Bu Sri membeku dengan senyum setengah jadi.

Laras yang didorong maju juga berhenti. Ia sudah menyiapkan sapaan, tetapi sapaan itu menggantung di tenggorokan saat Hansel melewatinya tanpa menoleh.

"Keira," ucap Hansel.

Hanya nama.

Namun cara ia mengatakannya membuat beberapa kepala menoleh lagi.

Keira menatapnya. "Tan Hansel."

Sudut mata Hansel bergerak tipis. "Kau datang tepat waktu."

"Mobil Pak Prasetyo tidak mogok."

Bayu menunduk menahan tawa. Pak Prasetyo batuk kecil, tidak tahu harus malu atau lega.

Hansel menoleh kepada Pak Prasetyo. "Pak Prasetyo."

Pak Prasetyo terkejut karena namanya diingat. "Tuan Tan. Selamat malam."

"Selamat malam." Hansel lalu melihat Bayu. "Bayu, kakimu?"

Bayu langsung berdiri lebih tegak. "Lebih baik, Pak."

"Bagus."

Satu kata itu membuat wajah Bayu menyala lebih terang daripada lampu lobi.

Bu Sri memaksa dirinya masuk. "Tuan Tan, selamat malam. Ini Laras, anak saya. Dia juga peringkat dua SMAN 7, skornya sangat baik."

Laras tersenyum manis. "Selamat malam, Tuan Tan."

Hansel menatapnya cukup lama untuk disebut sopan, tidak cukup lama untuk disebut tertarik.

"Selamat malam."

Selesai.

Tan Yannic yang berdiri di belakang Hansel menurunkan ponsel dan menahan ekspresi. Ia sudah melihat banyak orang mencoba menempelkan keluarga, anak, atau proposal bisnis ke jalur Hansel. Jarang ada yang ditutup sebersih itu dalam dua kata.

Mereka masuk ke ballroom.

Grand Megawan malam itu dibuat seperti panggung kecil untuk orang-orang yang ingin tampak besar. Meja bundar dilapisi taplak putih. Bunga segar diletakkan di tengah. Lampu gantung memantulkan cahaya ke gelas-gelas tinggi. Di sisi depan, ada layar yang masih menampilkan logo Try Out Akbar dan daftar sponsor.

Walikota Megawan hadir bersama beberapa pejabat pendidikan. Prof. Dharma duduk di meja kehormatan. Tan Lao Ye datang lebih lambat, didampingi dua orang keluarga Tan dan seorang pengawal yang menjaga jarak. Begitu pria tua itu masuk, beberapa pengusaha berdiri hampir bersamaan.

"Engkong," sapa Hansel saat mendekat.

Tan Lao Ye mengangkat tongkatnya sedikit. "Ini gadis yang membuatmu meninggalkan rapat setengah jalan?"

Suara pria tua itu tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Tan Yannic pura-pura batuk.

Keira menatap Hansel.

Hansel tetap tenang. "Rapat itu selesai."

"Menurutmu semua selesai kalau kau keluar." Tan Lao Ye menoleh pada Keira. Matanya tajam, tetapi tidak merendahkan. "Keira Wulandari?"

"Ya."

"Skor 690."

"Ya."

"Tidak suka bicara banyak?"

"Tidak kalau tidak perlu."

Tan Lao Ye diam satu detik, lalu tertawa pendek. "Bagus. Orang yang bicara terlalu banyak biasanya karena jawabannya kurang."

Bu Sri yang mendengar dari belakang langsung memutar strategi di kepala. Jika Tan Lao Ye menyukai gadis pendiam, Laras harus terlihat lembut. Jika Hansel memperhatikan nilai, Laras masih bisa masuk sebagai peringkat dua. Jika Prof. Dharma hadir, ia harus mengikat cerita bahwa keluarga mereka mendukung semua anak.

Makan malam dimulai dengan sambutan.

Pak Bambang maju ke podium dengan wajah yang sudah dipoles percaya diri. Ia memuji kerja keras siswa, dukungan orang tua, dan kerja sama pendidikan. Saat menyebut SMAN 7, matanya sesekali melirik Keira, seperti takut nama itu tiba-tiba berubah menjadi perangkap.

Kemudian layar menampilkan tiga skor terbaik SMAN 7.

Keira Wulandari, 690.

Laras Prasetyo, 648.

Bayu Prasetyo, 602.

Bayu hampir tersedak air mineral ketika namanya muncul lagi di layar ballroom hotel. Keira mendorong gelasnya sedikit menjauh.

"Minum pelan."

"Mbak, namaku di layar hotel."

"Aku bisa lihat."

"Aku nggak pernah..."

"Sekarang pernah."

Bayu menunduk, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Di meja sebelah, Nadira datang bersama ayahnya yang punya hubungan dengan asosiasi pengusaha. Ia memakai dress mahal dan wajah dingin. Saat melihat skor Keira terpampang di layar, jarinya mengetuk ponsel tanpa suara.

Farel Hadiwijaya, yang entah bagaimana selalu terlihat seperti datang ke acara resmi hanya untuk mencari makanan enak, duduk di meja muda-mudi. Ia bersiul pelan saat melihat Keira.

"Wulandari," katanya saat Keira lewat mengambil minum, "ternyata kalau kamu diam, satu kota yang ribut."

Keira menatapnya datar. "Kamu punya pekerjaan selain mengomentari orang?"

"Punya. Makan gratis dengan elegan." Farel mengangkat piring kecil. "Selamat atas 690. Nadira dari tadi seperti habis menelan biji salak."

"Jangan tersedak sendiri saat mengamati."

Farel tertawa. "Galak seperti biasa."

Hansel yang berdiri tidak jauh menatap Farel sekilas. Farel langsung mengangkat dua tangan dengan ekspresi polos. "Saya cuma mengucapkan selamat, Tuan Tan."

"Aku tidak bertanya."

"Nah, justru itu yang menakutkan."

Keira mengambil minum dan kembali ke meja. Ada sesuatu yang hangat dalam interaksi kecil itu, bukan karena Farel penting, melainkan karena untuk pertama kalinya di acara publik, ada orang di luar Bayu yang memperlakukan Keira seolah ia memang sejak awal layak berada di sana.

Setelah hidangan utama, pembawa acara memanggil beberapa siswa berprestasi untuk menerima sertifikat simbolis. Laras naik lebih dulu sebagai peringkat dua. Tepuk tangan terdengar sopan. Bu Sri merekam dari bawah sambil memberi isyarat agar Laras tersenyum.

Laras memegang sertifikat, menoleh ke arah meja Hansel, dan membungkuk kecil.

Hansel sedang bicara dengan Prof. Dharma.

Ia tidak melihat.

Ketika nama Keira dipanggil, ruangan berubah. Bukan karena pembawa acara lebih keras, melainkan karena semua orang ingin melihat bagaimana gadis dari keluarga sederhana itu berjalan menuju panggung setelah sehari penuh dibicarakan.

Keira naik tanpa tergesa. Gaun hitamnya bergerak tenang. Tidak ada perhiasan mencolok. Tidak ada sikap meminta izin pada dunia.

Prof. Dharma menyerahkan sertifikat. "Selamat, Keira."

"Terima kasih, Prof."

Walikota Megawan mengulurkan tangan. "Anak muda seperti kamu membawa nama baik kota."

Keira menjabat singkat. "Semoga sistem pendidikan kotanya juga ikut membaik."

Senyum Walikota tersendat sepersekian detik. Prof. Dharma menunduk untuk menyembunyikan senyum. Beberapa guru berpura-pura tidak mendengar.

Turun dari panggung, Keira dicegat Bu Sri.

Bu Sri memilih tempat yang cukup terbuka, dekat meja keluarga dan pejabat, agar kalimatnya terdengar sebagai kehangatan ibu.

"Keira, sini sebentar." Ia meraih tangan Keira, tetapi Keira menariknya pelan sebelum sentuhan itu sempat terlihat akrab. Bu Sri tetap tersenyum. "Kamu harus ucapkan terima kasih. Bagaimanapun, Mama yang selama ini mengurus kamu, memberi rumah, memberi makan. Jangan sampai orang mengira kamu berhasil sendiri tanpa keluarga."

Beberapa orang tua di sekitar menoleh. Nadira langsung mengangkat ponsel, pura-pura memeriksa pesan.

Keira menatap Bu Sri.

"Ibu ingin saya berterima kasih sekarang?"

"Tentu. Ini momen baik. Jangan kaku begitu. Kamu itu anak perempuan, harus tahu tata krama."

Bayu berdiri setengah dari kursinya. Pak Prasetyo menahan napas.

Bu Sri melanjutkan, suaranya dibuat lembut. "Walau kamu bukan anak kandung, kami tidak pernah membedakan. Laras bahkan selalu mengalah untukmu. Iya kan, Laras?"

Laras tersenyum pucat.

Kalimat itu jatuh di ruang terbuka, manis di permukaan, busuk di bagian paling dalam.

Keira meletakkan sertifikatnya di meja. Gerakannya pelan. Justru karena itu, orang-orang di sekitar ikut diam.

"Kalau tidak pernah membedakan," ucap Keira, "mengapa sebelum try out Laras membawa bekal lengkap, vitamin, madu, dan kotak makan, sementara Bayu harus membeli roti dari uang yang diam-diam diberikan Pak Prasetyo?"

Wajah Bu Sri berubah. "Kamu..."

"Kalau Laras selalu mengalah, mengapa kamar terbesar di rumah milik Laras, uang les milik Laras, baju baru milik Laras, dan semua kesalahan di rumah jatuh ke saya?"

"Keira, jangan mempermalukan keluarga."

"Saya sedang menjawab permintaan Ibu."

Ruangan tidak benar-benar sunyi. Ada denting sendok, AC, musik latar. Tetapi semua suara itu terasa jauh.

Keira menatap mata Bu Sri. "Terima kasih karena memberi atap. Terima kasih karena mengingatkan saya setiap hari bahwa atap tidak selalu berarti rumah. Terima kasih karena membuat saya belajar tidak meminta lebih dari orang yang memang tidak berniat memberi."

Bayu menunduk. Matanya merah.

Pak Prasetyo seperti dipukul dari dalam. Ia membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Bu Sri gemetar. "Kamu anak tidak tahu diri."

"Bu Sri."

Suara Hansel memotong dari belakang.

Ia tidak berteriak. Ia bahkan tidak terlihat marah. Tetapi semua orang yang tadi pura-pura sibuk langsung kembali diam.

Hansel berdiri di samping Keira. Jaraknya tidak terlalu dekat, namun cukup jelas untuk menyatakan posisi.

"Di ruangan ini, orang memberi selamat kepada Keira karena prestasinya. Jika Ibu ingin membahas jasa keluarga, pilih waktu ketika keluarga itu siap diperiksa."

Bu Sri pucat.

Nadira menurunkan ponsel. Insting sosialnya tahu, merekam lebih lama bisa berbalik menyerangnya.

Walikota Megawan yang mendengar sebagian percakapan segera tertawa kaku dan mengalihkan perhatian tamu di sebelahnya. Pak Bambang meminum air terlalu cepat. Laras ingin menghilang, tetapi dress pinknya terlalu mudah terlihat.

Tan Lao Ye mengetuk lantai dengan tongkat sekali.

"Hansel."

Hansel menoleh.

"Kartu."

Tan Yannic langsung mengerti. Ia mengambil kotak kartu kecil dari saku dalam jas dan menyerahkannya kepada Hansel.

Hansel mengeluarkan satu kartu hitam dengan garis emas tipis. Tidak ada banyak tulisan, hanya nama, nomor khusus, dan lambang kecil Tan Group di sudut.

Ia menyerahkannya kepada Keira di depan semua orang.

"Nomor ini langsung ke jalur pribadiku. Gunakan kapan pun kau perlu pergi dari tempat yang membuatmu tidak aman."

Bisik-bisik meledak halus.

Kartu hitam emas dari Tan Hansel bukan kartu nama biasa. Di kalangan bisnis Megawan, kartu seperti itu berarti akses, perlindungan, dan pengakuan. Tidak semua direktur pernah menerimanya. Malam ini, kartu itu diberikan kepada Keira di depan pejabat, guru, keluarga, dan orang yang baru saja mencoba mengecilkannya.

Keira melihat kartu itu. "Aku bisa pergi sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa memberi ini?"

Hansel menatapnya. "Karena bisa pergi sendiri tidak berarti kau harus selalu sendirian."

Keira tidak langsung menjawab.

Kalimat itu tidak manis dengan cara yang mudah. Ia masuk perlahan, mencari celah yang selama ini sengaja ditutup.

Bayu menatap Hansel dengan mata yang kali ini bukan hanya kagum, tetapi lega.

Keira akhirnya menerima kartu itu. "Terima kasih."

Hansel mengangguk. "Simpan."

Bu Sri melihat kartu itu seperti melihat pintu rumahnya dicabut dan dipasang ulang di tempat lain. Semua rencana tentang Laras, semua rekaman ponsel, semua kue biru di mobil tiba-tiba berubah menjadi barang murah.

Laras menatap Keira. Di matanya ada iri, takut, dan sesuatu yang lebih gelap. Peringkat dua masih angka baik. Dress pink masih cantik. Tapi malam ini, semua itu tidak cukup untuk menghentikan orang melihat siapa yang sebenarnya berdiri di tengah ruangan.

Setelah acara berlanjut, Hansel tidak memaksa Keira duduk di meja Tan. Ia hanya memastikan staf hotel memindahkan kursi Bayu agar lebih nyaman dan meminta pelayan mengganti teh Keira yang sudah dingin.

Hal-hal kecil.

Terlalu kecil untuk diumumkan.

Terlalu tepat untuk diabaikan.

Keira menyimpan kartu hitam emas di tas kecilnya. Saat jarinya menyentuh ujung kartu, ponselnya bergetar.

Yves.

Kondisi Benua M memburuk. M-Foundation memajukan pertemuan. Mereka mencari Dr. Seely. Kau punya maksimal tujuh hari.

Belum selesai membaca, pesan kedua masuk.

Dan patient #0047 menunjukkan reaksi tidak stabil. Jangan matikan ponsel.

Keira mengangkat mata. Di seberang ruangan, Hansel sedang berbicara dengan Tan Lao Ye, tetapi seolah merasakan perubahan kecil di wajahnya, ia menoleh.

Pertanyaan tidak terucap berdiri di antara mereka.

Di satu sisi, Grand Megawan baru saja membuka pintu dunia Tan untuk Keira.

Di sisi lain, Benua M mulai menarik nama Dr. Seely keluar dari bayangan.

Dan kali ini, ia tidak bisa menunda keduanya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!