Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25
Setelah beberapa hari di rawat, Ali akhirnya bisa melunasi hutang biaya rumah sakit ayah nya. Dia bekerja tambahan agar bisa mencukupi sisa yang kurang. Dari pagi sampai sore, Ali sekolah dan tetap berjualan keripik singkong buatan ibu nya. Sedangkan malam nya, Ali akan bekerja di warung kopi di depan rumah sakit, tempat ayah nya di rawat.
Walapun badan nya lelah, dia sama sekali tak mengeluh sedikitpun.
"Kak, ayah kapan pulang ya, Dinda kangen kak?" ucap gadis kecil itu dengan sendu. gadis kecil itu sudah membantu kakak nya mengemas keripik singkong buatan Ali, ke dalam plastik.
"Hari ini dek, Alhamdulillah kondisi ayah sudah membaik. Tapi, ayah tak bisa jalan seperti biasa nya lagi. Kaki ayah masih terluka."ucap Ali yang menjelaskan secara perlahan kepada adik nya.
"Dinda selalu berdoa buat kesembuhan ayah kak." pekik gadis itu tersenyum manis.
"Bagaimana sepatu milik mu dek, sudah nyaman di gunakan?" kata Ali yang belakangan ini terlalu sibuk, dan lupa dengan adik nya yang sudah memakai sepatu nya sendiri.
"Sudah kak, akhirnya saat berjalan aku tidak khawatir lagi, terima kasih ya kak."
"Bagus lah, di rawat dengan baik ya dek. Kalau kakak ada uang lebih, nanti kakak belikan yang baru. Untuk sementara kamu pake itu dulu ya dek." ucap Ali dengan tersenyum tipis ke arah nya.
"Baiklah kak."
Ali membuat keripik singkong itu pagi pagi sekali, jadi dia tak akan kerepotan nanti nya. Selama dirumah ini, hanya ada Ali, Dinda dan kakek jun. akhir akhir ini juga kesehatan kakek jun sedang mengalami penurunan. Jadi Ali meminta nya untuk beristirahat saja selama di rumah.
*****
Saat di sekolah, Ali juga akan belajar dengan rajin, demi olimpiade yang akan diselenggarakan nanti nya di kecamatan. Dia akan meraih juara, agar bisa mengharumkan nama sekolahan.
"Ali, beberapa hari lagi olimpiade akan segera di laksanakan. Jadi siapkan diri mu ya nak, berikan yang terbaik untuk sekolah kita ini." ucap Bu Lusi yang selalu mengingatkan Ali dan menasehati ali dengan baik
"Baik Bu, terima kasih atas ilmu yang selalu ibu berikan kepada Ali. tapi maaf ya Bu, beberapa hari yang lalu, Ali ga ikut les bimbingan bersama ibu, Ali sibuk membantu ibu berjualan keripik singkong."
"Gpp nak, kamu anak yang berbakti. Ibu yakin, tanpa ibu ajarin pun kamu akan bisa menjawab nanti nya. ini beberapa materi yang boleh kamu bawa pulang. Kamu belajar yang rajin dan ibu yakin, kamu akan juara nanti nya."
"Terima kasih Bu guru, kalau begitu Ali pamit pulang dulu."
Dia akan pamit pulang, dan bekerja di warung kopi sebelum nya. Tapi sebelum bekerja, Ali akan pergi ke rumah sakit melihat ayah dan ibu nya terlebih dahulu.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, akhirnya biaya rumah sakit ayah, sudah lunas. Dan ayah sudah bisa di bawa pulang ke rumah." gumam nya yang tak sabar melihat ayah nya kembali pulang dan berkumpul bersama lagi
Di ruangan rumah sakit, dewa tampak membaik, tapi kaki nya yang sebelah kiri tak bisa berjalan. Dia harus berjalan menggunakan tongkat yang kebetulan diberikan oleh dokter yang bertugas. dokter itu merasa kasihan dengan keluarga Ali, jadi dia sedikit memberikan rezeki nya kepada dewa membelikan nya tongkat untuk bisa berjalan.
"Ini tongkat buat bapak, semoga digunakan dengan baik ya pak. Ini juga bisa membantu bapak bisa berjalan."
"Terima kasih banyak dok, saya benar benar beruntung bertemu dengan dokter yang begitu baik memberikan tongkat ini untuk saya." ucap dewa dengan mata berkaca-kaca. Begitu juga Ratna yang mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati dokter itu.
setelah itu, Mereka akan bersiap siap untuk pulang ke rumah, dibantu oleh pakde Udin.
"Ibu....ayah!" pekik Ali yang girang melihat ayah dan ibu nya yang keluar dari rumah sakit.
"Ali." ucap Ratna yang kaget melihat Ali berada di sini. Begitu juga dengan dewa yang menoleh kaget melihat anak nya Ali.
"Kenapa tidak pulang ke rumah nak, kamu naik apa ke sini?" kata ibu ya yang tampak khawatir.
"Ali berjalan Bu, Ali ingin melihat ayah terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja." ucap nya yang sudah membawa baju ganti di tas, jadi dia akan langsung ke warung kopi itu.
"Ali, nak.... sebaiknya kau berhenti bekerja di sana ya. Ayah sudah sehat, dan sekarang ayah yang akan cari uang lagi untuk keluarga kita."
"Ayah, pemilik warung itu sangat baik kepada ku, dia juga membantu ku melunasi sisa hutang biaya rumah sakit ayah. beliau juga membutuhkan tenaga di warung itu. Ali ingin membantu keluarga ini, jadi Ali mohon biarkan Ali bekerja di sana membantu pakde dan Bude." ucap nya dengan wajah memelas.
Dewa yang melihat putra nya seperti itu, hanya bisa pasrah dan mengangguk saja. Karena memang kondisi kaki nya membuat nya tak bisa apa apa. Dia merasa gagal menjadi ayah yang baik untuk keluarga ini. Seharusnya dia yang bekerja keras, tapi ini malah putra nya yang masih SD yang sudah mencukupi kebutuhan keluarga ini. Dia benar benar malu dan sekaligus bangga dengan Ali.