NovelToon NovelToon
ASI untuk Pewaris Haram

ASI untuk Pewaris Haram

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Ibu susu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: N A R I

Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.

Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.

Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.

Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.

Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.

Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.

Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,

“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Tak Diduga

Bastian merasa seperti ada yang sedang menutupi pencariannya. Perasaan itu tak muncul tanpa alasan. Sudah bertahun-tahun Bastian membangun Rothmere Group. Sudah tak terhitung berapa banyak manipulasi laporan, permainan angka, hingga pengkhianatan bisnis yang pernah pria itu bongkar sendiri. Karena itu, insting Bastian sangat jarang keliru.

Dan insting itu kini berteriak keras. Ada sesuatu yang salah.

Malam sudah larut ketika kepala keamanan Kediaman Rothmere memasuki ruang kerja Bastian. Pria paruh baya itu sudah bekerja untuk Keluarga Rothmere selama puluhan tahun. Jauh sebelum Bastian duduk di kursi Presiden Direktur.

"Anda memanggil saya, Tuan?"

Bastian tak menjawab. Pria muda yang duduk di kursi kerjanya itu hanya mendorong sebuah map tebal ke hadapan pria itu.

"Lihat," perintah Bastian sambil menunjuk dokumen yang di sodorkan kepada kepala keamanan itu.

Kepala keamanan membuka map tersebut. Beberapa lembar laporan pencarian Arkana terpampang di sana.

"Ada masalah dengan laporan ini?" tanya pria paruh baya dengan postur tegap itu datar.

Bastian menyandarkan tubuhnya. "Menurutmu tidak ada?"

Pria paruh baya itu membaca cepat. Lalu menggeleng.

"Semua sudah sesuai prosedur," jawab pria itu masih membuka lembaran dokumen laporan.

"Tim sudah bekerja maksimal," lanjutnya sambil membuka halaman selanjutnya.

"Setiap petunjuk sudah ditindaklanjuti," jari pria paruh baya itu terus membuka tiap lembar laporan.

"Setiap saksi sudah diperiksa," ujar kepala keamanan sambil menutup dokumen tersebut lalu menatap Bastian.

Bastian menatap lurus ke arahnya. "Dan hasilnya?"

Pria itu terdiam sesaat. "Pencarian masih berjalan."

Jawaban dari kepala keamanan itu terlalu aman dan rapi. Terlihat sangat profesional tetapi justru itulah yang membuat Bastian semakin tak percaya.

"Seorang bayi hilang," ucap Bastian sambil mengetuk-ketuk dokumen yang sudah berada di atas meja kerjanya. "Rumah sakit sudah diketahui."

"Waktu kejadian diketahui," ucap Bastian begitu tegas.

"Bahkan ada mantan perawat yang menghilang setelah kejadian." Bastian kembali mengetuk meja perlahan.

"Lalu kau ingin mengatakan kepadaku bahwa perkembangan sejauh ini adalah hasil maksimal?" Bastian menatap kepala keamanan tersebut begitu tajam.

Kepala keamanan tak goyah. "Ya, Tuan. Tim sudah bekerja sesuai standar tertinggi."

Bastian memperhatikan wajah pria itu. Sama sekali tak ada kepanikan, tak ada kegugupan, dan tak ada celah. Pria paruh baya itu terlalu berpengalaman untuk terpancing. Dan itulah yang membuat kepala keamanan Rothmere berbahaya. Karena semakin lama Bastian berbicara dengan pria paruh baya itu, semakin jelas satu hal. Bastian tak akan mendapatkan apa pun malam ini.

"Keluar," ucap Bastian singkat.

Pria paruh baya itu sedikit terkejut. "Tuan?"

"Kau bisa pergi," ujar Bastian yang sudah melihat ke arah dokumen lagi.

Pria dengan pakaian serba hitam itu menunduk. "Baik, Tuan."

Pintu tertutup. Ruang kerja Bastian kembali sunyi. Bastian menatap laporan yang masih terbuka lalu mengambil ponselnya. Bastian menghubungi satu nomor pribadi. Nomor yang hanya diketahui segelintir orang. Sambungan terangkat hampir seketika.

"Alya."

Suara sekretarisnya itu terdengar waspada. "Ada apa, Tuan?"

"Aku ingin tim muda bergerak," perintah Bastian melalui ponselnya lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.

Alya langsung terdiam. "Maksud Anda …."

"Selidiki Divisi Keamanan Kediaman," sambung Bastian yang sudah menyilangkan kakinya sambil mengetik-ketuk sandaran tangan di kursinya dengan dari kirinya.

Bastian yang mengkalkulasi semuanya menjadikan jeda panjang. Bahkan melalui telepon, Bastian bisa membayangkan ekspresi sekretaris pribadinya itu.

"Tuan ..." suara Alya terdengar ragu. "Itu seperti menyelidiki jantung keluarga sendiri."

"Persis," jawab Bastian singkat sambil kembali mencondongkan badannya ke arah meja.

Alya menarik napas. "Kalau mereka mengetahui ini ...."

"Mereka tidak boleh tahu." Nada suara Bastian berubah dingin. 

"Lakukan diam-diam." Bastian mengetuk meja sekali.

"Tanpa jejak." Bastian kembali mengetuk meja sekali.

"Tanpa laporan resmi." Bastian mengetuk meja sekali lagi.

Beberapa detik berlalu.

"Baik, Tuan."

Setelah sambungan terputus, Bastian kembali memandangi laporan Arkana hingga jauh melewati tengah malam.

Keesokan paginya. Sinar matahari sudah masuk melalui jendela besar ruang kerja ketika Bastian kembali membuka dokumen yang sama. Pria gagah itu membaca ulang semuanya. Bastian terus mengulanginya dan semakin lama, pola itu semakin terlihat.

Pergerakan dalam laporan itu sangat lambat dan terlalu bersih. Namun laporan itu tersaji begitu sempurna. Seolah setiap petunjuk sengaja diarahkan untuk menemui jalan buntu. Bastian akhirnya menutup map itu lalu berjalan menuju ruang Nathan.

Nathan sedang berada di pelukan Kemala. Bayi itu tampak tenang setelah selesai menyusu. Kemala sedang mengusap punggung kecil bayi itu perlahan ketika Bastian masuk.

"Pagi, Pak."

Bastian mengangguk. Lalu berdiri di dekat boks bayi.

"Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Bastian dengan wajah kaku namun terlihat lebih serius dari biasanya.

Kemala menoleh. "Apa itu, Pak?"

"Selama tinggal di sini. Pernah ada kejadian aneh?" tanya Bastian sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan pertanyaannya sendiri.

Kemala berpikir sejenak. Awalnya wanita sederhana itu menggeleng. Namun beberapa detik kemudian wajah Kemala berubah seolah mengingat sesuatu yang hampir terlupakan.

"Kalau dipikir-pikir ..." Kemala berpikir sambil sedikit menggoyangkan badannya menimang Nathan dan menatap langit-langit ruangan.

"Ada satu hal," lanjut Kemala yang kini menatap Bastian.

Bastian langsung memperhatikan. "Apa?"

Kemala menatap Nathan sesaat. "Lama sekali, saat saya baru datang ke sini. Saya pernah berbicara dengan seorang pelayan."

"Lalu?" tanya Bastian terus memperhatikan perkataan Kemala.

"Kami sedang membahas Arkana." Kemala menarik napas.

"Dia bilang ..." Wanita itu berusaha mengingat. "Ada seseorang yang tidak ingin anak saya ditemukan."

Tatapan Bastian langsung mengeras. "Apa dia menyebut nama?"

Kemala menggeleng. "Tidak."

"Kenapa?" tanya Bastian penasaran.

Kemala berpikir keras. 

“Obrolan kami terpotong karena Madam lewat di koridor. Dan juga saat itu sudah cukup larut,” jawab Kemala. "Setelah itu pelayan tersebut langsung pergi. Dan tidak pernah membahasnya lagi."

Kemala tersenyum kecil sambil melihat Nathan yang tertidur di pelukannya. "Saya juga tidak terlalu memikirkannya. Mungkin hanya salah paham."

Bastian justru tak bisa setuju sedikit pun. Karena berbeda dengan Kemala, pria kaku itu mengenal orang-orang di keluarga Rothmere jauh lebih baik. Bastian tahu betapa ambisi bisa mengubah seseorang. Betapa kekuasaan bisa membuat orang melakukan apa saja. Dan betapa banyak wajah ramah yang sebenarnya menyimpan niat buruk.

Bastian langsung berdiri. "Kemala."

"Ya?" ucap Kemala melihat Bastian dengan seksama.

"Kalau mengingat hal lain." Bastian memegang kedua bahu Kemala dengan tatapan yang serius "Beritahu aku."

Kemala mengangguk pelan dengan rasa canggung. "Baik."

Bastian segera keluar dari ruangan. Pikiran pria itu kini bergerak cepat. Orang yang tak menginginkan anak Kemala ditemukan berada di kediaman Rothmere. Langsung terlintas nama satu orang yang selalu mengganggu Kemala sejak pertama kali Kemala masuk ke kediaman Rothmere. Satu orang yang selalu berusaha mencelakai wanita polos itu.

“Raline.”

***

Minggu pagi salon langganan para sosialita Jakarta sudah ramai. Raline duduk di ruang VIP ketika pintu tiba-tiba terbuka. Wanita itu langsung mengangkat kepala dan terbelalak.

"Bastian?"

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, suami wanita itu datang mencarinya langsung. Namun ekspresi wajah pria itu sama sekali tak menunjukkan keromantisan.

"Aku ingin bicara." Bastian segera berdiri di depan Raline.

Raline mencibir. "Tentu saja."

"Kenapa?" Raline yang sedang duduk di sofa langsung menyilangkan tangannya.

"Kemala sedang sibuk?" lanjut Raline mencibir suaminya.

"Atau kalian sedang bosan bermesraan?" tanya Raline dengan ekspresi penuh ejekan.

Rahang Bastian langsung mengeras. "Jangan mulai."

Raline tertawa sinis. "Lalu apa?"

Bastian menatap lurus ke mata wanita yang duduk di sofa mewah itu.

"Apa kau menghambat pencarian anak Kemala?" tanya Bastian yang menunduk ke arah Raline.

Raline langsung terdiam beberapa detik. Lalu wanita itu mengernyit.

"Apa?" pekik Raline yang kebingungan.

"Pencarian Arkana sangat lambat. Kau terlibat?" tanya Bastian langsung menodong Raline.

Raline benar-benar terlihat bingung. "Kenapa aku harus melakukan itu?"

Bastian tak menjawab. Raline mendengus kesal.

"Aku sama sekali tidak peduli dengan anak Kemala. Menyebut namanya saja sudah membuat kepalaku pusing!" tambah Raline sinis sambil bercermin di cermin besar yang tersedia di ruang tunggu VIP tersebut.

Bastian terus memperhatikan ocehan Raline. Pria itu mencari celah ataupun kebohongan. Namun semakin lama Bastian menyadari sesuatu. Raline memang impulsif, egois, dan mudah marah. Namun wanita itu tak pandai menyusun manipulasi serumit ini. Kalau Raline terlibat biasanya jejaknya akan berantakan. Tak mungkin sebersih sekarang.

"Aku tidak percaya." Bastian mencoba memastikan untuk terakhir kalinya.

Raline mendengus. "Aku juga tidak peduli. Lakukan apa pun yang kau mau."

Bastian akhirnya berdiri. Tanpa satu kata lagi lalu meninggalkan salon.

Mobil sport hitam milik Bastian melaju membelah jalanan Jakarta. Pikiran Bastian terus bekerja. Kalau bukan Raline lalu siapa?

Lampu merah membuat mobil berhenti. Di depan sana seorang wanita tua sedang menyeberang perlahan. Wanita tua itu menggunakan tongkat dan langkahnya lambat.

Seketika sesuatu terlintas di benak Bastian. Suara Kemala saat bercerita tentang kejadian yang dialami oleh wanita polos itu.

‘Pelayan itu langsung berhenti bicara saat Madam lewat .…’

Bastian membeku dan tangannya mengencang di kemudi. Pelayan itu ketakutan jelas bukan karena Raline ataupun karena kepala keamanan. Melainkan karena seseorang yang bahkan tak perlu meninggikan suara untuk membuat seluruh rumah diam.

Seseorang yang memiliki kendali lebih besar atas Kediaman Rothmere. Dibandingkan Bastian yang selama ini fokus pada perusahaan Rothmere. Seseorang yang seluruh tim keamanan lebih hormati daripada siapa pun.

Napas Bastian terasa berat. Lampu lalu lintas berubah hijau. Namun mobil pria itu belum bergerak. Bastian melewati seorang yang selalu menjadi pendukung utama Bastian dan bahkan terlihat begitu baik kepada Kemala. Sebuah kemungkinan yang selama ini tak pernah Bastian pertimbangkan muncul di pikirannya.

"Ma … jangan bilang ...."

1
Apita BalqisNabillah
jangan sampai ketipu kemala siapa tau anak yng dibawa clarissa bukan arkana anakmu melainkan anak orang yng diambil dari panti asuhan.....jangan sampai nathan celaka gegara kamu lengah kemala...
Apita BalqisNabillah
waduh apa tujuan si clarissa mendekati kemala apa mau dijadikan tumbal
N A R I: waduh serem banget 😢
total 1 replies
Syifa Rufaidah
kerennn
N A R I: terima kasih kak 😍
total 1 replies
Alia Chans
cerita nya ser😣
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️






kalo berkenan mampir juga y😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!