NovelToon NovelToon
Melody Cinta Yang Salah

Melody Cinta Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jjamiyuu09

Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Patung yang dibuat Jeremy akhirnya berdiri dengan utuh. Bentuknya nyaris identik dengan patung milik adik kelas mereka—proporsinya rapi, detail wajahnya halus, dan pose tubuhnya seimbang.

Bagas, Bara, Audrey, dan Zoya menatap hasil itu dengan ekspresi takjub.

“Gila…” gumam Bagas.

“Ini beneran mirip banget,” sambung Bara.

“Adik lo keren banget ya, Jo,” ujar Audrey tulus.

Jolina hanya mendengus kecil. “Apasih…”

Ia berusaha bersikap biasa saja, padahal dadanya terasa sedikit sesak melihat kenyataan itu. Jeremy memang… bisa.

Jeremy meregangkan bahunya, lalu menghela napas panjang. “Btw, gue lapar. Kalian nggak ada yang bawain makanan gitu?” tanyanya santai.

“Lah, nggak ada,” jawab Bagas. “Mana kepikiran.”

Jeremy melirik sekilas ke arah Jolina. “Nggak ada yang inisiatif beliin gitu? Ya secara… gara-gara siapa ya gue kekunci di sini. Terus gue juga capek banget bikin nih patung.”

Bagas dan yang lain otomatis menoleh ke arah Jolina.

Jolina tersadar. Alisnya langsung berkerut.

“Lo nyindir gue?”

“Nyindir?” Jeremy mengangkat bahu. “Nggak. Siapa yang nyindir lo?”

“Jadi lo mau dibeliin makanan?” tanya Jolina ketus.

“Ya… lo pikir aja sendiri.”

“Dih?” Jolina mendengus kesal. “Tinggal ngomong apa susahnya sih, nggak usah pake kode-kode.”

Kesabarannya mulai habis.

“Yaudah,” katanya akhirnya, meski nada suaranya berat. “Kalau gitu kita beli makanan dulu ya. Kalian mau request apa?”

“Terserah kalian aja,” jawab Jeremy enteng. “Yang penting bisa dimakan.”

Jolina langsung menatapnya tajam.

“Bilang aja lo mau dibeliin apa. Jangan bilang terserah, kayak cewek aja.”

Jeremy berdiri. Jarak mereka kini sangat dekat.

“Emang kalau gue bilang pengen makan apa, lo sanggup beliinnya?” ucapnya pelan. “Gue bilang terserah biar lo nggak susah nyari makanannya.”

“Iya iya…” Audrey cepat menyela, mencoba meredakan suasana. “Kita ngerti kok. Udahlah, Jo. Ayo kita pergi.”

Jolina mendecak. “Lo tuh nyebelin banget sih.”

Jeremy tersenyum tipis. “Lo yang nyebelin.”

“Jo, udah Jo…” Zoya menarik lengan Jolina pelan.

Audrey dan Zoya akhirnya menarik Jolina keluar dari ruang seni, meninggalkan Jeremy, Bagas, dan Bara di dalam.Dan meski langkahnya menjauh, satu hal tetap mengganggu pikiran Jolina, kenapa tiap kali Jeremy bersikap santai, dadanya justru terasa semakin panas?

***

Mereka berhenti di Alfamart yang jaraknya hanya beberapa langkah dari gedung sekolah. Lampu putih toko itu terasa menyilaukan di mata Jolina, atau mungkin suasana hatinya saja yang sedang buruk.

Jolina melangkah malas di antara rak camilan.

“Lihat deh,” gumamnya kesal sambil mengambil beberapa snack asal. “Gue bahkan nggak tau dia sukanya apa, tapi malah bilang terserah…”

“Yaudah lah,” sahut Audrey santai. “Beli banyak aja. Lagian yang makan bukan cuma Jeremy kan?”

“Iya sih…” Jolina mendecak. “Tapi gue tuh kesel banget. Dia tuh sok keren.”

Zoya berhenti memilih minuman, lalu menoleh.

“Tapi Jo… kalau boleh jujur nih ya…” ia menurunkan suaranya sedikit. “Jeremy tuh emang keren banget.”

Jolina meliriknya sekilas.

“Serius deh,” lanjut Zoya, seolah baru menyadari sesuatu. “Kok gue baru notice dia sekarang ya? Selama ini gue ke mana aja? Di real life dia tuh bener-bener menawan. Pantes fans-nya banyak banget. Visual-nya itu… unreal kalau dilihat langsung.”

Jolina langsung menghela napas panjang.

“Duh, jangan mau ketipu sama tampang polosnya itu. Kalian nggak tau aja dia di rumah kayak gimana. Pura-pura polos.” Nada suaranya menurun. “Apalagi malam setelah konser itu. Lo lupa yang gue ceritain ke lo?”

Zoya terlihat ragu. “Tapi… gue agak nggak percaya gitu sih…”

Jolina berhenti melangkah.

“Jadi maksud lo gue bohong?”

“Nggak… bukan gitu,” Zoya cepat-cepat mengelak. “Gue cuma—”

“Guys…” Audrey menyela cepat, mencoba menengahi. “Udah lah. Kok malah debat sih? Kita ke sini buat beli makanan, bukan adu argumen. Kasihan mereka udah nunggu lama.”

Jolina mendengus kecil, lalu asal memasukkan beberapa camilan ke keranjang.

Zoya beralih ke rak minuman, memilih beberapa botol. Audrey mengambil beberapa mi cup dan menumpuknya rapi.

Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke ruang seni.

Begitu Jolina dan yang lain masuk, Bagas dan Bara langsung menyambut dengan wajah cerah, mata mereka tertuju pada plastik belanjaan.

“Akhirnya!” seru Bara.

“Lama banget sih kalian? Baru mau gue susul” tambah Bagas sambil nyengir.

"Disusul segala, kan dekat... Tadi itu... Sedikit antri"

“Oh iya Kita beli mi cup,” ujar Audrey. “Kalian mau?”

“Mau!” jawab Bagas cepat. “Tolong buatin ya.”

“Iya iya,” Audrey terkekeh. “Sekalian dibuatin kok.”

“Sini gue bantuin,” kata Bagas.

Mereka berdua sibuk menyiapkan mi cup, sementara yang lain mulai membuka camilan dan roti.

“Hmm…” Zoya mengunyah. “Rotinya enak banget. Mau coba?”

“Mauu,” jawab Bara sambil menyuap sedikit.

“Lo nggak mau, Jer?” tanya Zoya.

Jeremy menggeleng pelan. “Gue nggak bisa makan yang ada kacangnya.”

“Oh?” Zoya menoleh. “Kenapa?”

“Alergi.”

“Oh… sorry,” ucap Zoya tulus. “Gue nggak tau. Kayaknya camilannya kacang semua deh. Gimana dong?”

“Gapapa,” jawab Jeremy santai. “Kan ada mi instan. Gue makan itu aja.”

Zoya tersenyum kecil. “Untung Audrey pinter milih makanan.”

“Santai aja,” sahut Jeremy.

Jolina sejak tadi hanya diam. Ia menikmati camilan dan minumannya tanpa ikut nimbrung. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang ke tempat lain.

Tak lama kemudian Audrey dan Bagas datang membawa beberapa mi cup yang sudah siap. Jeremy langsung mengambil satu dan mulai menyantapnya.

Dan entah kenapa, Jolina merasa suasana di ruangan itu tiba-tiba terasa… aneh.

Tidak sepenuhnya canggung, tapi juga tidak sepenuhnya nyaman.

***

Setelah selesai makan, mereka segera membereskan ruang seni. Pecahan patung dimasukkan ke dalam plastik untuk dibuang, lantai disapu hingga bersih, dan patung yang sudah jadi diletakkan kembali di atas meja. Semuanya tampak rapi, nyaris tak meninggalkan jejak kekacauan sebelumnya.

Rasa lega terpancar dari wajah mereka.

“Maaf udah ngerepotin kalian,” ucap Jolina akhirnya. Nada suaranya pelan, ada rasa bersalah yang sulit ia sembunyikan.

“It’s okay, Jo,” sahut Bagas sambil tersenyum. “Kita kan temen. Udah pasti saling bantu.”

“Terharu banget gue,” celetuk Jolina.

“Udah, udah,” Audrey menepuk tangannya sendiri. “Kita harus pulang. Udah malam juga. Gue udah ditelponin nyokap.”

Mereka pun keluar dari ruang seni. Jeremy mengunci pintu dengan hati-hati, lalu kunci itu dikembalikan ke ruang guru seperti semula.

Jolina dan Audrey berjalan di depan, sementara Zoya tertinggal sedikit di belakang, masih bercanda dengan Bara.

“Drey, gue nebeng lo ya,” ucap Jolina tiba-tiba.

Audrey menoleh. “Kenapa? Lo nggak pulang bareng Jere?”

“Males gue.”

“Yaelah, kenapa sih, Jo?”

Wajah Jolina semakin terlihat kesal. Audrey tidak bertanya lebih jauh, hanya mengangguk kecil.

“Yaudah, ikut gue.”

Mereka berhenti di depan gerbang sekolah, menunggu jemputan. Tak lama kemudian, Bagas, Bara, dan Jeremy datang dengan motor masing-masing.

“Eh gue duluan ya,” ujar Bara.

Beberapa dari mereka mengangguk.

“Kalian pulang sama siapa?” tanya Bagas.

“Dijemput nyokap gue,” jawab Audrey.

“Gue bareng Audrey,” tambah Zoya.

“Oke, hati-hati ya.”

Bagas dan Bara pun pergi lebih dulu. Tinggal Jeremy, Jolina, Audrey, dan Zoya di depan gerbang.

Jeremy melirik Jolina yang sibuk menatap layar handphone-nya.

“Lo nunggu apa lagi? Naik.”

“Gue pulang sama Audrey.”

“Ngapain nyusahin orang lain? Rumah kita nggak searah sama Audrey.”

“Gue mau pulang bareng Audrey. Nggak usah maksa.”

Jeremy mendecak pelan. “Lo naik sekarang.”

Jolina tetap diam, matanya tak lepas dari ponsel.

“Oke,” kata Jeremy dingin. “Gue telepon mama.”

Mendengar itu, Jolina langsung melangkah mendekat.

“Heh—Lo tuh bisa ga sih, apa-apa ga usah ngadu…”

“Makanya naik.”

“Gue udah bilang mau pulang sama Audrey. Kenapa Lo masih maksa sih?”

"Lo alzheimer? ga ingat gue tadi bilang apa?"

"Gue naik ojek"

"Naik atau Lo gue gendong"

"Ga usah gila ya Lo"

Audrey dan Zoya saling pandang. Suasana mendadak terasa canggung, seolah ada sesuatu yang menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Audrey merasa pertengkaran mereka bukan sekadar adu gengsi biasa.

1
Sasya
Ditunggu crazy up nyaa thooooorrrr 😍😍
Sasya
Bisa langsung 5 part sekaligus ga Thor?? 🤣🤣
Chuyoung56
Lanjut author 💪💪💪
Parkhanayaa
lanjut min cepetan
Parkhanayaa
Jeremy tuh pelakunya, yakin gue
Cewenya Sunghoon
Wkwk makin kacauu ini masalah merek, dari gitar yg belum kelar, ini jaket orang juga jadi korban
Choiwonhee
Ini si Jeremy balas dendam nya, malah jaket orang yg di rusakin
Choiwonhee
Ada udang di balik batu, Jeremy pura-pura ga tauuuu
Rossa
Wkwk ga seruuu Thor kalau mereka berantem kek gini🤭
Rossa
Hahah kayaknya aku tau, siapa pelakunya 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!