Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Selagi drama kosmik terjadi di antara stratosfer dan puncak gunung, di permukaan bumi, umat manusia tidak hanya diam menunggu takdir mereka ditentukan oleh para dewa dan monster. Di sebuah pangkalan militer rahasia yang terkubur jauh di bawah Pegunungan Cheyenne, cahaya lampu neon yang dingin memantul di atas permukaan zirah baja polimer terbaru.
Di sinilah Unit H.A.R.T (Human Armed Response Team) lahir. Sebuah faksi militer global yang dibentuk dalam hitungan jam setelah "The Great Exposure". Mereka bukan tentara biasa, tapi mereka adalah jawaban umat manusia terhadap penghinaan yang dilakukan oleh Sang Pencipta.
Jenderal Reed berdiri di depan jendela kaca tebal, menatap ke arah aula besar di mana ratusan prajurit sedang menjalani proses induksi. Di tangan mereka bukan lagi senapan serbu standar, melainkan senjata prototipe yang memancarkan pendar keunguan yang aneh.
"Dunia mengira kita adalah mangsa," suara Reed berat, bergema di ruangan tak berudara itu. "Selena atau apa pun sebutannya, mengira dia bisa melepaskan binatang di tengah-tengah kita dan mengharapkan kita memohon belas kasihannya. Dia salah."
Reed tidak berbicara atas dasar tebakan. Di atas mejanya terdapat sebuah folder hitam berisi data yang seharusnya mustahil dimiliki manusia. Ia mengetahui identitas Selena bukan melalui keberuntungan, melainkan melalui sisa-sisa kelicikan Lucian.
Jauh sebelum Lucian diurai menjadi energi, pria itu telah menanamkan protokol pengkhianatan. Lucian pernah menjalin kontak dengan faksi militer radikal pimpinan Reed sebagai rencana cadangan. Lucian membocorkan koordinat biometrik Selena dan hakikat aslinya sebagai Sang Pencipta agar jika Lucian gagal mengendalikan Selena, manusia akan menjadi senjata pamungkas yang akan menghancurkan Selena untuknya. Bagi Reed, Selena bukanlah dewi, dia adalah target Omega yang sudah lama dipantau dari balik bayang-bayang.
Di hadapannya seorang ilmuwan berpakaian dekontaminasi menyerahkan sebuah tabung reaksi berisi cairan perak yang bergejolak.
"Senjata kimia terbaru, Jenderal. Kami menyebutnya Ag-V (Argentum-Virus). Ini bukan perak murni yang hanya melukai kulit. Ini adalah partikel perak nano yang dirancang untuk mengikat sel-sel lycanthrope dan membekukannya dari dalam. Begitu mereka menghirupnya, paru-paru mereka akan berubah menjadi kristal perak padat."
Reed mengangguk puas. "Gunakan itu pada hulu ledak misil kita. Jika langit berubah merah karena ulahnya, maka kita akan membalas dengan hujan perak yang akan menghapus ras mereka dari muka bumi."
Di jalanan kota Paris yang sekarang hancur, Unit H.A.R.T pertama kali dikerahkan. Suasana mencekam, kabut tipis menyelimuti jalanan berbatu yang biasanya dipenuhi turis. Sekarang yang terdengar hanyalah lolongan serigala yang bersembunyi di balik reruntuhan kafe.
Kapten Marcus, pemimpin unit lapangan H.A.R.T, memberikan isyarat tangan. Helm taktisnya dilengkapi dengan sensor pendeteksi radiasi Darah Bulan. Di layar HUD-nya, tiga titik merah besar terdeteksi di balik sebuah bangunan teater tua.
"Target teridentifikasi. Siapkan penyemprot Ag-V," perintah Marcus melalui radio.
Tiba-tiba tiga ekor serigala berbulu cokelat gelap melompat dari atap gedung. Mereka bergerak dengan kecepatan yang mustahil diikuti mata manusia dan taring mereka berkilat di bawah sinar bulan merah.
Namun para prajurit H.A.R.T tidak panik. Mereka menembakkan proyektil gas yang meledak di udara dan melepaskan kabut perak keunguan yang pekat.
Salah satu serigala yang merupakan seorang pria muda dari kawanan Joan yang kehilangan kendali, menerjang masuk ke dalam kabut itu. Seketika.ia berhenti di tengah udara. Tubuhnya mengejang hebat. Suara geramannya berubah menjadi pekikan menyakitkan saat urat-urat di lehernya mulai mengeras dan memancarkan warna perak yang berkilauan.
Dalam hitungan detik, serigala itu jatuh ke tanah, kaku seperti patung logam, dan mati sebelum ia sempat menyentuh targetnya.
"Konfirmasi eliminasi," lapor Marcus dingin. "Senjata kimia bekerja 100%. Lanjutkan pembersihan sektor."
Bagi manusia, ini bukan lagi tentang pertahanan diri. Ini adalah pembalasan sistematis. Senjata perak yang dulunya hanyalah legenda, sekarang telah menjadi industri pemusnah massal. H.A.R.T tidak peduli apakah serigala itu adalah seorang Alpha yang mencoba melindungi kawanannya atau serigala liar yang kehilangan akal. Bagi mereka, setiap mahluk bertaring adalah virus yang harus disinfeksi.
***
Riven mendongak ke langit. Indra tajamnya menangkap suara mesin jet yang mendekat dari arah horison. Ia melihat jejak gas perak yang ditinggalkan oleh pesawat-pesawat pengintai militer.
"Mereka sudah bergerak, Jessy," ujar Riven, suaranya dipenuhi kecemasan. "Manusia telah menemukan cara untuk bertarung kembali dan cara mereka jauh lebih kejam daripada apa yang dilakukan Dewan dulu."
Jessy menatap awan perak yang mulai berkumpul di kejauhan. "Hukum rimba Selena telah memancing sisi tergelap manusia. Mereka tidak hanya ingin bertahan hidup, mereka ingin membalas dendam pada Sang Pencipta dengan cara menghancurkan semua ciptaannya."
"Jika Joan tidak berhasil meyakinkan Selena sekarang." Riven mengepalkan tangannya." Hujan perak ini akan menyapu kita semua. Unit H.A.R.T tidak akan membedakan antara bagian manusia Selena atau serigala pembelot. Bagi mereka, kita semua adalah target."
Jessy merasakan perih di dadanya. Sebagai bagian dari Selena, ia bisa merasakan kebencian yang mengalir dari pangkalan-pangkalan H.A.R.T. Kebencian itu begitu pekat hingga menyaingi energi gelap Lucian. Dunia sedang menuju titik di mana tidak akan ada pemenang.hanya ada abu dan logam perak yang tersisa.
Sementara itu, jauh di stratosfer, Joan melesat menembus lapisan awan. Di depannya, sosok Selena berdiri tegak di tengah kehampaan, dikelilingi oleh aura perak yang begitu menyilaukan hingga menutupi bintang-bintang.
Namun, penglihatan Joan menangkap sesuatu yang lain. Di bawah sana, misil-misil manusia mulai diluncurkan dari berbagai belahan dunia. Ratusan jejak putih menuju ke arah langit dan membawa maut dalam bentuk kimiawi.
"Selena!" raung Joan, suaranya menembus kesunyian ruang hampa melalui resonansi energi. "Lihat ke bawah! Ciptaanmu yang kau sebut lemah telah menciptakan kiamatnya sendiri! Mereka datang untukmu dengan kebencian yang kamu tanam!"
Selena menoleh perlahan. Matanya yang perak tanpa ekspresi menatap misil-misil yang mendekat. Ia melihat Unit H.A.R.T, ia melihat partikel Ag-V yang mulai meracuni atmosfer yang ia ciptakan. Untuk pertama kalinya, ada keraguan yang melintas di wajah dewinya.
"Mereka berani menantangku dengan logam bumi?" desis Selena.
"Mereka tidak menantangmu, mereka ingin menghapusmu!"
Joan sampai di hadapan Selena dan tubuhnya yang terbungkus energi antivirus beradu dengan aura perak Selena yang menciptakan ledakan statis yang mengguncang lapisan atmosfer.
"Hentikan ini, Selena! Sebelum hujan perak ini membunuh Jessy, membunuh Riven, dan menghapus sisa-sisa kemanusiaan yang masih kamu miliki!"
Selena menatap Joan. Di belakang punggung Joan, misil pertama meledak di batas atmosfer, melepaskan awan perak nano yang mulai merayap seperti jaring laba-laba raksasa, dan siap menelan apa pun yang memiliki jejak magis.
Inilah puncak dari anarki yang diciptakan Selena. Unit H.A.R.T adalah manifestasi dari ketakutan manusia yang berubah menjadi taring baja. Sekarang Sang Pencipta harus memilih, apakah ia akan menghancurkan dunia sepenuhnya untuk menyelamatkan harga dirinya ataukah ia akan membiarkan seorang monster dengan hati manusia melindunginya dari hujan perak yang ia ciptakan sendiri?
"Pilihlah, Selena!" Joan mengulurkan tangannya yang bersisik hitam dan beradu dengan kabut perak kimiawi yang mulai menyentuh mereka. "Jadilah manusia kembali atau saksikan dunia ini membeku dalam perak selamanya!"