Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 25
"nak Aabid teh nggak usah buka helm, ya."
Sesampainya masuk daerah kampung tempat tinggalnya. Harun memberi instruksi pada Aabid. Dari jok belakang Aabid hanya bisa menjawab.
"Ya."
Benar saja, kampung sudah tampak sepi, bahkan tak terlihat ada orang di pos ronda yang biasanya ramai setiap malam.
Meski demikian, Harun tetap waspada, ia melakukan hal yang sama dengan selina subuh tadi dengan tidak menurunkan Aabid di teras melainkan terus melajukan motor hingga masuk ke dalam rumah.
Pintu ditutup Asri begitu mereka masuk dan Aabid turun dari motor milik Harun.
"Akhirnya, pulang juga," seloroh Dito yang sejak tadi bersembunyi di dalam kamar selina.
Demi tidak menimbulkan kecurigaan dan keselamatannya ia rela tidak keluar rumah seharian.
"Ini, bakso, sok atuh dimakan. " Harun memberikan kresek berisi bakso kepada Dito.
Dito lalu meraih dan bergegas ke dapur mengambil mangkuk untuk segera menyantapnya.
"Om." Berbeda dengan Dito yang masih saja memasang wajah masam setiap berhadapan dengan Aabid bahkan menganggapnya tak ada.
Rara yang keluar di belakang Dito menyambut Aabid. Dengan wajah berbinar, ia memeluk Aabid.
"Rara, Om nya capek. Jangan diganggu," tegur sang ayah.
"Nggak apa-apa, Pak," jawab Aabid lalu duduk sedikit berjongkok, menyamai Rara.
"Bagus nggak, Om?" tanya Rara memutar badan, menunjukkan penampilannya pada Aabid.
Bibir yang dipoles merah, rambut dikuncir kuda, dan baju baru bernuansa puteri kerajaan dipakainya sekarang.
Aabid tersenyum, bukan karena penampilan Rara, tapi karena binar itu kembali bersinar.
"Cantiknya, Rara. Masyaallah," ujar Aabid sembari menatap kagum pada gadis kecil berambut pirang itu.
Entah bawaan atau memang sengaja dipirang, tapi bagi Aabid itu sebuah keunikan.
Aabid menggelengkan kepala, seolah ia begitu terkesima, demi membuat Rara bahagia, ia rela menurunkan keangkuhan yang selama ini melekat m dalam dirinya.
Sementara itu di belakang Rara, Asri hanya bisa m tersenyum melihat tingkah anak bungsunya.
"Cantik apa kayak ondel-ondel, Om?" sahut Asri menggoda Rara.
"Ih, Ibu." Rara langsung merengut melirik ibunya, kemudian melipat tangannya di depan dada. Kesal.
"Baju sebagus ini teh dari mana, Rara? Nenek?" Dengan lembut Harun yang juga tak kalah tertegun melihat baju yang dikenakan sang putri pun bertanya.
"A' Dimas yang kasih, Bapak. Ada empat, bagus-bagus lagi. Tuh," kata Rara sambil menunjuk ke sofa di mana tumpukan baju baru berumbai-rumbai terlihat di sana.
"selina teh sudah pulang, Bu?" Harun kemudian bertanya pada Asri, ingat akan apa yang dikatakan selina siang tadi kala meminta ijin pergi bersama Dimas untuk fitting baju pengantin.
"Belum, itu tadi dikirim melalui paket sama Nak Dimas."
Aabid hanya diam dan mendengar.
Deru suara mobil terdengar beberapa saat setelah perbincangan masih bergulir. Sontak mereka pun menoleh ke arah pintu lalu beralih ke arah Aabid.
"Saya masuk dulu." Tahu apa maksud dari tatapan keduanya Aabid pun bergegas masuk ke dalam kamar yang berada di paling depan, sebelum orang lain melihat keberadaannya di sini.
Sementara itu Harun dan Asri bergegas membereskan apa yang perlu dibereskan seperti obat Aabid dan boneka Rara agar tidak menimbulkan pertanyaan.
"Assalamu'alaikum." Suara selina terdengar menyapa tepat saat Aabid menutup pintu kamarnya.
"Wa'alaikumsalam." Asri menjawab sambil membuka pintu untuk putri dan calon menantunya itu.
Selina meraih punggung tangan sang ibu dan disusul oleh Dimas yang melakukan hal yang sama.
"Masuk, Nak Dimas," seru Asri mempersilahkan.
"Sudah malam, Bu. Nggak enak sama tetangga," tolak Dimas dengan sopan.
Di balik pintu kamar bisa Aabid dengar sambutan hangat dari Asri dan perbincangan mereka yang terlihat begitu akrab.
Aabid terdiam cukup lama, bersandar di daun pintu yang ia kunci dari dalam, hingga sebuah gerakan terjadi dan menyadarkannya.
Ia melihat ke arah bawah, di mana pergerakan ia rasakan. Aabid tersenyum, rupanya Rara yang menarik ujung jaketnya.
Gadis kecil itu tersenyum, menampakkan gigi yang berjajar rapi tanpa karies sedikitpun kala Aabid menyadari keberadaanya. Kembali Aabid menyamakan posisi.
Entah karena tergesa-gesa atau takut terlihat oleh calon suami selina di saat penampilannya tak sedap dipandang, hingga ia tak menyadari Rara mengikutinya sampai ke kamar.
"Apa?" bisik Aabid pada Rara sembari memegang kedua pundaknya.
"Rara mau bilang, kalau Om nggak usah beliin Rara baju. Rara teh udah dikasih sama A'Dimas," bisik Rara.
Aabid tersenyum simpul.
"Oke, pokonya Rara jangan nangis-nangis lagi," lirih Aabid berujar sembari mengangkat satu tangannya yang mana ibu jari dan jari telunjuk saling bersentuhan sementara jari-jari tangan lainnya direntangkan.
"Baju apa, Bu?" Pertanyaan selina terdengar jelas oleh Aabid yang masih sibuk dengan Rara setelah deru suara mobil menghilang dari pendengaran.
"Baju Rara dari Dimas, kan?"
Degh!
Dada Aabid berdebar. Jelas mereka sedang memperdebatkan perkara baju yang dikirim untuk Rara. Dan sudah barang tentu selina tidak tahu menahu.
"Ah, persetan dengan mereka, yang penting baju sudah di tangan Rara," gumam Aabid dalam hatinya.
Menepis segala pikiran yang bergelayut di atas kepala.
"Tapi A'Dimas nggak ngomong apa-apa."
"Ini tapi nama Dimas, kan?" Asri menunjukkan nama yang menempel di bungkus paket yang belum dibuang.
"Iya, ya, ini namanya, Dimas. Apa Dimas lain, bukan A'Dimas. Ini namanya nggak lengkap."
"Aduh, selina. Ibu khawatir kalau kata-kata kamu benar, sementara Rara sudah sangat bahagia. Aduh gimana atuh, nak."
Perdebatan masih berlangsung di luar. Aabid mencoba memutar otaknya.
"Bajunya bukan buat Rara, ya, Om?" tanya Rara dengan wajah sedih. Rupanya perdebatan di luar bisa dimengerti oleh Rasa.
"Bukan, ini untuk Rara. Jangan khawatir, yakin, ini untuk Rara. Nggak akan ada yang minta. Kalau ada nanti Om yang hadapi."
"Bener, Om?"
"Janji. Sekarang Rara katakan pada Ibu dan Teh selina untuk jangan berdebat, Om mau istirahat. Bisa?"
Keputusan akhirnya Aabid lakukan. Memutus perdebatan di luar dengan alasan kesehatan. Ia yakin masalah ini tak akan lagi dibahas setelah besok pagi.
Mungkin hanya akan menyisakan banyak terimakasih pada Dimas sebagai pengirim, itu saja. Dan itu tak menjadi masalah baginya.
Bagi Aabid yang terpenting adalah mengembalikan senyuman Rara.
***
Pagi harinya, Aabid bangun di sepertiga malam karena merasa haus. Meski diliputi rasa kantuk terpaksa ia melangkah menuju ke arah dapur sebab tidak melihat gelas di nakas seperti biasanya.
"Makasih, ya, A' baju untuk Rara nya. Dia seneng banget."
Aabid menahan langkah ketika sayup-sayup ia mendengar percakapan dari kamar selina.
"Baju yang mana, selina?"
"Baju princess. Tadi paketnya atas nama kamu, A'."
"Princess?! Aa' nggak kirim, lin."
"Ini ada nama Aa'. Aa' jangan gitu, deh. Jangan pura-pura nggak tahu. Aa' mau kasih kejutan, ya?"
Nada bicara selina yang manja membuat rasa khawatir Aabid perihal baju Rara yang Aabid tahu dari kata-kata selina memang itulah yang mereka bahas sekarang berubah ngeri hingga ia mengedikkan bahunya.
"Ya udah nggak usah dibahas. Mendingan bahas acara kita. Papa sama mama kamu datang ke sini nya barengan apa enggak besok?"
"Enggak, selina. Kamu ada kenalan Dimas lain?!" Kecurigaan Dimas mulai terjadi lagi. Cemburu buta lebih tepatnya.
Aabid melanjutkan langkah, tak ingin menjadi pendengar suatu hal yang menurutnya berlebihan dan tidak penting.
"Astaga, Aa' nggak ada, beneran. Demi Allah. Cuma A'Dimas yang selina kenal. Baju Rara, besok coba aku tanya ke ekspedisinya, deh."
Langkah Aabid kembali tertahan begitu mendengar kata ekspedisi. Gawat baginya jika sampai baju dikembalikan selina dan Rara menangis lagi.
Sebelumnya ia tak berpikir masalah sekecil ini akan diperpanjang. Tapi rupanya dia salah.
"Kalau Rara suka kenapa dibahas mulu. Mau bikin dia nangis kamu," seloroh Aabid di depan pintu. selina seketika menoleh dan tercekat.
"Siapa, lin?" tanya Dimas dari seberang telepon sambil menajamkan pendengaran.
"D-ito, A'. selina tutup dulu, ya. Assalamu'alaikum."
Tut Tut Tut. Sambungan diputus oleh selina sebelum Dimas menjawab salam, di balik telepon Dimas mendengus kesal.
Di kala rindunya belum terobati dan masalah belum terselesaikan selina justru tak bisa dihubungi lagi.
"Om, ngapain?" selina turun dari ranjang menghampiri Aabid yang berwajah masam.
"Haus. Eh, selina, kamu bahas baju Rara sama pacar kamu?"
Dari sebutan yang diberikan kepada Dimas, selina tahu bahwa Aabid sedang emosi lagi kalau tidak dia akan menyebut calon suami.
"Kamu mau balikin ke ekspedisi emang kamu mau buat Rara nangis lagi?! Hal yang sudah jelas nggak usah dicari tahu lagi, selina!"
"Ya kan selina mau bilang makasih sama A'Dimas tadi."
"Terus apa? Akhirnya kamu mau mengorbankan kebahagiaan Rara? Jangan suka mencari tahu hal yang jelas sudah ditulis. Dari Dimas untuk Rara. Nih, baca!"
Aabid meraih bungkus yang masih terlihat di sofa lalu menunjukkannya pada selina. Entah apa yang membuat Aabid senekat dan seberani ini memarahi selina.
Yang penting bagi Aabid hanyalah apa yang dilakukan untuk Rara tidak lagi dibahas dan membuat Rara kembali menitikkan airmata.
"Kadang seorang lelaki perlu memberi kejutan pada wanita yang dicintai, sebagai wanita cukup mengerti tak perlu banyak bicara. A' Dimas mu itu sedang ngasih kejutan untuk kamu dan akan hilang rasa kalau kamu terus membahasnya seperti itu. Paham!" tegas Aabid.
Selina hanya bisa melongo memandangi Aabid yang melenggang pergi.
Tak tunggu ya.....
pasti selina hamil,,,