Arindi Azzahra adalah gadis cantik berusia 22 tahun bekerja sebagai pemilik usaha catering. Ia menikah dengan seorang CEO muda berumur 27 tahun akibat perjodohan terselubung yang berkedok kesalahpahaman.
Bagaimana jadinya ya? Apakah mereka bisa saling menerima atau sebaliknya?
follow ig: @xxpfrk_12
Mau tau bagaimana kelanjutan ceritanya, stay terus ya di karya pertama ku🌼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elgaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Setelah menikmati santapan makan siang, kini waktu Sholat Zuhur telah tiba. Mereka memilih untuk langsung Sholat Zuhur setelah itu melakukan aktivitas aktivitas lain. Sholat Zuhur berjamaah yang diimami oleh Rama. Meskipun tak pernah menempuh pendidikan agama, sejak kecil Rama sudah ditanami bekal ilmu agama dari kedua orang tuanya.
Ditengah tengah melaksanakan Sholat tiba tiba hp nya berbunyi berkali kali, sesekali disela dengan notifikasi pesan
Tringg.... Tring....
Ting!
Ting!
Seusai melaksanakan sholat Ia langsung mengecek hp nya, karena ini adalah nomor pribadinya. Hanya orang orang terdekatnya saja yang tau.
Ia lihat di hp berwarna hitam berlogo apel yang sudah digigit dan memiliki 3 kamera dibelakangnya, disana tertulis nama 'Nanda'. Pertama tama Rama membuka pesan dari Nanda.
Nanda
Assalamu'alaikum Bro. Lo dimana?
Nanda
P
Nanda
Please angkat telpon gua. Ada urusan mendadak ini.
Tanpa berfikir panjang, Rama langsung menekan ikon panggil di layar hp nya.
"Halo, ada apa Nda?" Tanya Rama tanpa basa basi.
"Gini Ram, pimpinan proyek yang dari luar negeri minta berkas tentang rencana proyek kerjasama perusahaan kita dengan mereka, mereka minta dikirim hari ini juga. Jadi sekarang gua lagi di perjalanan ke kantor ngambil stempel perusahaan." Terang Nanda.
"Kalo gitu untuk tanda tangannya Lo langsung kerumah aja ya."
"Oke Ram, gua juga bentar lagi nyampe kantor nih, trus langsung otw kesana."
"Oke Nda."
"Bentar Ram, stempelnya Lo tarok mana?"
"Cari aja di dalam laci paling atas meja gua."
"Siap Bos."
Rama langsung memutuskan sambungan telepon.
Setelah mematikan telepon dari Nanda, Ia baru ingat ada sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh Nanda berada didalam laci mejanya paling atas.
"Astaga aku lupa!" Ucap Rama menepuk jidat nya, lali bergegas untuk bersiap siap menyusul Nanda kekantor.
"Sayang, Ma. Aku ke kantor dulu Ma." Ucap Rama terburu buru sambil memakaikan sepatunya.
"Mau kemana Mas?" Tanya Riri yang tengah duduk di sofa bersama mertuanya.
"Ke kantor." Jawabnya singkat.
"Mau ngapain? Bukannya ini hari libur?" Imbuh Mama Shinta yang merasa heran melihat putranya terburu buru seperti dikejar hantu.
"Ada urusan mendadak Ma. Rama berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Rama sambil meraih kunci mobilnya diatas meja.
"Wa'alaikumsalaam." Jawab kedua perempuan itu menyaksikan kepergian Rama.
Rama melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi membelah jalan ibukota, tak butuh waktu lama, Rama pun sampai di kantor karena jarak rumah dan kantornya tak terlalu jauh.
Ia berlari menuju lift dan langsung menekan tombol lift berkali kali dengan cepat.
Cepetan!!!!
Sesampainya dilantai paling atas tepat didepan ruangannya, ia segera masuk kedalam ruangan.
Ia membuka pintu dengan nafas yang memburu, matanya membulat mendapati Nanda sudah memegang sebuah map berwarna coklat dan amplop biru yang bertuliskan namanya disana.
Tak bisa mengucapkan apa apa, mereka hanya saling tatap. Rama masih terpaku menatap rama dengan tangan yang masih memegang ganggang pintu.
"Ini apa Ram?" Nanda menunjukkan kertas itu dengan sedikit meremasnya.
Rama tak menjawab, ia berjalan melangkah mendekat.
"Ini apa?!!!!!" Teriak Nanda mukanya sudah memerah dan urat dilehernya yang terlihat.
"Gua bisa jelasin Nda. Lo tenang dulu!" Pinta Rama dengan lirih menenangkan sahabatnya itu.
"Kenapa Lo tega sama gua Ram!" Bentak Nanda dengan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Lo tenang dulu. Gua bakal jelasin semuanya sama Lo, Aisyah melakukan ini ada alasannya."
"Apa?" Tanya Nanda yang sudah tampak lebih tenang."
Flashback On
Tiga hari yang lalu di ruangan Rama.
Disaat jam pulang kerja, semua karyawan sudah beranjak pergi meninggalkan ruangan masing masing, tak terkecuali Nanda yang pada saat itu sudah pulang terlebih dahulu mendahului Rama setelah berpamitan.
Rama pada waktu itu juga tengah bersiap siap untuk pulang, Ia sedang mematikan laptop lalu berdiri mengambil jas yang tergantung di belakangnya.
Perlahan pintu ruangannya terbuka, seketika ia langsung menoleh kearah pintu. Seorang perempuan memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan Bos nya itu.
"Silahkan masuk." Sahut Rama dari dalam ruangan.
"Permisi Pak." Ucap Aisyah.
"Iya Aisyah, silahkan duduk." Rama menunjuk sebuah kursi kosong yang ada di seberang mejanya.
"Saya minta maaf sebelumnya Pak, Saya tau ini sudah waktunya pulang, tapi Saya hanya mau berbicara sebentar Pak." Ucap Aisyah dengan ragu ragu.
"Iya tidak apa apa, Silahkan." Ujar Rama dengan santai.
Aisyah meraih tas nya kemudian terlihat sedang mencari cari sesuatu.
"I-ini Pak." Aisyah meletakkan Map berwarna coklat.
"Apa ini?" Rama mengerutkan dahinya dengan penuh tanda tanya.
Kemudian ia membuka map itu, "Surat pengunduran diri?"
"Be-benar Pak." Aisyah hanya menunduk.
"Maksud kamu apa?! Mengapa tiba tiba seperti ini?" Rama memijit pelipisnya kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Saya minta maaf Pak." Jawab Aisyah tanpa berani menatap Rama.
"Coba kamu jelaskan! Apa alasan kamu sampai mengajukan surat pengunduran diri ini?!" Tanya Rama dengan nada yang sedikit meninggi.
"Pertama, Saya mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada Bapak dan Pak Nanda yang sudah menerima saya untuk bekerja di perusahaan yang sebesar ini."
Rama manggut manggut.
"Lalu, alasan saya mengajukan surat pengunduran diri ini sejujurnya bukan karena pekerjaan yang bapak berikan atau lain sebagainya. Tetapi karena saya kurang nyaman dengan perlakuan Pak Nanda kepada Saya."
Penjelasan dari Aisyah membuat Rama membelalakkan matanya, kemudian kembali menegapkan badannya.
"Saya masih kurang mengerti." Ucap Rama memancing mancing Aisyah agar menjelaskan lebih detail.
"Sebenarnya saya punya trauma masa lalu dengan pria. Sebelum saya memutuskan untuk menggunakan pakaian tertutup seperti ini, Saya pernah hampir diperkosa oleh atasan saya dengan modus yang sama dengan Pak Nanda lakukan kepada Saya." Jelas Aisyah.
"Lalu mengapa kamu berani berada didalam ruangan hanya berdua dengan saya seperti ini?" Tanya Rama lagi.
"Karena bapak mempunyai istri yang cantik." Jawaban yang cukup singkat dari Aisyah dapat di tarik kesimpulan oleh Rama. Seorang pria beristri apabila ingin menyalurkan hasratnya sebagai seorang laki laki maka ia akan menyalurkan kepada istrinya, berbeda dengan pria lajang seperti Nanda.
"Baiklah saya mengerti. Saya tidak langsung menyetujui surat pengunduran diri ini, Saya juga akan berdiskusi dengan asisten saya. Untuk satu minggu kedepan kamu boleh dirumah saja terlebih dahulu untuk menenangkan diri kamu, setelah satu minggu itu saya akan memberikan jawaban apakah surat ini diterima atau saya tolak." Ujar Rama.
"Baik Pak," Aisyah kembali meraih tas nya, "Apa boleh saya menitipkan ini untuk Pak Nanda?" Tanya Aisyah mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru dari dalam tas nya.
"Boleh, akan saya berikan." Rama menerima surat itu."
Flashback Off
"Gua harus ketemu dia sekarang!"
...----------------...
Hai Readers setia Ternyata Cinta!!!! Author ucapkan banyak banyak terimakasih untuk Readers yang udah dukung Author. Jangan lupa Like, Vote, Rate, dan Sarannya. Supaya Author makin Rajin update dan semangat😍
maaf baru feedback sekarang hehe 😅, aku udah like sama rate 5 ya 😁
always spirit 💪😄
salam hangat dari MACAC dan RTBAC ✌️😆
Ditunggu bab selanjutnya y thor..
Salam dariku Jadi Bodyguard Janda Cantik
Feedback karyaku juga ya.. Makasih
Salam dari _Until we found the lost memory
jangan lupa feedback ya😊