Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rabu mencekam ( part 3 )
Lian masuk ke kamarnya dan segera mandi untuk menyegarkan badan dan otaknya.
"Alhamdulillah, segernyaaaa." Setelah mandi dia duduk santai di sofa sudut depan televisi. Sedikit melamun, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Iya mas, lian barusan mandi. Maaf."
"Ya sudah, mas sama mbakmu sebentar lagi sampai. Kalau bisa jangan tidur dulu."
"Iya mas, Lian tunggu."
Sambungan telepon berakhir, sambil menunggu Dimas dan Wati datang Lian melihat akun Instagram artis Korea favoritnya. Baginya, hal ini seperti mood booster untuknya.
-- Satu jam kemudian --
Dimas sudah duduk di sofa sudut sambil minum coklat panas buatan Lian. Sebenarnya sejak kedatangannya dengan Wati tadi, Lian melihat tatapan Dimas yang kesal kepadanya.
"Sini duduk dek, mas Dimas mau bicara." Wati sedikit menaikkan suaranya karena Lian masih berada di dapur.
"Iya mbak, sebentar." Lian meninggalkan dapur menuju sofa di depan TV. Tempat favorit Lian yang untuk saat ini ingin dihindarinya.
Lian sudah duduk manis di depan Wati dan Dimas. Dia tidak berani menatap dua orang didepannya karena teringat kata-kata Anggi tadi di mobil waktu perjalanan mengantarnya.
"Mas bukannya marah dek, kamu tahu khan kalau mas cuma khawatir. Jangan salah paham ya?"
"Lili cuma bingung mas, ini agak berlebihan. Sebenarnya ada apa?" Lian menatap dua orang yang disayanginya seperti kakak sendiri.
"Dengan berat hati mas sampaikan, mas harap kamu percaya." Dimas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti tentang keselamatannya yang terancam.
-- Flashback On --
Setelah pertemuannya dengan pak Dicky, dimas segera menelusuri siapa pelaku yang hampir menghilangkan nyawa adiknya itu.
"Kirim rekaman cctv gedung ini tanggal 20 secepatnya!" Dimas mengirimkan pesan kepada orang kepercayaannya.
"Laksanakan."
Hampir satu jam menunggu akhirnya Dimas mendapatkan apa yang ditunggunya. Rekaman cctv ditunjukkannya kepada Alvino supaya ikut menyaksikan apa yang terjadi di dalam video itu.
Lima menit kemudian...
"B*j*n*a*!!! Benar-benar biadab!! Mereka tidak hanya merampok uang perusahaan. Ini sudah usaha menghilangkan nyawa orang Dim." Alvino sangat geram, dia menggebrak meja kerjanya cukup keras. Dimas sendiri, jangan ditanya, dia terlihat begitu emosi, wajahnya memerah menahan kemarahan.
"Pecat mereka yang terlibat, besok saya tidak mau melihat wajah-wajah mereka masih berkeliaran di gedung ini."
"Siap bos. Apa tidak sebaik-baiknya saya memberitahu Lian, cepat atau lambat dia harus tahu bos."
"Benar juga, kamu beritahu saja. Dia harus berhati-hati kalau sudah sejauh ini. Kupikir mereka tidak akan sampai melakukan hal segila ini." Alvino tidak menyangka perusahaannya memiliki karyawan bermental penjahat sekeji itu.
-- Flasback Off --
Lian membuka rekaman video yang ditunjukkan Dimas, terlihat video itu hasil rekaman cctv di gedung kantornya, tepatnya di lantai 1. Mulai bergetar tangan Lian melihat rekaman itu, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Diam membisu namun tetap meneruskan melihat rekaman itu.
Di dalam rekaman video, terlihat jelas dua orang OB kantor bagian pantry mencampur racun sianida ke dalam kopi yang akan diberikan kepada lian. Dia yakin itu memang untuknya melihat gelas yang dipakai adalah gelas yang dibawanya dari kampung. Dia membelinya sebelum berangkat ke Jakarta.
Melihat reaksi Lian yang sudah tidak bisa menguasai dirinya, Wati berinisiatif mendekat dan mengelus punggung lian memberi kekuatan.
"Aaa-apa ini mas, Lian salah apa?" Suaranya bergetar. Tak kuasa menahan, tangisannya seketika pecah melihat kenyataan yang baru saja didapatnya. Pantas saja mas Dimas begitu cerewet akhir-akhir ini. Tak bisa ia bayangkan, bagaimana jika dia benar-benar meminum kopi bercampur sianida tersebut.
Wati berusaha menenangkan Lian dengan memeluknya. Dia prihatin dengan keadaan Lian saat ini. Hampir satu jam Wati dan Dimas menenangkan tangis Lian yang syok dengan kejadian ini.
Setelah dirasa cukup menguasai diri, Dimas memberikan Lian minuman dingin agar Lian sedikit tenang.
"Diminum dulu dek."
Lian hanya mengangguk dan meminum air dingin itu, dipegangnya gelas itu erat karena tangannya masih gemetaran matanya sembab karena menangis. Masih tersisa isakan tangis Lian membuat Dimas semakin emosi, rasanya dia ingin menghabisi orang-orang itu.
"Lian istirahat saja dikamar, mau?" Wati menawarkan agar lian rebahan dikamarnya.
"Mau mbak." Lirih suara lian, tubuhnya lemas tak bertenaga. Wati membantu Lian masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Setelah melihat Lian lebih tenang dikamarnya, wati menghampiri calon suaminya yang sibuk dengan ponselnya.
"Bagaimana ini mas, aku khawatir. Apalagi setelah kita menikah, aku khan tidak kerja lagi." Wati duduk disamping dimas yang terlihat mengirim pesan singkat kepada seseorang. "Tenang sayang, mas sudah mendapatkan ijin dari pak Alvino, si bos berkenan aku memakai salah satu pengawal wanita di Winata Group untuk menemani Lian. Nanti dia akan tinggal disini."
"Alhamdulillah, berarti pengawal itu bisa melindungi Lian diluar jam kerja." Wati bersyukur mempunyai Dimas. Bagaimanapun juga, calon suaminya itu juga mempunyai wewenang di Winata Group.
"Lalu, nasib mereka yang di video itu bagaimana?"
"Besok mereka terakhir bekerja, pak Alvino yang memintanya langsung. Kamu besok sibuk tidak sayang? Ahh sial, besok lian harus tes kandidat manager." Dimas menepak kepalanya sendiri sangat kesal, bagaimana di situasi sekalut ini Lian bisa dengan tenang mengikuti tes tersebut.
"Astaga mas, aku juga kelupaan. Aku ada ide, mas beliin lian ice cream di cafe seberang kantor."
"Buat apaaa sayangg?"
"Beliin dulu, nanti keburu tutup mas."
"Baiklah tunggu."
Bukan Dimas namanya jika tidak bisa bertindak secepat kilat. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di meja, menghubungi pemilik cafe "Blacktea" yang terhitung masih kolega bisnisnya.
"Bro, lu ada stok ice cream vanilla yang biasa Lian beli?"
"Sisa 2 kotak, kenapa?Apa wati sudah ngidam?Dim, lu aja belum akad nikah!!" Bla bla bla, Andika pemilik cafe itu ngoceh kemana-mana tanpa henti.
"Berisik, gue gak mau tahu. Kirim 2 kotak ice cream itu ke apartemen Wati sekarang. Gue beliin Lian nyet!! Jangan mikir macam-macam!!
"Hahahaha, kirain Dim. Oke, apa sih yang gak buat lu Dim. Tungguin ye."
"Cepatlah bawel!"
Setelah drama saling ledek, Dimas menutup sambungan telepon dengan Andika, teman paling gesrek bin aneh.
"Aku gak nyangka mas, Lian belajar dimana bisa seperti itu menghandle pekerjaan Stella yang seperti benang kusut. Membayangkan angkanya saja sudah pusing aku. Bisa gila mas kalau gak kuat." Wati berdecak kagum mengingat banyaknya dokumen yang dibereskan Lian.
"Buktinya Lian gak gila sayang, mas lihat dia menikmati pekerjaannya. Hanya saja sekarang tugas kita membuat mentalnya kembali seperti sebelum melihat video sialan itu!" Dimas menggenggam tangan Wati meyakinkan.
Hampir setengah jam berbincang, pesanan ice cream pun datang. Tak lupa Dimas memberi tips pada kurir yang mengantar. Karena mendengar bunyi bel, Lian yang tak sengaja tertidur terusik. Dia mengerjapkan matanya, terbangun ingin mengambil air minum.
Keluar dari kamarnya, ia melihat Dimas belum pulang. Ternyata dia tidur tidak terlalu lama karena dilihatnya jam menunjukkan pukul 20.30 Wib.
"Bukannya istirahat dek?" Dimas menoleh ke arah Lian yang hendak ke dapur.
"Haus mas, tenggorokanku kering."
"Kebetulan mas beli ice cream, sini dek."
"Iya." Setelah mengambil air mineral di kulkas, lian duduk di sofa. Dilihatnya Wati tengah sibuk dengan ponselnya.
"Mbak ngapain?"
"Ini mbak lagi pesan martabak manis."
"Hhmm." Lian manggut-manggut saja.
Suasana hati Lian menjadi kacau dan dia terlihat murung. Mereka sedikit memberi ruang adiknya itu untuk berfikir. Memang terlihat Lian sudah lebih tenang daripada beberapa jam yang lalu, mereka berdua yakin Lian tidak akan selemah itu. Dia gadis yang kuat dan tegar.
"Mas, Lian harus bagaimana?"
"Seperti biasanya saja dek, kamu cukup tunjukkan ke mereka bahwa kamu baik-baik saja. Masalah pekerjaan, kamu tetap juga seperti tidak terjadi apa-apa. Kamu paham bukan maksud mas?"
"Paham mas."
"Good, sisanya kamu serahkan ke mas. Itu bagian management Winata Group dek. Mulai sekarang lebih waspada kalau beli makanan atau minuman yah? Satu lagi, management Winata Group memberikan kamu fasilitas yang bagus dek. Kamu harus kuat."
"Fasilitas apa mas, masa probation Lian saja baru saja selesai lho."
"Karena ini diluar dugaan management, mereka yang terlibat akan mencelakai siapapun yang berusaha membantu perusahaan membongkar kejahatan mereka dek, termasuk kamu. Tadi sore mas sudah mendapatkan surat perintah resmi dari pak Alvino, ada pengawal yang mengawasi di kantor kamu nanti. Tenang saja, dia tidak akan terlihat mencolok. Mas sudah pikirkan."
"Iya mas, makasih."
Wati yang sejak tadi hanya menyimak, mendekat ke Lian dan mengelus rambut panjang adeknya yang sedikit berantakan.
"Dek, mbak khan nanti setelah menikah tidak bekerja lagi karena aturan perusahaan tidak memperbolehkan. Nanti ada pengawal wanita yang menemani kamu tinggal disini. Kamu tidak perlu khawatir soal gaji dan biaya yang lain, ini tanggung jawab perusahaan." Wati menambahkan.
"Harus sejauh ini ya mas, mbak? Lian tidak menyangka. Ya Allah, jangan sampai ibu sama bapak tahu ya mbak. Lian gak mau mereka khawatir."
"Ini ice cream gak jadi dimakan dek?" Dimas menghentikan sejenak obrolan yang lebih serius daripada obrolan mereka sebelumnya.
"Jadi mas." Lian menyendok ice cre di mangkok, menambahkan beberapa potongan buah diatasnya.
Ditengah obrolan mereka, datanglah abang Ojol mengantar pesanan martabak manis. Setelah transaksi selesai, Dimas kembali duduk meletakkan martabak tersebut di meja.
"Dek, kamu tidak lupa bukan besok ada agenda apa?"
"Agenda apa? Astagaa besok tes Manager FAT ya mas, mbak?"
"Betull." Mereka bersamaan menjawab pertanyaan lian.
"Kalau rejeki Lian juga, Insya Allah lulus mas, mbak. Tapi kalau tidak lulus ya memang belum waktunya." Lian berbicara tanpa beban, karena sebenarnya dia masih kurang percaya diri menganggap dirinya mampu.
"Tapi kamu pengen khan dek, gajinya gede lho."
"Memang besar mbak, tapi tanggung jawabnya juga besar. Sesuai dengan gaji dan fasilitas yang diterima. Siapa yang tidak mau punya gaji segitu besar." Lian terlihat mulai bisa tersenyum kembali. Dia tidak ingin terlalu merepotkan Wati dan Dimas yang sudah banyak membantunya.
"Alhamdulillah." Batin Dimas melihat Lian sudah kembali bisa menguasai dirinya.
Malam ini obrolan mereka bertiga beralih ke tema pernikahan Dimas dan Wati. Hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, Dimas berpamitan pulang kepada dua wanita yang selalu ingin dilindunginya.
"Mas pulang dulu, cepat tidur biar besok fit dan siap menghadapi tes ya dek." Dimas melambaikan tangan kepada Lian diikuti Wati yang mencium tangan Dimas tanda perpisahan.
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂