NovelToon NovelToon
Istri Bayangan Tuan Buta

Istri Bayangan Tuan Buta

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.

Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Menemani mandi

Karena Nyonya Sonia sedang perjalanan bisnis dengan kekasihnya, urusan rumah di-handle oleh Rena. Semua yang terjadi dirumah jika itu urusan yang berkaitan Sonia, itu akan menjadi urusan Rena. Seperti Lana yang harus menemani Kinos.

"Lana, temani Tuan Kinos mandi," perintah Rena pelan saat Lana muncul di depan kamar pria itu. Meskipun Lana memang siap untuk melaksanakan tugasnya, tapi ia tidak menyangka kalau ternyata tugas itu adalah menemani Tuan Kinos mandi.

"M-mandi?" tanya Lana melebarkan mata. sungguh tidak terduga tugas kali ini.

"Ya."

"A-apakah harus? Itu sangat intim, Rena."

"Aku tahu, tapi direktur mengatakan kamu harus melakukannya." Wajah Rena menunjukkan itu bukan lagi hal aneh. Menjadi istri bayangan saja sudah pekerjaan yang aneh. "Ini bukan pertama kalinya kamu melakukan pekerjaan aneh, Lana."

"Aku tahu, tapi nyonya Sonia tidak pernah mengatakan ini. Bukankah hal intim begini bukan tugasku?"

"Hhh ... Dalam situasi normal, memang begitu seharusnya. Namun sekarang direktur tidak ada. Selain kamu, siapa lagi ... Tidak mungkin itu aku kan?" Mata Rena melebar.

Lana menghela napas.

"Direktur Sonia sendiri yang menyuruhmu, lakukan saja tugas ini. Kamu tidak mungkin dipecat karena melakukan tugas, tapi sebaliknya ... Jika kamu menolak, direktur akan merasa kamu tidak kompeten melakukan pekerjaanmu. Itu berarti kamu tidak pantas digaji," ujar Rena.

Mata Lana mengerjap.

"Aku bukan sedang menakuti kamu, tapi bicara secara logis," sambung Rena.

"Ya. Tidak ada uang jika tidak melakukan tugas. Sementara aku butuh uang." Lana mengatakannya dengan perasaan berat. Ia pasrah. "Baiklah. Aku akan melakukannya."

"Bagus. Lakukan dengan baik." Rena menepuk pundak Lana sebagai dukungan.

***

Kamar Kinos.

Uap panas memenuhi kamar mandi mewah itu, menciptakan kabut tipis yang mengaburkan pandangan. Di balik pintu kaca yang buram, siluet tubuh Kinos terlihat samar di bawah kucuran air shower. Di luar area basah, Lana berdiri mematung. Ia menggenggam handuk tebal dengan tangan yang sedikit gemetar, sementara indra pendengarannya dipenuhi oleh suara gemericik air yang jatuh menghantam lantai.

"Tidak kusangka aku akan melakukan pekerjaan menunggui orang mandi," batin Lana. Dia menghela napas.

Lana tidak menduga akan menunggui Tuan Kinos mandi. Karena ia jarang melakukan ini, semua itu dilakukan Nyonya Sonia sendiri. Namun sekarang, karena wanita itu pergi, peran itu sepenuhnya digantikan Lana. Untung saja Kinos sudah dilatih Sonia untuk melakukan hal-hal semacam mandi. Jadi dia tidak benar-benar harus memandikan pria ini.

Namun sebelumnya dia sudah mempersiapkan segala kebutuhan mandi Tuan Kinos. Sabun, handuk dan segala keperluan sudah disiapkan. Lantai kamar mandi juga sepertinya sudah direnovasi dengan bahan yang sungguh-sungguh kesat. Setiap pagi dan siang pelayan rumah menggosoknya agar tidak licin.

Ini adalah bagian dari tugasnya yang paling sulit. Bagian yang tidak pernah ia duga saat menyetujui kontrak dengan Sonia. Padahal tugas diawal hanya sekedar menemani, tetapi belakangan tugasnya bertambah. Seakan-akan tugas sebagai istri hendak dilimpahkan semua padanya.

"Apa yang dipikirkan nyonya Sonia, hingga membiarkan suaminya yang tampan harus ditunggui mandi oleh wanita asing. Mungkin aku bukan wanita yang pantas jika harus dikatakan sebagai pesaing bagi nyonya Sonia, tapi aku juga seorang wanita. Menunggui pria mandi itu aneh karena kita tidak ada hubungan dekat sama sekali." Batin Lana terus merasa aneh.

"Sonia? Kamu masih di sana?" Suara Kinos terdengar berat, bergema di antara dinding marmer.

Lana tersentak, ia berdehem pelan untuk menstabilkan suaranya. "Iya. Aku di sini."

"Bisa bantu aku? Aku tidak bisa menemukan sabun cairnya. Sepertinya pelayan menaruhnya di tempat yang berbeda. Apa pelayan yang menyiapkan bukan biasanya?" Kinos berpikir itu pelayan, padahal Lana yang menyiapkannya. Sepertinya ia salah meletakkan, karena ini pertama kali dia menyiapkannya.

"Sepertinya." Lana menjawab dengan samar.

"Tolong ambilkan sabun, sayang," pinta Kinos.

Lana menelan ludah. Ia tahu Kinos tidak bisa melihat, namun masuk ke dalam area yang lebih dekat terasa seperti melanggar batas yang sangat suci. Dengan langkah ragu, ia mendekat.

Pintu kamar mandi digeser pelan. Ia melihat Kinos sedang meraba rak dinding dengan gerakan kikuk, air membasahi rambutnya yang legam dan mengalir turun ke bahunya yang tegap. Ia sengaja tidak menundukkan pandangan ke bawah karena berbahaya.

Lana segera meraih botol sabun dan meletakkannya tepat di tangan Kinos. Kulit tangan mereka bersentuhan sejenak—basah dan hangat. Lana refleks menarik napas pendek.

"Ini," bisik Lana.

Kinos tidak segera menarik tangannya. Ia justru menggenggam jemari Lana sejenak. "Terima kasih. Kadang aku merasa sangat tidak berdaya karena hal-hal kecil seperti ini. Terima kasih sudah tidak bosan mengurusku, Sonia."

Lana membeku. Tatapan mata Kinos yang kosong terasa seolah sedang menatap langsung ke jiwanya. Ada keintiman yang menyesakkan di sini; keintiman yang seharusnya milik Sonia, namun kini justru dirasakan olehnya—seorang wanita yang bahkan tidak dianggap ada di rumah ini.

"Aku... aku tidak pernah merasa begitu," jawab Lana jujur. Ia merasakan denyut jantungnya berpacu liar. "Mandilah dengan tenang. Aku tunggu di depan pintu."

Lana segera mundur, keluar dari uap panas yang menyesakkan itu. Ia bersandar di pintu kayu kamar mandi yang tertutup, menghirup udara segar kamar tidur yang dingin. Ia memejamkan mata, berusaha menghalau bayangan tubuh Kinos dan rasa hangat sentuhannya tadi.

Ada rasa perih yang aneh di ulu hatinya. Ia adalah "istri bayangan" yang menyaksikan kerapuhan seorang pria hebat, merawatnya di titik paling pribadi, namun ia tahu bahwa saat cahaya kembali ke mata pria itu, ia harus kembali menjadi seseorang yang tak terlihat.

Keintiman ini terasa seperti racun yang manis—memberinya rasa memiliki yang semu, sekaligus mengingatkannya betapa jauh jarak antara kenyataan dan perannya.

***

Ruang baca.

Rio tidak muncul, karena Tuan Kinos menyerahkan urusan perusahaan padanya setelah kesepakatan saat pesta ulang tahun pernikahan waktu itu. Namun Rena selalu ada dirumah jadi tetap ada 'pengawas' disini.

Kinos memejamkan mata mendengar alunan musik. Sepertinya ini kesukaan Kinos. Ia sungguh menikmati dengan tenang. Sesaat matanya terbuka.

"Sonia?" panggil Kinos tanpa menoleh.

"Ya," sahut Lana cepat. Ia sudah siap sambil berdiri tidak jauh dari Kinos.

"Aku bosan dengan musik ini. Kepalaku malah makin pening." Kinos mematikan pemutar piringan hitam dengan remot di tangannya. Suasana ruangan mendadak sunyi senyap. "Ambilkan buku di meja kerja. Yang sampulnya kulit warna gelap."

Lana melangkah menuju meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati. Ia menemukan buku itu. Berat dan tampak mahal. "Sudah ketemu. Mau ditaruh di mana?" Lana sudah siap menata buku-buku itu.

"Duduklah disini. Jangan lupa bawa buku itu juga." Kinos menepuk sofa disampingnya yang kosong.

Lana ragu. Duduk disampingnya? Itu berbahaya.

1
Andriani
kk.... dikejar guru killer bisa lebih 100 episode... cerita lana ma kinos di lanjut donk
Aryati Ningsih
extra part dong ..biar ada gregetnya
Andriani
kak... kasih bonus chapture ya....
Andriani
akhirnya di lamar kinos si Lana...
Andriani
makin panas nih...
Kusyanti Handayani
kakkkkk otorrrr kurangggg
bikin penasaran dan dag Dig dug
Andriani
lagi kk... lanjut ceritanya... 😍😍😍
Andriani
alhamdulillah ketahuan juga... kasihan kinos apa sonia jadinya nih..
Kusyanti Handayani
lanjoot otor lady 💪
Herlin
up lagi kaka😍
LisA: Terima kasih terus baca
total 1 replies
Andriani
akhirnya ketahuan donk kamu soniaaa... biar kinos ma Lana deh🤭
Herlin
selalu menunggu kelanjutan cerita ini
LisA: Terima kasih.
total 1 replies
pawon ngebul
🤗🤗🤗🤗🤗tengkiiuuu kakak othot lana harus ama kinos ya ndak mau tau pokoknya🤭😆😆😆🤗😄😄😄
pawon ngebul
kakak othor tlg bagt tamatin getir ua zia m gara pokoknya please akoh mohon🙏🙏🙏🙏
LisA: Aku juga padamu.😘
total 3 replies
pawon ngebul
maaf kak tolong tamatin getit ya kak ga bs move on ini
pawon ngebul
kak maaf bgt tlooong bgt tamatin getir kak
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Tan Lili: iya Thor....ku juga. jgn biarkan kami "getir" menanti kelanjutannya. Thx Thor
total 1 replies
Fauziah Rahma
hah?
pawon ngebul
kak tolong getir di lanjutin sampai tamat donk biar gia sama gara bahagia bersama udah nunggu lama banget hiatusnya
Asa Asa
masih di lanjut gk nih kk novel nya
Andriani
lanjut ya kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!