Tiba-tiba Stecy jadi incaran seorang pria gila? Siapa sangka ternyata sosok pria baik nan lugu adalah seorang Gengster brutal?
Mr. Stewardzario, seorang Gengster misterius yang menduduki posisi paling atas karna kebrutalannya. Tapi tidak ada yang tau sosok pria misterius itu karna dirinya yang tidak mau terlihat mencolok.
Lalu bagaimana Stewardzario bisa terobsesi pada seorang mahasiswi? Siapa Stewardzario sebenarnya?
Penasaran? Yuk baca, dan jangan lupa beri like dan dukungan kalian yaa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama bekerja
"Tapi Zhe, aku ingin mandiri dan tidak mau selalu mengandalkanmu." Stecy memelas, berusaha meluluhkan Zheren yang kini tidak sejalur dengan pemikirannya.
Tentu Zheren tidak bisa mengabaikan raut wajah itu, ia seketika luluh tapi menolak bicara. Ia hanya memalingkan wajah, tak mau tertangkap basah sedang salah tingkah.
"Zhe, aku berjanji tidak akan terluka."
Ia lalu mengangkat jari kelingkingnya, menunggu sahutan dari jari kelingking Zheren. Hal kekanakan itu membuat Zheren kembali menoleh, menatap jari kecil yang tengah menunggunya.
"Oke." Dengan enggan Zheren menggapainya. "Kapan kamu berencana mulai bekerja?"
"Emm.. Malam ini."
"Aku akan mengantarmu." Ia lalu kembali melaju menuju apartemen Stecy.
\=\=
Di malam harinya Stecy bersiap pergi bekerja, terasa begitu aneh melihat gadis yang selalu mendapat apapun dari sang ibu kini malah pergi bekerja di minimarket.
"Apa ibumu tidak memberimu uang lagi?" Celetuk Zheren tidak habis pikir dengan kemauan Stecy yang mendadak.
Stecy seketika menunduk. "Sebenarnya.. Kemarin ibu bilang ia tidak bekerja lagi karna kontraknya sudah habis."
"Kenapa baru bilang sekarang? Aku bisa mencarikannya pekerjaan baru." Ucap Zheren meyakinkan.
Stecy menggeleng pelan lalu berkata, "Biarkan dia istirahat dari pekerjaannya Zhe.. Dia bekerja karna aku, dan kali ini aku akan berusaha menghasilkan uang dengan usahaku sendiri!"
Seketika Zheren membola tidak percaya. Stecy memang sosok gadis yang sangat baik, dari masa SMA saat ia ditinggal sang ayah, ia sudah memiliki niatan untuk menghidupi keluarga setelah lulus. Tapi hal itu di bantah keras oleh sang ibu karna ia sangat ingin anaknya sukses mengejar karir impiannya.
"Aku juga berniat pindah dari sini, dan mencari tempat yang lebih murah." Stecy melanjutkan.
"Tinggal saja bersamaku Sty."
Stecy kembali menggeleng pelan. "Aku tidak mau terus merepotkanmu." Ia mulai melangkah, lalu membuka pintu dan berjalan keluar.
"Menghidupimu tidak akan membuat uangku habis Sty, jadi hiduplah bersamaku." Zheren melangkah cepat menyusul Stecy.
Sontak Stecy terkekeh geli mendengar tawaran Zheren. Ada rasa tidak percaya yang menggelitik dalam hatinya. "Kamu seperti sedang mengajakku menikah Zhe.."
"Kau mau? Menikah denganku?"
Suara parau pria itu membuat ucapannya terdengar begitu nyata, sampai Stecy termangu sesaat. Ia tau itu pasti hanya sebuah lelucon random dari temannya, tapi entah kenapa kini hatinya berharap.
"Leluconmu sangat buruk Zhe. "
"Aku tidak--"
"Aku bisa telat, ayo cepat." Stecy kembali berjalan cepat, melewati lorong lalu menuruni tangga.
Sementara Zheren hanya merengut kesal, ia bahkan tidak dibiarkan menjelaskan bahwa itu bukan sebuah lelucon. Dan Zheren serius dengan perkataannya.
\=\=\=
Mereka tiba di sebuah minimarket yang terletak di pinggir jalan, berdekatan dengan sebuah warung makan cukup besar yang selalu memiliki banyak pelanggan.
"Ohoo.. Stecy ya? Kamu bisa mulai bekerja malam ini, lalu pulanglah saat dini hari." Ucap pemilik minimarket.
"Siap paman, terimakasih karna sudah mau menerima saya."
"Tidak masalah, bekerjalah dengan baik dan hati-hati. "
Paman pemilik minimarket itu lalu pergi, menyerahkan pekerjaan menjaga toko pada Stecy. Kini gadis itu terlihat begitu dewasa, sifatnya yang kekanakan seakan hilang setelah melihat betapa berusaha ia dalam mendapat uang.
"Zhe, kamu pulang saja, aku bisa sendiri."
"Oke Sty."
Kini di dalam minimarket itu hanya ada Stecy, menunggu pelanggan sambil bermain ponsel. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya, ia takut tidak bisa menjaga janjinya pada Zheren dan menjaga toko dengan baik.
Tapi rasa takut itu kian pergi kala seorang pria dengan seragam yang sama mulai masuk. "Hai, kita akan bekerja bersama mulai sekarang." Ucapnya, ia masuk sambil mengulum senyum tipis, berusaha akrab dengan Stecy.
"Oh ung.." Stecy balas mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Stecy Eglantine."
"Namamu bagus seperti wajahmu." Ia kembali mengulum senyum sambil mendekat.
"T-terimakasih." Beberapa saat lalu rasa takut itu memang ciut, tapi kali ini kenapa malah kembali? Ia terus melihat sekitarnya, takut dengan pria asing yang terus mendekat itu.
Tapi untungnya beberapa pelanggan tiba-tiba masuk, mengacaukan suasana ambigu diantara keduanya.
"Selamat datang."
Pria itu lalu kembali menjauh, berdiri tegak untuk menyambut para pelanggan.