Di saat pria bernama lengkap Leonardo Gerald (29) berusaha menepis perasaanya sendiri, justru sebaliknya sepupunya yang bernama Sherena Felixia (19) itu dengan terang-terangan mengejar cinta pria yang sedang berusaha menghindari dirinya.
“Mana mungkin aku tahan mendapat godaan dari sepupuku yang sexy ini?” Ucap pria berparas tampan itu.
Bagaimana kelanjutan kisah Sherena dan Leon yang terhalang restu kedua kakak dari Sherena?
Akankah cinta mereka berlanjut bahagia, atau malah kandas sebelum memulai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSG 25
Beberapa hari pun berlalu, Sherena dan Leon menghabiskan waktunya dengan saling berkomunikasi lewat ponsel.
Dan kini tibalah saatnya, waktu yang sangat mereka berdua nantikan. Siang ini Sherena dan Leon sudah berada di tengah-tengah acara pernikahannya, pria tampan itu sudah sah menjadi suami Sherena satu jam yang lalu.
Seluruh orang ikut berbahagia, berbeda dengan Theo dan Daniel yang nampak seperti biasa saja. Mereka berdua belum bisa merelakan adik bungsunya untuk menjadi pendamping Leon.
Mami Eria mendekat pada kedua putranya yang sejak tadi memantau Sherena dari kejauhan.
“Lihatlah adik kalian sangat bahagia karena ia akhirnya menikahi pria yang paling di cintainya.” Ucap Mami Eria sambil memperhatikan Sherena yang terlihat risih dengan gaun pengantinnya namun masih bisa tersenyum karema berada di samping Leon.
“Hari ini mungkin dia bahagia, kita tidak tau kedepannya Leon akan memperlakukan Sherena seperti apa.” Ucap Theo, tatapannya tidak pernah lepas dari kedua mempelai itu.
“Jangan seperti itu Kak, kalian berdua harus mempercayakan adikmu pada sepupumu. Papi yakin jika Leon adalah irang yang tepat untuk membimbing Sherena.” Ucap Papi Ben pada kedua anaknya.
Daniel pun mengangguk.
“Kita lihat saja nanti, kalau sampai adikku kenapa-kenapa. Sudah pasti orang yang pertama kali ku cari adalah Leon.” Ucap Daniel ia pergi meninggalkan kedua irang tua dan Kakak laki-lakinya.
Sementara Leon yang sadar sejak tadi di tatap oleh Theo, ia tidak mau ambil pusing dan lebih memilih tidak memper masalahkan tatapan tajam Theo. Walau dalam hatinya berpikir apa yang akan Theo lakukan lagi pada dirinya.
“Sher, kamu lelah?” Tanya Leon, karena sejak tadi Sherena bergerutu kesal.
Sherena menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin aku lelah, ini pernikahan yang sangat aku nantikan Kak. Aku hanya risih dengan gaun ini kenapa gatal sekali sih.” Keluhnya karena sejak tadi ia menggaruk lehernya yang terkena gaun pengantin.
“Ayo kita ke kamar saja dan ganti pakaianmu yang lebih nyaman.” Ajak Leon. Namun sherena malah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat melihat teman-teman di kampunya yang datang ke acara pernikahanya.
“Aku harus menyambut teman kampusku Kak, nanti saja ke kamarnya saat acara selesai.” Ucap Sherena ia pun menyambut para teman-temannya itu.
Sementara Leon menghela nafasnya pasrah, padahal dirinya sudah sangat lelah menyambut semua tamu undangan.
Sherena yang biasanya sangat ingin memiliki moment berduaan dengan Leon pun membuat pria itu heran karena tidak biasanya wanitanya menolak momen-momen yang paling wanita itu tunggu. Dia malah lebih memilih menyambut teman-teman kampusnya.
“Sayang kemarilah, aku akan kenalkan kamu pada temanku.” Ucap Sherena sambil menarik tangan Leon.
Dengan percaya dirinya Sherena memamerkan suaminya di depan teman-teman yang biasnaya mendengarkan curhatan dirinya, siapa yang tidak kenal cerita Sherena dengan sepupunya. Hampir seluruh orang yang mengenal Sherena sudah tau kisah cinta wanita itu karena Sherena tipe wanita yang cerita pada sembarang irang yang baru ia temui.
Bahkan ia juga bercerita pada pria yang baru saja menyatakan cinta padanya, tanpa memperdulikan perasaan orang itu.
Ya itulah Sherena yang cinta mati pada sepupunya, dan kini akhirnya wanita itu resmi menjadi isterinya.
Acarapun hampir selesai, Sherena berjalan sambil mengangkat gaunnya yang terasa amat berat. Leon tersenyum saat memperhatikan Sherena, wanita itu tidak meminta tolong padanya namun terus mengeluh di sepanjang jalan menuju kamar hotel.
Leon yang ada di belakang Sherena pun ikut mengangkat gaun yang di kenakan Sherena, agar wanitanya tidak kesusahan saat berjalan.
“Ah kamu memang suami terbaik.” Ucap Sherena saat tubuhnya merasa ringan karena gaun yang di kenakannya tidak seberat sebelumnya. “Tapi lebih baik kamu menggendongku.” Ucapnya lagi.
“Sayangnya kita sudah sampai.” Ucap Leon sambil menahan tawanya saat melihat reaksi wajah Sherena yang kecewa.
“Masuklah dan ganati pakaianmu.” Ucap Leon saat membuka pintu kamar itu. Mereka terdiam saat melihat kamar pengantin yang sudah di pesannya itu.
“Kak, kita salah kamar tidak?” Tanya Sherena.
“Tidak, mungkin mereka menyiapkan banyak ranjang agar kita bisa leluasa menyambut malam pertama kita.” Ucap Leon asal.
Sherena pun mengulum senyumnya lalu melirik ke arah Leon. “Apa kita akan berguling-guling di atas ranjang?” Tanya Sherena dengan bayangan-bayangan kotor di otaknya.
Leon mengangkat bahunya acuh. “Mungkin.”
“Tanpa sehelai benang pun?” Tanya Sherena lagi, namun Leon tidak menjawabnya dia berjalan meninggalakan Sherena menuju kamar mandi.
“Kak aku ikut mandi bersamamu.” Pintanya sambil sedikit berlari ke arah Leon.
“Tidak! Kamu yang mandi duluan, setelah itu baru aku yang mandi.” Ucap Leon sambil menghentikan tubuh Sherena yang hendak memeluknya.
“Kak kita sudha menikah, bukankah mandi bersama hal yang wajar?” Tanya Sherena lagi dengan nada manjanya.
“Lain kali tidak untuk saat ini Sherena, cepat lah mandi.” Pinta Leon ia segera mendorong Sherena masuk ke dalam kamar mandi.
Leon pun mengusap keningnya yang berkeringat, sebenarnya ia sedikit kaku saat dirinya sadar jika malam ini adalah malam pertama mereka berdua itu artinya Leon sudah boleh menyentuh Sherena seutuhnya.
.
To be continued…