Novel yang mengisahkan tentang seorang pria yang masih menduduki bangku SMA. Ketampananannya membuat seorang wanita yang berusia 25 tahun itu jatuh cinta begitu dalam.
Wanita yang memiliki sebuah perusahaan terbilang besar dan terkenal.
Indi Maharani mencintai pria bernama Veric yang usianya jauh lebih muda, berpikir akan mampu membuat sang suami dewasa setelah pernikahan.
Nyatanya sikpa Veric yang masih labil terus membuatnya semakin sakit. Akankah Indi mampu mendapatkan cinta Veric setelah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Veric
Dengan senyuman yang sedikit terpaksa Veric merelakan kepergian sang istri pagi ini untuk bertemu orang yang katanya akan membahas pekerjaan.
Namun, jauh dalam lubuk hati Veric ia tahu jika pekerjaan hanyalah kedok untuk bertemu dengan Indi.
“Astaga, aku jangan sampai hilang fokus seperti ini. Ujianku harus lancar. Kakek pasti sengaja mengatur hari ini agar pikiranku juga hancur. Tidak, aku akan buktikan pada Indi.”
Dengan semangat Veric melangkah menuju ruang ujian yang sudah di persiapkan.
Sementara Indi kini berada di kantornya untuk memastikan semua berkas yang ia butuhkan sudah terlengkapi dengan baik.
Semangat yang ada pada dirinya masih seperti biasa, bekerja bukanlah satu beban untuk Indi karena ia mencintai pekerjaannya.
“Permisi, Ibu Indi memanggil saya?” Seorang wanita sekertaris Indi memasuki ruangan usai mengetuk pintu.
Indi tersenyum manis.
“Berkasnya tolong kamu bawa dan atur lebih rapi. Saya masih mau cek email. Siapa tahu sudah ada balasan dari Tuan Wilson.” ujar Indi berharap email yang ia kirim beberapa hari lalu mendapat balasan.
“Baik, Ibu. Setengah jam lagi kita sudah harus berangkat, Ibu.” Sekertaris Indi yang bernama Santi keluar dengan sopan bersama berkas di tangannya.
Indi melihat jam, dan benar waktu untuknya tidak banyak lagi.
Perjalanan pagi itu menuju sebuah hotel tempat dimana Indi dan rekan bisnisnya bertemu tampak lancar.
“Silahkan Nona,” sapa seorang pelayan yang di tugaskan oleh Tuan Dahlan untuk menyambut kedatangan Indi dan mengantarkannya pada ruangan.
Kini wanita itu bersama sang sekertarisnya memasuki ruangan privat yang ada di hotel, tampak dua pria di sana duduk serta map yang di letakkan di meja.
Senyuman terlukis di wajah pria muda yang baru saja berdiri di samping Tuan Dahlan.
“Wah Nona Indi, selamat datang. Semoga tidak mengganggu waktunya.” Sapaan hangat Indi dapat dari sosok Tuan Dahlan serta tangan yang terulur di depannya.
Indi tersenyum seadanya. “Terimakasih, Tuan Dahlan. Senang bertemu dengan anda.” jawab Indi sopan dan membalas ulurang tangan pria paruh baya di depannya.
Tak sedikit pun Indi mengalihkan pandangannya pada pria di samping Tuan Dahlan.
Namun, Tuan Dahlan yang sadar akan tujuannya pun sadar seketika memperkenalkannya pada Indi.
“Nona Indi, ini anak saya. Dika? ini Nona Indi, pengusaha muda yang paling sukses.” Tuan Dahlan tersenyum sembari sedikit memberikan pujian pada Indi.
Baru setelah itu Indi melihat pria di samping Tuan Dahlan dan tersenyum ramah. Sebagaimana julukan pembisnis muda harus tetap profesional.
“Senang bertemu anda, Nona Indi.” ucap Dika dengan berjabat tangan.
Jabatan tangan itu sulit Indi lepaskan. Dika menggenggam tangannya erat dan matanya terus menatap Indi penuh arti.
“Em Tuan Dika saya harap anda bisa lepas tangan saya.” To the point Indi berucap.
Dika tersentak sadar mendengarnya. “Em maaf Nona Indi. Saya benar-benar kagum dengan kecantikan anda. Sampai tidak sadar.” jelasnya sedikit malu.
Dika tertunduk sekilas kala melihat tatapan tajam sang ayah. Tuan Dahlan seolah memperingati anaknya agar tidak bertindak agresif.
“Ayo silahkan duduk,”
Mereka semua duduk saling berhadapan, dan Indi mulai membahas tentang pekerjaan mereka. Semua berjalan baik tanpa ada masalah. Sepertinya Dika begitu terpesona pada kecantikan Indi hingga ia beberapa kali tidak fokus saat Indi bicara.
“Dia benar-benar menantu idaman. Kalau Dika sampai berjodoh dengan wanita ini perusahaan akan berkembang pesat dan mendapat banyak kepercayaan investor tentunya. Yah, aku harus bisa menjadikan dia istri Dika dan menguasainya.” senyum licik Tuan Dahlan begitu menakutkan di mata Santi.
Namun, Indi yang sangat fokus bicara justru tidak memperhatikan hal itu.
“Aduh kok Tuan Dahlan sepertinya sedang memikirkan sesuatu? Senyumannya mirip orang-orang jahat. Apa Ibu Indi tidak sadar yah?” batin Santi melihat Tuan Dahlan dan Indi bergantian.
Sedangakan di sekolah, kini Veric baru saja usai menyelesaikan satu mata pelajaran. Senyuman puas terlihat di wajah tampan pria itu.
“Wah wah sepertinya ada yang berhasil mikir normal nih.” celetuk Landa teman Veric yang bari keluar dari ruang ujian yang berbeda dari Veric.
“Ya iyalah, pokoknya ujian ini harus buat gue lulus. Udah yah gue mau ke taman dulu. Ada beberapa halaman yang gue lupa isinya.” Veric yang sadar jeda istirahat tidak banyak segera memanfaatkan waktunya untuk membaca buku.
Melihat keseriusan Veric, justru beberapa temannya terkekeh.
“Haha tuh anak kesurupan apa yah?” celetuk Landa.
“Iya, Veric aneh. Kan belajar nggak belajar otaknya tetap standar seperti biasa.” sahut Bara.
Mereka tampak melihat Veric dari arah kelas yang terdapat kursi santai.
Tak lama kemudian suara wanita menyapa para lelaki tersebut.
“Bar, Veric mana?” Lusi datang sembari menenteng tas sekolahnya.
Bara, Landa, dan juga Dion menunjuk ke arah Veric duduk dengan wajah mereka.
Lusi yang melihat mengikuti arah pandang mereka.
“Tumben sih, gangguin ah.” Lusi berjalan cepat mendekat Veric.
Ketiga pria itu pun tak tinggal diam. Mereka mengekor di belakang Lusi.
“Ver, kantin yuk.” Lusi duduk menempel pada tubuh belakang Veric.
Sontak Veric berdiri dari duduknya dan melihat siapa yang berada di belakangnya.
“Apaan sih, Lus?” kesal Veric tidak terima tingkah Lusi yang asal main nempel saja.
Arah pandang Lusi bergerak ke arah buku milik Veric. Ia memutar matanya malas.
“Ayo ke kantin, Ver. Nggak usah sok sok belajar deh. Pasti lulus kok tenang aja.” Lusi merengek manja pada Veric.
Tanpa menunggu lama, Veric menepis kasar tangan Lusi. Sungguh ia tidak ingin berurusan dengan wanita mana pun. Veric akan menjaga dirinya demi sang istri tercinta.
“Lepasin!” Teriaknya membulatkan mata.
Semua tersentak kaget mendengar Veric berteriak. Termasuk ketiga teman prianya. Lusi pun terperanjat kaget.
MAKANYA LO RIC,, JGN SMPE LO DPISAHKN SAMA INDI, NYESAL LOO
INILH AKIBAT SALAH DIDIK, SALAH GAUL.. BOCAH MUSLIM SAJA BNYK YG KYK SETAN DAJJAL, APALAGI SI VERIC BOCAH KAFIR, MNA TAU MORAL & AHKLAK... TAUNYA HIDUP FOYA, PESTA2,,CLUBING2, BKN ISI WAKTU DGN HAL YG BRMANFAAT..
SUPAYA LO GK GENGSI SAMA INDI, HRSNYA LO GIAT2, BLAJAR..
begitu saja......
ngak ada kata pentup....
😁😁😁😁😁