Perpisahan Denan Al fatan dan Akia Rinjani di masa kecil. Akhirnya di pertemukan lagi lewat sebuah pekerjaan. Dimana Denan Al Fatan adalah CEO tempat Akia bekerja mencari uang.
Kisah cinta mereka banyak di taburi perselisihan, kesalah paham dan juga masalah keluarga.
Penyatuan cinta yang penuh warna-warni dalam sebuah kehidupan yang menjadikan mereka kuat dan tegar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Tertekan
Setelah mendapat penjelasan menyeluruh, Akia pun memilih diam, Ia tak memberi ucapan sepatah kata pun ketika Denan mengutarakan maksudnya yaitu mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal pada dirinya.
Namun yang pasti ungkapan Denan yang entah serius atau cuma main-main itu sangatlah mengejutkan untuk ukuran gadis miskin seperti dirinya yang hanya anak Nelayan dan hanya mampu bekerja sebagai OG di kantor pria itu.
Jujur saja, ada rasa deg-degan hingga membuat tubuhnya gemeteran. Akia berharap apa yang di katakan Denan barusan itu, hanya sebuah ungkapan orang yang tengah terluka hingga asal bicara.
Cukup lama dalam hening, dan hanyut dalam pemikiran masing-masing. Suara nada dering ponsel Denan menggema menyeruak di antara cahaya remang-remang.
Setelah tahu itu datangnya dari anak buah Pak Rama, Denan langsung menerima panggilan itu karena tak ingin mendapat masalah akibat membangkang. Pemuda itu terlihat memilih menyalakan air pods nya yang di tempelkan ke daun telinga. Sebuah benda tanpa ada kabel penghubung dari ponsel.
"Ada apa cecunguk?" Tanya Denan dengan suara malas dan lemas. Ia memutuskan menghentikan mobil lebih dulu.
(Jika ingin mencari kekasih sendiri, cepat lah bawa gadis itu menemui Tuan dan Nyonya Den, kami di minta paksa membawa Den Denan pulang sekarang juga) Sahut salah seorang body guard dari seberang telpon.
"Apa lagi sih mau mereka, Apa Papa tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu ketenanganku?" Bentak Denan pada orang yang menelponnya itu.
(Kami hanya menjalankan tugas Den) Jawabnya lagi menjengkelkan.
"Iya aku tahu, tapi Kenapa kalian datang tidak tepat waktu. Apa kalian tahu ha? Kalian itu selalu menekan hidupku? Mengesalkan!" Oceh Denan terus menggerutu.
(Maaf Den, hanya ada waktu 5 menit) Ucap orang itu lagi tidak perduli kemarahan Denan.
"Bodo' amat," hardik Denan.
(Jika tidak menurut, Tuan akan marah) Ujar anak buahnya lagi mengancam.
"Apa! Kau mengancamku ha?" Marah Denan lagi.
(Maaf Den. Kami tidak bermaksud. Kami melakukan ini juga supaya Aden tidak kena omel Tuan besar)
"Oke iya, baiklah aku kesana sekarang." Denan pun mengakhiri sambungan telponnya dengan mimik penuh emosi.
"Ck, dasar! Papa selalu saja berbuat semaunya, tanpa peduli perasanku," decak Denan kemudian sambil melirik Akia yang termangu di dekatnya.
Gadis itu memucat, mungkin Ia merasa sedikit takut melihat tingkah Denan yang marah-marah. Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya ditelpon hingga Ia sekasar itu meski Ia tak bisa mendengar sedikit pun, apa topik dari pembicaraan mereka.
Tak jauh dari tempat mereka berhentu, terlihat beberapa mobil ikut berhenti di pinggir jalan dan keluarlah beberapa orang dari dalamnya salah satu dari orang-orang itu adalah Revan dan beberapa body guard Denan yang bertujuan menjemput Tuan muda mereka.
Denan segera melepaskan tali pengaman dengan kesal, Lalu keluar mendekati orang-orang itu tanpa permisi. Akia jadi merasa bingung. Ia mengerutkan dahi melihat Denan digiring masuk ke mobil lainya oleh para body guard itu dari dalam kaca mobil tempatnya duduk.
Mobil Denan pun terlihat melaju, dikuti dua mobil lainnya dibelakang. Hanya tertinggal Revan disana. Pemuda itu menatap dengan tersenyum ke arah Akia yang jelas-jelas tampak keheranan.
Melihat wajah seperti itu, Revan pun segera menghampiri Akia dan menggantikan Denan masuk ke mobil itu untuk mengemudi..
"Kak Revan apa yang terjadi? Kemana Bos Denan dibawa seperti tawanan? Dan siapa orang-orang itu?" Akia mulai panik dan menghujani Revan dengan banyak pertanyaan.
"Tenang, Bos Denan akan baik-baik saja," jawab Revan singkat. Ia tak mau memberikan jawaban pada semua pertanyaan Akia itu. Toh, Akia juga tidak perlu tau tentang kehidupan Bosnya itu.
"Bos Denan menyukaimu," tukas Revan tiba-tiba membuat Akia tersentak dan langsung menatap Revan.
"Dia yang meminta aku mengantar mu pulang dengan selamat," tambah Revan lagi.
Akia tak bergeming, Ia merasa kian deg-degan setelah tau Denan memperhatikan keselamatannya. Setelah gadis itu terlihat tenang, Revan pun melajukan mobil mereka dengan kecepatan standar meninggalkan jalan yang cukup sepi itu karena malam sudah semakin larut.
***
Beberapa mobil yang membawa Denan pun tiba. Pak Am sudah menunggu dan membukakan pintu mobil untuknya.
Denan tak dapat menahan diri lagi, Ia bergegas Menerobos masuk kedalam rumah. Semua orang yang dilewatinya menunduk dengan hormat.
Ternyata Rama sudah menunggunya dengan santai sambil duduk di sofa menyesapi koffe dan beberapa makanan lezat
"Ada apa lagi, Pa?" Tanya Denan sangat kesal.
Rama belum memberikan jawaban atas pertanyaan Denan, Ia bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri putra semata wayang nya itu.
"Denan, siapa gadis itu?" Pertanyaan Rama yang tiba-tiba, sontak membuat Denan terkejut. Entah dari mana Rama tau, kalau dia baru saja bersama seorang gadis. Pasti salah satu anak buahnya telah melapor pada Pak Rama tanpa sepengetahuannya.
"Benar dia pacar mu?" Tanya Rama lagi menyelidik.
"Iya," jawab Denan bohong. "Emang apa urusannya dengan Papa hingga ingin tahu?" Tanya Denan balik.
"Ya tentu ada dong Den, calon istrimu adalah calon Menantu. Jadi Papa harus mencari tau soal kehidupan gadis itu," jawab Rama singkat.
"Apa Pa? Tolong jangan aneh-aneh ya." Denan membulatkan matanya. " Papa tidak perlu apa pun karena bagiku Akia itu gadis baik-baik?"
"Oh begitu? Baiklah, Kalau dia memang pacarmu, dia pasti bersedia menjadi istri mu kan. Dan itu artinya kita akan menyiapkan pestanya dengan segera?" Rama mulai melembutkan suaranya mendengar pembelaan Dena.
Lagi-lagi Denan terkejut, mana mungkin Ia bisa menikahi Akia, sedangkan gadis itu hanya pacar bayarannya.
"Pa, bisakah Papa sabar, aku akan membawa gadis itu kehadapan Papa bila sudah tiba waktunya," ujar Denan berharap di beri tempo.
"Papa tidak mau menunggu," jawab Rama dengan tegas lalu kembali mendudukkan diri.
"Ck, Kenapa Papa selalu saja berbuat semau Papa, kenapa Papa selalu menekan Denan untuk menikah secepatnya? Lalu kalau Denan menikah, apa yang Papa harapkan dari pernikahan Denan ha? Denan lelah di perlakukan seperti ini."
Pemuda itu benar-benar diselimuti kekesalan yang membuncah, Ia sudah seperti berada di zaman Siti Nurbaya saja yang apa-apa harus pasrah dalam segala hal. Meski diitekan terus menerus oleh Ayahnya untuk segera menikah. Entah apa maksud dari pria paruh baya itu. Tapi yang pasti Ia benar-benar tak habis pikir dengan keinginan yang terburu-buru itu.
"Bawa saja kemari, atau Papa akan bertindak," tegas Rama lagi, jelas nada nya sangat memaksakan.
Denan hanya mengacak-ngacak rambut penuh emosi, Ia merasa, semakin hari, Papa Rama semakin berlebihan saja karena selalu ikut campur masalah jodohnya yang sebenarnya sangat sepele.