follow igku @zariya_zaya
Refald dan temannya Eric, tak sengaja terjebak di sebuah desa yang penuh dengan misteri. Saat menunggu mobil Refald diperbaiki, ia tak sengaja melihat sosok Kuntilanak mengikuti sepasang muda mudi yang sedang asyik berkencan disebuah warung. Refald merasakan hawa jahat dari sosok Kuntilanak tersebut karena ia adalah salah satu manusia istimewa yang bisa melihat makhluk astral tak kasat mata. Kuntilanak tersebut memberi peringatan keras pada Refald untuk tidak ikut campur urusannya.
Apakah yang akan dilakukan Refald? Mengabaikan pasangan yang sedang dalam bahaya itu ataukah menyelamatkan mereka dari ancaman sang Kuntilanak? Bisakah Refald yang dijuluki sebagai pangeran dedemit ala Edward dan Eric keluar dari desa yang penuh dengan teror?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Refald vs Kuntilanak Merah
PERINGATAN: Kisah ini hanyalah kisah fiktif yang tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Tidak ada maksud menyinggung atau menyebar SARA. Jika ada kesamaan nama, tokoh, ras/suku, adat istiadat atau kepercayaan, maka itu hanya kebetulan semata. Kisah ini murni muncul dari hasil imajinasi. Harap bijak dalam membaca dan anggap hanya hiburan semata. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Terimakasih atas pengertian dan dukungannya all …
****
Setelah memastikan Eric sudah masuk ke dalam pusaran ritualnya dan dijaga ketat oleh seluruh pasukan Refald, pangeran dedemit itu mulai memejamkan mata untuk memanggil pak Po agar segera menemuinya. Beberapa waktu lalu, Refald memang melarang keras pasukan dedemit kesayangan paling menyebalkan itu untuk menampakkan wajah di depannya.
Namun situasi yang mendesak membuat Refald terpaksa memanggil pak Po karena dialah satu-satunya dedemit terkuat dalam pasukannya. Tak butuh waktu lama, setelah proses pemanggilan selesai, pak Po yang tadinya bersama dan berkeluh kesah dengan mbak Kun langsung datang memenuhi panggilan pangerannya.
“Anda memanggil saya, Pangeran?” girang pak Po dan hendak memeluk Refald, tapi spontan orang yang ingin dipeluk pak Po langsung menghindar.
“Apa yang kau lakukan, ha!” bentak Refald jadi keki sendiri dengan pak Po. “Baru datang main peluk aja. Aku masih normal pak Po. Satu-satunya orang yang ingin aku peluk adalah tunanganku, bukan kau!” cetusnya kesal.
“Maaf Pangeran, hamba terlalu senang karena Pangeran sudah tidak ngambek lagi dengan saya.”
“Siapa yang ngambek, ha? Kau bukan pacarku! Untuk apa aku ngambek denganmu! Jangan bersikap sok mesra padaku dan membuat tensi darahku naik, pak Po. Aku tak punya waktu bercanda denganmu! Ikut aku masuk ke dalam lubang hitam itu!” sengal Refald mencoba menahan diri agar emosinya tidak meluap keluar setiap kali ia berhadapan dengan pak Po.
Tak seperti biasanya, entah kenapa pak Po terdiam dan menatap lurus lubang hitam yang ditunjuk Refald. Pocong tampan itu sedikit bingung dengan adanya lubang hitam tersebut. Ada apakah gerangan? Tak hanya itu, pak Po juga melihat Eric, mulai menjalankan ritual yang sangat tidak asing lagi bagi pasukan dedemit Refald.
“Lubang itu … dibuka oleh kunti merah yang diselimuti dendam dan amarah. Kita akan masuk ke sana dan menyelamatkan Nina. Salah satu penduduk desa ini dan telah menjadi incarannya. Sedangkan Eric, kau tahu sendiri alasannya tanpa kuberitahu.”
“Ini sangat berbahaya Pangeran, bila anda masuk ….”
“Aku tahu … karena itulah aku mengajakmu.” Refald memotong ucapan pak Po. “Aku percaya pada kekuatanmu, pak Po.”
Tak ada yang bisa pak Po katakan lagi bila pengeran dedemit Refald sudah bicara begitu. Bagi pak Po dan rekan-rekannya, lubang hitam itu adalah tempat paling berbahaya di dunia mereka. Bila sudah masuk, belum tentu bisa keluar apalagi dalam keadaan hidup. Namun, pak Po juga tak bisa membantah apa yang diperintahkan pangerannya. Bagi pak Po, keselamatan Refald adalah prioritas utamanya.
“Tapi Pangeran, Anda belum menikah … artinya kami juga akan melajang selamanya jika Anda berakhir di lubang hitam itu ….”
“Sudah jangan banyak bicara! Ayo masuk!” sela Refald.
Sedetik kemudian, Refald menarik pak Po masuk ke dalam lubang hitam begitu saja. Keduanya langsung berada di dimensi lain dan menuju tempat kunti merah itu membawa Nina. Baru beberapa langkah, kunti merah itu sudah berdiri dihadapannya dan bertarung langsung dengan Refald.
Untunglah Refald tidak mudah dikalahkan dan kunti merah juga sempat kualahan karena ia dikepung oleh dua makhluk berbeda alam. Satunya dedemit, satunya lagi adalah seorang pangeran dedemit yang masih hidup tapi punya kekuatan sama seperti makhluk dari dunia lain. Jelas saja, kunti merah itu kalah telak.
“Huh, nyalimu besar juga berani datang kemari. Kau juga lumayan kuat, pantas saja kau tak pernah merasa takut setiap kali aku mengancammu. Padahal kau cuma manusia!” seru kunti merah setelah ia merasa kalah dari Refald.
“Heh, Kunrah!” sengal pak Po dengan suara lantang dan kunti merah itupun melotot ke arah pak Po. “Jangan macam-macam kau! Pakaianmu itu tidak cocok dengan rupamu! Sudah bagus kau dikasih pakaian putih, kenapa kau ganti baju jadi merah segala, ha? Bikin mataku rusak saja!” ledek pak Po. Ia bukannya membahas soal pertarungan mereka melainkan masalah style baju yang dikenakan kunti merah.
“Diam kau pocong jelek!” bentak kunti merah yang langsung spaneng mendengar komentar pak Po. Jelas-jelas pak Po tahu kalau wujudnya memang merah dengan sendirinya, bukan karena ia ganti pakaian.
“Kau tuh yang burik! Matamu buta! Aku pocong paling tampan di dunia lain ini. Berani sekali kau mengataiku jelek! Makanya ngaca supaya tahu seperti apa bentuk rupamu! Dasar Kunrah!” geram pak Po dan Refald langsung memerintahkan pak Po untuk tidak bicara lagi agar suasana tak menjadi keruh gara-gara ulahnya.
“Mbak Kun!” ujar Refald sebelum kunti merah itu jadi darah tinggi karena meladeni ocehan pak Po. “Kembalilah ke asalmu, dan lupakan dendammu. Dengan begitu kau bisa terlahir kembali menjadi sosok yang baru. Keturunan yang kau inginkan sedang menjalani ritual pengembalian jiwamu agar kau bisa menuju jalan yang benar dan bisa bereinkarnasi. Hentikan semua dan jangan diteruskan lagi. Jangan menyengsarakan diri sendiri. Kau masih punya pilihan.”
Dengan sikap penuh dendam amarah, kunti merah itu mendekat kehadapan Refald dan hendak menyerangnya, tapi pak Po langsung sigap menghalau serangan itu sehingga tak sampai bisa mengenai pangerannya. Sedangkan Refald, tetap tidak bergeming dari tempatnya dan bahkan tidak kaget sama sekali. Ia tahu kalau serangan apapun dari kunti merah takkan bisa melukainya. Sebaliknya, Refald sungguh ingin kunti ini meneruskan balas dendamnya dengan mengajaknya bicara baik-baik.
“Berani kau mendekati Pangeranku! Habislah kau!” ancam pak Po. Kalau soal melawan musuh, pak Po memang keren dan jadi waras sedikit bila dibandingkan dengan tidak berperang.
Kunti merah itu mundur dan kembali melayang-layang di udara. “Huh, enak sekali kau bicara? Meluapkan amarah? Menghentikan balas dendam? Kau pikir semua itu mudah? Bagaimana denganku? Apa kau tahu bagaimana perasaanku selama puluhan tahun ini? Keturunan para penjahat itu … mereka semua bisa hidup lama dan bahagia, sementara aku? Aku terjebak di dunia ini atas ketidakadilan yang mereka semua lakukan padaku? Dan kau … segitu mudahnya menyuruhku melupakan itu semua?” Kunti merah itu menangis saking emosinya, tapi juga ada kesedihan yang begitu besar didalamnya.
Seketika, di luar lubang hitam, hujan deras mengucur dengan deras sehingga Eric yang bertapa diluar, ikut kehujanan juga. Namun anehnya, bunga 7 rupa dan garam yang ditaburkan Refald mengelilingi tubuh Eric, tidak terkena air hujan sama sekali dan tetap kering tanpa terkena siraman air hujan sedikitpun.
Tangisan kunti merah ternyata jauh lebih menyedihkan bila dibandingkan jeritan kesengsaraan manusia. Pak Po yang tadinya kesal dan marah pada sosok demit itu, mendadak berubah menjadi iba dan ikut sedih juga.
“Aku tahu … meski aku bukan hantu, tapi aku adalah bagian dari dunia kalian. Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan. Namun ketahuilah … ini sudah kehendak yang Kuasa, kau ataupun aku … tak bisa melawan ataupun mengubah takdir yang diberikan-Nya. Hidup ini memang penuh ketidakadilan mbak Kun. Namun, selalu ada hikmah di setiap musibah, selalu ada jalan keluar disetiap masalah, selalu ada banyak jalan menuju Roma.
“Habis gelap terbitlah terang. Itulah roda kehidupan dan akan terus berputar. Biarkan mereka-mereka yang jahat padamu mendapatkan hukumannya. Sudah saatnya kau memilih tenang di alam sana dan lepaskan gadis itu. Iapun juga akan menanggung akibat dari perbuatannya. Kau tak punya hak menghukum kesalahannya.”
Refald tak ingin ada peperangan antar dedemit ataupun pertumpahan darah lagi. Selagi kunti merah menyeramkan itu masih bisa diajak bicara, Refald akan mengusahakan yang terbaik untuk semuanya.
BERSAMBUNG
***
kangen