“Ku kira dia janda, ternyata suaminya masih ada.”
Hampir dua tahun Danzel menyendiri tak memiliki kekasih setelah wanitanya direbut dengan licik oleh pria lain. Padahal, orang tuanya terus mendesak untuk segera menikah hingga berusaha mengenalkan para wanita cantik kepadanya. Tapi, tak ada satu pun yang memikat hatinya.
Namun, siapa sangka, jika rasa kagum kepada sekretaris barunya membuatnya terpikat pada wanita yang memiliki nasib malang itu. Ia akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama mati rasa.
Danzel berusaha memikat orang yang dia taksir dengan mengambil hati putri dari wanita tersebut. Namanya hidup, tak ada yang sesuai keinginan. Sekretaris yang dia kira janda, ternyata masih memiliki suami.
Haruskah dia menjadi perebut istri orang agar cintanya tak gagal seperti dahulu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Langit terang kian redup, berganti jingga yang begitu indah. Danzel bersenandung menuju ke mobilnya. Dia punya rencana bagus agar bisa bertemu dengan Gwen lagi.
Kaki terbalut pantofel hitam itu mulai menginjak gas. Ia melihat ke arah belakang di mana keranjang berisi cokelat yang kemarin dibeli dari Selena masih utuh di dalam mobilnya.
“Semoga berhasil,” harap Danzel.
Dua puluh lima menit Danzel habiskan di jalan. Kendaraan roda empat itu mulai memasuki basement. Dan pria berkharisma tersebut langsung menuju lift dengan tangannya menenteng keranjang berisi cokelat yang sangat banyak.
Tet ... tet ...
Danzel menekan bel unit apartemen milik Gwen. Bunyinya memang tak terlalu indah karena harganya juga tak mahal. Tak apa, yang penting penghuni di dalamnya sangat mempesona.
“Tuan Danzel?” sapa Gwen dengan sedikit terkejut setelah membukakan pintu.
“Danzel, tanpa tuan.” Pria itu meluruskan panggilan Gwen. Dia tak ingin ada jarak layaknya majikan dan bahawan.
“Ah, iya. Danzel.” Gwen meralat panggilannya. “Ada apa kemari?” tanyanya.
Danzel mengangkat keranjang yang dia tenteng agar terlihat oleh Gwen. “Aku ingin mengembalikan ini pada Selena, kemarin tertinggal di mobilku.”
“Terima kasih, maaf merepotkanmu.” Gwen mengambil alih benda tersebut dan melihat isi di dalamnya. “Bukankah cokelatnya sudah kau beli? Kenapa masih ada di sini?”
“Aku tak bisa makan yang manis-manis terlalu banyak, jadi itu untuk anak-anakmu saja,” jelas Danzel masih berdiri di hadapan Gwen dan tak bosan memandangi wajah yang terlihat sangat dewasa. “Tapi kalau memandangi wajah manismu setiap detik pun aku tak akan bosan,” celetuknya sangat lirih diiringi ulasan senyum.
Gwen yang mendengar sedikit gumaman Danzel pun tersenyum lembut. Merasa lucu ibu beranak seperti dirinya digombali oleh seorang pria.
“Tidak perlu repot-repot, Danzel. Kau bisa memberikan cokelatnya pada keponakanmu,” tolaknya halus. Mereka baru saja kenal, tak enak jika menerima pemberian.
“Aku tak memiliki keponakan, karena aku anak tunggal dan belum menikah,” jelas Danzel. “Tapi jika kau ingin menjadi pendampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku, maka dengan senang hati aku akan menerimamu.” Ia mengedipkan sebelah alisnya menggoda Gwen.
Gwen hanya menatap datar tanpa merespon godaan Danzel. Membuat pria itu menjadi tak enak hati.
“Bercanda, jangan dianggap serius. Tapi kalau kau ingin ku seriusin, aku akan sangat senang.” Danzel mencoba mencairkan suasana. Tangannya sudah terangkat hendak mengelus puncak kepala Gwen, tapi tak jadi. Dia tak boleh lancang dan berakhirlah jemarinya menyugar rambutnya sendiri.
Danzel berdeham untuk menetralkan gejolak di dadanya. “Apakah kau tak mempersilahkan aku masuk atau menawariku minum? Aku kehausan.”
“Oh, maaf, aku lupa.” Padahal Gwen memang tak ingin pria itu masuk lagi di dalam apartemennya. Dia tak bermaksud menjadi tuan rumah yang tak sopan, tapi dia sedang berusaha untuk membentengi diri ketika suaminya tak bersamanya. “Silahkan masuk.” Dengan berat hati, wanita berusia tiga puluh enam tahun itu membiarkan Danzel duduk di sofanya.
Danzel melemparkan senyum menawannya saat pantatnya mendarat sempurna di benda yang tak terlalu empuk milik Gwen. Tapi tak masalah, asalkan di sana ada wanita pujaan hatinya, semua akan terasa nyaman. Pria itu benar-benar seperti anak muda yang sedang mencoba memikat wanita.
“Mau minum apa? Jus dari buah segar atau air mineral? Aku hanya memiliki dua itu,” tawar Gwen mencoba tetap ramah.
“Jus juga boleh,” jawab Danzel. Dia sengaja meminta sesuatu yang membutuhkan proses agar bisa berlama-lama memandangi Gwen ketika berkutat di dapur.
sama kayak yg aku alami
yg lamar aku kakaknya adeknya jd supir nya waktu itu
tapiii yg nikahi aku dan jodoh ku adeknya
hidup selucu ituu😀😀
laki² terbaik