Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.
Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.
Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?
Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lelaki Baik
Denis masih setia mengandeng tangan Mutia hingga masuk ke dalam mall.
"Kita nonton, ya?" tanya Denis seraya berbalik menghadap Mutia.
"Terserah bapak saja," jawab Mutia cuek.
"Aku bukan bapakmu, Mbak Mut. Kamu membuat orang-orang berpikiran aku seorang pedofil," Protes Denis tak terima.
"Terus aku kudu panggil apa? Bapak memang atasanku."
"Itu kalau di toko, di sini kita pacar. P-a-c-a-r." Denis bahkan harus mengeja satu persatu huruf agar Mutia tahu maksudnya.
"Itu cuma anggapan bapak saja, bukan aku." Mutia menarik tangannya dari genggaman Denis. Gadis itu bersendekap dan mengalihkan pandangan dari Denis.
"Kamu sudah berjanji untuk sebulan ini, Mbak Mut. Jangan sampai aku nekat menciummu di sini agar kamu mau menurut." Denis mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Mutia.
Mutia langsung menoleh, menatap tajam lelaki yang kini sedang terkekeh melihatnya.
"Denis?" panggilan dari seseorang membuat Denis dan Mutia menoleh.
Seorang wanita dengan rok pendek dan atasan ketat datang menyapa. Rambutnya merah menyala, dengan riasan pipi yang juga tak kalah merah. Persis orang habis ditonjokin aja, gumam Mutia dalam hati.
"Hai, Sheila," sapa Denis balik.
Gadis itu maju mendekat dan mendaratkan cipika cipiki untuk Denis. Mutia hanya diam menatap mereka.
"Kamu kemana saja? Bar sepi gak ada kamu," ucap Sheila dengan manja seraya memegang bahu Denis.
"Aku sibuk, Sheila. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan."
"Sejak kapan kamu sok sibuk begini?" tanya Sheila lagi. Gadis itu melirik ke arah Mutia, memperhatikannya dari atas ke bawah dengan sibuk mengejek.
"Kamu sibuk dengan bocah ingusan ini?" lanjut Sheila dengan melirik Mutia.
Mutia mendelik, sialan itu dakocan, bisa-bisanya ngatain bocah ingusan. Mutia mengumpat dalam hati. Denis harus bertanggung jawab atas ejekan ini nanti.
"Dia calon istriku, Sheila." Denis meraih tangan Mutia, menggenggamnya erat.
Sheila terlihat kaget, hingga gadis itu mundur beberapa langkah dari Denis.
"Kamu serius, Denis? sejak kapan seleramu bocah ingusan seperti ini?" Sheila lagi-lagi mengejek.
"Terserag apa pendapatmu, yang jelas aku mencintainya," jawab Denis dengan tegas.
"Kamu yakin dia bisa muasin kamu?" Kali ini gantian Mutia yang melotot, apa maksud ucapannya?
"Itu bukan urusanmu, Sheila. Maaf, kami buru-buru." Denis menggandeng tangan Mutia, berlalu tanpa memedulikan Sheila yang sudah meradang.
Denis bisa merasakan kalau ada yang berbeda dengan Mutia setelah perbincangannya dengan Sheila tadi. Lelaki itu berhenti di tempat yang cukup sepi.
"Aku tidak akan berbohong untuk menutupi kejelekanku, Mbak Mut. Aku memang bukan lelaki baik, aku punya masa lalu yang buruk. Tapi sejak bertemu denganmu, aku bertekad untuk berubah. Aku mau kamu tak menyesal jika akhirnya memilihku nanti.
Aku juga akan berusaha agar terlihat layak di sampingmu. Kamu cukup percaya saja padaku, dan aku janji tidak akan mengecewakanmu," Denis meraih kedua tangan Mutia, menatap lekat kedua mata gadis di hadapannya itu.
Mutia sedikit terkejut karena Denis berani mengatakan kejujuran tentang dirinya. Paling tidak, ini menjadi nilai tersendiri bagi Denis di mata Mutia.
"Kamu sering tidur dengan banyak wanita, ya?" todong Mutia langsung.
"Gak banyak, Mbak Mut. Memang cuma pernah, aku lelaki normal. Siapa yang tidak akan tergoda kalau di rangsang terus-terusan. Tapi tenanglah, aku tulus menyayangimu. Aku memang brengsek, tapi saat menyayangi seseroang aku tidak akan main-main. Aku akan menjagamu sejauh aku bisa." Lagi-lagi Mutia meleleh dengan ucapan Denis.
"Dan soal puas memuaskan tadi, setelah kita menikah nanti, aku yang akan dengan senang hati memuaskanmu, jadi jangan kepikiran, ya?" goda Denis sembari terkekeh.
"Dasar mesum!"
Mutia melotot, Menarik tangannya dan berjalan meninggalkan Denis. Denis tertawa lagi, hingga akhirnya dia menyusul Mutia dan kembali menggandeng tangan wanitanya itu.
Denis dan Mutia masuk ke bioskop Karena ini jam kerja, bioskop masih belum terlalu ramai.
"Sayang, mau nonton film apa?" tanya Denis menawari Mutia.
Mutia melihat-lihat sebentar, tak ada film yang menarik perhatiannya.
"Terserah deh," jawab Mutia pasrah.
"Ya, sudah, kamu duduk dulu di sini, aku mau beli tiket."
"Mas, beli popocorn sekalian."
Denis yang sudah berbalik dan hendak beranjak seketika berhenti mendengar panggilan Mutia. Lelaki itu kembali mendekat pada Mutia.
"Tadi panggil apa?" tanyanya meyakinkan.
"Kenapa? gak suka? ya, sudah panggil bapak saja lagi." Jawab Mutia dengan cemberut. Padahal sejujurnya dia amat malu dengan panggilan itu, belum lagi kenapa Denis harus berbalik dan bertanya lagi padanya.
"Jangan ngambek, Sayang. Tunggu di sini, ya?" Ucap Denis lembut sembari membelai rambut Mutia.
Sepeninggal Denis, Mutia tersenyum sendiri. Diperlakukan semanis ini membuat dadanya berdetak tak karuan.
Denis kembali dengan dua ticket, satu popcorn dan dua gelaa minuman.
"Kok popcornnya cuma satu?" tanya Mutia heran.
"Sengaja, biar romantis kayak di tv-tv. Gak sengaja tangan kita barengan ambil terus gitu deh," ucap Denis dengan menaikturunkan alis.
"Ngimpi!" Mutia meninggalkan Denis yang sedang tertawa lebar.
Sejujurnya, Mutia tak terlalu suka film hollywood, selain dia malas membaca subtitle, pasti di filmnya nanti akan banyak adegan panasnya dan sialnya lagi, dia sedang nonton bersama si om mesum. Mutia menyesal kenapa tadi tak memilih menonton film indonesia saja.
Film diputar, mau tak mau Mutia menyaksikan film dengan serius. Dan benar saja dugaannya, di tengah-tengah film adegan nganu bermunculan.
"Sayang," panggil Denis padanya.
"Hmmm," jawab Mutia tanpa menoleh kepadany.
"Ciyee, yang udah biasa dipanggil sayang." Mutia menoleh, menatap malas pada Denis.
Gadis itu kembali lagi melihat kedepan, tak peduli dengan ocehan Denis.
"Sayaang." Panggil Denis lagi. Tak ada sahutan dari Mutia.
"Sayaaang," panggil Denis dengan suara manja.
"Apa lagi sih?" sahut Mutia dengan gemas.
"Mau praktek adegan itu sendiri gak?" Denis menaik turunkan alis sembari tersenyum manis.
Mutia melihat lagi ke depan, memperlihatkan adegan ciuman yang di tampilkan pada film tersebut. Dia mendelik, lantas melihat ke arah Denis yang susah menutup mata sembari memonyongkan bibirnya.
Astaga, lelaki ini benar-benar membuat kewarasan Mutia teruji.
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa