Wrenny Saragih, wanita berusia 30 tahun yang mewujudkan ambisinya menjadi pengacara di hadapkan pada kisah masa lalu yang mengganggu Hidupnya.
Dominic Sinatria, lelaki bodoh yang menganggap istrinya juga mencintainya.
Alur maju mundur. Diharapkan jika membaca harus teliti di setiap narasi.
Enjoy it ! Thanks....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
'KAMU JAHAT'
Wren sedang sibuk menempelkan koyo' yang sudah digunting menjadi ukuran yang lebih kecil di pelipis kiri dan kanan. Koyo' berukuran besar di tempel di tengkuk. Rasa hangat koyo' yang menjalar di tubuhnya berguna untuk merelaksasi pikirannya.
Dua hari ini, Wrenny menganggur karena firma tempatnya magang tiba-tiba memberikan surat pemutusan kerja terhitung sejak surat itu sampai ke tangannya.
Ini sangat mendadak bahkan Wren sendiri tidak tahu penyebab kenapa kantor memberhetikannya secara sepihak. Selama ini kinerjanya baik-baik saja. Jika senior advokat memintanya untuk bertemu klien dan bekerja lembur membuat berkas pembelaan beratus-ratus lembar, dia ikhlas mengerjakannya tanpa mengeluh.
Gadis itu hanya bisa diam tidak memprotes keputusan firma. Yang dia pikirkan, bagaimana kelanjutan hidupnya di Jakarta? Bagaimana nasib ibunya di kampung? Semenjak Wren memasuki semester akhir, ibunya sering sakit dan tidak kuat bekerja Lagi. Wren kini sudah lulus dan sekarang gilirannya untuk menopang hidup ibunya.
Selain stress karena kehilangan pekerjaan, Wrenny juga di hadapkan pada masalah pelik Kalinda dan Dominic. Secara mengejutkan, Kalinda meminta dirinya untuk menikah dengan Dominic.
Jangankan saling bicara selayaknya teman, bahkan untuk menyukai Dominic saja tidak terlintas di Pikirannya. Dan kini, Kalinda menginginkannya menikahi pacarnya.
Jika Wrenny mengaggap ini hanya bercanda, Kalinda sudah melewati batas. Tidak seharusnya Wren ada dalam pusaran masalah mereka.
"Masih banyak cara lain untuk membalas semua kebaikan kamu selama ini Kalinda. Tapi ini enggak masuk akal. Kenapa harus aku?" Wrenny menatap serius Kalinda di seberang meja.
Dominic lebih dulu walk out dari cafe tempat mereka bertemu dengan wajah merah padam. Dominic mengira, masalahnya sudah selesai karena pria itu memutuskan tidak akan menyetujui permintaan Papa. Meskipun harus berdosa karena kualat dengan orang tua.
"Aku enggak mengharapkan kamu membalasnya dengan materi. Aku cuma ingin kamu membantu aku menyelesaikan masalah Dominic"
Wrenny menghela nafas kasar membuang pandangan ke jendela . Diluar masih hujan deras dan bahkan angin bertiup cukup kencang. Gadis itu lupa jika sahabatnya adalah orang yang tidak pernah bermasalah dengan uang. Kalinda tidak akan membutuhkan uang recehan dari hasil keringat Wren.
"Dengan pernikahan gila? Ini enggak masuk akal Kalinda. Kamu temenku dan aku nikahin pacar kamu??"
Wren takut dengan opini orang-orang di luar sana tentang dirinya. Bisa-bisa dirinya dicap pelakor teman sendiri. Hidup di Jakarta sebagai warga pendatang sudah membuatnya terkena beban mental, apalagi jika di cap PELAKOR??
"Semua bisa terjadi Wren. Keadaan yang memaksa aku dan Domi mengambil langkah ini"
"Dan pacar kamu juga enggak setuju dengan solusi gila dari kamu." Cibir Wren yang melihat dengan matanya sendiri jika Dominic bertambah membencinya.
Kalinda meraih tangan dingin Wren dan menggenggamnya di atas meja.
"Sekali ini aja Wren. Bantu Aku. Kamu tahu kan Papa Dominic sedang kritis, Domi harus segera menikah untuk memenuhi permintaan terakhir Papanya. Sedangkan aku, tidak di harapkan oleh keluarganya. Setelah semua keinginan Papa terpenuhi dan Dominic mendapatkan haknya , kamu bisa mengakhiri pernikahan ini. Coba pikirkan Wren, kamu akan menerima kompensasi dari aku dan Domi. Perusahaan Papaku juga akan memberikan kamu beasiswa S2 ke universitas yang kamu mau. Kapan lagi kamu bisa mewujudkan impian kamu kalau enggak dari sekarang?"
"Tapi Lin, ini berat bagi aku. Aku enggak mungkin menghianati kamu" Wrenny meremas genggaman tangan Kalinda. Gadis itu merasa cemas. Dengan menikahi Dominic, dirinya akan mendapatkan uang yang di janjikan Kalinda beserta beasiswa untuk melanjutkan S2. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Meskipun menentang hati nuraninya sendiri.
"Banyak cewek di luar sana yang enggak akan mikir dua kali untuk menerima penawaran Ini. Aku bisa cari di tempat lain. Tapi apa bisa aku percaya sama mereka??" Kalinda menatap lekat sahabat dengan mata sayunya. Terlihat dari wajahnya jika dia juga berat melepas Dominic.
"Kamu adalah orang yang paling aku percaya Wren. Karena kamu enggak akan menghianati aku"
Pembicaraan mereka di tengah cuaca buruk membuat Wren frustasi. Gadis itu meringkuk dengan memeluk lututnya. Ketakutan menggelayuti pikirannya. Keadaan juga tidak berpihak kepadanya.
Wren melirik kearah meja belajar yang ada disisi ranjang. Disana ada map berwarna merah dan buklet berbahasa Inggris dari beberapa universitas ternama. Tangan Wren menjulur meraih map beserta brosur. Setelah Kalinda menyerahkan map ini, Wren sama sekali belum pernah membacanya.
Dengan ragu Wren mulai membuka map untuk membaca isinya. Dan ini adalah formulir pengajuan beasiswa. Di kop formulir, tertera nama perusahaan Kalinda yang begitu terkenal.
"Wren, kalau kamu setuju bantuin aku, formulir ini pasti akan langsung di setujui oleh Papa. Tidak perlu menunggu seleksi dan ujian."
Kampus yang diinginkan begitu dekat di depan mata ketika Wrenny membaca formulir dan surat pengajuan ini. Terbayang jika dia bisa kuliah menempuh S2 seperti impiannya. Menjunjung martabat ibunya yang hanya buruh perkebunan. Menjadi pengacara dan membantu banyak orang. Karirnya harus dimulai sekarang.
Namun saat itu juga, harga dirinya jatuh di dasar jurang. Menikahi pacar sahabat sendiri yang begitu baik menerimanya sebagai teman bahkan saat Wren menjadi gembel. Bagaimana perasaan Kalinda?
Ponsel yang masih diisi daya di atas karpet bergetar karena ibunya di kampung menelpon.
"Assalamualaikum Mak..." Sapa Wren dengan suara tegas. Diaa tidak mungkin terlihat lemah saat ini atau ibunya akan curiga jika Wren punya masalah.
"Waalaikumsalam, gimana kabar kamu Wren?" Tanya mamak dengan intonasi riang.
"Kabar Wren baik Mak. Tapi mamak jangan kaget ya, Wren mungkin akan terlambat kirim uang ke mamak karena Wren dapat banyak hari libur" Wren harus jujur jika dirinya tidak bisa mengirim uang dalam waktu dekat. Namun tidak tega juga berterus terang kalau dia di berhentikan secara sepihak oleh firma.
"Enggak apa-apa kok Nak. Malah bagus kamu banyak hari Libur. Jadinya kan kamu bisa pulang...." Mamak malah tertawa mendengar anaknya terlambat mengirim uang bahkan mendapat libur yang banyak.
Mendengar kata 'pulang' membuat Wren kian miris. Uang di tabungannya cukup untuk menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Rantau Parapat. Tapi Wren masih ingin mencoba peruntungan lain dengan mencari pekerjaan baru.
"Emang di rumah mau ada acara apa Mak? Wrenny kan dua bulan lalu udah pulang kampung?" Biasanya, di kampungnya sering sekali mengadakan hajatan. Mungkin saja kan sepupunya ada yang menikah dan ingin Wren juga hadir.
"Sebenarnya mamak ada berita bagus buat kamu. Tapi gimana ya, mamak bingung ngomongnya kayak mana" Mamak terdengar berdecak lidah.
"Kalau berita bagus harusnya mamak lancar ngomongnya" Wren menimpali dengan senyuman.
"Wren, kamu masih ingat kan sama Tulang Togar?"
Tulang Togar? Togar marga apa? Wrenny banyak mengenal nama Togar di kampung. Tapi yang di panggil Tulang cuma ada satu. Beliau adalah teman almarhum Bapak di Samosir.
"Togar Marpaung Mak?" Seingat Wrenny, Tulang Togar bermarga Marpaung.
"Iya, benar Wren" Mamak senang Wren mengingatnya
"Emangnya ada apa Mak sama Tulang Togar?" Wren mendadak mencurigai sesuatu. Setahu Wrenny , Tulang Togar itu duda. Dari nada bicara Mamak yang terlihat senang, apakah Mamak dilamar Tulang Togar??
"Tulang Togar kemarin datang ke rumah kita"
Hampir benar tebakan Wren. Senyum mengembang di bibir Wren. Jika benar Tulang Togar melamar Mamaknya, tentu saja Wren setuju dan ikut Bahagia. Tulang Togar orang yang baik. Beliau juga perhatian dengan keluarganya. Apalagi setelah Bapak meninggal, Tulang Togar memperlakukan Wren seperti anak sendiri. Lagipula, Mamak juga berhak bahagia. Di hari tuanya, Mamak pasti butuh teman. Menikah di usia Mamak, bukan karena dorongan naf*su, tapi merka ingin punya pasangan tempat mereka bisa berbagi. Wren juga bersalah meninggalkan Mamak untuk melanjutkan cita-cita.
"Tulang Togar kerumah kita ada perlu apa Mak?" Wren sudah tidak sabar namun tidak mau langsung menuduh mamak dilamar. Gadis itu ingin mendengar secara langsung dari mamaknya.
"Tulang Togar..." Mamak menjeda kalimatnya. "Datang bertamu secara baik-baik dengan niat melamar"
Wren menutup mulutnya untuk menyembunyikan rasa bahagia atas kabar baik dari mamaknya. Dia tidak ingin terdengar terlalu bahagia atau langsung menggoda mamaknya.
"Melamar siapa Mak? Tulang Togar melamar Mamak?" Wren hampir tertawa cekikikan.
"Tulang Togar datang kerumah kita melamar kamu untuk Daniel, anak sulungnya"
Mimik bahagia Wren berubah menjadi sendu. Mulut Wren terkatup beberapa Saat. Suaranya tercekat di tenggorokan, nyawanya terlepas dari raga. Kabar bahagia untuk Mamak tapi buruk baginya.
"Wren?"
"Wren?"
"Wrenny?"
Tiga kali Mamak di seberang memanggilnya. Tanpa pamit, Wren menekan tombol merah. Sambungan telponpun berakhir.
🐞🐞🐞🐞🐞
"Non Kalinda enggak makan dulu?" Tanya Bi Sarmi, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumahnya sedari Kalinda kecil.
"Saya enggak lapar Bi." Tolak Kalinda seraya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.
Bik Sarmi menatap sedih anak majikannya yang akhir-akhir ini kehilangan selera makan. Biasanya Kalinda tetap makan walau sedikit. Malah, dia bisa makan banyak jika ada makanan kesukaannya. Bik Sarmi, yang sudah lama bekerja untuk keluarga ini bukan tidak curiga dengan anak majikannya. Kelihatan sekali jika Kalinda sedang tertimpa masalah.
Kalinda membuka pintu kamar, melepas sepatu higheels hitamnya dan segera merebahkan diri ke ranjang. Tubuhnya diam, matanya memandang plafon kamar. Hanya dadanya yang bergerak naik turun perlahan dengan ritme teratur.
"Harusnya, aku senang enggak dapat restu dari Papanya Domi" Kalinda menggumam. Tubuhnya berbalik dengan posisi tengkurap. Tangannya menjulur untuk mengambil ponsel yang terselip di bawah bantal.
Kalinda tiba-tiba ingin membuka galery di ponselnya. Gadis itu ingin melihat foto-foto yang diambilnya bersama Dominic. Ada beratus-ratus foto mereka berdua tersimpan disana.
Dominic, pria pertama yang menyatakan cinta padanya. Pria yang dianggap gila karena bertahun-tahun mengejarnya. Dominic, pria yang membuktikan jika cintanya tulus. Kalinda memang bahagia di cintai pria baik dan setia seperti kekasihnya ini. Dominic tidak kehabisan ide untuk membuat hubungan mereka terasa berwarna. Sebenarnya selera humornya garing, namun pria itu berusaha membuat Kalinda tertawa. Pria yang juga pernah di tampar Papa karena berani mendekati anak gadisnya. Papa Kalinda dan Papa Dominic tidak pernah setuju dengan hubungan mereka berdua. Kalinda tidak mengetahui latar belakang mereka sama-sama kompak.
Senyum Kalinda mengembang saat melihat protetnya bersama Dominic merayakan ulang tahun Kalinda setahun lalu. Pria itu memberikan cincin sebagai hadiah. Dominic tidak bermaksud melamarnya. Cincin itu hanya sebagai tanda jika Dominic tidak main-main dengan cintanya.
Jika Dominic menentang Papanya dengan menikahi Kalinda, kekasihnya akan kehilangan harta, posisi, dan hak waris dari Papanya. Dan Jantaka akan mengambil alih semuanya. Kalinda pernah mengingatkan agar berhati-hati dengan adik beda ibunya itu, tapi Dominic selalu berfikir positif jika Jantaka tidak akan merebut posisinya. Itu tidak bisa di biarkan.
Satu-satunya jalan keluar agar Dominic mendapatkan keduanya adalah menikah dulu dengan seseorang. Dan pilihannya jatuh pada Wrenny. Kenapa harus Wrenny? Jawabannya, pertama Wrenny sangat ingin melanjutkan pendidikannya hingga S2. Cita-citanya ingin jadi pengacara handal. Namun Wrenny tidak punya uang atau akses untuk mendapatkan beasiswa bergengsi. Kalau ada, seleksinya pasti sangat rumit dan saingannya juga tidak sedikit.
Kedua, Wrenny adalah orang yang bisa di percaya. Dia disiplin waktu. Jika bosnya meminta dia hadir jam 7 pagi, dia akan datang 15 menit sebelumnya. Jangankan untuk bos yang menggajinya, untuk Kalinda saja dia tidak pernah terlambat. Dengan kata lain, Wrenny paham aturan main.
Ketiga, dengan fisik Wrenny yang kurus dengan mata cekung, penampilan sederhana tanpa make up berlebih, dan rambut pendek tidak akan membuat Dominic tergoda. Meskipun Wrenny mempunyai prestasi yang bagus, itu bukan nilai plus yang Dominic inginkan. Buktinya, Kalinda yang sering mengulang mata kuliah dan hampir jadi mahasiswa abadi tetap bertahta di hati Dominic.
Dan yang terakhir, Wrenny punya hutang budi dengannya. Kalinda bisa berdalih jika ini sekedar membalas budi. Setelah Dominic mendapat apa yang menjadi haknya, mereka harus bercerai.
Tidak mungkin Dominic menikahinya jika pria itu sudah kehilangan semuanya?
🐞🐞🐞🐞🐞
Untung sayang Kalinda......
makasih masih inget wreni belum beres ini, penasaran sampe novel mu yang lain aku baca ulang🤣👍
masih menunggu thor,,,miss uuuuuu😍😘
kak akan dilajut kah