"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Pertahanan Jendral
"Apa kau sedang menggodaku, Cla?"
Suara bariton Reymond terdengar begitu rendah dan parau, bergetar di antara uap panas yang mengepul di kamar mandi. Sepasang mata elangnya tidak berkedip sedikit pun, mengunci manik mata Claudia dengan intensitas yang sanggup membuat jantung wanita mana pun berhenti berdetak.
Claudia tidak gentar. Ia justru menyandarkan kepalanya ke sisi bak mandi porselen, menatap balik suaminya dengan binar mata yang sayu namun penuh tantangan. "Apa kau tergoda?" bisiknya balik, sebuah pertanyaan retoris yang mematikan. "Entah kenapa... aku justru sangat berharap kau tergoda, Rey."
Jawaban itu bertindak bagai pemantik api yang dilemparkan ke dalam gudang mesiu. Seluruh kendali diri dan disiplin militer yang diagungkan Reymond Oliver Smith menguap tanpa bekas dalam satu detik.
Tanpa aba-aba, Reymond menjatuhkan lututnya ke lantai marmer yang basah, mensejajarkan tinggi tubuh tegapnya dengan bibir bathtub. Tangannya yang besar dan hangat terulur, bergerak membelai lembut rambut panjang istrinya yang basah dan terkulai di luar bak. Sentuhan itu terasa kontras—jemari kasar seorang prajurit di antara helaian rambut selembut sutra.
Perlahan namun pasti, belaian tangan Reymond menjalar turun, melewati ceruk leher hingga berhenti di bahu polos Claudia yang beruap hangat. Sifat posesifnya mengambil alih. Dengan satu gerakan cepat dan tak terduga, Reymond menyusupkan lengannya ke balik air, meraih pinggang ramping Claudia, dan menarik tubuh wanita itu secara paksa ke atas permukaan air.
Kelopak mawar yang tadinya menutupi tubuh Claudia terlempar menjauh. Detik itu juga, seluruh bagian depan tubuh indah istrinya terekspos sempurna tanpa penghalang apa pun di depan mata Reymond.
Reymond terdiam sesaat, seolah sedang merekam setiap detail ekspresi Claudia di bawah cahaya lampu yang temaram. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar ketertarikan fisik; ada pengakuan akan kerentanan yang selama ini mereka sembunyikan di balik topeng masing-masing. Ruangan itu terasa semakin sempit oleh ketegangan yang menyesakkan namun memabukkan.
Ia menarik Claudia lebih dekat, hingga jarak di antara mereka hilang sepenuhnya. Aroma mawar yang bercampur dengan uap hangat seolah menjadi tabir yang memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh dengan intrik politik dan ancaman militer. Di saat itu, Reymond bukan lagi seorang jenderal yang dingin, dan Claudia bukan sekadar pion dalam permainan kekuasaan.
Reymond menyandarkan dahinya ke dahi Claudia, napas mereka menderu tidak beraturan. "Kau selalu tahu cara meruntuhkan pertahananku," gumamnya parau. Ia kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut namun penuh penekanan, sebuah janji yang lebih kuat dari kata-kata.
...***...
Cahaya matahari siang yang terik terhalang oleh gorden beludru tebal, hanya menyisakan pendar keemasan redup yang menerangi kamar tidur utama. Claudia perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Rasa kantuk yang luar biasa masih menggelayuti kesadarannya, namun sensasi pertama yang ia rasakan saat terbangun adalah kehangatan protektif yang melingkupinya.
Claudia terbangun di siang hari yang bising, tetapi di dalam kamar ini, dunia seolah berhenti. Ia menyadari dirinya masih tenggelam di dalam pelukan erat Reymond.
Detik itu juga, seluruh tubuh Claudia meremang. Sisa-sisa hubungan badan mereka yang intens semalam masih terasa sangat nyata di setiap jengkal kulitnya. Sendi-sendinya terasa sedikit linu, dan ada rasa hangat yang tertinggal, menandakan betapa liarnya malam yang baru saja mereka lewati bersama.
Wajah Claudia seketika bersemu merah padam, menyala hingga ke ujung telinga saat memori di dalam bak mandi porselen berputar otomatis di otaknya. Sensasi air hangat yang bergolak, aroma mawar yang memabukkan, dan bagaimana kulit kasar pria itu menyentuhnya tanpa ampun membuat napas Claudia kembali memburu.
Namun, kejadian itu tidak berhenti di kamar mandi.
Kenangan semalam berlanjut bagai mimpi panjang yang tak berujung. Setelah Reymond membawanya keluar dari bak mandi, pria itu membaringkannya di atas ranjang hitam ini. Permainan panas mereka terus berlanjut hingga fajar menyingsing, dan mereka baru benar-benar tertidur saat matahari pagi mulai terbit.
Seolah-olah, suaminya itu sama sekali tidak mau berpisah darinya bahkan untuk satu detik pun. Claudia mengingatnya dengan jelas; setiap kali mereka sempat tertidur sejenak lalu terbangun karena gerakan kecil, Reymond lagi-lagi menyetubuhinya dengan gairah yang sama besarnya, memenjarakan tubuhnya di bawah kuasanya berulang kali. Jenderal agung itu seolah memiliki stamina yang tak terbatas, seperti tidak ada capeknya.
Claudia bergerak sedikit, mencoba mengendurkan cengkeraman lengan kokoh Reymond yang melingkari pinggang polosnya di balik selimut. Namun, gerakan selembut apa pun dari Claudia langsung memicu insting waspada sang Jenderal.
Reymond mengerang rendah, suara baritonnya yang parau dan khas orang baru bangun tidur terdengar sangat maskulin di ceruk leher Claudia. Bukannya melepaskan, lengan berurat itu justru semakin menarik tubuh Claudia hingga bokongnya menempel rapat pada kejantanan Reymond yang kembali menegang karena sentuhan pagi—atau siang—itu.
"Mau ke mana, Wife?" bisik Reymond serak, menanamkan kecupan dalam di bahu Claudia yang dipenuhi tanda kemerahan hasil mahakaryanya semalam.
Claudia menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang nyaris lolos. "Ini sudah siang, Rey... Kau harus bekerja," cicit Claudia, mencoba memakai sisa-sisa logikanya, meskipun gesekan kulit mereka di balik selimut mulai kembali mengaburkan akal sehatnya.
Reymond terkekeh pendek, sebuah suara langka yang terdengar sangat seksi. Ia membalikkan tubuh Claudia dengan mudah agar mereka saling berhadapan, memaksa mata sayu istrinya menatap langsung manik mata elangnya yang kini kembali menggelap penuh gairah yang familier.
"Markas militer bisa menunggu satu hari lagi," gumam Reymond rendah tepat di depan bibir ranum Claudia. "Tapi istriku yang sering menggoda ini... tidak bisa kutinggalkan."
"Kau sungguh berbahaya, Rey."