NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan yang Tidak Pernah Dicari

Malam setelah acara penghargaan berakhir, Joyce pulang ke apartemennya dengan hati yang cukup tenang. Hidupnya kembali berwarna ceria. Kariernya mulai pulih. Klien kembali percaya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hidup terasa sedikit lebih ringan.

„Puji syukur... aku sudah bisa melewati badai.. Hari-hariku kembali normal.”

Setelah merapikan barang bawaannya, dia membersihkan wajah ke wastafel. Ia bermaksud akan langsung beristirahat, karena pagi hari sudah harus mengisi acara di JW Marriot. Tepat pukul sebelas malam, ketika ia sudah siap untuk tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat sekilas, dan nomor yang tidak dikenal. Dia mengabaikan karena tidak mengenali pemanggil. Tetapi panggilan itu masuk tiga kali berturut-turut. Akhirnya dengan agak malas, ia mengangkat.

"Halo?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara napas berat. Lalu...

"Joyce?"

Tubuhnya langsung menegang. Suara itu asing. Tapi dia tidak mengenali suara itu. Dia sampai mengerenyit dan terdiam beberapa saat. Namun anehnya terasa familiar. Dengan hati-hati, akhirnya..

"Saya Joyce."

Dengan siapa?"

Hening. Beberapa detik. Lalu terdengar suara seorang perempuan paruh baya yang bergetar.

"Akhirnya..."

Perempuan itu menangis.

"Akhirnya saya menemukan kamu."

Jantung Joyce berdetak lebih cepat.

"Maaf, anda siapa?"

“Kenapa anda menangis.?”

Namun jawaban berikutnya membuat dunia seolah berhenti berputar.

"Joyce.. maafkan aku. Aku ibumu."

Sunyi. Total. Joyce bahkan lupa cara bernapas. Selama dua puluh sembilan tahun hidupnya... ia selalu percaya bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Itulah yang diberitahukan nenek yang membesarkannya. Itulah yang selama ini ia yakini. Lalu siapa perempuan ini?

„Maaf anda salah sambung, aku tidak mengenalmu?”

"Aku tahu kamu membenciku."

Suara di seberang terdengar penuh tangis.

"Tapi aku mohon... beri aku kesempatan menjelaskan."

Joyce berdiri perlahan. Tubuhnya mulai gemetar.

"Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda."

"Orang tuaku sudah meninggal."

Tangisan perempuan itu semakin keras.

"Tidak."

"Demi Tuhan, tidak."

Kalimat berikutnya menghancurkan seluruh fondasi hidup Joyce.

"Aku meninggalkanmu kala itu. Dan itu semua karena aku terpaksa Joyce.."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Joyce merasa dunianya runtuh bukan karena cinta. Bukan karena Arka. Bukan karena Jessica. Tetapi karena sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani ia tanyakan. Jika ibunya masih hidup... lalu kenapa ia ditinggalkan? Joyce duduk terpekur diatas ranjang. Kedua kakinya terangkat, dengan kedua lutut ke atas. Tangannya memeluk  kedua lututnya.

Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.

*******************

Di tempat lain.

Ratih sedang membaca laporan pribadi yang baru diterimanya. Laporan tentang Joyce. Tanpa sepengetahuan dan seijin Joyce, Ratih mengirimkan informan untuk menyelediki semua yang terkait dengan gadis itu. Namun.., matanya tiba-tiba berhenti pada satu halaman. Halaman yang selama ini tidak ditemukan.

Data Kelahiran. Nama ibu kandung: Maya Prameswari

Ratih membeku. Tangannya bergetar. Karena nama itu bukan nama asing. Nama itu berasal dari masa lalu yang selama puluhan tahun berusaha ia lupakan. Dan untuk pertama kalinya... wanita tua itu terlihat pucat.

"Mustahil..." bisiknya.

„Kenapa bisa terjadi seperti ini..”

“Mmmpph.. ataukah ini hanya karena kebetulan saja. Atau..?”

Karena jika dugaannya benar... maka Joyce bukan hanya terhubung dengan Ardian. Tetapi juga menyimpan rahasia keluarga yang bisa mengguncang keluarga Mahendra. Dan rahasia itu baru saja bangkit dari masa lalu.

Perempuan tua itu terlihat letih, dan mendadak dadanya bergemuruh. Perlahan dia mengambil ponsel, dan terlihat tengah menelpon seseorang.

“Bagaimana kamu mendapatkan info itu, dan apakah dipastikan valid?”

“Valid nyonya besar.. Anggota tim saya kita bagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan penelusuran. Dan setelah melakukan investigasi dengan beberapa saksi, laporan yang sekarang ada di tangan nyonya besar saya pastikan valid.”

Mendengar penjelasan itu, Ratih gemetar tubuhnya, Bahkan tanpa sadar, ponselnya terjatuh ke bawah.

**************

Sejak menerima telepon misterius itu, Joyce tidak pernah benar-benar tenang. Ia tetap bekerja. Ia tersenyum. Ia menghadiri rapat. Ia menjawab pesan klien. Namun pikirannya terus kembali pada satu hal.

"Aku ibumu."

Kalimat itu seperti hantu yang terus mengikutinya ke mana pun ia pergi. Dan terus terngiang di telinga. Ia belum membalas pesan Maya. Belum menelepon kembali. Juga belum menyetujui pertemuan. Karena semakin dekat ia pada kebenaran, semakin besar ketakutan yang dirasakannya.

“Bagaimana jika semuanya benar?”

“Bagaimana jika selama ini hidupnya dibangun di atas kebohongan?”

Dan yang paling menakutkan..., “Bagaimana jika ibunya memang sengaja meninggalkannya?”

Pertanyaan yang memenuhi kepalanya, itu membuat Joyce beberapa kali tidak fokus.

Tiba-tiba Ardian mengirim pesan.

“Sudah makan?”

Pesan sederhana. Namun entah mengapa membuat Joyce menatap layar lebih lama. Karena beberapa hari terakhir hanya Ardian yang bertanya tentang dirinya. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang proyek. Bukan tentang acara. Tetapi tentang dirinya. Joyce membalas singkat.

“Belum.””

Tak lama kemudian balasan masuk.

“Saya jemput.”

Joyce biasanya akan menolak. Namun hari itu... ia terlalu lelah untuk sendirian.

***************

Beberapa saat kemudian

Ardian membawa Joyce ke sebuah restoran kecil yang tenang. Bukan tempat mewah. Bukan tempat yang dipenuhi kamera. Hanya sebuah sudut nyaman yang menghadap taman. Ardian langsung menyadari sesuatu. Joyce terlihat baik-baik saja. Tetapi matanya tidak. Ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Ada beban yang bahkan senyumnya tidak mampu tutupi.

"Kamu kurang tidur."

Joyce tersenyum kecil.

"Kelihatan ya?"

"Sangat."

Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah. Namun Ardian tidak melanjutkan pertanyaannya. Pelayan menghidangkan beberapa menu di depan mereka. Mereka langsung menikmati makanan dengan pelan. Tidak banyak percakapan. Namun anehnya tidak terasa canggung. Justru nyaman. Seperti dua orang yang tidak perlu memaksakan apa pun. Sampai akhirnya Ardian meletakkan gelasnya.

"Joyce."

"Hm?"

"Ada sesuatu yang mengganggumu."

Bukan pertanyaan. Sebuah pernyataan. Dan itulah yang membuat pertahanan Joyce perlahan runtuh. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Biasanya selama ini semua orang selalu bertanya:

"Kamu baik-baik saja?"

Lalu langsung menerima jawabannya. Tetapi Ardian tidak. Ardian melihat lebih dalam.

"Aku dapat telepon."

Akhirnya Joyce membuka suara. Ardian tidak memotong. Tidak menyela. Hanya mendengarkan  dan melihat ke mata gadis di depannya.

"Dari seseorang."

Joyce menganggukkan kepala, kemudian…

"Seseorang yang bilang kalau dia ibuku."

Untuk pertama kalinya ekspresi Ardian berubah. Namun ia tetap diam. Memberi ruang bagi Joyce untuk melanjutkan.

"Aneh ya?"

Joyce tertawa kecil. Namun sudut matanya mulai menitikkan air mata. Tanpa suara, Ardian melipat tissue kemudian mengusap air mata.

"Seumur hidup aku percaya kalau orang tuaku sudah meninggal."

“Dan selama ini, aku dibesarkan di panti asuhan..”

Joyce mulai terisak. Dan tangannya mulai memainkan sendok di atas meja. Gelisah.

"Aku sudah berdamai dengan itu."

"Aku sudah menerima kenyataan itu."

“Dan aku sudah bahagia dengan kenyataan hidup yang aku terima selama ini.”

Suaranya semakin pelan.

"Lalu tiba-tiba seseorang datang dan bilang semuanya tidak benar."

“Dan membuat pernyataan, dengan mengaku sebagai ibuku..”

“Apakah itu adil untuk diriku..?”

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!