Dua keluarga yang terlibat permusuhan karena kesalahpahaman mengungkap misteri dan rahasia besar didalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagerNulisCerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penderitaan Part 1
Kantor Polisi
Di dalam sel yang sempit dan pengap itu, Aldi menjalani hari-hari paling menyedihkan dalam hidupnya. Vonis tiga tahun penjara yang dijatuhkan kepadanya bukan sekadar hukuman hukum—di tempat ini, itu adalah awal dari penderitaan yang sesungguhnya. Sejak hari pertama, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Setiap pagi, siang, hingga sore, tubuh dan mentalnya menjadi sasaran kekejaman para napi lain.
Hari ini pun tak berbeda. Bahkan terasa lebih buruk.
Bos napi di sel itu—bertubuh besar, berwajah kasar, dan bermata dingin—duduk bersandar di tembok dengan ekspresi malas. Tatapannya menelusuri Aldi seperti sedang menilai barang rusak.
Dengan satu gerakan tangan, ia memanggil.
“Heh, anak ingusan. Sini,” katanya sambil menepuk pahanya keras.
“Pijitin gue.”
Nada suaranya bukan permintaan. Itu perintah mutlak.
Aldi menelan ludah. Tubuhnya gemetar, namun ia tak punya pilihan. Dengan langkah ragu, ia mendekat lalu mulai memijat bahu sang bos napi, tangannya bergetar menahan takut.
Belum sempat ia bernapas lega, sebuah dorongan keras menghantam tubuhnya.
Aldi terhempas ke dinding sel.
“Lu gob*ok apa gimana, hah?” bentak sang bos, berdiri mendekat.
“Segitu doang? Kurang keras!”
Ia melirik salah satu anak buahnya.
“Wan, kasih paham tuh anak.”
Wawan menyeringai, berdiri dari tempatnya.
“Siap, Bos.”
“Sini lu.”
Tanpa memberi kesempatan, Wawan menarik Aldi kasar. Pijatan berubah menjadi siksaan. Tekanan yang tak wajar, injakan, dan perlakuan kasar membuat Aldi meringis, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Ampun… Tuan… ampun…”
Suaranya pecah, hampir tak terdengar di antara desakan napasnya sendiri.
Wawan mendengus sinis.
“Ngapain nangis, hah?”
“Nggak cocok sama kelakuan lu dulu.”
“Dasar… PEDO*FIL.”
Kata itu dilemparkan seperti pisau.
Sang bos mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
“Udah, Wan.”
“Bawa dia ke sini.”
“Suruh pijitin gue lagi.”
Aldi yang sudah hampir tak sanggup berdiri, dipaksa mendekat. Tangannya kembali bekerja, kali ini lebih keras—bukan karena ia mau, tapi karena takut.
“Cepet!”
“Yang kenceng!”
Beberapa detik berlalu.
Bos napi menyeringai puas.
“Nah… gitu dong.”
“Katanya lu juga doyan sama cow*k, ya?”
“Menarik…”
Nada suaranya membuat bulu kuduk Aldi meremang. Ia hanya bisa menunduk, pikirannya kosong, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya
Di Sudut Lain
Dari balik pintu sel yang sedikit terbuka, seorang pria misterius berdiri diam. Wajahnya tertutup masker, matanya tersembunyi di balik kacamata gelap. Namun dari bahasa tubuhnya, terlihat jelas—ia menikmati setiap detik penderitaan itu.
Seorang penjaga berdiri di sampingnya, menunggu instruksi.
Pria misterius itu berbisik, suaranya dingin namun sarat kebencian.
“Itu belum seberapa, Aldi.”
“Apa yang kamu lakukan dulu… jauh lebih biadab.”
Ia mengepalkan tangan.
“Karena itu, aku akan pastikan kamu merasakan semuanya.”
“Rasa takut.”
“Rasa sakit.”
“Dan keputusasaan yang sama seperti yang korbanmu alami.”
Penjaga itu menoleh ragu.
“Bagaimana, Bos?”
“Masih kurang?”
Pria misterius menggeleng pelan.
“Sementara cukup.”
“Saya ingin dia menderita.”
“Pelan-pelan.”
Nada suaranya bergetar tipis—emosi yang lama terpendam.
“Sampai mati.”
Flashback Dimulai
Jeritan itu masih terngiang.
“Ampun, Al… ampun…”
“Jangan, Al!”
Itu suara Andra—penuh ketakutan, putus asa.
Aldi berdiri di hadapannya dengan mata liar, pikirannya sudah tidak waras. Senyum bengkok terukir di wajahnya.
“Enak aja,” katanya dingin.
“Gara-gara lu, gue gagal tidur bareng Nisya.”
Ia melangkah mendekat.
“Jadi sebagai gantinya…”
“Lu yang gantiin Nisya malam ini.”
Aldi telah kehilangan akal sehat. Nafsu dan dendam bercampur menjadi satu.
“Jangan, Al… tolong…”
Jeritan Andra menggema, lalu teredam.
Beberapa waktu berlalu.
Aldi berdiri sambil tertawa kecil, napasnya berat.
“Oke.”
“Cukup puas.”
Ia menyeringai, matanya berbinar—tanda ide gelap kembali muncul.
“Kayaknya next time gue mau coba lagi.”
Ia menoleh ke arah teman-temannya.
“Kalian mau nyicip?”
Beberapa dari mereka tertawa. Beberapa ragu. Namun tidak ada yang menghentikan.
“Serius, Al?”
Teman-teman Aldi—kecuali Arga dan Vanes—menatap Andra dengan tatapan yang sama bejatnya.
“Serius.”
“Coba aja.”
Dan malam itu, semuanya berubah menjadi mimpi buruk.
Setelah semuanya berakhir, Andra terdiam. Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang gudang dekat kampus. Matanya kosong, pikirannya hancur. Trauma itu tertanam dalam—tak bersuara, tapi nyata.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan mereka, seorang pria menyaksikan semuanya dari kejauhan. Rahangnya mengeras, dadanya sesak oleh amarah.
Ia ingin bertindak.
Namun tak bisa.
Aldi terlalu kebal hukum.
Pria itu menatap Andra lama. Rasa iba bercampur dendam memenuhi hatinya.
Dalam diam, ia berjanji.
Aldi akan merasakan semuanya.
Satu per satu.
Flashback Berakhir
Pria misterius kembali menatap ke dalam sel. Suasana hening, hanya suara napas dan gesekan rantai.
Ia menoleh pada penjaga yang ia bayar.
“Lakukan yang saya minta malam ini.”
Nada suaranya tegas. Tak ada ruang untuk penolakan.
Penjaga itu mengangguk pelan.
Di dalam sel, Aldi tak tahu—
bahwa malam ini, penderitaannya baru saja akan dimulai.