Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permainan bayangan
“Di medan sunyi, setiap langkah bisa menjadi jebakan—dan bayangan selalu menunggu.”
HAPPY READING>.<.........
Fajar belum menyingkapkan sinarnya saat Xiao Mei dan Duke Wang menelusuri jalur sungai yang hampir kering.
Kabut tipis menyelimuti pepohonan,Suara daun bergesekan dengan angin terdengar seperti bisikan.
sementara aroma lumut basah menguar dari tanah retak, membuat setiap napas terasa berat membuat setiap gerakan tampak samar.
Suara angin yang menderu, aroma kayu terbakar tercium oleh indra penciuman.
Sensasi dingin menusuk kulit, udara lembap membuat baju menempel.
Kicau burung dan gemericik air yang tersisa menjadi satu-satunya iringan, menambah kesunyian yang menekan.
Xiao Mei mencondongkan tubuh, matanya mengikuti jejak yang nyaris hilang di tanah retak. “Ini semakin rapi… setiap desa, setiap gudang, setiap jalur air… semua diarahkan,” gumamnya, suara hampir terserap kabut.
Pikiran Xiao Mei tentang tekanan tanggung jawab dan rasa takut salah langkah.
Jika satu desa mulai curiga, efek domino bisa terjadi. Setiap kata warga bisa menjadi api yang menyebar lebih cepat daripada aliran sungai
Rasa curiga terhadap siapa pun yang terlihat “terlalu tenang” di desa.
Duke Wang menatapnya tajam. “Dalang ini bukan sekadar ahli strategi. Mereka tahu bagaimana kita berpikir, tahu langkah apa yang akan kita ambil. Permainan ini sudah disusun jauh sebelum kita sampai di sini.”
Mereka tiba di sebuah desa yang tampak tak tersentuh kekeringan. Namun, bila diperhatikan lebih seksama, beberapa sumur terkunci, beberapa lumbung terlihat kosong.
Warga desa menatap mereka dengan ragu, menunduk, berbisik-bisik, atau cepat menghilang saat Xiao Mei menatap.
Anak-anak bermain canggung di dekat sumur, tampak takut saat melihat pengawal. tidak berani bicara banyak.
Xiao Mei turun dari kudanya. “Siapa yang mengawasi distribusi air di sini?” tanyanya pada kepala desa yang tampak tua dan gemetar.
“Yang Mulia… aku hanya mengikuti perintah pejabat distrik,” jawab kepala desa, suaranya serak. “Kami tidak berani menyalahi.”
Duke Wang mengerutkan alis. “Perintah siapa? Catat semua yang kau ketahui. Tidak ada yang boleh dilewatkan.”
Xiao Mei mengambil catatan kepala desa, membandingkan dengan laporan dari gudang sebelumnya. Pola yang sama muncul: angka resmi tampak normal, tapi kenyataannya sebagian desa tidak menerima jatah. Ada tangan yang mengatur dari balik layar.
“Ini permainan bayangan,” ucap Xiao Mei pelan. “Setiap desa, setiap laporan… seolah rapi, tapi sebenarnya dimanipulasi.”
Duke Wang mengangguk. “Dan setiap gerakan kita dipantau. Mereka ingin kita percaya pada data palsu, agar kita membuat kesalahan.”
Mereka melanjutkan perjalanan ke hilir sungai, mengikuti jejak sumbatan air sebelumnya. Bekas sumbatan masih ada, tapi lebih terorganisir. Batu-batu besar dan kayu tersusun rapi, bukan sekadar menghalangi—tapi seakan mengirim pesan.
Duke Wang menatap dengan tegang, meresapi setiap pola sumbatan.
Gerakan cepat untuk memeriksa jejak kaki, melihat setiap detail sambil memberi perintah singkat ke pengawal.
“Ini… seperti mereka menantang kita,” kata Xiao Mei. “Bahkan sumbatan ini bukan sekadar memperlambat air.
Ini pesan: ‘Kami bisa mengatur semuanya, dan kalian tidak bisa menghentikan kami.’”
Duke Wang menatap batu-batu itu, wajahnya tegang. “Ya. Dan kita harus membuktikan sebaliknya. Setiap rintangan harus kita buka, setiap jejak harus kita ikuti.”
Malam semakin larut. Mereka tiba di pinggir hutan yang gelap, aroma tanah lembap bercampur dengan asap kayu yang terbakar samar, menempel di hidung, sementara suara serangga malam berdengung seperti alarm kecil.
jejak kaki samar di tanah retak, Beberapa bekas asap menandakan orang-orang itu baru saja lewat.
“Duke… mereka bergerak cepat,” bisik Xiao Mei, napasnya memburu.
Duke Wang menatap bayangan pepohonan, setiap gerakan dijadikan perhitungan. “Tidak ada ruang untuk ragu. Kita harus bergerak sekarang, tetap diam. Dalang ini memanfaatkan keributan untuk menutupi langkahnya.”
Xiao Mei mengangguk. Ia merasakan ketegangan di setiap otot tubuhnya. “Ini bukan sekadar masalah distribusi. Ini permainan politik. Mereka ingin menimbulkan keraguan terhadap kekaisaran, agar rakyat percaya kita lemah.”
Duke Wang mencondongkan tubuh, matanya menyapu sekeliling. “Dan kita tidak boleh membiarkan itu terjadi. Setiap desa harus aman, setiap laporan diverifikasi.”
Mereka masuk lebih dalam ke hutan, mengikuti jejak yang mulai terpecah. Dua jalur muncul, tapi mereka memilih yang lebih berat dilewati. Rasanya seperti jebakan—dan memang begitu.
Di antara pepohonan, suara langkah samar terdengar. Bayangan hitam bergerak cepat, menghilang sebelum bisa diidentifikasi. Xiao Mei menekankan tangan di pedangnya, napasnya memburu.
Apakah mereka menunggu kita salah langkah? Atau ini hanya jebakan untuk menguji kesabaran kita?”
“Kalau kita terlambat, mereka bisa menghilang lagi.”
“Dalang ini… dia menguji kita,” ucapnya. “Dia ingin melihat reaksi kita, menentukan langkah selanjutnya.”
Duke Wang mengangguk. “Benar. Tapi kita juga bisa membalikkan permainan ini. Kita harus sabar, menunggu, dan bergerak dengan strategi. Sekali kita menemukan pusat operasi mereka, seluruh jaringan bisa terbongkar.”
Xiao Mei menatap sungai yang mulai mengalir perlahan. “Setiap blokade, setiap laporan palsu, setiap manipulasi… semua ada tujuannya. Dan tujuannya jelas: memicu ketidakpercayaan, memecah rakyat, dan membuat kekacauan tampak alami.”
Duke Wang menepuk pundaknya. “Kita akan membuktikan bahwa tidak ada kekacauan yang lebih kuat daripada tekad dan strategi yang tepat. Permainan ini akan berakhir dengan kita menemukan dalang itu.”
Malam semakin sunyi. Pasukan beristirahat sejenak di tepi sungai, tapi bayangan di hutan tetap bergerak, menunggu, selalu satu langkah di depan.
Xiao Mei menutup mata sejenak, merasakan beban tanggung jawab,Setiap detik terasa seperti jamur, menekan dada. Bayangan itu bisa muncul di mana saja, dan satu kesalahan bisa membahayakan seluruh pasukan.
Ini bukan sekadar misi menyalurkan air. Ini adalah pertempuran untuk menjaga kepercayaan rakyat, menjaga stabilitas wilayah Timur, dan mencegah permainan bayangan menjadi kekacauan besar.
Dan di dalam gelapnya malam, satu hal menjadi jelas: dalang ini bukan hanya memainkan elemen fisik—air, gudang, distribusi—tapi juga psikologi rakyat. Mereka tahu kapan ketakutan akan muncul, kapan kebohongan diterima, dan kapan kita bereaksi.
Setiap langkah mereka harus tepat. Setiap keputusan harus cepat. Dan bayangan itu… masih tersembunyi, menunggu untuk menggerakkan bidak berikutnya.
Pasukan yang diam, napas tersengal, merasakan ketegangan yang menular.
Beberapa pengawal menahan napas, tangan menempel pada pedang,Seorang pengawal menatap temannya dengan mata yang hampir tak berkedip, seakan menunggu sinyal untuk menyerang atau mundur.
mata mengikuti setiap gerakan gelap di pepohonan.
Suara alam yang biasa menjadi menakutkan: ranting patah, hewan malam, gemericik air.
Bayangan hutan yang selalu tampak “bergerak sendiri” di pinggir mata.
BERSAMBUNG........
🔥Siapa sebenarnya yang bersembunyi dalam bayangan itu? 🤔
Apakah ini musuh lama, pengkhianat dari dalam, atau sesuatu yang lebih berbahaya?
Jangan lewatkan bab selanjutnya… karena rahasia yang selama ini tersembunyi akan mulai terbuka, dan langkah salah bisa menjadi bencana. 🔥👌
🔥 TEASER BAB 25 🔥
“Jejak yang hilang hanyalah awal… bayangan itu selalu satu langkah di depan.”
Xiao Mei menatap kabut pagi yang menutupi sungai, napasnya memburu.
Duke Wang mencondongkan tubuh dari kudanya, mata mereka menelusuri pepohonan yang samar.
Mereka harus menemukan dalang sebelum permainan ini menelan semuanya.
Siapakah yang mengatur semua ini? Bab 25 akan mengungkapnya!
_____________________________________________
Hai terus nantikan update Tan selanjutnya karna pasti bakal seru banget pokonya 👋😍🙏