Hehehe… jadi istri penurut, cengeng, penakut? Tidak buruk sama sekali. Setidaknya Jia bisa makan gratis tanpa kerja, cukup menumpahkan air mata, pasang wajah sedih dan imut… sambil tetap menggerakkan suami buasnya sesuka hati.
“Aku harus ke bengkel sebentar, sedikit lagi pekerjaan selesai,” Su Hao lalu berdiri, namun terduduk kembali. Ia menatap istrinya dengan serius, nada suaranya tegas.
“Jangan coba-coba kabur lagi, kalau berani…!”
Su Hao kemudian mencondongkan tubuhnya, mendekatkan mulut ke telinga Lu Jia dan berbisik:
“Kedua tungkaimu… akan ku jadikan bahan bakar besiku.” Ia pun berbalik lalu melangkah keluar rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smi 2008, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“ Yang paling sekarat "
🐦🐦
"Fuh... fuh... fuh..."
Suara hembusan napas terdengar berat dan teratur. Api di tungku itu keras kepala, seolah enggan tunduk pada perintah manusia. Su Hao sudah meniup berkali-kali, pipinya sedikit mengembung menahan napas, tapi yang keluar justru asap putih tebal yang memenuhi ruangan seperti kabut pekat yang menyengat mata, membuat pandangan sedikit kabur dan tenggorokan terasa gatal dan panas. Bara apinya masih malu-malu, hanya memancarkan cahaya merah samar, bermain-main dengan kesabaran pria itu.
Su Hao berniat memasak nasi dan merebus kuah mie hangat. Setelah urusan sepatu selesai, mereka sempat singgah di pasar hewan. Di sana, keranjang di punggung Su Hao perlahan terisi-kubis Cina yang masih dingin dan renyah, daunnya tebal mengkilap, lobak putih yang bersih dan keras, daun bawang yang hijau segar, dan satu kati daging merah yang masih basah berair, aromanya khas dan kuat, belum terlalu segar tapi cukup untuk satu kali makan besar. Rempah jinten yang aromanya tajam dan khas itu baru dibelinya di detik-detik terakhir, hampir saja terlupakan di tengah keramaian.
Perjalanan pulang dengan kereta sapi masih terasa di tulang, goyangannya belum sepenuhnya hilang. Tapi Jia tidak peduli soal itu. Begitu sampai, sebelum Su Hao sempat menurunkan beban, ia sudah menyuruh pria itu membungkuk. Tangannya langsung menyambar bungkusan mantou dari dalam keranjang, gerakannya cepat, tepat, seperti mengambil sesuatu yang lebih penting daripada napas.
Jia segera mencuci tangan, meneguk air, lalu duduk bersila dengan santai di atas batang kayu besar tepat di samping kiri tungku. Posisi ini paling strategis-hangat terkena pancaran api, dan pas buat mengawasi suaminya bekerja bakti. Ia hafal betul polanya. Setiap kali baru sampai, Su Hao pasti akan langsung berjongkok di depan perapian, menyalakan api sebelum melakukan hal lain. Rutinitas itu sudah terpatri di luar kepala.
"Enak... nya..." gumam Jia puas, mulutnya penuh sesak hingga pipinya membulat.
Namun, di balik wajah santainya itu, pikirannya masih berputar. Jari-jarinya secara tak sadar menyentuh lipatan baju di dadanya.
Serbuk itu masih ada di sana.
Aroma tajam dan mematikannya seolah masih menempel di hidung, mengingatkan bahwa dunia di luar sana tidak sehangat api tungku ini.
Mantou itu sudah habis empat buah di perutnya, sementara Su Hao baru menyantap satu potong kecil. Itu pun sambil tangannya tak berhenti bergerak-merapikan sayuran dengan gerakan kasar dan cepat, memastikan api tak padam. Bahunya masih tampak kaku, sisa ketegangan dari kejadian di pasar tadi seolah masih menempel di tulang-tulangnya. Wajahnya datar, dingin, tak banyak bicara. Cemburunya tidak hilang hanya karena digoda, ia hanya menekannya jauh ke dalam, menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Jia melirik sekilas, tak ada sedikit pun niat untuk turun tangan membantu. Ia duduk diam persis seperti hewan peliharaan yang sudah kenyang dan dimanjakan, hanya menikmati kenyamanan dan kehangatan, membiarkan tuannya bekerja keras di sampingnya.
Sesekali ia menyodorkan sisa potongan mantou ke mulut suaminya yang sibuk.
"Nah, makan. Jangan sampai kalah perang sama api."
Su Hao menggigit tanpa menoleh banyak.
Mereka berdua seolah memiliki pembagian kerja yang paling adil di dunia ini:
Su Hao menggunakan tangannya, Jia menggunakan mulutnya.
Sambil merapikan barang, Su Hao mengeluarkan bungkusan kain berisi pakaian baru dan sepasang sendal jerami. Matanya menyela, menangkap istrinya yang makan dengan lahap namun tatapannya kosong, melayang entah ke mana.
Dada Su Hao terasa sesak, tapi ia tidak mengeluarkan suara. Tapi justru ketenangan itulah yang terasa aneh dan mencekam. Walaupun di pasar tadi Jia sudah menghancurkan harapan Shen Yucheng, bayangan pria itu masih seperti duri yang tertancap dalam.
Tanpa bicara, tangan besarnya menangkap pergelangan kaki Jia. Cengkeramannya kuat, mendeklarasikan kepemilikan dengan cara yang mutlak-saat ia melepaskan sepatu kain itu dan menggantinya dengan sendal jerami yang kasar.
Jia langsung berhenti mengunyah. Ia bisa merasakan perubahan suhu di sekitar suaminya. Dingin, tapi berbahaya.
"Kau masih memikirkan pria itu?"
Jia terkekeh kecil, lalu dengan gemas ia mencubit pipi suaminya yang keras itu. Tahu betul pria ini sedang menahan ledakan di dalam dada.
"Memangnya kenapa?" godanya, manis. "Siapa sih yang nggak suka pria tampan, kaya, dan wangi kayak Shen Yucheng? Bicaranya halus, penampilannya rapi... siapa yang nggak tergoda?"
Mendengar itu, Su Hao hanya menatap Jia lekat-lekat, Jemarinya yang mengikat tali sendal berhenti sejenak, lalu mencengkeram tumit kaki Jia lebih kencang.
Jia justru makin tertarik melihat reaksi itu. Ia mendekatkan wajahnya, matanya berkilat nakal.
"Tapi..."
"...aku lebih suka yang liar, yang padat, dan yang panas sepertimu."
"Sentuhanmu kasar tapi bikin nyaman. Kau ibarat kapak besi yang berat-menakutkan bagi orang lain, tapi bagiku... kau cuma benda yang enak digenggam, enak dipeluk, dan paling enak... dikendalikan."
Jia menyeringai,
"Kau ini kuat dan mudah kubuat patuh. Bukankah aku yang paling beruntung?"
Su Hao mendengarnya tak bergeming. Tidak ada senyum, tidak ada luluh. Hanya ujung telinganya yang bergerak halus, tanda kata-kata itu masuk dan membelai egonya yang besar.
Tangannya meraih sebuah bungkusan kain kecil dari dalam keranjang.
"Aku bilang buang. Bukan membawanya pulang."
Su Hao hendak melemparkan benda itu ke dalam api.
Jia melihatnya. Segera bergerak, merangkul leher suaminya dari belakang, lalu tangan kanannya terulur memegang pergelangan tangan pria itu dengan lembut namun tak terelakkan.
"Jangan dimusnahkan. Pemiliknya sangat bergantung pada ramuan yang kau pegang."
"Bagaimana kau tahu ini ramuan?"
"Selain menyakiti orang... aku juga tahu sedikit soal pengobatan herbal. Racikan dari daun, rimpang, jamur... kau takkan pernah faham seluk-beluknya. Yang pasti, yang kau genggam itu bukan racun biasa. Kemungkinan besar... obat penenang untuk luka yang sudah parah, sangat parah."
Jia melilitkan lengannya makin erat di leher suaminya, persis seperti ular yang melilit mangsanya, hangat namun mematikan.
"Saatnya kita masak."
Su Hao menarik napas pelan.
"Lepaskan dulu lilitanmu."
Tangannya mencoba menyingkirkan tubuh Jia, tapi bukannya melepaskan, Jia malah mengurai ikatan rambutnya.
Ia berdiri di belakang Su Hao, membungkuk perlahan sampai helaian rambut panjangnya jatuh menutupi seluruh wajah suaminya. Dunia di depan mata Su Hao langsung gelap.
Jia semakin menunduk dan langsung menggigit ujung hidungnya pelan.
Otot wajah Su Hao mengeras seketika.
Dalam hati, ia benar-benar ingin mengurung wanita ini di dalam kandang agar tak berkeliaran. Tingkahnya... persis anak kucing liar yang tak bisa diam.
"Nona Lu, berhenti... atau tak ada makan siang."
Kalimat itu bekerja seperti sihir. Jia langsung diam. Wajahnya berubah cemberut jelas sekali, matanya mulai berembun menahan protes seolah diperlakukan tidak adil.
Su Hao tidak mempedulikan ekspresinya. Ia mengambil lobak dan pisau kecil, lalu mendorongnya ke hadapan istrinya.
"Potong ini."
Pisau dan baskom kayu diserahkan dengan hati-hati.
Jia menatap benda itu dengan wajah melas.
"Aku biasanya meremukkan dan menusuk... bukan memotong."
Su Hao hanya memicingkan mata. Tangan besarnya mengusap kepala Jia sekilas-cepat dan tegas-seperti menenangkan hewan kecil yang rewel.
"Potong."
Jia mendengus "Ih... jangan mencela kalau bentuknya tidak sama."
"Asalkan jarimu tidak teriris, itu sudah cukup."
Jia langsung tersenyum, matanya menyipit manja.
"Aduh... suamiku, romantis sekali."
Namun saat pisau itu mulai bergerak, Su Hao tertegun.
Gerakan tangan Jia berubah total. Bukan lagi main-main atau manja, melainkan cepat, rapi, dan presisi luar biasa.
Trak... trak... trak...
Irisan demi irisan jatuh dengan sempurna, tipis dan rata.
Su Hao menyipitkan matanya.
Ini bukan cara orang biasa memotong sayur di dapur sederhana.
Gerakan itu terlalu bersih, terlalu terlatih... seolah tangan itu sudah terbiasa memegang benda tajam untuk hal yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar memasak.
Sebuah pertanyaan besar perlahan muncul dan menggerogoti benaknya:
Wanita yang sedang duduk di sampingnya ini... sebenarnya siapa?
Su Hao mengambil kesempatan, menyodorkan potongan kol besar lagi tepat di hadapan Jia.
"Lanjutkan."
Jia mendengus kesal, matanya makin basah menatap suaminya seolah diperlakukan sewenang-wenang. Tapi sebelum protesnya meledak, Su Hao menunduk cepat, mencecup bibir istrinya singkat namun mematikan semua kata-kata.
"Sayang... keahlianmu yang hebat itu, tolong bantu kerja rumah tangga saja ya," Suaranya terdengar manis, namun memancarkan dominasi yang tak bisa dibantah.
Jia mendengus, pipinya merona. Ia baru mau membalas dengan sindiran...
DUG! DUG! DUG!
Ketukan pintu yang keras memecah suasana. Suara seseorang memanggil dengan napas yang tersengal-sengal.
"Su Hao! Nona Lu! Tolong!"
Aura manjanya Jia lenyap dalam sekejap, berganti dengan ketenangan yang tajam. ' Ka Zhenli?' Jia berdiri, diikuti Su Hao yang sigap merapikan pakaian.
Pintu terbuka. Ma Zhenli berdiri di sana, wajahnya pucat pasi, keringat membanjiri dahi, matanya membelalak ketakutan.
" Kak ada apa?"
"Nona Lu! Tolong bayiku! Ada yang salah! Tolong!" Suaranya pecah, seolah dikejar maut.
"Iya, iya, tenang dulu kita kesana. Tarik napas!" Jia menepuk bahunya cepat, lalu menoleh ke suami. "Ayo!"
Tapi matanya melirik bahan makanan yang masih berserakan. Tangannya menahan dada Su Hao.
"Kau selesaikan dulu di dapur. Daging bisa basi. Aku dan Zhenli pergi duluan, kau menyusul."
Su Hao menimbang situasi, lalu mengangguk singkat.
"Akan kuselesaikan secepatnya."
Jia pun berjalan cepat bersama Ma Zhenli yang masih gemetar.
Namun, baru beberapa langkah, jalan mereka terhalang total.
Sesosok pria tinggi besar berdiri kokoh, tubuhnya memenuhi jalan setapak. Wajahnya tertutup kain, hanya menyisakan sepasang mata yang tajam dan tanpa emosi. Aura yang dipancarkannya berat dan menekan.
Tanpa bicara, pria itu melangkah maju satu langkah. Gerakannya memaksa Jia dan Zhenli mundur secara naluriah. Jaraknya dibuat terlalu dekat, menyempitkan ruang gerak hingga terasa sesak.
"Nona,"
"Kembalikan milik saya yang terjatuh. Saya tahu Anda yang mengambilnya. Penjual sendal yang memberitahu. Serahkan sekarang."
Wajah Ma Zhenli memerah. Ia menampar tangan pria itu menjauh.
"Anakku lebih butuh dia! Biarkan Nona Lu memeriksa dulu! Urusanmu nanti!"
"Maaf," pria itu tak bergeming, justru merentangkan tangan memblokir jalan sepenuhnya seperti tembok tak terlihat. "Tuan saya kondisinya lebih darurat. Tanpa obat itu, penyakitnya tak bisa terkendali. Bisa fatal."
Jia diam. menilai lawan dengan kalkulasi cepat.
Rasa waspada menjalar, tapi wajahnya tak menunjukkan rasa takut sedikitpun.
"Bayi yang sekarat selalu didahulukan daripada orang dewasa yang masih bisa berdiri tegak," Jia bergerak maju, berniat menerobos. Tapi tangan pria itu lebih cepat, mencengkeram bahunya dengan kekuatan yang tak tergoyahkan, menahannya di tempat.
"Nona,"
"Tidak ada pengecualian. Demi keselamatan Tuan saya... saya tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi. Termasuk Anda."