Raden Nandana Rahandika duda tanpa anak yang di jebak oleh seseorang mengakibatkan sebuah tragedi satu malam terjadi. Raden yang dijebak, harus merenggut kesucian gadis asing yang tidak dia kenal.
Apa yang akan Raden lakukan setelah tanpa sadar mengambil paksa kesucian seorang gadis yang tak dia kenal? ikuti kisahnya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror
Brak...
"Sial*n!! Kurang aj*r kamu Raden!! Kamu bahkan sekarang nggak mau bantu aku!! Perempuan itu, yah...pasti karena perempuan itu!!"
Dengan penuh emosi Celine menutup pintu mobilnya dengan kasar. Rasanya dia tidak bisa terima dengan perlakuan mantan suaminya yang dia kenal sebagai orang yang setia dan tidak tegaan kalau menyangkut tentang dirinya . Tapi, hari ini dia di tolak oleh Raden untuk membantunya.
Celine yang penuh emosi pun menyalahkan Elin karena gara-gara kehadiran perempuan itu membuat perubahan sikap Raden padanya.
Celine mencoba untuk menenangkan pikiran dan perasaan nya. Tiba-tiba saja senyum licik terbit di bibir nya.
Bugh..
Celine memukul stir mobil nya dan menggenggam erat stir itu. Ada kilatan kemarahan di matanya. Terlihat matanya menatap tajam ke depan dan rahangnya mengeras penuh kebencian.
"Lihat saja, bagaimana aku buat perempuan itu kapok karena sudah berurusan dengan ku. Tunggu saja Raden, aku akan buat hidup mu lebih sakit dari yang sudah-sudah." seringai licik terbit di bibir nya.
Perlahan Celine menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Dia rasa sudah lebih tenang, dia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kantor Raden.
Di mansion Rahandika, terlihat Elin sedang merangkai bunga di taman belakang mansion.
"Permisi non, maaf ada paket buat non Elin.." Elin mengernyitkan dahinya mendengar ucapan penjaga rumah yang tiba-tiba saja memberikan sebuah kotak yang lumayan besar ke Elin.
"Paket? Tapi saya nggak pesan paket pak."
"Tapi, ini di tujukan untuk non Elin dan tuan muda."
mendengar nama suaminya tercantum di paket membuat Elin akhirnya menerima paket itu.
"Ya sudah, taruh di sini saja pak.. Terimakasih."
"Iya non, permisi saya kedepan lagi non." Elin mengangguk dan kemudian laki-laki paruh baya yang merupakan salah satu penjaga mansion akhirnya kembali ke pos depan.
Elin yang juga merasa penasaran dengan paket yang baru saja dia terima, akhirnya dia memutuskan untuk membukanya lebih dulu.
"To: Mr & Miss Raden Rahandika." Elin membaca tulisan yang tertera inisial nama dia dan suaminya.
"Tapi kenapa nggak ada nama pengirimnya, aneh.." Elin bergumam dan sedikit merasa aneh saat memeriksa paket itu ternyata tidak menyertakan nama dan alamat si pengirim.
"Eeehhh..ada kartu ucapannya.." mata Elin menangkap sebuah kartu ucapan terselip di atas kardus yang tadi tertutup bubble wrap.
"Selamat menempuh hidup baru, maaf karena terlambat.."
Elin membaca tulisan yang ada di kartu ucapan itu.
"Mungkin ini hadiah dari teman mas Raden." Elin mulai membuka lakban yang menempel di kardus itu.
Tiba-tiba saja hatinya merasa tak nyaman. Entah kenapa ada sesuatu yang tidak dia tahu kenapa perasaan itu muncul. Tapi, Elin mencoba untuk positif thinking.
Dia membuka kardus itu dan betapa terkejutnya Elin melihat isi yang ada di dalam kotak itu. "Astaghfirullah!!" dengan reflek Elin melempar kotak yang ada di atas meja itu.
Elin mencoba menenangkan diri nya dengan mengelus perut buncitnya dan memegang pegangan kursi dengan erat. "Astaghfirullah, perbuatan siapa ini, nggak mungkin ini bercanda."
Perasaan nya menjadi tak enak. Dia memikirkan bagaimana keadaan suaminya. "Astaghfirullah non Elin, apa itu!!" suara bi Nah menyadarkan Elin dalam rasa keterkejutan nya.
"Bi..tolong buang ya bi.." dengan tubuh gemetar dan juga wajah pucat nya Elin mencoba untuk menenangkan diri.
Bi Nah pun akhirnya langsung melangkah dan dengan cepat meraih kotak berisi bangkai ayam itu untuk di buang ke tempat sampah.
Setelah selesai, dia langsung mengetik pesan pada Raden. Setelah nya, bi Nah kembali mendekati Elin. "Non Elin, minum dulu.." bi Nah memberikan segelas air putih ke pada Elin dan kemudian dengan pelan Elin meminumnya di bantu bi Nah juga menegang gelas itu karena tubuh Elin masih gemetar atas kejadian tadi.
Bi Nah mengusap punggung Elin dan mencoba menenangkan nya. Perlahan Elin pun di bawa ke kamar nya untuk istirahat.
Elin yang sempat syok karena kejadian tadi sekarang terlihat masih diam tak berniat mengatakan apapun.
Raden yang sudah mendapat pean dari bi Nah memutuskan untuk kembali ke rumah karena merasa khawatir dengan keadaan sang istri.
Apalagi saat menerima pesan terbaru dari bi Nah mengatakan kalau kondisi Elin yang terlihat syok bahkan sampai sekarang Elin tak mau berbicara sepatah katapun.
Brak...
Raden dengan kasar membuka pintu kamar nya dan mendapati istrinya yang sedang menatap kosong.
"Tuan, lebih baik tuan bawa non Elin ke dokter." bi Nah yang sedari tadi menjaga Elin langsung meminta tuannya untuk membawa istrinya itu ke dokter.
Terlihat Elin memeluk perut buncitnya seperti sedang berusaha untuk melindungi nya.
"Sayang...heiii...are you okay?" Raden duduk di tepi ranjang dan menepuk bahu Elin pelan.
Terlihat Elin tersentak dan langsung menoleh ke arah Raden.
"Say..
Tiba-tiba saja Elin melebarkan. matanya dan langsung menangkap pipi Raden "Masss... akhirnya kamu pulang, kamu nggak apa-apa kan, kamu nggak luka kan, coba aku lihat...aku ...aku ...aku takut mas hiks hiks hiks.." Elin seperti orang yang sedang ketakutan dan terlihat Elin ingin memeriksa keadaan suaminya yang takut terluka terlihat juga doa begitu frustasi dan langsung menangis
"Sssssttt...tenanglah , aku nggak apa-apa, aku baik-baik saja." Raden langsung meraih tubuh Elin dan memeluknya dengan erat.
"Aku takut mas, aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Siapa yang mencoba mencelakai kita mas, aku takut. hiks hiks hiks.."
Elin terus meracau dan semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Raden mengeraskan rahangnya melihat Elin yang syok dan menjadi seperti itu.
Raden setia di samping Elin dan masih berusaha untuk menenangkan sang istri lama-lama tak terdengar lagi suara isakan itu membuat Raden penasaran dan ternyata istrinya terlelap tidur.
Raden sedikit lega melihat istrinya tidur. Dia pun langsung membaringkan tubuh Elin dengan posisi yang nyaman. Terlihat tangan Elin begitu erat mencengkram jas yang dia pakai. dengan pelan , Raden melepas jas itu dan membiarkan nya Elin dekap.
Raden mengumpulkan bantal dan guling untuk mengelilingi tubuh Elin agar Elin merasa ada orang disisinya.
Raden meninggalkan kamar itu dan meminta bi Nah untuk masuk dan menjaga Elin.
"Bar, ikut aku.." Raden meminta Bara yang sedang sibuk dengan ponselnya untuk ikut dengan Raden.
Raden melangkah menuju keruangan kerjanya. Disana dia membuka sebuah ruangan rahasia yang tak pernah di ketahui siapapun hanya dia dan Bara yang tahu.
"Aku sudah tugaskan anggota kita untuk menjaga sekitaran komplek dan rumah ini Den." Bara mendengar cerita dari bi Nah soal Elin yang mendapat kiriman bangkai ayam, Bara langsung memberikan perintah pada orang-orang nya dan memberikan tugas untuk mereka menjaga komplek tempat mansion Rahandika dan menyisir area sekitar lokasi.
Bersambung.