Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.
Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Bukannya takut, Aksa malah mengambil satu potong ayam kecap dan meletakkannya tepat di atas piring Leo. Gerakannya cepat, percaya diri, seolah ia baru saja melakukan hal paling benar di dunia.
Semua orang berhenti makan.
Aska terpaku, tapi matanya berbinar bangga pada kakaknya.
Agam menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan tawa.
Kenan menatap Aksa seperti anak itu baru saja menantang singa lapar.
Leo menatap piringnya. Lalu menatap Aksa. Lalu piringnya lagi.
“…Aksa,” ucapnya pelan,sangat pelan. Tapi cukup membuat udara di meja sedikit menegang.
Aksa menelan ludah. Tapi ia tetap tegak. “Papi kan… pengen,” katanya jujur, polos, dan tanpa filter seperti biasanya.
Aska mengangguk cepat, membenarkan. “Iya, Pi. Pengen banget. Adek lihat kok.”
Leo memejamkan mata sejenak, menarik napas. “Itu namanya dibayangkan, bukan berarti papi mau.”ucapnya.
Agam berdehem, sok bijak. “Kadang yang dibayangkan itu justru yang diinginkan, Bro.”
Leo menatap Agam tajam.
Agam langsung menunduk makan, seolah nasi di piringnya tiba-tiba sangat menarik.
Vana hanya tersenyum, lembut dan penuh pengertian. “Kalau tidak mau, tinggal dipindahkan saja, Pak Leo. Tidak apa-apa.”
Leo menatap potongan ayam itu lagi. Warnanya mengilap, aromanya jelas menusuk hidung… dan makanan sehat di hadapannya terasa semakin kehilangan harga diri.
Ia mengangkat garpu. Gerakan sangat lambat, seakan-akan sedang mempertimbangkan masa depan dunia.
Kenan membisik ke Agam, tapi hasilnya justru terdengar ke seluruh meja. “Kalau Leo makan itu, tandanya dunia akan kiamat besok.”
Leo berhenti. Menoleh ke dua sahabatnya itu dengan tatapan datar yang mampu mematika benda apapun dari jarak sepuluh meter.
“Kalian berdua…”
Hanya itu, tapi sudah cukup membuat keduanya memalingkan wajah mereka,Pura-pura tidak tau.
Aksa dan Aska menahan napas.
Vana menatap Leo lembut, menunggu tanpa menekan.
Potongan ayam kecap itu seperti pusat gravitasi baru di meja makan.
Akhirnya, dengan gengsi yang hampir runtuh namun masih berusaha tegak, Leo mengambil ayam itu… dan menyuapkannya ke mulut.
Semua orang membeku.
Leo mengunyah perlahan. Ekspresinya tidak berubah.
Tidak tersenyum.
Tidak memuji.
Tidak menunjukkan apa pun.
Tapi pipinya sedikit… sedikit saja… bergerak seperti menahan sesuatu.
Aksa berbisik, “Enak, kan?”
Leo menaruh garpu. “Biasa saja.”
Agam dan Kenan hampir melempar sendok ke udara karena tidak percaya dengan ucapan sahabat mereka sendiri. Karena mereka tahu, dari semua reaksi Leo selama ini, “biasa saja” adalah pujian level tertinggi.
Aksa dan Aska bersorak kecil, bangga luar biasa.
Dan Leo?
Ia hanya mengambil satu suap lagi.
Diam-diam.
Pelan-pelan.
Tapi tetap makan.
Suasana meja makan mulai mencair kembali setelah insiden ayam kecap itu. Agam dan Kenan sudah kembali bercanda kecil, Aksa dan Aska sibuk menyuap makanan dari tangan Vana, dan Leo… meski dengan wajah datarnya, jelas terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
Hingga suara langkah pelan terdengar menuju ruang makan.
Semua kepala menoleh.
Seorang pengawal Leo berdiri tak jauh dari meja makan—posturnya tegap, wajahnya serius, dan ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak datang membawa kabar biasa.
“Maaf mengganggu, Tuan,” ucapnya hormat.
Leo meletakkan sendoknya. “Ada apa?”tanya Leo.
Pengawal itu menelan saliva kecil, seperti sedang menimbang bagaimana menyampaikan berita itu dengan cara paling aman.
“Ini… ada tamu yang yang ingin bertemu dengan tuan, beliau ada diluar,Tuan.”ucap pengawal itu gugup.
Leo mengerutkan alis. “Tamu?Siapa?”
Pengawal itu menarik napas. “Nyonya besar… datang, Tuan.”jawabnya.
Ruangan seketika membeku.
Suara peralatan makan yang tadi terdengar, berhenti total.
Agam langsung duduk lebih tegak.
Kenan menelan ludah keras.
Aksa dan Aska berhenti mengunyah. Satu-satunya suara hanyalah detak jam dinding.
Vana yang melihat perubahan itu seketika bingung melihat reaksi mereka semua.
Leo tidak langsung bicara. Tatapannya dingin, tajam, tapi lebih dari itu—ada sesuatu di baliknya. Kerasnya, getirnya, atau mungkin… luka lama yang ia simpan di tempat paling dalam.
“Dia datang tanpa kabar?” suara Leo rendah. Berbahaya.
Pengawal itu mengangguk.“Benar, Tuan. Nyonya datang bersama sopir pribadi… dan dua asisten beliau.”
Agam menutup wajahnya sebentar. “Sial… ibu lo lagi, Bro?”ucapnya
Kenan menyikutnya pelan. “Diam lo, bego…”
Leo bangkit perlahan dari kursinya. Gerakannya tenang, tapi semua orang tahu itu ketenangan sebelum badai.
“Suruh dia tunggu di ruang tamu.”Nada suaranya tegas, dingin. “Dan jangan biarkan dia masuk lebih jauh dalam rumah ini.”
“Baik, Tuan.” Pengawal itu membungkuk dan pergi.
Sunyi kembali melingkupi meja makan.
“Lanjutkan makan kalian,” ucap Leo tanpa menatap siapa pun.
Tapi sebelum ia melangkah pergi, suara kecil memecah udara.
Aska merapatkan tubuhnya ke Vana. “Adek takut mi…”
Leo berhenti. Bahunya naik turun sedikit—pertanda ia sedang menahan sesuatu.
Ia menoleh pada anak-anaknya, suaranya lebih lembut, tapi masih berat.
“Kalian duduk di sini. Jangan keluar. Jangan mendekat.”
Aksa mengangguk cepat. Aska bersembunyi di balik lengan Vana.
"Tolong jaga Aksa dan Aska. Jangan biarkan mereka keluar. " ucap Leo pada Vana.
Vana mengangguk. Walaupun ia tidak tau dengan apa yang terjadi,tapi yang jelas ia merasakan kalau ini bukanlah hal yang baik. Ruangan begitu tegang hingga udara pun terasa menempel di kulit.
Leo menatap satu per satu orang di meja makan itu,Agam, Kenan, Vana, dan kedua anaknya.
Lalu, tanpa berkata lagi, ia melangkah pergi.
Dan makan malam yang hangat itu berubah menjadi senyap yang penuh kekhawatiran.
🍁🍁🍁
Ruang tamu rumah besar itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Lampu chandelier menerangi ruangan dengan cahaya keemasan, tetapi tidak mampu menghangatkan suasana yang sudah sejak tadi beku.
Nyonya Martha,ibu Leo—duduk tegak di sofa putih. Elegan, rapi, sikapnya angkuh tanpa perlu banyak usaha. Dua asistennya berdiri di belakang, kepala sedikit menunduk.
Ia menatap sekeliling ruangan dengan kritik yang jelas, sampai akhirnya mendengar langkah kaki yang berat dan mantap.
Leo muncul di ambang pintu.
Wajahnya datar.
Bahunya tegang.
Matanya dingin.
Nyonya Martha tersenyum kecil, senyum yang tidak pernah benar-benar hangat. “Leo. Sudah lama mama tidak melihat kamu makan malam di rumah. Biasanya sibuk di kantor, ya?”ucapnya ramah.
“Terima kasih sudah datang tanpa kabar,” balas Leo, nada suaranya halus tapi penuh sarkasme.
Asisten di belakang ibunya saling melirik, tahu kalau suasana akan segera memanas.
Nyonya Martha merapikan gaunnya. “mama tidak butuh janji untuk datang ke rumah anak ibu sendiri,bukan.”
“Ini rumah saya,” Leo menegaskan.
Senyum ibunya melebar. “Tentu saja. Rumah ini adalah hasil dari perusahaan suami ku.”
Leo mengatupkan rahang.
Suasana tegang mulai naik.
“Apa keperluan anda datang malam-malam begini kerumah saya.?”tanya Leo. Nadanya semakin dingin.
“Apa salahnya seorang ibu datang mengunjungi anak dan cucunya?”Nyonya itu membalas sambil mengangkat alis.
Leo diam.
Ada jeda yang panjang.
Nyonya Martha tersenyum kecil—senyum yang tahu dia telah menyentuh titik sensitif dari putranya sendiri.
“Apa cucu-cucuku ada disini?. "
Leo tersentak. “ Jangan mulai.”
“Kenapa tidak? Mereka cucu-cucu mama Leo.”
Tatapan sang Nyonya mengeras. “Dan kamu sembunyikan mereka dariku selama lima tahun terakhir ini?”
Leo mengepal tangan di samping tubuhnya. “Mereka bukan sesuatu yang ‘disembunyikan’. Mereka saya lindungi.”
“Lindungi?” Ibunya tertawa, datar. “Dari siapa? Dari ikan koi di kolam rumah ini?”
“DARI ANDA.”
Kali ini Leo tidak bisa menahan diri. Suaranya terangkat. Echo-nya memantul di dinding ruang tamu itu, membuat siapapun yang mendengar nya gemetar.
Asisten ibunya menegang.
Nyonya Martha hanya mengerjap sekali, namun itu cukup menunjukkan ia tidak menyangka Leo akan menaikkan suaranya.
Nyonya Martha menghela napas, nada suaranya berubah lebih berat.
“Leo… kamu selalu menganggap mama seperti musuh. Mama ini ibu yang melahirkan kamu. ”
Leo menatapnya, matanya jelas terluka. “ Anda memang melahirkan saya, tapi anda bukan ini saya. Seorang ibu seharusnya orang yang paling mengerti tentang anaknya, bukan hanya tahu bagaimana mengatur. Menuntut. Mengkritik. Mengakhiri hidup orang lain seenaknya.”
Tatapan sang Nyonya meruncing. “Itu soal masa lalu, Leo. Tidak perlu dibahas lagi”tegas Nyonya Martha
“Itu soal trauma,” leo menahan napas. “Bukan hanya saya, tapi dua anak saya.”ucap Leo penuh penekanan.
Nyonya Martha terdiam sejenak. Namun itu bukan lah akhirnya, Ia kembali menatap Leo.
“Aksa dan Aska?” ibunya mengangkat dagu. “Mereka punya darah keluarga kita. Sudah saatnya mereka berada dalam tempat yang… lebih layak.”
Leo mendekat selangkah. “Apa maksud Anda?”
“Mereka harus tinggal dengan mama. Di rumah keluarga kita. Tidak di sini.”
Nada ibunya pelan, penuh nada keputusan. “Anak-anak itu harus diberikan pendidikan dan lingkungan yang sesuai kelas mereka.”
Leo terkesiap. “Tidak.”
“Leo—”
“TIDAK!!!.”Kali ini benar-benar tegas.
“Anda tidak berhak—”
“Mama lebih berhak dari pada perempuan siapa pun yang kamu bawa ke hidupmu sekarang.”
Mata Leo langsung membara. “Jangan bawa Vana ke dalam pembicaraan ini.”ucap Leo penuh peringatan. Leo sudah menebak kalau kedatangan mamanya ini, bukan hanya untuk bertengkar dengan nya tapi juga memastikan kabar tentang Vana dari mata-mata nyonya Martha yang ada dirumah itu.
Ibunya tersenyum sinis. “Oh? Jadi namanya Vana? Seorang pelayan direstoran milik kamu sendiri. "
“Cukup!” Leo membentak, keras.
Diam.
Langsung.
Ibunya akhirnya berdiri, menatap Leo tepat di mata—dua generasi keras kepala saling berhadapan.
“Leo,” katanya dengan tekanan, “kita akan bicarakan hak asuh cucu-cucu mama. Dengan cara baik-baik… atau tidak.”
Leo mendekat, jarak hanya satu langkah.
“Mereka tetap bersama saya. Mereka anak-anak saya. Dan saya tidak akan biarkan anda menyentuh hidup mereka. Anda tidak memiliki hak atas mereka.”
“Lihat saja nanti,” balas ibunya dingin, lalu berjalan pergi dengan wibawa yang menusuk ruangan.
Para asisten mengikuti, pintu tertutup, meninggalkan udara berat yang menggantung seperti badai yang belum selesai.
Leo berdiri sendiri di ruang tamu, napasnya memburu pelan.
Seluruh pertahanan dinginnya tadi—baru saja retak.
Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊