Spin off Hati Untuk Arya
.
.
Ari putra wongso, mencintai seorang perempuan bernama Karina, namun tanpa sepengetahuannya sang kekasih mencintai sahabatnya sendiri. Ari selalu merasa Karina tak mencintainya,namun ia memilih bertahan dan berharap Karina akan mencintainya. Namun di penghujung jalannya ia menemukan sebuah jalan buntu. Rasa percaya dirinya runtuh karena takut tak bisa membahagiakan orang yang ia cintai.
Sementara Airil Karina Yatri menantang Ari untuk melangkah ke jalan yang serius, ia berjanji akan mencintai Ari setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Namun Ari gugup untuk melangkah, tak yakin cinta bisa tumbuh semudah Karina mengatakannya.
Kehadiran seorang janda bernama Vanessa aulia putri memberi warna berbeda bagi laki-laki yang tengah dilanda rasa kesepian karena mengakhiri hubungannya dengan Karina. Kedewasaan Vanessa membuat Ari begitu nyaman dengannya.
Siapakah yang akan menjadi penghujung hati Ari? sang kekasih Karina atau sang janda Vanessa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catatan kecil di sudut buku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Ruang baca adalah tempat biasa pak Basri menghabiskan waktu malamnya. Ada meja kerja dengan ukuran sedang disana. Dihiasi sebuah vas bunga dengan 3 tangkai bunga mawar di dalamnya.
Di meja tersebut juga ada sebuah patung harimau kecil, terbuat dari kayu yang dicat dengan warna coklat gelap. Terdapat juga susunan dokumen dan beberapa buku di sudut meja serta sebuah laptop yang terbuka. Pak Basri tengah melihat laporan beberapa investasi properti yang ia lakukan, termasuk juga laporan bisnis properti yang ia geluti.
Disela kesibukannya, pintu ruang baca itu terbuka. Anak tunggalnya lah yang membuka pintu tersebut.
"ayah sibuk? "Ari masuk kedalam ruangan tersebut dengan tersenyum, di tangannya ia membawa sebuah dokumen.
"ada apa Ri? jika kamu ke sini sudah pasti kamu punya keperluan penting" pak Basri berbicara dengan setengah bercanda kepada anaknya.
Ari melangkah pelan dan berdiri tepat di depan ayahnya. Membuat Pak Basri menghentikan sejenak pekerjaannya. Pak Basri mengangkat kepalanya, melihat lekat wajah putranya itu.
"jadi kita akan bicara apa? Apa kamu ingin bercerita pengalaman naik gunung? atau kamu mau curhat tentang perempuan?" seloroh pak Basri yang diiringi tawa tipisnya. Sikap akrab yang biasa ia umbar di depan keluarganya.
"ahh, ayo lah yah, ini pembicaraan serius" tukas Ari tidak ingin bercanda.
Pak Basri tertawa singkat melihat ekspresi Ari, matanya kemudian melirik pada dokumen yang dibawa Ari. "jadi apa pembahasan kita malam ini, Nak?"
"ini klinik yang aku bicarakan tadi pagi sama ayah, aku rasa ayah pasti setuju untuk menjadi donatur diprojek ini"Jawab Ari dengan semangat.
Ari memberikan dokumen tersebut kepada ayahnya. Pak Basri kemudian menerimanya dan segera membukanya. Ia segera membaca dokumen tersebut. "dr. Arfi ya" Pak Basri bergumam.
"iya yah" jawab Ari. "beliau dokter senior di rumah sakit perusahaan milik negara,"
Pak Basri manggut-manggut membaca dokumen tersebut. Ia membaca sepintas isi proposal pendirian klinik dr. Arfi. Setelah selesai membacanya, Pak Basri tersenyum tipis, ia kemudian menutup dokumen itu dan memberikannya lagi kepada Ari.
"ayah akan ikut membiayai projek klinik ini Ri, jika tidak sesuai dengan proposalnya kamu yang tanggung jawab" tutur pak Basri.
Dahi Ari berkerut bingung, alisnya bertaut, matanya menyelidik. "kenapa harus aku yah? kan jelas nama projek itu atas nama dr. Arfi" ucap Ari.
"karena kamu yang minta ayah untuk menjadi donatur disana" jawab pak Basri dengan kembali membuka dokumen pekerjaannya tadi.
"emang ada pikir aku mau menipu ayah" jawab Ari dengan ketus.
Pak Basri hanya tersenyum tipis sembari mengangkat kedua bahunya setelah mendengarnya. Ari kemudian pamit dan kembali ke kamarnya. meninggalkan pak Basri yang kembali mengingat masa mudanya dulu.
****
Di sore yang cukup mendung, Vanessa duduk di salah satu kursi di dalam restorannya yang sedang direnovasi. Pengerjaannya cukup cepat, pengerjaan interior sudah hampir selesai, meja-meja yang dipesan juga sudah datang. Meja layanan juga sudah disusun, dinding kaca juga sudah terpasang. Lantai keramik yang warnanya putih biasa sudah di ganti dengan warna yang lebih elegan.
Cat dinding yang sebelumnya berwarna cream polos, sekarang telah berganti dengan hiasan batik. Pencayahaan juga ditambah, hingga eksterior pun juga sudah hampir selesai direnovasi. Dapur juga sudah di desain sedemikian rupa agar nyaman sebagai tempat memasak. Melihat itu semua, senyum senang Vanessa mengembang manis, sebentar lagi ia akan memulai tantangan baru
dalam hidupnya.
“mbak suka dengan hasil kerja kami?” Suara Sari mengagetkan Vanessa, gadis itu ikut duduk di meja yang sama dengan Vanessa.
“ini sangat bagus Sar, bahkan jauh lebih bagus dari apa yang ku bayangkan” jawab Vanessa.
“aku lebih menyarankan mbak untuk mencari tempat yang jauh lebih besar dan bagus, ini terlalu kecil mbak” saran Sari kepada Vanessa.
“ini udah lumayan lo Sar, bisa memuat 30 pengunjung” jawab Vanessa, “kami baru belajar Sar, nanti kalau prospeknya bagus, baru dikembangin, Tomy udah nemu lokasi yang bagus, tapi memang perlu modal lebih untuk investasinya”
Sari mengangguk paham mendengar penjelasan Vanessa. “nanti kalau sukses ajak-ajak aku ya mbak” Kelakar Sari, namun terdengar sangat serius.
“kamu itu desainer loh Sar, ngapaian bisnis restoran” Sahut Vanessa.
Sari tertawa tipis mendengarnya, ia tatap lekat wajah Vanessa seolah ia sedang bicara serius dengan gadis itu. “projek desain interior di 3A Sahabat nggak terlalu besar mbak, aku Cuma ngikut buat bantu desain interior projek para arsitek aja disana, 3A Sahabat kan nggak fokus di desain interior kayak gini mbak”
“belajar dulu Sar, mana tahu nanti kamu bisa jadi arsitek juga disana” Vanessa menyemangati Sari.
Vanessa mengedarkan pandangannya ke arah luar restoran yang hampir selesai. Tumpukan material pembangunan mulai dari semen, pasir, hingga kerikil memadati halaman tersebut. Namun bukan itu yang ia cari, matanya menyelidik jauh ke arah jalanan ‘mengapa dia tidak datang?’ batin Vanessa.
“nanti kalau restoran mbak sudah buka, aku bakalan sering makan disini” Tutur Sari melanjutkan percakapan mereka.
“emang rumah kamu dekat sini Sar?”
“nggak sih mbak, tapi inikan nggak terlalu jauh dari 3A Sahabat, pak Arbi dan pak Ari pasti akan sering makan disini nanti, jadi aku juga bakalan sering ke sini, biar lebih dekat sama mereka” jawab Sari dengan polos.
Vanessa melepas nafas panjang, mencoba memaklumi sikap Sari tersebut, karena kebanyakan orang juga menggunakan cara seperti itu agar cepat naik jabatan.
“Kerja hari ini benar-benar nyaman rasanya mbak, pak Ari nggak bakalan ke sini seperti kemarin” Sari merentangkan kedua tangannya dan melemaskan otot-otot tubuhnya, ia ingin bersantai sejenak menjelang pekerjaan hari itu selesai.
“kenapa Sar? kenapa Ari nggak ke sini sekarang?” Sambar Venessa dengan cepat, dari tadi ia ingin bertanya soal itu, namun ada keraguan di dalam hatinya, dan Sari telah membuka apa yang ingin ia ketahui itu.
“Dia sibuk mbak, lagi kunjungan ke daerah, ada klien baru dari pemerintah daerah, sekalian juga memantau projek langsung di daerah” jelas Sari.
Mereka berdua asyik bicara hingga senja menjelang, langit mendung masih terlihat. Beberapa pekerja mereka juga sudah pulang, Tomy dan Abel yang sibuk di lantai 2 juga sudah turun. Mereka juga hendak bersiap-siap pulang.
Obrolan Vanessa dan Sari sejenak terhenti, mereka berdua melihat ke arah Abel dan Tomy Yang turun dari tangga.
"kalian sudah mau pulang?" tanya Vanessa kepada Abel dan Tomy sembari berdiri dari kursinya.
“ iya kak" jawab Abel dengan singkat.
Vanessa menoleh kepada Sari, "kamu pulang dengan apa Sar?” tanya Vanessa.
“aku di jemput bang Hilman mbak”
"Hilman?" Gumam Vanessa. "kok aku seperti pernah dengar namanya ya" Dahi Vanessa berkerut, bertanya siapa itu Hilman.
Sari tertawa tipis sembari memukul pelan bahu Vanessa. "masa mbak nggak tahu, abangku sekarang jadi asistennya mbak Rita, sekretaris tuan Arya"
Dahi Vanessa berkerut, mencoba mengingat sesuatu.
"oh, yang tempo hari ke rumah kayaknya" tutur Vanessa yang teringat sosok Hilman.
"kalau begitu kamu ikut kak Vanessa aja Sar, daripada nungguin abangmu sendirian disini" saran Tomy kepada Sari.
"kalau kamu bilang dari awal, aku udah ajak kamu nungguin abangmu di rumah ku dari kemarin Sar," tutur Vanessa.
Sari menggeleng, "nggak usah mbak, aku nunggu disini aja, nanti bang Hilman marah kalau aku ngerepotin keluarga tuan Arya" jawab Sari dengan nada rendah.
"udah, kamu ikut aku aja, kalau dia marah, nanti ku suruh Arya memarahinya" ucap Vanessa dengan mengedipkan matanya kepada Sari.
apalagi Karina yang katanya didikan agama nya lebih dari Ari
dan itu sangat jarang...