Pondasi sbuah hubungan adalah kepercayaan, jika kepercayaan telah retak bahkan pecah hubungan itu akan hancur. Kejujuran, keterbukaan dan juga saling mengisi satu sama lain itu juga pnting dalam sebuah hubungan. Ikuti kisahnya dan jangan lupa like, komen dan subscirbenya gais.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
" Apan si bu kenapa ibu harus marah-marah kalau lapar ya makan dong. Dimas kan udah besar dia bisa ko masak telor ke mie rebus ke. Udah udah wulan mau live sebentar lagi " Ucap wulan sembari masuk lagi kedalam kamarnya.
Anik mendesah pelan, ia mulai hawatir dengan kondisi wulan yang semakin hari semakin tak memperhatikan putranya.
" Maafkan wulan ya bu, mungkin dia belum bisa terima kenyataan kalau keadaan keuangan kita sekarang berubah. Dimas mari nak biar papah yang buatkan kamu makanan. " ujar lujeng sembari berjalan kebelakang dengan menggandeng putranya.
" Paah apa mamah udah gak sayang lagi sama dimas? " tanya bocah malang itu.
" Dimas, gak baik ngomong begitu nak. Mungkin mama sibuk jadi gak sempet perhatiin dimas dan bikin makanan buat dimas. Kan ada mbah dimas jangan sedih lagi ya sayang! " Anik merasa begitu tersayat dengan cucunya. Pasalnya semenjak kepergian karin dan gunjingan para tetangga mengenai dirinya wulan semakin mengurung diri dan hanya menghabiskan waktunya didalam kamar sembari berselancar disosial medianya.
" Maafkan papah ya nak, semua ini takan terjadi jika bukan karna papah. " Sesaat lujeng menyesali apa yang sudah ia lakukan. Mungkin jika ia hanya memiliki istri dua dia hanya kehilangan pekerjaanya. Namun karna kasus penggelapan uang yang ia lakukan hingga membuat dia harus diblacklist dari semua instansi.
Dilain tempat damar dan alika tengah membantu karina menyemai bibit sayuran yang akan mereka tanam diladang. Karina mendapatkan bibit itu dari fatma.
" Bund nanti kalau udah besar damar mau jadi insinyur pertanian ya bun. " Ucap damar sembari mengeluarkan bibit-bibit sayur dari kemasannya.
" Iya sayang, damar harus giat belajarnya ya nak. Cita-cita yang bagus itu nak, bunda dukung apapun yang menjadi cita-cita damar. " Ucap karin, dalam hatinya karin memanjatkan doa-doa untuk anak-anaknya.
"Dek kamu mau jadi apa dek? " Damar menoleh kearah adiknya yang tengah sibuk menangkap kupu-kupu.
" Alika mau jadi hakim aja ka biar alika bisa hukum orang yang jahat kaya ibu wulan. " Ucapan alika tanpa sadar membuat hati karin berdenyut nyeri.
" Ya Tuhan, ternyata sedalam itu luka yang ditoreh mas lujeng dan wulan dihati anak-anakku. " gumam karina dalam hati. Tak terasa air mata karina menetes, namun karina cepat mengusapnya karna ia tak mau anak-anaknya melihat karina menangis.
" Deek kalau kamu udah jadi hakim kamu mau hukum ayah juga gak? Ayah kan jahat juga udah sering bikin bunda nangis?" ucap damar.
" Eh sudah-sudah, damar alika gak baik kalian begitu. Udah jangan bahas ayah sama ibu wulan. Kita harus jadi orang yang pemaaf ya,seburuk apapun sikap orang lain terhadap kita, kita tidak boleh berkata buruk tentang mereka. Biarlah itu menjadi urusan mereka sama Tuhan. Alika cita-cita kamu bagus nak, jadilah hakim yang baik dan adil. Sekarang kita masuk ya ini sudah sore, alika dan damar kalian mandi nanti malam kita diundang makan malam dirumah bu hajah fatma. " Setelah mengatakan itu karina mengajak anak-anaknya masuk.
Sementara anak-anaknya membersihkan diri karin duduk termenung disudut kamarnya. Mulutnya memang bisa dengan mudah mengucapkan jika dia sudah iklas dam memaafkan namun jauh dilubuk hatinya yang terdalam hatinya masih begitu terluka, rasa sakit yang ditoreh oleh suaminya masih segar dan berdarah, bahkan luka itu begitu dalam hingg ia sendri tak tau kapan akan sembuh.
Tekatnya untuk hidup sendiri dan mengahiri pernikahannya dengn lujeng masih mengambang. Dia masih memikirkan anak-anaknya akankah mereka bisa hidup tanpa sosok seorang ayah.
Tak terasa airmatanya lantas mengalir lagi, bahkan kali ini lebih deras. Dadanya terasa sesak seprti terhimpit batu besar. Sebagai seorang istri yang sudah hidup bersama selama bertahun-tahun tak mudah melupakan dan menghilangkan sisa rasa yang ada.
Ya memang tak bisa dipungkiri karin masih menyimpan perasaan untuk lujeng meskipun sudah tak sebesar dulu.
" Hiks kenapa kamu tega mas, kepercayaan yang aku bangun ternyata sudah kamu hancurkan sejak lama. Tiang pondasi rumah tangga kita sudah lama kamu hancurkan bersama dengan penghianatanmu. Tidakkah kamu memikirkan bagaimana kita dulu berjuang bersama untuk bersatu. " Gumam karin seorang diri.
Ingatannya menerawang jauh kemasa dimana mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua karin.
Flashback
" Apa kamu akan menikah dengan lujeng? Apa kamu tidak salah karin, Bapak tidak setuju dia itu sering gonta ganti pacar. Tidakkah kamu tau banyak perempuan yang dipermainkan olehnya karin. Tidak nak tidak bapak tidak akan pernah memberikan restu. " Ayah karin begitu marah saat karin mengutarakan niatnya untuk menerima pinangan lujeng.
" Nduk, bukan kami tak mengerti perasaan kamu tapi kamu apa nda bisa mempertimbangkan lagi nak? Masih banyak loh laki-laki yang lebih baik dari lujeng. Baik pekerjaannya, baik ahlaknya, baik perbuatannya baik hatinya. Pertimbangkan lagi nak!" ucap ibu karin.
Orangtua karin memang sudah tau latar belakang lujeng dan keluarganya. Orangtua lujeng memang orang yang baik tak ada masalah dengan mereka namun perangai lujeng yang suka bergonta-ganti pacar membuat orangtua karin hawatir jika anaknya hidup dengan laki-laki yang tak setia dan suka mempermainkan perempuan seprti lujeng.
" Pak, bu karin sudah terlanjur cinta sama mas lujeng, karin mohon restui kami. Karin yakin mas lujeng akan berubah seiring berjalannya waktu. Dia pasti takan menduakan karin pak, bu. " Karin terus saja membela lujeng dan memohon restu pada orangtuanya.
Beberapa hari setelah itu karin dilarang keluar rumah, bahkan karin sampai dikurung dalam kamar hingga ahirnya karin dibantu lujeng kabur dari rumah. Seharian karin pergi bersama lujeng, orangtua karin mencari karin kesmua tempat dan menanyakan karin kesemua teman-teman karin namun mereka sama sekali tak tau dimana karin dan lujeng pergi. Sampai pada ahirnya tepat jam 9 malam dan waktu itu hujan turun dengan deras, karin diantar lujeng pulang kerumah.
Lujeng meminta maaf pada orangtua karin karna sudah membawa karin pergi. Lujeng memohon restu pada orangtua karin, bahkan lujeng dan karin sampai berlutut di kaki orangtua karin. Karna tak mau anaknya kabur lagi ahirnya orangtua karin luluh dan mereka mendapatkan restu. Mereka dinikahkan dua minggu setelah kejadian itu. Dan setelah menikah karin dan lujeng pindah karna lujeng dipindah tugaskan kedaerah lain.
Selang beberapa bulan bapak karin meninggal dunia karna jatuh dikamar mandi dan baru lima bulan disusul ibu karin meninggal karna setruk.
Flashback off.
" Bunda kaka sama adek udah rapih, bunda udah siap belum diluar ada sopirnya bu hajah bun? " Teriakan damar membuyarkan lamunan karin. Karin tersigap dan mengusap airmatanya.
" I-iya nak bilang sama sopirnya bunda masih bersiap 15 menit lagi bunda keluar. " karin lantas masuk kekamar mandi karna tak mau sopir dari bu fatma menunggunya terlalu lama.