NovelToon NovelToon
NIKAHI AKU TUAN!

NIKAHI AKU TUAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menantu Pria/matrilokal / Selingkuh / Konglomerat berpura-pura miskin / Crazy Rich/Konglomerat / Angst / Cinta Seiring Waktu / Miliarder Timur Tengah
Popularitas:191.6k
Nilai: 5
Nama Author: Duyung Indahyani

Suara Anindya tercekat saat melihat pemandangan menyakitkan di depannya. Dada Anindya bergemuruh dengan cepat saat melihat bagaimana Yoga menggeram kenikmatan di atas tubuh polos seorang wanita.

"Apa-apaan ini? "ucap Anindya mengigit bibirnya miris.

Dikala ia menanti Yoga untuk mengucapkan ijab kabul. Anindya justru harus menyaksikan adegan ranjang antara calon suaminya dan wanita lain dan lebih menyedihkannya itu di dalam kamar yang ia dekor untuk malam pertamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duyung Indahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Borgol yang seharian ini membatasi pergerakan William dan Anindya pun kini dilepaskan oleh William sendiri. Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Anindya yang terlelap di atas kasur.

Wanita itu terlihat begitu damai dalam alam mimpinya. Menghadapi seorang Anindya memang harus menyediakan stok sabar sebanyak mungkin. Dan itu tengah dilakukan oleh William.

Setelah membersihkan tubuh Anindya dan mengganti pakaiannya, William beralih menyiapkan dirinya sendiri dengan hal yang sama agar tidur pria itu nyaman.

Suara dering ponsel menghentikan niatan William yang hendak menyusul Anindya di atas kasur itu. Terlihat jelas disana nama Dad Bavers yang melakukan panggilan di malam hari tersebut.

Apa pria itu mengangkatnya? Tentu saja tidak. William memilih mematikan ponselnya lalu melanjutkan niatannya untuk menyusul Anindya ke alam mimpi yang indah.

"Ini lebih mengenakan daripada harus mendengarkan omelan pria tua itu,"celetuknya.

Lampu kamar telah mati dan berganti dengan cahaya temaram di atas meja. Agar kedua manusia yang tengah tertidur itu bisa tidur nyenyak dan terbangun dengan pikiran lebih segar.

Keesokan harinya, Anindya yang terjaga lebih dulu dikejutkan dengan sebuah tangan yang memeluk pinggangnya posesif.

Hari masih fajar, waktu untuk mengerjakan ibadah subuh, tetapi jantung Anindya sudah dibuat berdetak kencang karena ulah William. Tidak hanya memeluk pinggangnya, pria itu juga meletakkan wajahnya persis diantara kedua buah dada Anindya.

Perasaan mesum yang tidak seharusnya datang menghampiri Anindya karena deru nafas pria itu yang mengenai kulitnya langsung. Tidak ingin terus berpikiran kotor, dengan menahan nafasnya secara perlahan-lahan Anindya melepaskan pelukan William.

"Ini...Baju Aku? Jangan bilang semalam dia yang gantiin,"gumam Anindya saat ia telah beranjak dan menyadari pakaian yang ia kenakan bukanlah pakaian yang semalam.

"Dia tidak mencari kesempatan bukan, sial. Kenapa Aku kalau tidur kayak orang mati sih,"umpatnya.

Anindya berlari kecil memasuki kamar mandi, lalu mengecek seluruh bagian tubuhnya. Kulitnya masih mulus, tidak ada bekas disana. Meskipun ada, tapi Anindya tahu jika bekas itu sisa saat pertama kali dia dan William bersatu di kamar hotel tempo hari.

"Syukurlah, kalau dia nggak buat macam-macam,"ujarnya seraya mengelus dada.

Ia memutar kran air disana, lalu mulai melakukan kegiatan bersucinya.

Setelah bersuci, Anindya segera mengerjakan sholat Subuh di samping kasurnya.

"Assalamu'alaikum warrahmatullah...Assalamu'alaikum warrahmatullah..."

Di hadapan-Nya, Anindya mencurahkan segala keluh kesahnya, karena sebaik-baik tempat curhat ialah hanya Sang Pencipta.

Segala kekalutan hati dan kegelisahannya Anindya curahkan sampai membuat kedua pipinya basah karena cairan bening yang keluar dari sudut matanya.

Setelah semua kegiatannya selesai, Anindya kembali merapikan mukenah yang baru saja ia gunakan.

"Kamu juga mendoakanku?"

Suara itu terdengar serak khas bangun tidur. Anindya terjengit menatap sosok tampan dengan muka bantalnya yang telah duduk bersandar pada headboard kasur.

"Kamu mendengarnya Tuan?"

"Ehem, Kamu lupa harus memanggil Saya siapa?"

Kedua netra coklat Anindya berputar malas. Pria di depannya itu baru saja terbangun tetapi sudah membuatnya kesal.

"Iya Liam,"ralat Anindya dengan memalingkan mukanya.

"Kamu tidak sholat Subuh?"tanya Anindya.

Anindya menatap pria itu, menunggunya beranjak dari atas kasur. Tetapi William justru menarik selimutnya lagi menutupi tubuhnya dan kembali tidur.

Helaan nafas panjang keluar dari rongga hidung Anindya. William memang baik, tetapi sekalipun ia belum pernah melihat pria itu mengerjakan kewajibannya sebagai umat Muslim.

"Waktu Subuh masih setengah jam lagi, Aku ke bawah dulu,"ucap Anindya keras.

Ia berharap jika William mendengarnya, karena Anindya yakin jika pria itu tidaklah tidur lagi.

Saat Anindya membuka pintu kamarnya, dirinya dikagetkan dengan sosok Eva yang sudah berdiri di depan kamarnya.

"Selamat pagi Nona, mari Saya temani Anda,"ujar pelayan itu.

Anindya berbalik menatap sosok yang ada di atas kasur tersebut. Dia yakin jika kehadiran Eva di depan kamar utama adalah ulah William. Gagal sudah, ia berkeliling mansion seorang diri. Padahal Andinya sudah senang bukan main saat tangannya tidak lagi di borgol oleh William.

"Ck, tidak ada kesempatan sama sekali,"gumam Anindya.

Dengan perasaan kesalnya, Anindya melangkahkan kakinya dan diikuti sosok Eva di belakangnya.

Hari masih terlalu pagi, udara di waktu Subuh memang paling segar. Berulang kali Anindya menarik nafas dan membuangnya perlahan.

"Kamu sudah lama berkerja disini Eva?"tanya Anindya.

"Sudah Nona Muda, hampir lima tahun Saya menjadi pelayan disini,"jawab Eva.

Anindya memutar tubuhnya menatap Eva dengan senyuman penuh makna. Ditariknya wanita dengan balutan baju pelayan tersebut pada sebuah kursi yang ada di taman tersebut.

"Lima tahun, pasti kamu banyak tahu tentang Tuanmu bukan? Coba ceritakan apa yang dia takuti dan apa yang paling di benci,"tanya Anindya antusias.

Eva kembali berdiri dan menundukkan kepalanya pada Anindya.

"Nona Muda, sudah waktunya sarapan pagi. Kita harus kembali ke dalam,"ujar Eva.

"Ck, percuma memang tanya sama Kamu,"cebik Anindya.

Anindya beranjak dari kursi taman tersebut dan melangkah mendahului Eva masuk ke dalam mansion tersebut.

Eva mengarahkan Anindya menuju meja makan. Disana sudah ada William yang telah duduk menanti dirinya.

"Selamat pagi Tuan William,"sapa Eva.

William tidak menyauti sapaan Eva, dia hanya fokus melihat istri kecilnya yang tampak kesal itu.

"Ada apa?"tanyanya pada Anindya.

Sadar jika raut mukanya masam, seketika Anindya tersenyum lebar pada William dan mengatakan jika dia baik-baik saja.

"Ah Tidak Tu-Liam, Semuanya baik-baik saja,"ujar Anindya dengan senyuman lebarnya.

William menatap sejenak sosok Anindya. Dia tahu wanita itu tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi. Jadilah, dia memilih untuk diam dan menunggu sampai semua pelayan menyajikan menu sarapan di atas piringnya dan Anindya.

"Kenapa? Ada yang salah dengan Saya?"tanya Anindya.

Dia yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya pun terhenti karena William yang menatap dirinya.

William menarik kursi Anindya dan mendekatkan wanita itu dengan kursinya.

"Suapi Saya,"pinta William.

Bulu mata lentik Anindya bergerak ke atas dan bawah berulang kali. Dia tidak salah mendengar bukan? Pria di sampingnya itu memintanya untuk menyuapinya. Lalu apa kegunaan kedua tangan William.

"Suapi Saya,"tekan William lagi.

Tidak sabar karena Anindya yang masih bergeming. Tanpa disangka, William justru melahap makanan pada sendok milik Anindya.

"Ya! Itu makanan Saya, dan sudah masuk ke mulut Saya sendoknya, Liam,"rutuk Anindya tak terima.

Dengan wajah tanp dosanya, William acuh dan menikmati makanan tersebut.

"Suapi Saya dengan sendok, atau Saya ambil dari mulut kamu langsung,"ancam William.

Mendapat ancaman seperti itu membuat Anindya yang hendak protes pun tidak jadi. Dia menutup mulutnya karena takut William benar-benar melakukan apa yang pria itu katakan.

Dengan perasaan dongkolnya, Anindya menyendok makanan dan memasukkannya ke dalam mulut Wiliam.

"Kamu juga makan,"ucap William mengambil alih sendok tersebut dan mulai menyuapi Anindya.

Jadilah keduanya saling menyuapi satu sama lain tetapi dengan ekspresi wajah yang berbeda.

Acara sarapan pagi itu telah selesai setelah dipenuhi drama suap-menyuapi yang William pinta.

"Nanti ada orang Saya kesini, dia akan menyiapkan dirimu,"ujar William sebelum masuk ke dalam mobilnya.

"Mau diapakan lagi Saya ini?"gumam Anindya.

Dia sudah senang tidak harus ikut William ke kantornya. Kini pria itu mengirim orang untuk menyiapkan dirinya.

"Nanti malam kita ke mansion utama,"ujar William.

Anindya hanya menganggukkan kepalanya tidak fokus dengan ucapan William. Dia sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam mansion dan menikmati kolam renang yang tadi pagi tanpa sengaja ia lewati saat bersama Eva.

"Saya pergi,"ujar William lalu mengulurkan tangannya di depan Anindya.

Kening Anindya mengernyit menatap uluran tangan William. Dia bingung apa yang pria itu inginkan dengan tangan terulur tersebut.

"Ada apa?"tanyanya.

"Huft, salam. Saya mau kerja,"ucap William dengan hembusan nafasnya.

Anindya tersenyum kikuk, dia lupa akan satu hal itu. Dengan perasaan canggungnya, Anindya meraih tangan William dan mencium punggungnya.

"Eh!"

Anindya tertegun saat merasakan sebuah kulit lembut menyentuh keningnya. Dia (William) mencium keningnya.

"Jangan coba-coba berpikir kabur,"ucap William lalu meninggalkan Anindya dan masuk ke dalam mobil dimana Alex telah membukakan pintunya.

Anindya menyentuh keningnya. Sisa kecupan itu masih terasa disana, lembut dan hangat.

"Aaahh, bisa meleyot ini,"pekik Anindya.

***

TBC

1
Kasandra Kasandra
novelnya jd pecentak rekor.. 2023 skg 2026😄
Kasandra Kasandra
lama banget ndak up
Kasandra Kasandra
lama ndak up
Kasandra Kasandra
up nya jgn lama2
Kasandra Kasandra
lanjut double up
Kasandra Kasandra
blom up
Ibu Darseh
penasaran
Rochman Syah
kok GK up up thor... msh penasaran q loh in...
cpet upny donk thor ..
arraya
itu mereka seharian ga sholat? di kantor di borgol bgtu smp rumah tidur ky mati smp tubuh dibersihkan & diganti baju sm suaminya aja ga kebangun sm sekali
arraya
prita atau anes sih nama ceweknya?? kok membingungkan
Rosmina Sumang
anin ingat ya penjjual makan yg nolong kamu
Nur Adam
ljjut
Danny Muliawati
kira In sdh tamat tau nya blm yah thor
Ani Basiati: lanjut thor
total 1 replies
Danny Muliawati
semangat Anin lawan yg nindas km jangan takut selama itu benar
Danny Muliawati
haha luar biasa yah Anin 👍👍
Danny Muliawati
cari penyakit Wanda ini yah .... biar perang x yah 😝😝
Danny Muliawati
minta cerai. ... truz km mo kemana Anin rumah di desa sdh ga ada
Danny Muliawati
syukur ktm Wiliam anin
Danny Muliawati
smga segera dpt pertolongan yah Thor kasian anin
Danny Muliawati
smga ktm yah Anin sebelum km nyusul ke alamat yg di tulis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!