TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tama Asyem
Deg....
"Sayang, jangan pergi... Kami membutuhkanmu." Lirih Tama.
Jantung Tari berpacu tak karuan, matanya menatap nanar ke arah sang suami. Ia tahu mencintai suaminya adalah patah hati yang disengaja. Tapi, entah kenapa tekad untuk mendapatkan cinta Tama begitu besar.
Mungkin orang akan mengatainya perempuan bodoh. Tapi, Tari tidak peduli akan hal itu. Karna baginya, mendapatkan cinta sang suami adalah pilihan hidupnya. Cinta memang buta, dan jatuh adalah konsekuensinya.
Tangan Tari mengusap pelan surai hitam milik sang suami. Ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Tama. Bibir semerah buah chery itu berbisik di telinga sang pria.
"Tari mencintai Pak Tama, Pak Tama mencintai Tari." Gadis itu merapalkan sebuah mantra cinta. Berharap setiap kata itu masuk ke dalam alam bawah sadar sang suami.
Eungh....
Tubuh pria itu menggeliat kecil, tampak dahinya yang menciptakan lipat-lipatan halus. Namun, lagi-lagi sentuhan tangan Tari memberikan ketenangan bagi pria yang sedang bergelung dalam dunia mimpi.
Disaat Tari bergerak untuk turun dari ranjang, igauan suaminya kembali terdengar. Dan kali ini lebih menusuk hati.
"Manda, aku mencintaimu selamanya sayang."
Gadis bertubuh pendek dan sedikit berisi itu mulai tak sabar menahan gejolak api cemburu ketika terus mendengar panggilan sayang-- bahkan ungkapan cinta dari mulut Tama. Dan Tari tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang cemburu dengan orang yang sudah tiada.
"Man--"
Karna kesal dan sakit hati, Tari menyelipkan tangan kanannya di antara apitan ketiaknya. Sedikit gesekan ia lakukan, lalu tangannya yang habis di beri aroma terapi itu ia tempelkan di atas bibir Tama.
"Nah, rasain. Abis nyebelin banget!" Tari berdecak sebal, lalu pergi meninggalkan Tama yang tadinya memimpikan Manda, kini beralih menjadi mimpi memakan semangkok sayur asem.
Tanpa sadar lidah Tama men jilati bibirnya sendiri. Di alam bawah sadar pria itu-- ia sedang menikmati segarnya sayur yang pernah dirinya makan ketika berada di Jawa Barat.
***
Semilir angin menyapu lembut tubuh Tari, beberapa helai rambut yang tak terikat rapi itu bergerak ke belakang karna ulah angin. Rupanya gadis itu berdiri di tempat favoritnya, yaitu balkon kamar.
"Halo, ayah. Tari kangennn...." Nada Tari terdengar manja begitu sambungan telfon tersambung.
"Sudah jadi istri dan ibu kok masih manja." Ayah Tari terkekeh kala mendengar suara rengekkan anak perempuan sematawayangnya.
Tak bisa dibohongi, perasaan Ayah Tari sebenarnya berat melepaskan sang anak untuk menikah. Namun apa boleh buat, dirinya merasa tak sekuat dulu untuk selalu menjaga Tari. Beruntung, ketika Pak Wahyu bertemu dengan sahabat lamanya, yaitu Papa nya Tama. Sosok yang terkenal baik dan dermawan.
"Ayah kenapa gak tinggal bareng Tari aja sih, kan Tari takut ayah kenapa-kenapa kalau sendirian." Protes gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.
Terdengar helaan napas dari sebrang sana, Ayah Tari mencoba memberi alasan yang mudah dipahami oleh anaknya.
"Saat seorang putri meninggalkan kerajaannya karena menikah dengan seorang pangeran. Di saat itu sang raja, harus tetap berada di kerajaannya. Karna apa?"
"Karna istana akan hancur tanpa seorang raja, ih.... Ayah mah suka gitu, Tari jadi sebel." jawab Tari.
Pak Wahyu tersenyum mendengar jawaban putrinya. Baginya, Tari tetaplah gadis kecil dan akan selalu seperti itu.
"Sudah nak. Ini sudah malam, nanti suami kamu nyariin. Ayah gak mau loh jadi nyamuk di antara kalian Hahaha."
"Wah... Wah, gaulnya ayahku ini. Udah tau istilah pernyamukkan segala. Yaudah deh ayah, Tari mau makan dulu. Jangan lupa jaga kesehatan, miss you...."
Begitu sambungan telfon berhenti, Tari kembali masuk ke dalam kamarnya. Mata indah itu tertuju pada sang suami yang masih tertidur.
"Bangunin gak ya?" Tanya Tari pada dirinya sendiri.
Sebab, mereka telah melewati jam makan malam. Sedangkan perut Tari belum di isi dari tadi sore karna sibuk mengurusi suaminya yang sedang sakit.
Gadis itu pun memutuskan untuk mengambil makan malam ke bawah. Saat dirinya kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih, terlihat sang suami sudah terbangun dan sedang duduk bersandar di headboard ranjang.
"Kebetulan Tari mau ngajak Pak Tama makan malam." Tari buka suara dan mendudukkan diri di sebelah Tama.
Dilihatnya ekspresi Tama yang seakan tak suka dirinya duduk berdekatan dengan pria itu.
"Kita makannya sepiring berdua ya, Pak." Tari mengangkat sendok berisi nasi serta lauk ke depan mulut Tama. Namun, pria itu enggan membuka mulutnya.
"Ayo, aaa...."
Bukannya membuka mulut, Tama malah memasang wajah galaknya. "Makan dong, Pak. Biar cepat sembuh," bujuk Tari.
"Kau sengaja berbuat begini agar bisa mendapatkan simpatiku kan!" Tama menatap nyalang pada istrinya yang masih setia memegang sendok berisi makanan.
KetikaTari melihat peluang saat sang suami buka suara, gadis itu segera menyumpal mulut pedas panas Tama dengan sesuap nasi. Gadis itu tersenyum lebar. "Nah sesi marah dan menuduhnya besok aja ya, sekarang Pak Tama harus banyak makan biar punya tenaga untuk marah-marah."
Lalu Tari memasukkan sesuap nasi juga ke dalam mulutnya, "Hem Tari ihkutan muakan karna berjuahhng dapetin cinta suami jugah butub tenaga." Mulut yang penuh dengan nasi itu berbicara dengan kesulitan.
Dan tanpa sadar mulut Tama terus menerima suapan demi suapan hingga nasi di piring itu bersih tak bersisa. Bahkan pria bermulut pedas itu tidak menyadari jika mereka makan satu piring, satu sendok berdua.
"Pak Tama istirahat lagi gih, Tari mau bersihkan celana yang tadi. Takutnya kalau pagi keburu susah dicuci." Tari memutar badannya, ia ingin mencuci segi tiga pelindung junior suaminya.
Namun, Tama segera menahan tangan Tari. Mau ditaruh di mana harga dirinya, pikir pria itu. Jika sampai Tari membersihkan kotoran yang dirinya sendiri saja merasa jijik.
"Jangan sentuh itu. Aku sudah membuangnya."
Mata Tari mendelik lebar. "Ha? Di buang? Masih bagus, tinggal dicuci langsung beres. Banyak orang di luar sana yang gak punya pakaian layak untuk dipakai. Harusnya bapak bersyukur masih bisa pakai baju dan celana yang bagus, bahkan mahal. Udah ah, Tari cuci dulu." Tari menceramahi suaminya panjang kali lebar, setelahnya ia meninggalkan Tama dalam keterdiamannya.
Tama melihat punggung mungil istrinya yang masuk ke dalam kamar mandi di larut malam. Seketika ada sedikit rasa bersalah, ingat! Hanya sedikit! Namun, segera dirinya menepis perasaan bersalah itu. Dirinya tidak akan memberi celah, barang secuil.
"Ya ampun beneran dibuang." Tari memungut celana bahan serta segi tiga kuning yang berada di tempat sampah.
Tanpa rasa jijik, gadis itu mulai menyikat bagian-bagian yang terkontaminasi dengan kotoran suaminya. Tak lupa ia memberikan banyak sabun cuci beraroma bunga dengan sangat banyak.
Sesekali Tari terkikik geli ketika mencuci segi tiga kuning itu. Baru kali ini dia menyaksikan seorang dosen tampan yang digemari banyak mahasiswa kecepirit di celana.
`
`
`
Tama, othor tampol dah tuh mulut pedes panas pakek sandal jepit😡
Hai...hai readers, nanti malam bab selanjutnya menyusul. Sesuai janji othor yang akan update 2 bab di hari senin ini.
Jangan bosen baca cerita receh othor kacan ya😣.
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄