Soraya Foster seorang guru yang mencintai muridnya sendiri bernama Ryan Mattiew. Kisah mereka semakin rumit ketika Soraya tiba-tiba hamil anak Ryan.
Hal itu membuat Ryan dikirim oleh kedua orang tuanya ke luar negeri agar berpisah dari Soraya.
Lima tahun kemudian Ryan kembali, dia sudah melupakan masa lalunya dengan Soraya dan sudah memiliki tunangan.
Saat ia kembali ke negaranya di situlah Ryan bertemu kembali dengan Soraya guru yang dulu adalah cinta monyetnya, dan dia menyadari ada anak kecil yang tumbuh bersama Soraya.
Akankah Ryan bisa kembali mendapatkan hati Soraya dan anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24 • Sebuah Tamparan
Sora mengerjapkan matanya, dia tidak tahu semalam tidur pukul berapa. Cepat-cepat dia menyambar ponsel yang dirinya letakkan di atas nakas, berharap ada pesan masuk dari sang pujaan hati. Namun, Sora harus menelan pil pahit. Tidak ada satu pun pesannya yang terbalas dan bahkan terkirim.
Dia beranjak bangun meski dengan perasaan tidak enak. Dia bersiap untuk mengajar berharap bertemu Ryan untuk mendapat penjelasan dari pria itu.
~•°°•~
Pintu gerbang yang biasanya membuat Sora merasa bahagia, kini seolah berubah gelap. Ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai tenaga pengajar.
Langkah kaki Sora terasa gamang saat memasuki kawasan sekolah, biasanya ada Ryan bersama dengan dirinya. Tapi kini lain, sang murid tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali.
Semua mata menatap Sora seolah tengah menelanjanginya. Pandangan sinis bahkan iba bercampur menjadi satu, membuat Sora merasa sangat tidak nyaman.
Sora tidak tahu harus bagaimana, yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah Ryan yang terus berputar di dalam kepalanya.
Sora menghela napas. "lebih baik aku pikirkan itu nanti saja saat bertemu Ryan," gumamnya lirih.
Sora mengabaikan tatapan semua orang. Namun, semakin dia masuk ke dalam sekolah, dirinya merasa ada yang janggal.
Saat Sora sampai di lorong sekolah antara lab biologi dan UKS, Gaby yang entah dari mana datangnya langsung menarik tangan Sora. Hal itu sontak saja wanita membuat wanita itu terkejut.
"Gaby! Apa yang kau lakukan?"tanya Sora bingung. Bahkan tatapan teman sejawatnya itu tampak sedih, seolah ada sesuatu yang besar akan terjadi.
"Sora! Mengapa kau tidak bilang padaku tentang masalah ini?!" bisiknya dengan khawatir.
Sora tidak mengerti apa yang Gaby katakan, dengan polos Sora menjawab pertanyaan itu. "masalah apa? Apakah ada yang salah?"
"Sora, Ayolah, semua orang sudah tahu hubunganmu dengan Ryan. Yang terbaru kepala sekolah akan memecatmu! Bahkan Tuan dan Nyonya Matthew juga ada di sini."
Kaki Sora bergetar, apakah Ryan tidak berhasil membujuk kedua orang tuanya? Hingga keduanya repot-repot datang ke sekolah demi bertemu dengan Sora?
"Biar aku hadapi mereka sekarang!" Sora bergerak akan menuju ruang guru. Sigap Gaby kembali menahannya.
"Ada satu berita buruk lagi."
"Ada apa?" Sora menatap dengan padangan bingung.
"Ryan... Dia.... "
"Dia kenapa? Coba katakan dengan jelas, Gab." Mata Sora menoleh dengan tatapan bingung.
"Ryan dikirim ke luar negeri!" jawab Gaby kemudian.
Kaki Sora melemas laksana tulang yang baru saja dipresto. Dia jatuh terduduk di lantai mendengar kenyataan pahit ini. Ryan lekaki yang berjanji akan hidup bersamanya kini menyerah, dan meninggalkan Sora dalam keadaan hamil.
"Sora... Kau tidak apa-apa?" Gaby begitu khawatir, ia tidak menyangka masa depan Sora akan berakhir karena hubungan terlarangnya dengan sang murid.
"I'm oke, kau tidak perlu khawatir." Sora menahan tangan Gaby agar tidak perlu repot membantunya.
"Miss Sora? Anda ditunggu oleh bapak kepala sekolah sekarang." Suara seorang guru wanita yang terkenal tidak menyukai Sora terdengar seperti malaikat pencabut nyawa.
"I–iya, Saya akan ke sana. " Sora melirik ke arah Gaby yang masih menatap seolah mengasihani dirinya.
"Sora... Kau harus kuat!" ucap Gaby melepas kepergian Sora.
~•°•~
Sebuah pintu kayu berwarna putih menyambut Sora, seolah sebagai gerbang kematian untuk sang guru. Perlahan Sora memutar pintu knop, dan ia disambut tamparan secara tiba-tiba.
Suara tangan yang menyentuh pipi Sora menciptakan suara yang cukup kencang.
"Dasar guru biadab!" umpat wanita yang Sora tahu itu adalah ibu Ryan, yang menampakkan ekspresi marahnya.
Semangat, ditunggu up selanjutnya...
Semoga happy end ya, /Drool/
jadi korban