"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 24
Setelah kami selesai makan, Kakek membawa aku ke tempat pemandian di gua ini. Aku baru tahu kalau ternyata gua ini jauh lebih luas dari yang aku kira. Dan air pemandian di gua ini sangat jernih, baunya harum.
"Nduk, ini adalah kolam pemandian yang dahulu sering dipakai Nyi Sarmi untuk membersihkan tubuhnya. Dia bilang air ini sangat menyejukkan, sekarang kamu cobalah. Karena hanya kamu yang boleh memasuki kolam ini. Ayo cobalah nduk. Kakek akan menunggu mu di luar. Dan di kotak besar itu ada sebuah pakaian untuk mu, setelah kamu selesai, kamu pakailah pakaian itu." (Jogo Rogo)
"Iya Kek, terimakasih ya Kek." (Dinda)
Aku langsung saja masuk kedalam kolam, karena sudah sangat merasakan tidak enak di badan ku. Airnya sangat sejuk dan sangat nyaman aku rasakan. Kesejukan air ini bukan hanya menyejukkan badan ku, tapi juga fikiran ku.
Penat dan beban fikiran di otak ku yang berat terasa hilang seketika. Andai aku tahu ada kolam seperti ini di dalam gua, pasti aku sudah mencobanya dari awal aku datang ke gua ini.
Hmmmm.....
Kolam yang benar benar nyaman.
Selepas itu aku membuka kotak yang ada di dekat kolam. Ternyata isinya adalah sebuah pakaian perempuan. Ini bukan seperti pakaian pada umumnya, bahkan ini bisa dibilang sebuah jubah. Warnanya pun hitam, dan bahannya sangat tebal.
Kulihat ada sebuah pedang dibawah pakaian itu. Pedang itu tidak terlalu besar, namun saat aku buka pedang itu dari sarungnya, bilah pedang itu terlihat bersinar sinar. Menurut ku ketajaman pedang ini tidak main main.
Setelah berpakaian, aku keluar untuk menemui Kakek. Dan untuk menanyakan pedang ini kepadanya.
"Kek?" (Dinda)
Kakek ku menatap aku dengan tatapan penuh kegembiraan.
"Wahhh.... lihatlah Nduk, kamu terlihat sangat cantik dan bahkan kamu tidak ada bedanya dengan Nyi Sarmi. Benar benar mirip sekali." (Jogo Rogo)
"Loh nduk? pakaian siapa ini?" (Ayah Dinda)
Ayahku tiba tiba datang. Dan dia terheran heran karena melihat aku berpakaian seperti ini.
"Lihatlah anakmu Ngger.... Dia sangat cantik dan berwibawa memakai pakaian ini." (Jogo Rogo)
Ayahku melihat lihat seluruh badan ku dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Sebentar, bukankah ini pakaian Nyi Sarmi Dulu Ayah?" (Ayah Dinda)
"Iya Ngger. Ini adalah pakaian Nyi Sarmi sewaktu dia berperang bersama kita." (Jogo Rogo)
"Luar biasa sekali kamu nduk. Sekarang kamu ikut Ayah keluar yah nduk. Kamu harus menemui Para Panglima." (Ayah Dinda)
"Iya Ayah." (Dinda)
Ketika aku keluar, semua mata tertuju kepada ku. Mereka semua langsung lari ke arahku, dan bahkan berlutut di hadapanku. Jujur aku menjadi bingung, dan merasa tidak enak. Terutama kepada Para Panglima yang sangat dihormati oleh murid muridnya.
"Nduk.... Pakaian ini adalah pertanda bahwa kamu telah sah menjadi pemimpin Para Panglima." (Jogo Rogo)
"Tapi kek, ini semua terlalu berlebihan." (Dinda)
"Nyai, terimalah hormat kami sebagai Para Pejuang Nyai. Pakaian itu sangat sakral Nyi, siapa pun yang bisa memakai pakaian itu, artinya kami harus menghormatinya. Berlutut dihadapannya, dan bahkan mematuhi segala perintahnya." (Panglima Jagad)
"Kalian sudah saya anggap sebagai keluarga. Jadi aku meminta kalian untuk berdiri. Berdirilah!!!" (Dinda)
Seketika itu pula mereka berdiri, menuruti perintah ku untuk pertama kalinya. Dan setelah itu aku menyuruh mereka untuk mempersiapkan diri mereka dengan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk berlatih.
Mengingat rencana yang aku buat sangatlah berisiko untuk mereka. Bahkan aku tak bisa menjamin rencana ini bisa berhasil. Meskipun aku sudah meyakinkan mereka, tapi hati ku tak bisa berbohong. Bahwa sebenarnya aku sendiri pun merasa takut.
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini