Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Terakhir
5 Desember 2020
Selamat tinggal, Yuna...
Gadis lemah yang tolol itu memekik ketakutan, melempar buku kesayanganku ke lantai. Dia mengambilnya beberapa hari yang lalu setelah menemukannya di laci mejaku saat membantuku beres-beres. Dasar si tukang mau tau! Harusnya dia tutup mulut saja!
"Jangan... kumohon!" isaknya dengan penuh harap. Dia mengharapkan apa? Belas kasihanku? Tidak akan! Bahkan aku tidak memberikan belas kasihan pada si Langit! Semua yang pantas mati, tidak berhak mendapat belas kasihan.
Cih! Wajahnya pias dengan air mata membludak, matanya jelas melotot ketakutan. ia bergetar dan terjatuh lunglai di lantai dengan punggung menyentuh dinding. Ia menangis, sesenggukan di sudut ruangan. Saat ia mendongak, ia nampak menelepon seseorang dengan sesenggukkan.
“Halo, kantor polisi-.” Suaranya cukup bergetar. "A-aku ingin melaporkan sesuatu. A-aku tahu tentang kematian personil harmonia."
Berengsek!
Aku melangkah ke arahnya dalam diam saat dia melaporkan sesuatu di ponselnya. Aku berlari cepat untuk menghampiri si gadis sialan ini. Segera, Aku mengulurkan tangan, menjambak rambutnya dan membanting ponsel di tangannya. Aku mencengkeram kian erat rambutnya yang sudah basah oleh keringat. Dia masih berani menelepon polisi di depanku? Sinting! Dia harus menderita lebih banyak!
“Arrgghhh!” Yuna nampak melotot terkejut ke arahku, merintih dan meronta. Dia terlihat kian lemah dan sulit menandingi kekuatanku. Ayolah... dia hanya makhluk lemah. Bahkan seluruh personil harmonia yang mati itu juga lemah bagiku.
Sorot matanya ketakutan namun juga menyiratkan rasa terkejut yang amat dalam. Gadis itu tampak masih tidak percaya dengan kejadian ini. Mungkin, dia mengira ini hanya mimpi, khan?
Sambil tersenyum lebar, aku menyeretnya dengan menjambak, menariknya dalam posisi terjerembab di lantai. Dengan satu sentakan aku menghantamkan kepalanya ke dinding. Aku menginjak ponsel Yuna hingga hancur. Dan, serasa aku juga ingin menghancurkan gadis sialan ini . Kembali, aku menghantamkan kepalanya Yuna ke lantai sekuat-kuatnya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Tapi, semakin keras, semakin aku merasakan kepuasan.
Terdengar lenguhan panjang. Yuna tergeletak di lantai, memegangi kepalanya yang mulai berdarah. Dia terlihat lemah. Tanpa daya. Keberanian dan kekuatannya sudah semakin menipis. Aku mengambil langkah mundur sejenak,membuatku berdiri menjauh darinya, mengamatinya yang merintih kesakitan sekaligus menangis. Aku melipat tangan di dada sambil menatapnya remeh. Dia nampak ternegah dan mencoba lepas dariku. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku suka melihat tatapan seperti ini. Aku suka teriakan penuh kesakitan. Aku suka jerit dan tangis. Aku suka saat Sherin meraung kesakitan. Aku suka saat Deka menjerit parau dengan menggelepar. Aku suka sorot mata penuh kemarahan tapi juga tidak berdaya dari Langit. Ah, aku suka semua momen kematian itu. Kematian untuk orang-orang yang memang pantas untuk mati.
“Kenapa? Kenapa kamu ngelakuin ini?” isaknya sambil mendudukkan dirinya bersandar pada dinding dengan wajah teraliri darah. Dia terlihat sangat kacau. Dia bukan lagi gadis manis yang polos. Tapi, gadis yang menyedihkan!
“Karena aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Mereka pantas mati. Dan, kamu harusnya tidak ikut campur. Kalau kamu diam, mungkin... aku bisa sedikit berbaik hati padamu. Tapi, rupanya kamu sama saja dengan mereka. Kamu pantas untuk mati. Yuna... ."
“Jangan... kamu... kamu yang pantas mati!” Yuna menatapku penuh kebencian tapi juga menyisakan rasa iba. Sudah lama aku membenci tatapan itu. “Kumohon... sadarlah. Ini bukan kamu yang sesungguhnya. Ini bukan kamu. Kumohon, sadarlah... ."
“SADARLAH!!!” Yuna merangsek dan mendorongku kuat hingga menabrak meja. Tabrakan yang cukup membuat punggungku berdenyut nyeri sementara Yuna meraih lampu meja dan menyentakkannya ke wajahku. Aku meringis, mengaduh memegangi wajahku yang berdarah. Samar aku melihat Yuna melarikan diri dari kamar. Dia berlari cepat saat aku masih merasakan nyeri di punggung dan kepalaku. Sial. Dengan tertatih, aku bangkit dan mengejarnya. Sial, aku tidak menyangka dia masih menyimpan kekuatan sebesar ini untuk menyerangku.
“Larilah... bersembunyilah... aku akan menemukanmu!”
Kosong. Yuna lenyap. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, mencari sosok Yuna. Aku terdiam di sudut dapur, mendengarkan, menajamkan telingaku. Aku mendengar isakan kecil. Aku melirik kamar mandi yang tertutup dan gelap, tangan kiriku mengusap wajahku yang basah oleh darah sementara tangan kananku meraih sebuah pisau dapur sekenanya.
Perlahan, Aku melewati sbeuah microwave yang mengingatkanku pada hati Langit yang gosong. Aku menikmati detik-detik saat hati Langit yang busuk itu menghitam di dalam microwave. Hati yang meletup-letup itu terukir indah dalam ingatanku. Cih, Dia pantas mendapatkannya, khan?
Aku meringis kecil dan membuka pintu kamar mandi. Gelap. Hening. Tampak lengang dan kosong. Sesekali terdengar tetes air dari kran.
Aku terdiam di ambang pintu dengan mata awas.
“Yuna sayang... keluar... ,” ucapku, “Ayo kemari... kita bersenang-senang. Aku akan memberikan mimpi indah untukmu, Yuna... .”
Semua hanya kegelapan yang kulihat. Tapi, aku yakin Yuna bersembunyi di satu sudut gelap ini. aku tertawa riang sambil memainkan pisau dapur di tanganku.
“Sudah lama, kita tidak main petak umpet, khan?” tanyaku sambil menunduk saat merasakan cairan kental mengenai ujung kakiku. Darah Yuna,”Oh... Yuuunnaaaaa... ,” ujarku perlahan.
Sesaat, aku mendengar sebuah lenguhan napas. Aku menoleh namun terlambat.
“Hyyaaa!!!”
Aku terlambat menghindar dan melihat Yuna bersiap menyergapku, hendak mengahantamku dengan sebuah gelas. Segera aku mengacungkan pisau dan menghunuskannya tepat di dada Yuna.
“Aaaaaaaaaaaahh!!!” Yuna terdiam menatap pisau yang tertancap di dadanya.
Aku menyunggingkan senyum kemenangan. Menarik pisau itu perlahan, membuat Yuna bergetar kesakitan dengan mulut mengeluarkan banyak darah.
“Oppsss... sorry. Kena, ya?” tanyaku sambil menjilat ujung pisau penuh darah bersamaan dengan tubuh Yuna yang terjatuh di lantai.
Yuna mengejang kesakitan dengan air mata menetes. Tangannya masih bergerak dan menghantamkan gelas di tangannya ke wajahku. Pelan, namun cukup membuat wajahku lebam. Aku mendelik penuh kemarahan.
“Dasar gadis sialan!” Aku menusuk perut Yuna tiga kali, membuat gadis lemah itu kian terbatuk-batuk darah. Mengejang menjemput ajalnya.
Aku bersiap menghunuskan pisau itu sekali lagi saat aku melihat Yuna dengan sisa-sisa tenaganya menatapku sambil menangis. Dia mengangkat tangannya mencoba menyentuhku sambil terisak.
“Sa... dar... sa... uhuk... sadarlah...,” ucapnya terbata, “De... i. Sa... sadarlah, De... uhuk... Dei.”
Deg.
**********
Dei merasakan pupil matanya membesar. Ia tertegun dan menatap tubuh Yuna telah tergeletak tanpa nyawa di depannya. Terlambat.
“Tidak! Yunaaaaa!!!” teriak Dei di keheningan malam yang menohoknya, mencabik-cabik keyakinannya. Dei melepaskan pisau dari genggamannya.
Dei memangku kepala Yuna di atas paha lalu memeluknya sambil terisak pilu. Ia melihat tangannya bergelimang darah dan menatap nanar pisau yang tadi terjatuh tepat saat kesadarannya pulih. Pisau yang membunuh Yuna. Dan, dia yang menusuk Yuna.
“Tidaaaaakkkk!!!”
-oOo-
Bersambung
Jangan lupa berikan Like dan Komentarnya... ^^
kalau berkenan, berikan vote dan gift juga, ya ^^
Regards Me
Far Choinice ^^
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹