Darwin berlari dan tak sengaja menabrak seorang pria, Adelia pun menghampiri putranya itu.
“Maafkan putraku yang tak bisa diam.”
Joshua mengingat suara itu, Joshua pun kembali mengingat malam kejadian itu.
“Sayang ternyata kamu tak berubah sedikit pun, suaramu, aromamu bahkan aku tak bisa melupakannya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bersama lagi.
Yusrin, Yumna sudah di bawa oleh anak buah dari Hafsah untuk di serahkan pada pihak kepolisian.
Sedang Teana menghampiri Adelia dan langsung mendorongnya hingga terjatuh, melihat itu Joshua naik pitam.
Joshua mendorong Teana hingga terbentur pilar penyangga rumah, "Hans, singkirkan serangga ini, buat dia menyesal selamanya," perintah Joshua.
"Kau buta mencintai gadis sepertinya Joshua, karena hanya aku yang cocok dengan mu," teriak Teana.
"Hans potong lidah dan tangannya, buat dia tau bagaimana hukuman untuk seseorang yang berani menghina dan melukai istri seorang Joshua," perintah nya.
"Baik tuan," jawab Hans menyeret Teana keluar dari rumah itu.
Dari jauh ada sosok yang mengawasi semua kejadian itu, dia tak menyangka jika Joshua bisa melakukan itu.
"Baiklah, masf atas kejadian yang mengejutkan ini, tolong mulai pestanya," kata Hafsah.
Akhirnya pesta di mulai, tapi Darwin sudah tak terlihat di mana pun.
"Tunggu di sini ya ma, dan mas tolong jaga mama, aku ingin mencari Darwin," pamit Adelia pada Joshua dan mama Vena.
"Aku bantu," kata Joshua.
"Tidak usah, tolong temani mama saja ya, aku permisi sebentar," pamit Adelia.
Dia pun berkeliling rumah mewah itu, ia juga naik ke lantai atas sesuai arahan Hafsah yang tadi memang melihat Darwin.
Melihat sosok Adelia yang naik ke lantai atas, seseorang mengikutinya diam-diam saat orang-orang tak melihatnya.
Adelia masuk ke sebuah ruangan dan menemukan Darwin di sana, "kamu mama cari ternyata di sini," kata Adelia menghampiri Darwin yang bermain game online.
"Aku tak suka pesta, terlalu berisik," jawab bocah kecil itu.
"Tapi mama sedih karena kami tak di samping mama," jawab Adelia sambil memasang wajah sedih.
"Baiklah Darwin turun demi mama," kata Darwin yang menyetujui permintaan dari Adelia.
Darwin pun mengandeng tangan Adelia dan turun bersama, seseorang datang dari belakang.
Mereka berdua melihat semua orang sudah memakai topeng untuk mulai pesta dansa.
Darwin berlari meninggalkan Adelia dan menuju ke arah Joshua, bocah kecil itu bahkan bisa membedakan mana ayahnya meski sudah memakai topeng.
Seseorang menyenggol Adelia dari atas tangga hingga hampir jatuh, tapi dengan sigap Adelia berpegangan pada pagar besi.
Joshua pun berlari menghampiri Adelia, "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Joshua.
"Iya, beruntung aku berpegangan pada pagar besi ini," kata Adelia tersenyum.
Joshua pun langsung mengendong Adelia turun, di tak ingin istrinya itu akan terluka.
"Ya Tuhan papa, lihatlah bagaimana putramu begitu romantis," bisik mama Laura.
"Papa juga romantis loh," jawab papa Federico.
"Cih, kapan kamu romantis, kamu itu selalu sibuk bekerja dan kadang tanpa sadar melakukan kesalahan-kesalahan kecil tanpa sadar," jawab mama Laura.
"Apa tak ada baik-baik nya di mata mama, itu membuat papa sedih," kata papa Federico.
"Tidak sayang ku, aku tadi cuma bercanda," jawab mama Laura tertawa.
Akhirnya pesta pun di mulai, semua mulai menari dan berdansa bersama pasangan masing-masing.
Mama Vena memilih duduk bersama Darwin dan juga Hafsah, "kakak pergilah berdansa," kata mama Vena yang menyuapi Darwin kue kesukaannya.
"Aku tak berminat, aku hanya ingin melihat kebahagiaan keponakan ku," jawab Hafsah sambil minum wine miliknya.
"Kalau itu opa Hafsah tak perlu membut pesta, cukup datang ke rumah terus lihat mereka yang saling menggoda, aku kenyang melihat nya setiap hari," curhat Darwin.
"Benarkah? mungkin karena mereka tidak berpacaran dan pernikahan juga terlalu cepat," kata mama Vena tertawa.
"Bagaimana dengan mu, apa tak ingin menikah?" goda Hafsah.
"Aku menunggu mu," jawab Vena tertawa.
"Aku akan menikahi mu, saat kau sembuh, tapi kamu tau konsekuensinya," jawab Hafsah.
"Aku tak keberatan, akan susah mencari pria yang rela menghabiskan masa mudanya hanya untuk membut wanita hampir mti untuk sadar," kata mama Vena tertawa.
"Bercandaan mu tak lucu," jawab Hafsah meminum wine langsung dari botolnya.
"Hentikan kau akan merusak tubuhmu," katanya menahan tangan Hafsah.
Hafsah pun tersenyum dan menaruh botol miliknya, Darwin ingin mengambil botol itu tapi Hafsah terlebih dahulu.
"Jangan berulah Darwin, ini bukan untuk anak kecil," kata Hafsah melihat cucu keponakannya itu.
"Tapi sepertinya enak, melihat opa Hafsah meminum itu dengan begitu keren," kata Darwin ingin merebut botol itu.
"Hei, kamu ingin minum apa anak muda," kata Joshua menarik putranya agar menjauh.
"Sayang itu putramu bukan kucing, kenapa menariknya seperti itu," kata Adelia memukul punggung Joshua.
"Aku hanya kesal saja putramu ini yang ingin minum wine, karena melihat opa Hafsah nya itu," tunjuk Joshua mengadu pada istrinya.
"Ya aku tak menyangka pengusaha ini suka mengadu pada istrinya," gumam Hafsah.
"Papi mengatakan sesuatu?" tanya Adelia melihat Hafsah.
Hafsah pun mengeleng, mama Vena tersenyum melihat itu pasalnya Hafsah tidak bisa berkutik di depan putrinya itu.
Pesta pun berakhir, dan semua tamu sudah pilang, begitupun dengan Adelia dan kekuarga.
Kini Hafsah mengendong mama Vena menuju ke kamarnya, saat sampai Hafsah tidur dengan memeluknya.
Mama Vena tau jika Hafsah terlalu lelah dan juga sudah terlalu banyak minum.
"Jika tidak ada pertentangan dulu, mungkin aku akan mengejar mu dan menikah sesuai perjanjian kecil kita kak," lirih Vena yang merasa nyaman di pelukan Hafsah.
Hafsah juga tersenyum sekilas mendengar gumaman dari Vena, pasalnya itu yang dia inginkan juga.
Sedang kekacauan malah terjadi di rumah keluarga Gusman, Darwin sedang membuat beberapa pelayan ketakutan karena tiba-tiba bocah kecil itu melompat ke kolam renang.
"Tuan muda kecil,saya mohon jangan buat kami di marahi tuan besar dan papa tuan muda kecil," kata pak Yun membujuk.
"Aku tak akan naik jika bukan mama yang datang," jawab Darwin.
Adelia sudah datang melihat putranya itu, "kenapa lagi putra mama ini? mau tidur dengan mama dan papa kah?" tanya Adelia berjongkok di pinggir kolam.
Darwin mengulurkan tangannya pada Adelia, dan dia denhan sengaja menarik tangan sang mama hingga tercebur ke kolam.
"Darwin!" teriak Adelia yang sudah tercebur ke kolam.
Darwin tertawa, pak Yun meminta para pelayan mengambilkan handuk untuk Adelia.
Darwin pun memeluk sang mama dengan tawa, Joshua datang dengan marah melihat keduanya.
"Ya! kenapa kalian berdua berenang malam-malam begini, naik!" kata Joshua sambil berkacak pinggang.
Darwin dan Adelia langsung naik dan menerima handuk karena baju tidurnya sudah membentuk semua lekukan tubuhnya.
Darwin pun mengulurkan tangannya untuk minta gendong karena kedinginan.
"Pak Yun, tolong buatkan sup untuk keduanya dan juga air madu hangat dan ayat ke kamar ku," minta Joshua.
"Baik tuan muda," jawab pak Yun.
Kini Joshua membawa keduanya naik ke atas untuk berganti pakaian dan beristirahat.
smg sj